
Sepasang tangan besar dengan jari-jari panjang menutup matanya. ia tahu siapa pemilik tangan ini. Karena tak ada orang yang berani menyentuh dirinya selama beberapa tahun terakhir, apalagi saat mengetahui dirinya adalah gadis yang telah termiliki oleh salah satu idola kampus.
Terlebih lagi, aroma citrus yang seolah menyentuh lembut indera penciumannya. Tak perlu diragukan lagi, lelaki jakung sang pemilik hati adalah pelakunya, Linggar.
Perlahan ia mulai membuka jari-jari itu, dan berbalik hanya untuk melihat sang pemilik tangan. Ia langsung disuguhkan dengan senyuman indah beserta kecupan yang terasa beberapa kali di area wajah.
“Surprise.”
“Aku pulang!” Linggar dengan senyuman yang tak pernah lepas saat bertemu dengan wanita pujaan hati yang selalu dirindukannya.
Rindi hanya mampu menatap wajah Linggar. Kulitnya terlihat lebih gelap dari sebelumnya. Bukan hanya wajah namun bagian tangan juga. Tapi masih tetap gagah meskipun sedikit lebih kurus dari sebelumnya. Sangat nampak dengan wajah yang lebih tirus dari sebelumnya.
Butuh beberapa waktu lama untuk mengembalikan fisik seperti sedia kala. Namun jika ia melepas pria ini, yakinlah tak butuh waktu lama untuk seseorang menggantikan posisinya.
Posena pria ini masih tetap sangat memikat.
“Pc, kangen banget tau!” Ucap Linggar lagi sambil memeluk kepala Rindi dan mengoyang-goyangkannya ke kiri dan ke kanan. Meski tubuh mereka terhalang sandaran kursi. Hinggar Linggar hanya mampu memeluk kepala Rindi.
Rindunya seolah tak seimbang dengan ucapannya.
Terlalu lama tak bersua! Terlalu rindu! Terlalu sesak terpendam!
Hingga tak bisa di setarakan dengan seribu ungkapan kata rindu.
Begitu juga dengan sang gadis.
Tak bisa dipungkiri jika rindu memang sangat menyiksa. Saat terbiasa dengan perlakuan manja dan perhatian yang
berlebih lalu ditinggal selama sekian bulan membuat hidupnya penuh dengan kata-kata rindu. Wajarlah jika ia memanfaatkan kebaikan dan perhatian Iqram hanya untuk menemani hari-harinya tanpa Linggar
Hah, Iqram? Sisihkan dulu nama Iqram. Kini saatnya melepas kerinduan dengan sang pemilik hati.
Tapi jika boleh jujur, Rindi sedikit risih dengan tingkah Linggar yang seolah abai dengan keberadaan orang-orang di sekitar mereka.
Linggar-Rindi saat ini menjadi sebuah titik fokus beberapa pasang mata.
Sebagian memandang dengan senyuman. Ada yang hanya menggeleng-gelengkan kepala karena tak terima dengan perlakuan mereka yang seperti memamerkan kemesraan di tempat yang kurang tepat. Ada pula yang tak menghiraukan mereka, sibuk dengan aktifitas sendiri.
Berbeda lagi pada sepasang mata yang memandang mereka dengan sayu. Rindi tak tahu jika sosok itu sedang memandangnya dengan begitu dalam. Berharap RIndi menghindar dari segala sentuhan Linggar.
Mata yang menyiratkan sebuah kesedihan dan terluka, namun tak bisa berbuat apa-apa.
Tahu di mana posisinya. Ia hanyalah seorang pria dengan peran dibalik layar. Tak terlihat!
Jika nasibnya mujur, ia bisa diposisikan sebagai pemeran pengganti. Mungkin itu sudah sangat istimewa baginya.
__ADS_1
Apapun posisinya, yang jelas pemandangan romantis sepasang kekasih yang sedang melepaskan rindu itu sangat
menyakitinya.
Bahkan terlalu sakit untuk terus menikmati pertunjukan itu.
Setelah sekian lama menjadikan Rindi yang katanya sebagai objek cuci mata, nyatanya perasaannya kini telah berubah.
Berubah menjadi sayang yang ingin selalu membahagiakan Rindi dengan tangannya.
Cinta yang ingin memiliki Rindi seorang diri.
Dan rindu saat tak bersama dengan Rindi.
Ia terlalu jauh bermain dengan perasaannya. Mengabaikan peringatan sahabatnya bahwa gadis itu telah termiliki.
Hingga sang pemilik yang sesungguhnya telah menampakkan diri menyisakan dirinya yang kini terluka karena tersisihkan.
Terlebih lagi sang pemilik mungkin jauh di atasnya dalam setiap bidang. Ia merasa tak mampu untuk menyaingi.
Dadanya bagai terhimpit batu besar hingga membuatnya sesak.
Ia hanya mampu mengalihkan pandangan ke mana saja, asalkan tidak pada kedua insan itu. Sambil beberapa
“Bolos dulu yuk!” Ucap Linggar yang tak membutuhkan jawaban atau penolakan.
Karena tangannya kini telah menarik Rindi untuk beranjak dari duduknya.
“Mau ke mana? Aku masih ada kelas.” Rindi yang telah berdiri namun masih mencoba menahan langkahnya.
“Ke rumah, aku udah bilang sama bunda. Ayo ah!” Ucapnya lagi terus menarik Rindi ke dekatnya.
"Tunggu, aku bawa motor." Rindi merogoh tasnya mencari kunci motor lalu menyerahkannya pada Lilis.
"Cie....cie.... yang mau lepas Rindu."
"Cie....cie.... yang mau cowoknya udah datang."
Kalimat itu seolah membabi buta di telinganya. Siapa lagi kalau bukan teman-teman Rindi.
Membuat Rindi hanya menunduk sambil tersipu malu. Sementara Linggar hanya memainkan alisnya menunggu aktifitas kekasihnya itu.
“Pengen lepas rindu dulu!” Sedikit berbisik di dekat telinga Rindi. Senyumnya benar-benar tak pernah lepas.
Kini tangannya telah bertengger mantap di bahu Rindi.
__ADS_1
Kata rumah dan bunda seolah mempertegas hubungan mereka yang perlahan menapaki keseriusan. Mengalahkan
Iqram yang baru saja mencoba mendekati Rindi dengan segala alasan dan status.
Mereka telah berjalan menjauh setelah menitipkan kunci motor pada Lilis. Kegiatan yang sempat terhenti beberapa bulan lamanya.
Dari kejauhan terlihat tangan Linggar yang meraih sebelah tangan Rindi untuk dilingkarkan ke pinggangnya, dengan tangannya kembali mendarat ke pundak Rindi.
Sesekali wajahnya terlihat mendekat untuk menempel di wajah Rindi, sangat nampak jika pria itu mencium Rindi beberapa kali.
Iqram memilih berbalik dan berjalan, meskipun ia tak tahu pasti langkah akan membawa tubuhnya ke mana. Yang jelas ia tak boleh terlalu lama larut dalam pertunjukan yang sangat menyakitinya.
Ia hanya mampu meringis dan menggenggam erat tali ransel yang bertengger di pundaknya. Hanya untuk mengalihkan perasaan yang hampir saja membuatnya menitikan air mata.
Lihatlah! Hanya dalam waktu kurang dari tiga bulan, Rindi mampu membuat hatinya seolah terombang-ambing. Betapa ia sangat memuja sosok Rindi hingga ke sudut ruang terdalam hatinya.
Padahal baru saja kemarin ia melihat senyuman Rindi yang menyiratkan jika gadis itu memiliki perasaan yang
sama dengannya. Perasaan yang jika di gabungkan mampu membuat mereka bertahan untuk tetap bersama.
Tapi bagaimana caranya? Mungkin terlalu sulit baginya untuk melangkahi sosok Linggar yang telah menduduki kursi kepemilikan dalam hati Rindi.
Tak apa jika dirinya dijadikan kekasih bayangan oleh Rindi, atau kekasih cadangan. Apapun namanya kini ia rela.
Asalkan tak berpisah dengan Rindi dalam waktu dekat ini.
Tak apa! Mungkin hanya butuh sedikit kesabaran dan keteguhan hati. Meskipun bisa dipastikan hatinya terluka
entah sampai kapan.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.
__ADS_1