Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Bagai Berada Di Alam Mimpi


__ADS_3

Sementara Rindi hanya membiarkan saja tangannya di mainkan oleh mantan suaminya itu. Rindu, pasti pria itu rindu padanya. Dan tak mau munafik, iapun juga sedang menyandang kata itu.


Konflik minggu lalu, hingga berimbas pada menjauhnya jarak antara mereka membuat hari dan hatinya sedikit kosong.


“Cumi goreng tepung, cah kangkung.”


“Udang saus Tiram, sayur capcay.”


“Cumi lada hitam, sayur sop.”


Menyebutkan pesanan masing-masing.


“Pak Mirza pesan apa?”


“Baronang bakar, sambal kecap.”


“Eh iya, sambalnya, sambal.” Sesuatu yang terlupakan tapi merupakan pelengkap yang membuat acara makan


semakin sempurna.


“Pak Linggar apa?”


Yang ditanya hanya tertunduk, masih mengamati jari-jari Rindi di bawah meja. Semua mata terhenti di sosok Linggar. Tenang tak tergangu sekalipun beberapa kali mereka menyebut namanya.


“Pak. Pak Linggar!” Kamil yang telah menyebutkan namanya dengan nada sedikit naik.


Sepertinya baru sadar jika semua pandangan mengarah pada dirinya.


Berdehem hanya ingin menghilangkan kesan keterkejutannya.


“Ya?” Tanya pada semua mata yang memandangnya.


“Pesan apa?” Suara dari samping seketika membuatnya menoleh ke arah suara.


Mata indah dengan gigi ginsul yang sedikit mengintip mencuri perhatiannya.


“Kamu?” Tanyanya balik dengan tangan yang terangkat ke arah wajah wanitanya hanya untuk merapikan rambut yang masih rapi karena di ikatan kuncir kuda yang kuat.


“Udang saus Tiram.” Ucap Rindi yang juga sedikit terhipnotis dengan tatapan Linggar. Dulu ia sering menikmati


mata yang sering memandangnya penuh cinta itu.


Namun ia sadar, mereka kini berada di tengah keramaian, terlebih lagi bersama teman-teman mereka.


“Mau makan apa?” Ucapnya lagi.


Semoga Linggar tersadar karena mereka justru kini berada dalam titik pandang warga yang berada di meja itu.


“Pasti mau disama-samain!” Kamil disertai dengan cibiran.


“SokTa.” Timpalnya ketus dengan pandangan Linggar beralih ke Kamil. “Kamu tahu itu SokTa?”


“Sok Tahu kamu.” Menjawab sendiri pertanyaan yang ia lontarkan.


“Emmm, Kepiting asam manis. Biar bisa tukaran!” Sambil kembali memandang Rindi.


Mereka kembali ke mode masing-masing.


Mbak Tia, Kamil, Ayu dan Rindi yang lebih membahas pekerjaan tadi.


Mirza yang terdiam dengan pandangan berkeliling ke segala penjuru.

__ADS_1


Linggar yang kembali sibuk dengan permainan di tangannya, apalagi kalau jari-jari Rindi.


Menggenggam dengan kedua tanganya, membolak balikkan tangan Rindi. Membawanya ke arah bibirnya.


Mengecupnya dengan begitu dalam dan lama. Menghirup aroma body lotion yang tertempel di sana. Bahkan hingga matanya tertutup hanya untuk menyempurnakan  meresapinya.


“Astaga!” Pekik Mbak Tia yang melihat kejadian yang tepat di hadapannya.


“Ckckckc, bucin.” Kamil dengan gelengan kepala beberapa kali. “Bapak liat juga?” Kepalnya menoleh ke arah Mirza.


Yang ditanya hanya mengangguk kecil dengan senyuman yang juga kecil. Orang ini benar-benar irit dalam bertingkah.


“Apa sih?” Rindi yang tak menyadari jika pembahasan itu justru mengarah padanya juga.


“Dia gak nyadar.” Kamil yang berbisik di dekat Mbak Tia.


“Berarti sudah terbiasa kayak gitu.” Mbak Tia membalas juga dengan cara berbisik.


“Merekakan mantan suami-istri.” Tambah Mbak Tia.


Kamil yang mendengarkan dengan kepala yang bergerak naik turun, menyetujui. Kemudian beralih ke arah Mirza,


“Katanya udah terbiasa.” Bisiknya lagi.


Mirza kembali tersenyum menundukkan kepalanya.


“Ada apa sih?” Nadanya sudah naik setingkat, membuat Linggar mengangkat kepalanya melihat ke semua orang yang mengelelingi meja itu. Rindi merasa di gibahin di hadapan sendiri.


“Itu tadi ada cewek di tangga kayaknya kenal, tapi lupa di mana?” Kamil dengan matanya ke arah tangga sambil


bergaya celingak-celinguk, jagonya beracting.


Ketiga orang yang membelakangi tangga secara bersamaan ke arah tangga. Di sana tampak sibuk dengan orang-orang yang akan naik dan turun.


Sementara Rindi sudah memajukan bibirnya sedikit lebih ke depan. Ia masih merasa di gibah, terlebih lagi


melihat Mbak Tia yang justru lebih memilih menunduk mengalihkan pandangan seperti telah tertangkap melakukan satu kesalahan.


“Udah lewat, kayaknya mantannya pak Mirza.” Kamil sambil melihat ke arah samping, dimana orang yang baru saja


di sebut namanya memandang dengan mata terbuka penuh.


“Sory pak, dari pada saya jujur. Mereka pasti akan marah!” Ucapnya pelan dengan kedua tangan di depan bibir, menghalangi perkataannya ditebak hanya karena gerakan bibirnya.


Sementara di bawah meja, Mbak Tia sudah beberapa kali memukul pahanya. Entah apa maksudnya. Apakah menyuruh Kamil jujur, atau menyuruh diam.


Hingga semua pesanan datang, menghentikan perdebatan di meja makan itu.


“Rin,” Linggar sambil menyodorkan kepiting asam manis miliknya ke arah Rindi. Meskipun sedikit terkejut namun


Rindi tetap menyambut baik saat Linggar menyuapinya.


“Enakkan?” Linggar saat Rindi menatap matanya. dengan mulut yang masih mengunyah, Rindi hanya menganggukkan kepalanya memberi jawaban untuk Linggar.


“Aku juga dong!” Pintanya sambil menatap udang di piring Rindi.


Mengambil sepotong dan menyodorkannya pada Linggar, “Gimana?” Tanyanya saat Linggar mengunyah makanan


hasil suapannya.


“Enak!” Linggar di sertai dengan anggukan kepala lengkap dengan senyuman manis untuk Rindi.

__ADS_1


Pastinya enak, terlebih jika itu suapan dari orang terkasih.


Dunia serasa milik berdua, yang lain kontrak.


Melupakan mereka yang memandang dengan siku saling mendorong satu sama lain. Karena jika mereka bersuara,


pastinya membuat dua orang itu tersadar lalu menyodorkan pertanyaan-pertanyaan yang pasti membuat mereka akan mencari alasan lagi.


Kecuali Ayu. Wanita itu hanya memandang ketiga orang di depannya, lalu pandangannya berpindah ke arah


Linggar-Rindi. Apa yang salah, pikirnya.


Linggar kembali meraih tangan Rindi setelah mereka membersihkan tangan. Bahkan mengajak Rindi ke arah kasir,


membiarkan yang lain berjalan mendahului mereka.


Pintu lift yang berisikan empat orang di dalamnya masih terbuka lebar, menunggu Linggar dan Rindi yang masih


berjalan dengan santainya.


Tak ada yang berani protes!


Terang saja harus menunggu merekakan baru saja ditraktir oleh Linggar.


“Liat pak Linggar gak? Kayaknya masih sayang banget sama Rindi.” Kamil sambil menatap Mbak Tia. Satu-satunya


teman yang bisa di ajak ngegosip.


“Gak yangka banget mereka ternyata mantan suami-istri. Aku kira cuma Pak Linggar saja yang naksir Rindi.”


Mbak Tia berusaha untuk tak menatap Linggar dan Rindi, hanya untuk menjauhkan rasa curiga saat membicarakan orang yang di sana.


“Gak. Keliatan kok dulu Rindi juga beberapa kali memperhatikan Pak Linggar diam-diam. Trus natapnya dalaaaammmm banget.” Kamil dengan memejamkan mata erat di akhir kalimat, menandakan keseriusan.


“Iya sih. Kok bisa cerai yah? Padahal keliatan masih sama-sama sayang.”


Saat Linggar dan Rindi semakin mendekat, mereka langsung menghentikan proses pencarian fakta yang belum mereka ketahui.


Linggar masuk ke lift menarik tangan Rindi menuju ke sudut kotak besi itu.


Dan ahhh...., akhirnya tangannya terlepas dari genggaman Linggar. Meskipun seperti ada yang hilang namun


setidaknya pori-pori di kulit tanggannya sedikit bernapas.


Dan dadanya sedikit lebih lega, menahan debaran bin malu.


Namun hanya sekejap mata. Karena tangan Linggar hanya berpindah ke pinggannya melalui belakang tubuhnya. Menarik pinggang yang sedikit lebih ramping dari pada sebelum mereka berpisah dulu.


Membawa tubuh Rindi lebih dekat dengan tubuhnya.


Rindi menoleh, sedikit menengadah menatap wajah Linggar yang lebih tinggi darinya. Tatapannya mengandung banyak pertanyaan di otaknya.


Apa yang Linggar inginkan dengan kedekatan mereka.


Linggar tak mengidahkan tatapan Rindi. Pandanggannya tetap lurus ke depan dengan senyum tertahan di  wajahnya.


Sementara teman-teman yang lainnya masih sibuk dengan pembicaraan mereka bersama. Berusaha acuh meskipun mereka tahu jika saat ini Linggar memeluk pinggang Rindi.


Terlihat sedikit posesif meskipun sembunyi-sembunyi.


Hari ini ia seperti tengah berada dalam alam mimpi.

__ADS_1


Berdekatan dengan Rindi seperti ini, tak pernah ia rencakan sebelumnya.


Semua terjadi begitu saja.


__ADS_2