Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Bintang Di Hati


__ADS_3

"Yang lain naik apa?" Linggar berjalan ke arah parkiran mobil bersama CItra.


"Kamil sama Rindi pakai motor, kalau Ayu dijemput sama ayahnya katanya." CItra lalu mengigit bibir bawah, berusaha menghilangkan kegugupannya. Ini pertama kalinya mereka akan berada dalam satu mobil.


Dengan bantuan Kamil, ia bisa pulang dengan Linggar.


Jalan berduaan seperti ini saja hati serasa melompat-lompat.


Seperti ini saja, dunia sudah seperti berada dalam harmoni yang sempurna.


Diampun terasa nyaman, apalagi saat mendengar suara Linggar yang bersisian dengannya.


Mencoba menuliskan kata bahagia dalam hidupnya, dan saat bersama dengan Linggar, hal itu terjadi begitu saja.


Aaahhh, rasanya sudah tak sabar duduk berdua-duaan dengan pujaan hati.


Kening Linggar berkerut saat melihat Rindi masih dengan tangan kosong berjalan ke arah parkiran motor, padahal tadi ia telah mengirim pesan pada RIndi untuk mengambil barangnya di toko tadi.


Lihatlah, mereka benar hanya melihat-lihat saja.


Merogoh kocek, mengambil ponselnya, berjalan sedikit menjauh dari Citra.


"Kenapa gak diambil?" Ucapnya langsung saat telpon telah tersambung.


Tak ada jawaban dari sana.


"Gak usah ge-er! Gak usah berpikir yang tidak-tidak!" Ucapnyan lagi, nada rendah  masih dengan ketus tertahan.


"Cepat ambil! Atau mau kuberikan di depan yang lain?" Ucapnya dengan amarah yang masih ditekan di bawah pandangan orang lain.


Ini adalah kali pertama ia menghubungi nomor ponsel Rindi setelah sekian lamanya vakum.


Bekerja dalam satu ruang mengharuskan mereka saling memiliki kontak satu sama lain.


Di sana Rindi menghentikan langkah secara tiba-tiba, mengedarkan pandangan mencari sosok pemilik sang suara. Rada kesal, pria itu sedikit mengancam, mengatakan jangan ge-er. Apa maksudnya itu?


Harusnya Linggar tak melakukan apapun.


Apa saja yang bisa menimbulkan rasa curiga untuk yang lain.


Bagaimana kalau yang lain tahu jika Linggar bahkan membelikannya sepasang sepatu setelah membayar semua pengeluaran untuk hari ini.


Ah, sudahlah! Kita ikuti saja, sebelum jadi ribut beneran.


"Mil, aku pamit dulu yah. Ada yang kelupaan." Ucapnya pada Kamil, meminta ijin.


"Mau kemana?" Berbalik arah, hendak mengikuti langkah RIndi.


"Aku mau beli sesuatu dulu!" Ucapnya mulai melangkahkan kaki menjauh dari Kamil, tak ingin mendapatkan pertanyaan yang lebih lagi.


"Mau aku temani?" Sedikit teriak, karena langkah Rindi terlihat lebih cepat.


"Gak usah, terima kasih," Teriak juga, sedikit berlari berharap Kamil mau mengejarnya.


Berdoa saja, ia tak terjatuh karena di sana Linggar masih memperhatikannya.


Bulan berikutnya mereka kembali berkumpul untuk menghabiskan gaji Rindi sesi dua.

__ADS_1


Sesuai perjanjian hanya ada mereka berempat.


Tanpa Linggar dan Tia.


Lebih bebas dari yang sebelumnya.


Begitupun Rindi, meskipun benar gaji terkuras hampir setengahnya, Kamil benar-benar tak mau rugi kali ini.


Pun demikian, Rindi pulang dengan wajah yang cerah ceria meskipun dihiasi rasa lelah dan letih.


Kebahagiaan dan keseruan yang sempat hilang beberapa saat lamanya karena geng *BlackPink-sahabatnya waktu kuliah *telah terpisahkan oleh kesibukan masing-masing.


Tantri bahkan bertugas di luar kota, saat ia memilih menjadi pengabdi negara.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Waktu menunjukkan hampir jam istirahat ketika Kamil masuk dengan keadaan wajah, kepala dan kedua tangan


masih basah bekas air wudhu.


Namun orang yang berjalan dibelakang Kamil dengan keadaan hampir sama ternyata lebih menarik perhatian.


Membuat Rindi seolah memantapkan tatapannya ke arah pria itu.


Dengan gulungan kemeja sesiku, berjalan ke arah meja kerjanya. Mengambil handuk dari dalam ransel dan  menyapu ke wajah terus ke leher lalu berpindah ke lengan. Hanya seperti itu, namun


entah mengapa terlihat sangat memukau dan menyilaukan mata.


Ternyata kebiasaan membawa handuknya masih ada sampai sekarang.


Ah jadi ingat masa-masa saat ia menemani pria ini bermain basket. Ketika pria itu berdiri di hadapannya tengah menyapu keringat dengan handuk kecilnya.


Membuat gadis-gadis lain iri padanya karena dapat selalu bersama dengan salah satu idola kampus.


Jangan lupa bahwa dirinya pernah menjadi korban bully hanya karena dekat dengan Linggar.


Tak pernah menyangka jika pria ini pernah jadi miliknya, namun disia-siakan.


Apakah dirinya termasuk orang bodoh?


Atau dirinya termasuk orang-orang yang tak bersyukur.


Ataukah sesuatu akan lebih terasa indah jika tak dimiliki?


Rasa bersalah yang tertanam di dada ternyata membuat Linggar justru menjadi bintang yang paling bercahaya di hatinya.


Linggar terlanjur masuk ke dalam hati dan perasaannya. Bahkan seribu kata maaf tak mampu menggantikan seribu kata cinta yang sengaja ia tutupi.


Sungguh menyedihkan saat mengetahui dirinya mencintai Linggar, tapi tak mampu mengatakan.


Karena saat semua terungkap yang ada hanyalah Linggar yang akan menertawakan dirinya.


Dan teman-teman yang pasti akan meninggalkannya karena dianggap sebagai penghianat.


Sekarang ia tak diijinkan lagi untuk mencintai Linggar.


Linggar bukannya tak sadar jika ada wanita yang sedang memperhatikannya secara lekat. Berupaya sekeren mungkin agar wanita itu semakin terpikat.

__ADS_1


Dengan gerakan slow motion menurunkan lengan kemeja yang tadinya sesikut ke lengan bawah. Mengambil kopiah hitam motif dan menempatkan di kepalanya, kemudian kembali tertunduk untuk mengambil sajadah di laci kerja paling bawah lalu menyampirkan ke pundak.


Siap.


Ya ampun ternyata pria ini memiliki persiapan lengkap untuk shalat jum’at.


“Mil, ayo!” Ajaknya pada Kamil, mengakhiri syuting dramanya yang tayang secara live. Wanita itupun tersadar


dari lamunannya.


Dan tanpa sadar telah membuat lukisan di wajahnya dengan pena yang sedari tadi ia pegang.


Garis panjang terbentang di pipi, saat Rindi beberapa kali menggesek-gesekkan mata pena di kulitnya sendiri.


Hahahaha, Rindi hanya mampu tertawa dalam hati.


Saat ini hatinya mengakui jika ia jatuh cinta pada orang yang sama,namun harus menutup rapat.


Dan rasa itu semakin berkembang dan menagih seiring mereka yang harus menjauh.


Dan ia sadar, jika Linggar takkan mungkin kembali padanya setelah semua yang menimpa mereka.


Sekarang ia tahu bagaimana rasanya cinta dalam diam.


Ah bukan, cinta tak terbalas.


Rasanya seperti,....


Membunuhnya.


Sesak.


Sempit.


Pilu.


Bodoh!


Bodoh!


Bodoh!


Rutuknya dalam hati.


Permata yang ia sia-siakan telah berjalan menjauh.


Kini ia hanya mampu menikmati suatu keindahan dalam kegelapan.


Sadarlah ia kini, siapa dirinya kini!


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Nb:


Ibnu Mundzir meriwayatkan dibolehkannya pengeringan dari Utsman bin Affan, Husain bin Ali, Anas bin Malik, Bisyr bin Abu Mas'ud, Hasan al-Bashri, Ibnu Sirin, Alqamah, Aswad, Masruq, Dhahhak, ats-Tsuri, dan Ishaq.


Mereka yang membolehkan pengeringan ini bersandar pada hadits-hadits Rasulullah SAW. Adapun hadits-hadis yang disandarkan adalah hadits riwayat  Tirmidzi berbunyi, "Aku melihat Nabi Muhammad SAW mengusap wajah beliau dengan ujung pakaian beliau ketika berwudhu."

__ADS_1


Wallahu a'lam bishawab


__ADS_2