Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Dua Rasa Yang Berbeda


__ADS_3

Suami istri itu sedang bermesraan di ranjang perwatan. Ia tak boleh menggangu.


Namun entah mengapa pandangan tadi justru mengganggu otak dan hatinya. Memilih berbalik, bersandar di pintu.


Ingatannya seolah melayang saat ia dilarikan ke RS karena mengiris pergelangan tang@nnya. Rindi yang sedang di rawat dan Linggar yang selalu menemaninya.


Pc, setelah seharian ingatan itu kini kembali menghampirinya.


Kesal rasanya karena ingatan itu mampu membuat air matanya kembali meleleh, turun membasahi pipi.


Meskipun saat itu Linggar hampir bonyok oleh serangan dari orang-orang sekitar mereka, pria itu tetap setia dan sabar menjaga dan merawat dirinya.


Dengan beberapa luka di wajah dan tubuh, Linggar ikut berbaring di dekat Rindi, sambil memeluk tubuhnya. Menemani, menenangkan, meredakan dirinya yang tengah hancur.


Meskipun keadaan dulu tak bisa dikatakan sebagai kebahagiaan seperti yang Rima rasakan saat ini bersama suaminya. Bahkan jauh dari kata bahagia.


Namun ia ingin keadaan itu kembali terulang dengan orang yang sama. Linggar yang berbaring di dekatnya sambil memeluk tubuhnya, meskipun terasa terhimpit tapi ia ingin.


Bahkan sangat ingin tidur dengan keadaan terhimpit bersama Linggar.


Kakinya seolah tak mampu menanggung bobot tubuh yang seolah bertambah karena asa, luka dan pemikirannya.


Tubuhnya merosot ke bawah, dan barang bawaannya telah tergeletak di lantai.


Memilih menenggelamkan kepala di antara kedua lututnya. Menyembunyikan tetesan air yang keluar dari matanya,


yang justru mengundang tanya pada setiap orang yang melihat.


Akal sehatnya sedang terbang melayang.


Apa dengan diberbaring di ranjang ruang perawatan akan mampu membawa Linggar kembali padanya?


Apa Linggar masih mau tinggal menjaga dan merawatnya?


Apakah Linggar masih ingin memeluknya dan memberikan semangat padanya.


Tapi apakah kak Reno mengijinkan Linggar untuk menemuinya?


Apa kurangnya Linggar hingga Reno begitu sangat membenci suaminya itu.


Ah bukan, mantan suaminya. Baru beberapa hari lalu ia mendengar kata takaq dari Linggar untuk dirinya.


Bahkan serasa terbang melayang di atas kepalanya.


“Apakah hatimu sekeras batu?”


Itu kalimat yang Linggar ucapkan sebelum kalimat talaq.


Apakah ia telah berlaku kejam kepada Linggar?


Apakah ia jahat membiarkan Linggar berjuang sendiri dan ia hanya bertopang dagu menanti hasil yang ternyata menyakitkan baginya.


*“Aku tak tahu lagi cara mencairkan hatimu.” *

__ADS_1


Kalimat itu semakin menambah deritanya. Membuat pelupuk mata seolah jebol dan tak mampu lagi menahan deras


air matanya.


*Hanya memeluk saja! *


Mungkin itu sudah mampu mencairkan hati.


Jika memang dengan berpisah dengan Linggar bisa membuatnya bahagia seperti ucapan Kak Reno lalu mengapa


rasa sakit seolah enggan pergi darinya.


Luka yang terasa justru semakin perih seiring kenangan mereka yang terlintas satu persatu. Goresan hati teramat


dalam menciptakan rasa sakit yang memilukan.


Mengidahkan pandangan iba orang-orang terhadapnya. Bahkan saat seseorang sejak tadi turut  menyamakan tinggi dengannya. Membelai rambutnya dengan lembut.


“Kenapa?” Saat Rindi mengangkat kepalanya.


Tak kuasa menjawab, Rindi lebih memilih memeluk lutut orang yang kini berada di hadapannya. Meluapkan segala


rasa yang menyakitkan, bahkan mampu membuat bahunya terguncang.


Mungkin setelah ini, akan mampu membuatnya lebih tenang dan melupakan segala goresan luka yang tercipta karena perpisahan. Biarlah! Pikirnya.


Meskipun harus sedikit menepikan rasa malu, pria itu membiarkan Rindi menangis.


Sedikit mengerti dengan keadaan Rindi saat ini, bukan bahkan sangat mengerti.


Dirinyapun pernah merasakan sakitnya perpisahan.


“Sudah?” Saat Rindi mulai menarik kepala dan mulai menyapu wajah dengan telapak tangannya sendiri.


“Sudah tenang?” Ucapnya lagi hanya untuk memastikan. Rindi hanya mengangguk, mencoba tersenyum meski sangat terpaksa.


“Mau lihat ade bayi?” Mengalihkan rasa sakit Rindi dengan membawanya pada suatu kesenangan.


Rindi mengangkat kepala melihat pria yang telah tersenyum kepadanya.


“Mau,” meskipun rasa malu baru saja terasa.


“Ayo!” Pria itu mulai berdiri di ikuti dengan Rindi. “Tapi kamu cuci muka dulu, nanti anakku takut liat muka kamu merah dan bengkak kayak gitu! Mirip teletabbies.”


Rindi tersenyum lalu menampilkan bibir maju ke depan.


“Sekalian simpan itu,” Sambil menunjuk ke kantong kresek yang tergelat tak berdosa di samping Rindi.


“Pelan-pelan yah, istriku sedang tidur. Kasihan capek banget dia.”


“Iya,” Mulai menekan hendel pintu dengan sangat pelan sesuai perintah Dihyan.


Demi mengusir rasa sedih di hati Rindi, pria itu mengijinkannya untuk menggendong putri kecilnya.

__ADS_1


Nampaknya wanita itu benar-benar melupakan rasa sedihnya yang baru saja ia luapkan tadi. Tangisan itu telah berubah menjadi senyum merekah di wajahnya.


“Uyu Uyu Uyu Uyu, nih anak siapa sih?” Ucapnya sambil mengoyangkan kepala ke kiri dan ke kanan dengan ujung


hidung yang menempel di pipi sang bayi.


"Ya anak bapaknya lah!" Sambaran langsung pria itu. Kemudian tersenyum lega.


Emmm, wangi bayi memang enak. Membuat Rindi tak henti untuk mencium bayi itu. Melupakan kesedihan yang baru saja ia luapkan. Meskipun mata masih sembab namun hati setidaknya saat ini, hatinya sedang bahagia.


Setidaknya untuk saat ini.


\=\=\=\=\=\=\=


“Kak, Rindi mana?” Andini yang berpapasan dengan Linggar tapi tak menemukan sosok sahabat di samping suaminya.


“Lagi ngurus ibu hamil.” Ucapnya asal namun benar.


Rindi kini hanyut dalam suasana kebahagian dan keriuhan ruang perawatan Rima. Dengan beberapa keluarga yang juga turut berkumpul di sana.


Yang sebenarnya tak ia ketahui. Yang jelas saat ini, ia hanya ingin menyembunyikan tentang perceraiannya dengan


Rindi.


Rindi tak masuk hari ini, mungkin masih sedih pasca perceraian mereka, pikirnya.


Biar bagaimanapun mereka telah bersama selama lebih dari tiga tahun terhitung masa pacaran. Apalagi mereka telah hidup bersama dalam satu atap, satu kamar dan satu ranjang walaupun hanya dalam tiga bulan. Kehilangan pasti akan menyisakan rasa sakit.


Rindi memilih tak masuk. Berbeda dengan dirinya yang lebih memilih menghibur diri dengan berbaur di keramaian hanya untuk melupakan kesedihannya. Dan sedikit menyampingkan rasa rindu tak bertemu dengan Rindi selama dua hari.


Hari kelima dari hari itu, Rindi baru terlihat berada di tengah-tengah temannya. Dengan wajah yang segar ceria dan senyum yang tak pernah lepas?


Menceritakan tentang kerempongannya saat akan mempersiapkan kebutuhan persalinan Rima. Lalu saat dirinya diijinkan untuk menggendong bayi mungil itu.


Wajah Rindi terlihat banyak senyum dan tawa hari ini.


Bahkan dari jauhpun terlihat dengan sangat jelas bahwa gadis itu telah merasakan kebahagian.


Mengapa justru hatinya sakit saat melihat tawa Rindi sampai lepas begitu?


Apakah Rindi justru bahagia berpisah dengannya?


Saat dirinya menghindari kesendirian karena akan teringat dengan kisah yang baru saja berakhir. Kejadian yang mampu mengguncang hati dan dirinya. Menjalani ini, ia tak yakin dirinya mampu melaluinya dengan baik-baik saja.


Bahkan jika dirinya diberikan waktu, inginnya ia berteriak membuang semua kesakitan yang justru terendap dalam hatinya.


Sementara disana.


Tempat mantan istrinya sedang tertawa riang. Bahkan sangat riang untuk orang yang baru saja bercerai.


Sebahagia itu Rindi saat berpisah dengan dirinya?


To Be Continued!

__ADS_1


__ADS_2