
"Kita periksa bentar yah. Bapaknya boleh keluar sebetar!" Pinta sang dokter pada Linggar yang langsung diikuti oleh Linggar.
Tak butuh waktu lama ia kembali masuk ke ruang periksa saat perawat telah mengizinkan.
"Hanya tergores, tak ada yang perlu dikhawatirkan." Ucap sang dokter cantik dengan senyum ramah.
Entah percaya atau tidak tapi terlihat Linggar kembali menelisik seluruh tubuh Rindi. Mencari siapa tahu ada yang terlewatkan diperiksa oleh dokter.
Tak ada luka parah, Tapi Rindi tak bisa berjalan.
Luka Rindi tak terlalu besar hinga tak perlu dikhawatirkan berlebih.
Hanya saja, sikap Rindi yang membuat Linggar seolah harus kembali meng-intropeksi kembali semuanya.
Rindi marah saat melihat dia bersama dengan gadis lain.Rindi cemburu?
Rindi yang cemburu saat dirinya berdekatan dengan wanita lain. Sementara Rindi sendiri tak mampu mengambil jarak dengan pria lain yang jelas-jelas memiliki perasaan khusus padanya.
Sikap Rindi yang diam justru selalu memicu kesalah pahaman dan minimnya pengetahuan tentang pribadi Rindi.
Rindi sayang, tapi tak pernah mengucapkan kata itu untuknya.
Ia bisa yakin dengan perasaan Rindi, namun iapun butuh sedikit ketegasan untuk tetap bersama Rindi.
Linggar masuk saat dokter telah selesai memberikan pertolongan pertama pada Rindi.
Hanya beberapa plaster yang terlihat mengiasi telapak tangan dan lutut. Bahkan orang biasapun akan mampu mengobati lukanya.
Anehnya, efek yang ditimbulkan sangat luar biasa.
Rindi bahkan tak bisa berjalan, bahkan untuk turun dari brangkarpun seolah berat.
"Jadi gimana?" Kini Linggar telah berada tepat di hadapan Rindi yang masih duduk di brangkar dengan kaki terjuntai turun.
"Bisa turun sendiri gak?" Ucapnya dengan bibir yang masih tersenyum.
Rindi tak menjawab, mau jawab apa juga iapun bingung.
Tak tahan dengan tawa yang sejak tadi hendak menghampiri, Linggar memilih menjatuhkan kepalanya di bahu Rindi.
Sepersekian detik berikutnya terlihat terguncang karena menahan tawa. Tak ingin membuat Rindi tersinggung dengan sikapnya tapi sungguh, ia sudah tak tahan lagi untuk tak tertawa.
"Dokter tahu gak, ada penyakit baru dok. Para peneliti harusnya melakukan penelitian terhadap itu!" Linggar masih dengan sisa-sisa tawanya.
"Oh ya? Apa itu?" Dokter cantik itu hanya menyimak seluruh tontonan di hadapannya dengan senyuman.
Menatap pada sepasang kekasih yang terlihat aneh. Satunya cemberut, sementara yang satu justru tersiksa menahan tawa.
"Cemburu bisa bikin lumpuh dok," Menjauhkan tubuh dari Rindi karena wanita itu telah beberapa kali mengedikkan bahunya, ingin melengserkan Linggar dari sana yang justru tertawa saat dirinya tengah kesakitan dan, .... malu.
Linggar memilih menundukkan kepala dengan kedua tangan di depan mulut hanya untuk meredam suara tawanya.
Takut jika tawa yang ia tahan bisa menimbulkan penyakit lain untuk tubuhnya.
Terlebih lagi tawanya yang pecah bisa mengganggu pasien dan pengunjung rumah sakit.
Butuh beberapa waktu lamanya Linggar hanyut dalam tawanya sendiri. Kemudian bangkit setelah tadi memilih berjongkok hanya untuk menikmati tawanya seorang diri.
Menyapukan telunjuk ke sudut mata yang basah karena tertawa.
__ADS_1
"Kamu tunggu di sini yah, aku urus administrasinya dulu." Sapuan lembut di kepala Rindi yang terlihat mengerucutkan bibir maju ke depan.
"Ya udah, kita pulang." Ucapnya dengan tangan yang mulai meraih Rindi.
"Bisa jalan sendiri?" Linggar kembali menyumbangkan senyum.
Tapi entah mengapa, senyum itu sangat tak enak di mata Rindi.
Senyum mengejek. Senyum yang seolah menggambarkan kebahagiaan di atas penderitaan Rindi.
Selama perjalanan senyum Linggar terus saja tersenyum, sesekali memandang RIndi yang masih saja diam seribu bahasa, masih kesal dia.
Mobil berhenti tepat di hadapan rumah Rindi. Namun hingga beberapa lamanya Linggar tak kunjung membuka pintu, pun dengan RIndi.
"Rin," Ingin berbicara tapi ia masih bingung akan memulai dari mana.
"Kamu gak tanya siapa cewek tadi?"
Rindi kembali mengerutkan kening, menampilkan wajah sedihnya, tapi entah mengapa rasa senyum bahagia justru semakin terpancar di wajah Linggar.
"Cewek baru kakak." Air matanya mulai tergenang meski belum meluncur.
"Bukan," Linggar dengan cepat dan tegas, "Tapi hampir."
"Kami hampir saja menjalin hubungan lebih, andai kamu tadi tidak datang." Ingat pikiran kotornya yang sempat melintas ingin menghabiskan waktu dengan Kartika.
Suara isakan langsung saja terdengar dari arah Rindi, "Kakak kok tega banget sih?" Sambil menyapu air mata di pipi.
"Bukan! Bukan aku yang tega. Tapi kamu." Kali ia harus menegaskan semuanya.
Tentang sikapnya, tentang cueknya Rindi dan tentang status merek.
"Kok aku sih? Kan kakak yang jalan sama yang cewek lain."
Suara isakan seketika berhenti mengalun. Rindi langsung menoleh ke arah Linggar dengan kening yang berkerut, bingung dia. "Terus kenapa?" Tanyanya.
"Kenapa kamu bilang?" Linggar yang kini menjadi bingung sendiri.
"Terus kenapa kamu marah kalau aku jalan sama cewek lain?"
Rindi hanya mampu terdiam, kembali meluruskan kepala memandang tangan yang sedang ia mainkan sendiri. Iapun bingung kenapa mesti marah.
"Itu karena kamu cemburu. Kamu cemburu aku sama cewek lain."
Benarkah? Rindi cemburu? Hati sempat meng-iyakan kata itu.
"Dan aku juga cemburu saat kamu jalan sama cowok lain, terutama RIswan." Tangannya masih setia memegang setir.
Harus! karena jika tidak, mungkin tangannya sedang terulur ke arah RIndi.
"Tapi kami gak ada apa-apa kak. Hari itu Kak Riswan minta tolong ditemani cari kado buat adiknya yang mau ulang tahun." Kepala masih tertunduk. Dalam hati membenarkan jika memang ia yang memulai.
"Itu alasannya si Riswan saja supaya bisa jalan sama kamu. Kamu tau? Dia itu suka sama kamu."
Rindi kembali menatap Linggar saat mendengar kalimat itu. Benarkah Riswan menyukainya? Ya pasti sukalah, kan ngajak. Tapi suka seperti apa?
"Dia suka gak kedip saat mandangin kamu." Melihat kebingungan Rindi, justru membuat Linggar harus tetap tegas, tak boleh iba.
"Aku tau, aku selalu maksa kamu buat ikutin yang aku mau. Dan kamu pasti terpaksa lakuin semuanya."
__ADS_1
"Dan sekarang, aku gak akan maksa kamu lagi."
"Tapi aku suka di paksa sama kakak." Kalimat lirih nan singkat namun sangat berarti dipendengaran Linggar membuat pria itu kembali tersenyum setelah tadi memasang wajah lurus dan serius.
"Aku suka kamu bilang begitu, itu artinya kamu suka sama aku."
"Sekarang aku tanya, kamu sayangkan sama aku?" Terlalu tegas, Rindi akan kembali merasa terpaksa.
"Eh salah, kamu sayang aku atau tidak?" Meskipun kini hatinya kembali berdetak kencang.
Ada rasa takut di sana. Bagaimana jika Rindi mengatakan tidak sayang? Mungkin ia akan merelakan wanita yang ia cintai itu lagi untuk ke dua kalinya.
"Aku akan gak akan gangu kamu lagi, kalau kamu merasa terganggu dengan kehadiranku selama ini." Ucapnya lirih, memaksa diri untuk tersenyum meskipun dada masih berdetak kencang.
"Aku sayang sama kak Linggar. Aku senang selalu bersama kak Linggar. Tapi semua cewek yang di dekat kak Linggar cantik-cantik. Citra, kak Sinta, ada juga anak logistik yang dulu katanya naksir sama Kak Linggar. Trus cewek yang tadi juga cantik." Kepala tertunduk dalam.
Rindi mengeluarkan kekhawatirannya selama ini, selalu merasa rendah dan jauh jika harus disandingkan dengan wanita yang mengincar Linggar.
"Kamu juga cantik. Aku juga sayang sama kamu." Tangan mulai terulur, mengusap pipi basah yang sedari tadi seolah memanggilnya. Wajah berseri bahagia, gambaran dari hati yang merona sebab dipenuhi bunga berwarna cerah dan wangi.
"Kamu mau hidup sama aku lagi?" RIndi mengangguk meskipun masih menunduk.
Rasa lega terasa di hati meskipun sekarang tengah berbaur dengan rasa malunya. Ungkapan barusan apakah menandakan Linggar sedang menembaknya?
"Sekarang aku mau, kamu hindari RIswan atau siapapun pria yang berpotensi bikin aku cemburu."
"Aku gak menyuruhmu untuk menjauhinya, setidaknya jangan terlalu dekat." Rindi kembali mengangguk patuh, kali ini mungkin terpaksa karena suara Linggar terdengar tegas.
" Aku juga mau kamu sedikit terbuka!"
"Bilang kalau kamu cemburu. Bilang kalau kamu sayang aku."
"Tak Mengapa untuk mengungkapkan perasaanmu."
"Jangan selalu menyembunyikan perasaan sendiri karena itu akan membuatmu sakit hati dan kecewa. Tidak semua orang mengerti dengan perasaan kamu."
"Karena aku ataupun orang lain belum tentu mengerti perasaanmu dan apa yang kamu mau."
Rindi kembali masih menangis. Entah sedih atau bahagia.
Namun raut wajahnya seketika berubah. Mata melotot penuh, memandang Linggar yang kini telah berada tepat di hadapannya.
Dan, emmm apakah Linggar baru saja menempelkan bibir?
"Aku terpaksa cium kamu, karena kamu gak mau berhenti nangis."
Tangan Rinti terangkat, mengusap pelan pria yang sabar saja memper porandakan hatinya.
Pria selama ini menghuni hatinya.
"Jangan seperti ini! Aku takut kita khilaf."
"Kita?" tanya Linggar dengan alis terangkat dan senyuman yang semakin menggoda jiwa.
makna kita di sini, mengartikan ia dan Rindi.
berarti Rindi juga bisa hilaf jika bersamanya.
Semakin merekah saja Senyumnya itu.
__ADS_1
" Ya udah ayo turun sebelum kita benar-benar hilaf." Penekanan dikata kita, Iya dan Rindi.
To Be Continued!