
Di balik selimut, Lirna meringkuk menyembunyikan seluruh tubuh dari serangan adiknya. Beberapa kali mengibaskan tangan, demi melindungi dirinya sendiri.
Linggar menciumnya dengan membabi buta.
Kedua orang tua Rindi baru saja meninggalkan kamar perawatan Lirna. Niatnya hanya ingin menjenguk wanita yang melahirkan kemarin itu, dan berakhir dengan pembicaraan yang serius bersama orang tua Linggar.
Hingga keputusan finalpun diambil, memajukan pernikahan kedua Insan yang sedang dimabuk cinta tersebut.
Empat puluh lima hari dari hitungan kemarin pernikahan pun akan dilaksanakan.
Bundapu mengakui, seperti pandangan mereka yang hampir sama, melihat Linggar-lah yang justru terlihat selalu menempel pada Rindi.
Benar, takut DP duluan.
Linggar melaksanakan euforianya seorang diri. Rasa ingin memeluk seseorang, siapa saja yang mau berbagi kebahagiaan dengannya.
"Udaaaah, ah." Menarik pundak Linggar menjauh dari istrinya Reza bertindak sebagai penyelamat. Kesal sendiri saat melihat pria itu terus mengganggu istrinya.
Tapi sayang, kini dirinyalah yang justru mendapat serangan dari Linggar.
Linggar yang masih memoyongkan bibir, beralih mendekat dan hendak mencium Reza.
Membuat pria berkacamata Itu bergidik ngeri sendiri.
" Dasar gila." Umpatan yang Resa keluarkan sembari terus menjauh dari Linggar.
"Tauk tuhhhh." Lirna turut membela suaminya, wajahnya yang sedari tadi kesal belum berubah.
"Aaaahhhh bunda." Linggar meregangkan tangan sambil berjalan mendekati Bunda yang baru saja masuk ke ruangan perawatan tersebut.
"Terima kasih!" Ucapnya tepat saat Bunda masuk dalam dekapannya. mengayunkan tubuh ke samping kiri dan kanan secara berirama.
" Terima kasih! Terima kasih!" Ucapnya berulang-ulang. Bahagia seolah tak terbendung.
Permintaan yang beberapa kali dengan mengiba tapi tak dubris kini terkabul hanya karena Rindi mabok setelah mereka beberapa wahana ekstrim.
Tahu begini sudah sejak lama ia mengajak Rindi berlibur ke part theme.
"Lapar." Lirrna merengek pada sang suami. Mengabaikan Linggar yang telah mendapat tempat yang pas untuk merayakan kesenangannya.
"Mau makan sekarang?" Reza dengan penuh kasih sayang pada wanita yang telah memberinya dua Buah Hati itu. Mulai mendekat dengan nampan di tangan.
Lirna mengangguk sambil tersenyum manja pada suaminya. Kebahagian yang semakin lengkap dengan bertambahnya anggota baru dalam keluarga mereka, membuat sang suami semakin melimpahkan kasih sayang padanya.
"Aku aja yang suapin." Linggar mendekat penuh semangat, langsung menyambar nampan yang tadi berada di tangan Reza.
"Ck apaan sih Gar? Nggak jelas banget." Akhirnya pria yang terkenal pendiam itu mengeluh juga.
__ADS_1
" Aku cuma mau melayani kakakku ini. Ceritanya kan dianya lagi sakit, habis lahiran." Ucapan Linggar panjang lebar tidak jelas. Mungkin kalimat itu tersusun hanya untuk dirinya sendiri.
Reza mengalah daripada harus terhimpit karena pria yang sedang Kasmaran itu.
Orang waras lah yang memang harusnya mengalah, pikirnya.
"Kak nikahan aku nanti, hadiahku apa?" Linggar saat mulai menyuapi Lirna.
Kesal, ternyata Linggar melayaninya karena ada maunya.
Tangan Lirna akhirnya terangkat, merebut sendok dari tangan Linggar.
Tok.
"Awww," Linggar sambil mengusap kepala yang baru saja mendapatkan ketokan mesra dari kakaknya.
"Kamu melayani nggak ikhlas banget. Nggak usah, sana!" Usirnya ketus dengan tatapanpun tak bersahabat.
"Aduuuuh, Kenapa sih itu cewek taunya ketokin kepala mulu. Sakit tahu." Keluh Linggar sambil mengusap kepalanya.
"Eh siapa yang berani ketokin kepala kamu dek?" Lirna menampakkan wajah simpatinya.
Senyum tertahan di wajah, "Rindi?" Tebaknya lagi. Siapa lagi wanita yang ada di hidup adiknya itu selain Rindi?
Linggar mengangguk membenarkan, wajah dibuat seakan ia sebagai insan yang terdzolimi.
"Bilang sama Rindi, istri itu harus hormat sama suami. Jadi nggak boleh ketok-ketok kayak gitu." Bibir semakin terkembang meski berusaha di tahan sebisa mungkin.
"Hanya aku yang boleh ketokin kepalamu, hahahahaha." Ketawanya jahat banget.
Dasar kakak lucknut.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Linggar menatap seluruh ruang kamarnya. Hampir beberapa tahun ini tak pernah berubah. Bahkan sebelum pernikahan pertama mereka dulu.
Pernikahan semakin dekat, membuat hatinya sedikit gelisah.
Takut jika tak bisa memberikan sesuatu yang terbaik untuk RIndi.
Takut jika Rindi kecewa dengan suatu keadaannya nanti.
Menarik napas pelan melalui mulut, berdesis kecil kemudian menggigit bibir bawahnya sendiri.
Kembali mengitari kamar melalui pandangannya.
Rasa perlu merenovasi beberapa kondisi di sana. Otaknya serasa di peras hanya demi memikirkan jenis model kamar yang disukai RIndi.
__ADS_1
Kaki melangkah kini ke arah kamar mandi di dalam kamarnya.
Shower tergantung di dinding. Bak mandi lengkap dengan gayungnya. Matanya memutari seluruh dinding kamar mandi.
Kecil, dan tak ada bathtub.
Bukan untuk dirinya, tapi untuk Rindi.
Keluar dari kamar berniat untuk menghampiri sang ayah, hendak meminta bantuan.
"Yah, Aku pengen rombak kamarku sedikit." Ucapnya tanpa basa basi.
"Yang mana?" Ayah baru saja mengatakan ponselnya di meja.
"Kamar tidur yah, sekalian mau ganti ranjang yang sedikit lebih besar. "Linggar turut duduk di kursi rotan berperantara meja dengan sang ayah.
" Ya udah sekalian aja buat ruang kerja untuk kamu sendiri."
"Di kamarmu nanti ada Rindi, pasti susah untuk konsentrasi. Om Adit-mu sangat mengandalkan kamu."
"Jangan sampai setelah menikah, kinerja justru menurun. Ya harusnya kan naik lah, secara sudah ada penyemangat dalam hidup."
"Menikah itu bukan hanya sekedar nafsu, tapi ada tanggung jawab juga di dalamnya. Kamu sebagai suami bertanggung jawab menafkahi istri dan anak-anakmu nanti. Pekerjaan sebagai jembatan untuk bisa mendapatkan nafkah pada istrimu."
"Kamu beruntung mendapatkan pekerjaan yang baik, bisa memberikan yang terbaik pula untuk masa depan anak-anakmu. Jadi jaga baik-baik pekerjaan ini, pertahankan."
"Dan jangan mengecewakan kepercayaan om-mu itu!"
Linggar hanya menunduk mendengarkan segala petuah sang ayah. Ternyata diam-diam ayahnya itu sangat perhatian dan penuh kasih sayang.
Dikiranya ayah hanya sibuk bekerja demi kehidupan keluarga yang lebih layak. Ternyata mendapat perhatian seperti ini membuat hati menghangat. Mungkin pipinya kini merona merah, seperti orang yang sedang jatuh cinta.
"Sekalian saja siapkan untuk kamar anak-anak kalian, biar nanti tidak repot lagi."
Kepalanya terngangkat demi melihat wajah sosok yang menjadi panutannya.
Begitu jauhkah pemikiran sang ayah. Pernikahan belum terlaksana, tapi beliau telah memikirkan tentang anak-anak.
"Kenapa?" Ayah dengan kening berkerut saat melihat pandangan Linggar yang mungkin sedikit membingungkan. "Butuh tenaga ahli?"
"Ayah yang bayar?" Menggerlingkan mata ke arah ayah, Rasa kagum pada sosok ayahnya ditutupi dengan sikap jahilnya.
"Ck, kamu itu kebanyakan ditraktir." Ayah meluruskan tubuh, tak lagi miring ke arahnya.
"Ya udah nanti ayah tanya teman ayah, gimana bagusnya."
Tawa Linggar menggema dalam kekaguman.
__ADS_1