Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Tak Bisa Fokus


__ADS_3

Ini adalah hari ke-tiga setelah kejadian menyakitkan itu.


Secara tidak langsung hubungan mereka putus begitu saja.


Tak ada komunikasi meski lewat udara, terlebih interaksi secara langsung saat bertemu.


Linggar memilih menatap ke arah lain, menunduk atau pura-pura sibuk dengan ponselnya. Meski rindu telah menggunung, namun tak ingin jatuh lebih dalam lagi dengan rasa sakit jika mereka kembali namun tak bisa  bersama.


Dan hari ini di saat sebagian karyawan memilih turun, Linggar justru menekan tombol naik pada lift guna kembali ke meja kerjanya. Menghindari Rindi adalah alasan utama yang saat ini. Ia Tak tahu Rindi sekarang berada di mana, dan hendak kemana saat makan siang ini.


Rindi melangkahkan kaki cepat kemudian berlari ke arah lift yang berisikan sosok Linggar, menahan pintu yang hampir saja tertutup dengan tangannya.


"RINDI," Pekik Linggar sambil menggeram marah. Turut menahan pintu dengan kaki yang berbalut sepatu pantofel.


"B0D0H! BAHAYA TAU!" Bahkan jantungnya bagai melompat saat melihat aksi nekat Rindi.


Entah apa yang dipikirkan wanita itu?


Bertemu dengan Linggar, pastinya.


Mendengar Makian Linggar , Rindi tak peduli. Tetap melangkahkan kaki mendekat pada pria itu.


Langsung masuk ke dalam dekapan Linggar, mengabaikan beberapa karyawan di belakang yang tengah menunggu lift yang bergerak turun.


"Kak jangan seperti ini, aku mohon!" Rindi mulai berbicara.


Linggar tahu maksud Rindi, kembali menekan tombol tutup pada lift.


Teman-teman Rindi pun tahu, jika hubungan mereka kembali tidak baik-baik saja. Memilih tak ikut dalam lift, toh tujuan mereka memang tak sama.


" Aku sudah terbiasa menjalankan semuanya sama kakak. Dan sekarang kakak menghindar, aku seperti lumpuh tanpa kakak." Mulai berbicara dalam tangis saat pintu lift baru saja tertutup.


"Aku nggak bisa!"


"Aku tahu kita akan berpisah, Tapi tolong beri waktu, tinggalkan aku secara berangsur."


Linggar meringis, pelukan Rindi terasa sangat kuat, membuatnya sedikit sesak nafas.


Tapi jika bisa jujur, bukan karena itu.


Kata demi kata yang Rindi diucapkan, bagaikan belati yang mengiris hatinya perlahan demi perlahan.


Linggar hanya mampu mengangguk mendengar permintaan terakhir Rindi.


Menarik nafas melalui mulut dengan gigi yang merapat. Hatinya terasa Pedih, mendapati Rindi pun yang kini tengah Tersakiti.


Beberapa kali mengerjapkan mata demi menghalau bendungan yang hampir saja turut bocor.


"Udaaaah, jangan nangis! Malu diliat orang." Linggar mendorong pundak Rindi demi mengambil jarak. Hanya ingin memandang wajah yang kini tengah sembab.


Memberikan senyum penenang meski hati turut perih.


Berdua melangkahkan kaki keluar saat lift berhenti di lantai tempat meja kerja Linggar berada.


Menepi ke arah jendela kaca kantor, saling merangkul.


Memandang deretan gedung-gedung tinggi. Di bawah sana jalan raya dihiasi dengan kendaraan yang padat mengular. Berisikan mereka yang sebagian memilih menikmati makan siang sedikit jauh dari kantor.


Bayangan diri turut terpantul dari kaca. Dengan Linggar yang menjatuhkan pipi di kepala Rindi, sesekali turut menjatuhkan bibir di sana. Mengecup dengan dalam wanita yang sulit ia miliki.


" Sudah makan?" Dengar tersenyum saat mendapati Rindi menggelengkan kepala.

__ADS_1


" Ya udah kita makan yuk!"


Rindi mengangguk, turut membalas senyum Linggar.


"Tuh kan mejanya udah penuh." Rindi saat melihat suasana kantin tak bercela.


"Pilih menu aja dulu. Bentar lagi bakalan ada yang berdiri kok, gak mungkin juga mereka akan terus duduk di sini." Linggar memutar bahu Rindi, mengarahkan ke stand makanan.


"Salah sendiri kenapa telat." Lanjutnya.


"Kan ikutin kakak, lagian tadi kenapa mesti naik sih?" Dengan kening berkerut memandang ke arah Linggar, protes.


Linggar tersenyum, tak mungkin ia jujur bahwa menghindari orang yang baru saja mengajukan pertanyaan itu.


"Tadinya mau ngambil sesuatu, tapi gak jadi karena ketemu kamu." Alasan yang masuk akal. Toh Rindi juga tak tahu kegiatan Linggar kan.


"Pulang bareng?" Tawar Linggar pada Rindi sesaat mereka mendapatkan meja kosong di kantin.


Kali ini Rindi kembali menggeleng, "Aku bawa motor."


Nasib hubungannya dengan Lingga kembali berada di penghujung. Kisah mereka terhalang Restu.


Butuh  seratus kali berpikir untuk menikmati waktu berdua bersama Linggar di luar kantor.


Dan ia tak ingin mengecewakan Bunda dengan kembali merajut kisah dengan Linggar.


Mereka akan berpisah.


Akan lepas.


Hanya butuh sedikit lagi saja.


Yang bersatu hanyalah hati.


Pikiran Rindi melayang jauh, tak sesuai dengan apa yang ia lihat sekarang.


Layar komputer dan berkas yang di hadapan tak diindahkannya.


Konsenterasinya dalam bekerja kembali pecah, hanya karena masalah pribadi.


Tak profesional, itulah Rindi.


Sadar jika julukan itu akan melekat padanya suatu saat nanti jika terus seperti ini.


Tak boleh seperti ini.


Ia dan Linggar sulit bersatu, pasti akan sulit baginya untuk melupakan pria itu. Terlebih jika berada dalam satu kantor membuat pertemuan mereka bisa terjadi kapan saja.


Mengulurkan tangan, meraih ponsel yang tergeletak tak jauh dari mouse.


Membuka chat gruob sahabat kampusnya yang berisikan empat gadis cantik, Lilis, Andini, Tantri dan tentu juga dirinya.


"Ada lowongan kerja gak?"


Pesan yang baru saja ia tulis dan kirim tanpa rasa ragu.


Hanya butuh beberapa menit saja, ponselnya kini tak berhenti bergetar dan berbunyi menandakan beberapa pesan masuk.


"Kenapa? Di sanakan gajinya tinggi?"  Tantri.


"Mau daftar PNS? Tapi belum ada. Sory cuma php, hihihihi." Andini.

__ADS_1


"Gak nyaman yah? Ada musuh?" Lilis.


"Masa kontrak gak sampai tiga bulan lagi. Waspada gak dapat kontrak lagi, malah dapat surat cinta." Rindi.


"Aku lalot." Emot nangis.


"Alhamdulillah, ada yang percaya diri, wkwkwkw.*" DIni.


"Bukan percaya diri, tapi sadar diri." Tantri.


"Sama aja, sorry niatnya cuma menghibur doang," Emot tertawa terbahak-bahak. Dini.


"Kok tegaaaaa," Emot nangis, Rindi.


"Kok bisa lolos di situ?" Tantri.


"Takdir." Dini.


"Jangan salahkan Takdir, dia gak salah apa-apa." Lilis.


"Trus, salah nasib gitu?" Tantri.


"Nasib buruk perusahaan nerima dia, wkwkwkwk." Dini.


Rindi tertawa, tak lupa menutup mulutnya agar tak terlalu terlihat. Teman-temannya mampu menghibur suasana hatinya yang sedang kacau.


Namun ada ganjal dalam ekspresinya. Hanya sekali mengedipkan mata saja, air mata justru turun membasahi pipi.


"Kenapa Rin?" Pertanyaan dari pak Farid membuatnya buru-buru menghapus longsoran air di pipinya.


"Gak pa-pa pak." Menunjukkan wajah yang baik-baik saja.


"Kalau kerja itu harus fokus. Masalah pribadi dipinggirin dulu!" Lanjut pak bos.


"Bukan kok pak. Ini cuma teman-teman kuliah dulu." Kembali tersenyum meski kaku.


"Bukannya urusan teman-teman termasuk dalam urusan pribadi juga yah?" Pak Farid dengan lirikan yang mengejek. Semakin terasa lengkap dengan gelengan kepala.


Skakmat.


Mau jawab apa coba?


Dasarnya dia yang benar-benar lemot, atau memang kurang fokus saja?


"I-iya pak. Maaf pak." Dengan anggukan kepala, sambil menggeser ponsel lebih jauh dari jangauannya.


Entah mengapa niat untuk hengkang dari perusahaan itu terasa semakin menggebu.


\========


To Be Continued!


Maaf yah, cuma bisa up dikit-dikit.


Tapi dukungannya jangan dikit dong!


Dan buat yang udah selipin sesuatu di balik meja, tengkyu! Tengkyu! Tengkyu!


Salam sayang buat reader yang baik hati dan tidak sombong, juga rajin sedekah (bunga, sama kopi nih yah maksudnya).


Eh sama yang udah vote juga.

__ADS_1


Emmmuahhhhh.


__ADS_2