Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Pengemis Cinta


__ADS_3

“Aku......gak.......pernah.......berniat........menyakiti........kakak.” Bahkan kalimatnyapun mulai terbata karena menahan sesak di dalam dada. Linggar benar, dirinya memang selalu membuat pria ini tersakiti.


Rindi sambil mengusap kasar air matanya, membuat Linggar terenyuh.


Linggar mulai mendekat, mengangkat tangannya hingga melilit ditubuh Rindi.


Mungkin cinta yang tersisa dalam hatinya masih sangat besar, hingga tak mampu membenci wanita ini.


Kapan terakhir kali ia memeluk tubuh ini? Sebelum berangkat KKN dulu? Ah tidak ia sempat memeluk Rindi di depan gedung pengadilan untuk yang terakhir kalinya sebelum mereka benar-benar berpisah.


Tubuh ini sedikit menyusut dari terakhir kali ia memeluknya. Sangat terasa karena menyisakan banyak prei pada tangannya. Tak seperti dulu yang sangat empuk hingga membuat lingkaran tangannya full dengan tubuh Rindi.


Apakah ia harus berbahagia dengan ini. Rindi mungkin hanya butuh sandaran kali ini.


Bahkan jika bukan dirinya yang berdiri di sini, Rindi akan tetap memeluk orang itu.


Ini bukanlah pelukan sang kekasih, tapi pelukan seorang yang butuh penguat diri.


Namun siapa sangka Rindi menyambut pelukannya, bahkan sangat erat dengan wajah menempel di bagian dadanya.


“Maaf, selalu membuat kakak terluka!” Ucapan Rindi.


Dan panggilan itu? Ia tahu Rindi pasti sedang dalam keadaan sangat waras saat ini.


“Kalau kakak mau, aku bisa pergi dari kehidupan kakak.” Permintaan yang serasa menyesakkan dada keduanya. Apakah mereka akan berpisah untuk kesekian kalinya.


“Jangan pergi dulu, kamu punya banyak utang padaku!”


Rindi mengangguk, “Aku akan membayar semua utang pada kakak sampai habis.”


Mungkin perkataan itu dianggap lucu oleh Linggar hingga membuat pria itu tersenyum, lalu mencoba meraih wajah Rindi hendak melihat ekspersi wanita itu, “Janji gak akan pergi sebelum utangmu habis?”


Rindi mengangguk, memilih masuk kembali ke dalam pelukan Linggar. Entah betah atau merasa malu jika harus bertatapan mata dengan Linggar.


Pria ini memang hebat, selalu memberikan apa yang ia mau, meskipun ia selalu menyakiti dan menyakiti lagi.


Hidungnya terasa tersumbat karena menangis membuat ia membutuhkan sesuatu untuk mengeluarkan sesuatu dari hidungnya. Dan hanya dasi Linggar yang menjadi objek terdekatnya selain kemejanya.


Srrroooook.


“Astaga Rindiiiiii!” Ucapnya, hendak memundurkan diri namun tertahan karena Rindi masih menggenggam dasi yang ia kenakan.


“Jorok banget!” Membuat Rindi tersenyum hanya mendengar ejekan itu, namun tetap melanjutkan kegiatannya.

__ADS_1


Memilih mengendurkan dasinya dan mengeluarkan lewat kepala seperti yang sering ia lakukan. Meraih sekotak tissu yang berada di meja Ayu, dan memberikannya pada Rindi, “Pakai ini!” Mencoba memberikan bantuan pada Rindi, menyapu air mata yang masih menggenang di pipi.


Sedikit kecupan pada pipi yang terasa lembab dan dingin itu. Rindi tak marah, hanya melototkan mata  memandanginya.


“Jangan lupa dasinya bawa pulang, cuci!”


Berjalan menjauhi Rindi dan kembali ke mejanya. Bisa-bisa ia kembali membawa Rindi kepelukannya, dan bagaimana jika mereka terlihat berpelukan oleh yang lainnya.


Memeluknya ternyata membangkitkan rasa rindu yang entah sejak kapan kembali menghampiri, salahkah?


Mungkin awal mula hubungan mereka kembali membaik. Meskipun hari-hari selanjutnya adalah hari di mana mereka harus menggunakan otak dan tenaga mereka sedikit lebih banyak dibanding hari biasanya.


Saat karyawan yang lain sudah pulang dan beristirahan di rumah mereka masih duduk manis di balik komputer untuk menyiapkan bahan audit untuk keesokan harinya.


Bukan teman-teman yang lain tak ingin membantu, tapi ini adalah salah satu bentuk hukuman yang di berikan Linggar untuk keteledoran yang Rindi lakukan.


Meskipun dirinya turut lembur dan membantu pekerjaan Rindi. Tak apa, anggap saja ini ajang pendekatan diri.


Tok!


Tok!


Tok!


“Masuk!” Ucap Linggar dari dalam.


“Malam pak! Malam Rindi!” Citra masuk dengan sebuah kantong kresek berisikan makanan di tangannya.


“Malam.” Balasan dari kedua orang yang disapa.


“Belum pulang Cit? Lembur juga?” Tanya Linggar yang di sertai dengan senyuman.


Senyuman yang membuat wanita di depannya selalu merasakan getar di dalam hati. Berikut pengharapan yang sangat besar pada orang yang menanyainya.


Citra turut tersenyum. “Ini juga mau pulang. Tapi dengar pak Linggar sama Rindi lembur udah sejak kemarin jadi mau bawakan makan malam buat kalian.”


Mengeluarkan tiga kotak makanan dari kantongnya.


“Ini untuk pak Linggar!” Menaruh satu di meja Linggar,


“Waaah makasih Cit. Tau aja kalau kita lapar.” Dengan wajah sumringah, sambil membuka kotak makannya.


Padahal Linggar menerima itu hanya ingin menghargai usaha dan pemberian Citra saja.

__ADS_1


Ia bukannya tak tahu jika Citra memiliki maksud lain. Perhatian gadis ini terlampau besar padanya. Dan itu bukan sesuatu yang biasa-biasa saja.


Citra lalu berjalan ke arah Rindi, “Ini buat Rindi.” Meletakkan satu kotak makan di hadapan Rindi.


“Thank’s. Baik banget kamu.” Dengan senyuman.


Harus tersenyum meskipun hatinya sedikit banyak ingin melakukan protes.


Gadis ini terlihat terlalu mengemis cinta kepada Linggar. Tidakkah gadis ini ingin sedikit terlihat jual mahal? Selalu memberikan makanan atau apa saja.


Tapi Linggar juga salah! Harusnya sedikit lebih tegas pada Citra, agar gadis ini tak mengharapkan sesuatu yang lebih.


Tapi masalahnya, Citra juga tidak pernah mau berterus terang langsung pada Linggar.


Aaahh, kenapa Rindi yang pusing? Terserah mereka mau bagaimana.


Urusan Linggar dan Citra harusnya tak menyita waktunya untuk memikirkan hal itu.


Toh Linggar juga bukan siapa-siapanya.


Kembali ke meja Linggar, “Ini buat aku. Gak papakan kalau aku ikut makan di sini?”


Mending pulang Cit, abis makan kamu bisa langsung istrihat di rumah!


“Makan aja. Toh ini juga punya kamu!”


“Aku shalat dulu yah!” Rindi berdiri bersiap untuk meninggalkan tempatnya.


Sekaligus memberikan waktu keduanya. Mungkin saja dengan duduk berdua, Citra bisa mengutarakan perasaannya pada Linggar.


Meskipun tak dipungkiri ada rasa sesak mengusik jiwa. Tapi, jika Linggarpun memiliki perasaan yang sama dengan yang Citra rasakan, tak apa jika dirinya harus mundur dan menjauh dari Linggar.


Toh mereka sekarang hanya sekedar atasan dan bawahan. Tak lebih, meski hati berkata lain. Mungkin dengan sekali menangis akan membuatnya lebih mengikhlaskan sosok Linggar.


“Makan dulu Rin! Belum juga azan.” Ucapnya menahan pergerakan tangan yang siap masuk ke dalam mulut.


“Sekalian mau ke kamar mandi pak!”


“Makan!” Sedikit membentak, berharap Rindi tetap berada dalam satu ruang.


Mendapat bentakan seperti itu, membuatnya mematung seketika.


Ini sudah kesekian kalinya Linggar berbicara keras padanya, tak ada lagi kelembutan pria itu untuknya.

__ADS_1


Apa lagi yang ia harapkan?


Sepertinya ia akan terbiasa dengan Linggar yang sekarang.


__ADS_2