Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Melepas Rindu


__ADS_3

“Bun, bunda!” Teriak Linggar sambil terus melangkah masuk ke dalam rumah.


“Iya-iya bunda datang. Gak usah teriak-teriak ah!” Bunda yang terlihat muncul dari dalam.


“Diajak bolos lagi sama Linggar kan?” Ucap bunda saat menatap Rindi yang masih bergenggaman tangan dengan


anaknya.


“Maaf tante, tapi katanya udah bilang sama tante!” Setelah berhasil melepaskan tangannya dari Linggar dan mendekati bunda mengulurkan tangan untuk meraih tangan bunda.


“Iya, memang udah bilang. Tapi bunda pikir nanti abis jam kuliah. Bukan bolos lagi!” Dengan mimik sedikit di buat jutek namun bagi Rindi itu memang tampang kesal bunda karena acara bolosnya untuk ke dua kali di depan bunda.


“Ya, udah mau marah-marah juga percuma kalian udah di sini. Tapi jangan sering-sering bolos kuliah ya. Kalian sendiri nanti yang rugi.”


“Iya tante, maaf!” sejauh ini Rindi merasa belum memiliki nilai plus di depan bunda Linggar.


“Kalian ngobrol aja dulu, gak usah mengharap oleh-oleh, dia gak bawa apa-apa. Bunda mau masak dulu yah!” Dengan bunda yang beranjak masuk ke dalam memberikan ruang pada Linggar dan Rindi.


“Kita ke samping yuk!” Linggar yang lagi-lagi tak memerlukan jawaban karena tangannya telah menarik pergelangan tangan Rindi.


Sampai di teras samping, pandangan lapangan basket yang menyilaukan telah nampak di depan mata. Membuat


yang melihat harus menyipitkan mata.


Tapi tak menyurutkan niat Linggar untuk melepas kerinduan pada gadis yang kini telah berada dalam pelukannya


begitu mereka telah melangkah ke luar pintu.


Pelukan erat Linggar dari belakang benar-benar menahan pergerakan Rindi. Dengan satu tangan melingkar di


bagian bawah leher dan satunya melingkar di perut Rindi. Membuat sang gadis harus menahan napas dalam beberapa waktu lamanya.


Tangannya terkulai lemas di samping tubuh. Ia sungguh berada dalam garis kehati-hatian hanya untuk sebuah


pergerakan.


“Rin, aku kagen.” Linggar.


“Kangen banget Rindi. Kadang aku pengen marah sama kamu kalo gak dapat kiriman vidio. Terpaksa deh, vidio yang lama diputar berulang-ulang sampai aku tertidur. Besok paginya hapeku lawbet. Hahahaha.”


“Sebenarnya aku mau nyium ini.” Linggar sambil mengelus lembut bibir Rindi dengan ibu jarinya.


“Tapi takut nanti kamu ngambek lagi, menjauh trus itung-itungan gak jelas lagi.” Lanjutnya.


Hanya sedikit pergerakan dari Linggar kini wajah mereka telah saling berhadapan. Sangat dekat membuat jantung


Rindi seolah berhenti berdetak.


“Boleh cium gak?” Dengan tatapan yang begitu dalam dan lekat.


“Ja-jangan!” Untungnya Rindi masih bisa melepaskan kata-kata itu dari bibirnya yang seolah kelu.


“Ya udah gini aja gak papa deh!” Linggar kembali memposisikan dirinya dengan benar. Beberapa kali pergerakan sesuatu yang menyentuh kepala Rindi. Kecupan singkat namun berulang-ulang mendarat ke puncak kepalanya.


“Ini sudah lumayan buat lepas rindu.”


Pelukan Linggar terasa mengendor. Ternyata hanya untuk membalik tubuh Rindi menghadap ke arahnya. Dan melingkarkan tangan gadis itu di pinggangnya. Kini mereka telah berpelukan dengan saling berhadapan.

__ADS_1


“Kangen banget sih!” Linggar yang menenggelamkan kepala Rindi di dalam dekapannya. Sementara gadis itu hanya mampu berdiam diri tak bisa berbuat apa-apa.


Suasana terasa lebih tenang tanpa adanya satu pergerakan atau bahkan suara-suarapun seolah enggan mengganggu keromantisan kedua insan yang tengah melepas rindu.


Hingga.


“Adededede.” Rintihan Linggar seraya melepas pelukan di tubuh Rindi.


Rindi tercengang saat melihat bunda telah berdiri di belakang Linggar dengan tangan yang berada di daun telinga kekasihnya. Mundur beberapa langkah seolah memberikan ruang pada ibu dan anak itu. Dengan kedua tangan berada di wajahnya, hanya untuk menutup mulutnya yang terbuka lebar.


“Kalian lagi apa hah?” Dengan tangan yang masih betah di telinga Linggar.


“Aduh, maaf bun.”


“Bunda, sakit bun!” Sambil terus menepuk-nepuk pelan pipinya sendiri berusaha menyamarkan rasa panas di


telinganya.


Setelah telinganya terlepas dari tangan bunda, ia langsung menghempaskan tubuhnya ke kursi malas sambil terus


melirik sinis pada bundanya. Seolah ingin protes namun sayang tak bisa terucapkan.


“Kalian ngapain peluk-pelukan? Beruntung bunda datang, kalau gak? Gak tau kalian mau ngapain lagi setelah ini.”


“Gak mungkin ngapa-ngapain di ruang terbuka kayak gini bun. Bunda mikir apa sih?” Elak Linggar yang masih terlihat cemberut.


“Makanya bunda suruh kalian nikah. Bukan main peluk-pelukan kayak gini.”


“Kalau nikah sih aku mau. Ya ayo!”


“Ayo! Ayo! Iya, nanti aja peluk-pelukannya kalau sudah halal. Sekarang jaga jarak dulu biar gak ke bablasan. Social distancing dulu!”


“I-iya tante.” Mungkin lain kali ia harus berpikir seribu kali jika di ajak Linggar untuk datang berkunjung ke sini.


Ya ampun ini hanya semakin mengurangi nilainya saja.


Mereka kembali terdiam dengan duduk yang saling berjauhan, meskipun bunda tak lagi berada di antara mereka.


“Rin, sini Rin.” Linggar sambil menepuk tempat kosong di sebelahnya, dengan kepalanya yang masih bersandar di


sandaran kursi.


“Jaga jarak kata bunda. Social distancing, dua meter.” Rindi.


“Kejauhan, satu meter cukup.”


“Keluar yuk Rin.”


“Ke mana?”


“Jalan ke mall, mau?”


“Gak usah! Bunda masak banyak. Kalian makan di sini saja.” Suara bunda terdengar nyaring meskipun terletak


berbeda ruangan.


“Astaga.” Linggar dengan menggeleng-gelengkan kepala. Sudah terpisah dinding bunda masih saja mendengar

__ADS_1


percakapan mereka.


“Aku bantuin bunda di dapur aja yah!” Pintanya pada Linggar.


Mungkin dengan begitu ia bisa dapat mengambil hati bunda meskipun hanya sedikit.


“Gak usah, kamu kan tamu. Nanti aja kalau kamu sudah jadi nyonya rumah ini. Kamu bisa bantuin bunda sesukamu.” Dengan mengerlingkan mata ke arah Rindi.


Sementara yang di lirik hanya mampu menundukkan kepala dengan sebuah senyuman tersungging di bibirnya.


Kini pemandangan di hadapan terasa jauh lebih menyilaukan dan terasa sangat panas. Membuat Linggar kini tak


betah berlama-lama di sana. Terlebih lagi posisi mereka yang terbilang jauh menurut Linggar.


Gimana mau lepas rindu kalau harus jaga jarak. Bunda ada-ada saja.


“Ya, udah kita pindah yuk!”


“Ke mana?”


“Ke dalam aja.” Linggar telah berdiri dari tempatnya.


“Kamu bawa itu yah, aku bawa ini!” Menunjuk ke arah piring berisikan irisan kue bolu lalu berpindah ke sebuah nampan yang berisikan minuman berwarna yang tadi telah di bawa bunda sebelum menarik telinganya.


“Ini jadi salah satu tempat ngumpulnya anak-anak saat mereka di sini.” Kini mereka telah berada di ruang tengah


dengan buffet dan sebuah tv besar yang menjadi titik fokus ruangan.


“Sini Rin!” Saat Linggar telah mendaratkan tubuhnya ke sebuah sofa panjang. Di depannya tergelar sebuah bulu


dengan beberapa bantal sedang tergelak di atasnya.


Nyatanya Rindi mengambil tempat sedikit lebih jauh dari Linggar. Mungkin karena ia masih memegang asas jaga


jarak yang bunda lontarkan tadi.


Otomatis itu membuat Linggar tak terima. Seketika itu pula menempatkan diri berada di samping Rindi, menghimpitkan tubuh gadisnya ke sudut sofa.


“Ishhh.” Protes gadis itu. Sementara Linggar hanya tersenyum menanggapi protes Rindi.


To Be Continued!


Kisahnya slow  dulu yah!


Kita bahagia-bahagia dulu.


Sebelum konflik sebenarnya datang.


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Minta sumbangan likenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.

__ADS_1


Yah!Yah!Yah!Yah!


Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.


__ADS_2