
Di sana.
Di rumah yang telah di tetapkan Reno untuk tempat menampung Rindi dan Linggar, semuanya telah di atur sedemikian rupa.
Satu dinding menjadi pembatas antara mereka berdua.
Linggar duduk di tepian ranjang dengan memperhatikan kamar pembagian jatahnya. Beberapa kali menggelengkan kepala pertanda tak setuju dengan semua yang ia dapatkan.
Pisah kamar dengan istrinya sendiri, benar-benar sangat merugikan dirinya.
Ini tak sesuai dengan konsep semula yang ingin ia jalankan.
Membawa Rindi ke rumah orang tuanya tentunya jauh lebih aman dalam mengendalikan rumah tangganya.
Ini tak boleh dibiarkan terlalu lama.
Perasaannya tak tenang.
Rasa gundah, getir dan takut kian menyerang jiwa.
Ketika mendengar pernyataan dari mulut Reno, "Jika Dira tak hamil karena kejadian itu, lepaskan adikku! Ceraikan Dira dalam waktu tiga bulan dari sekarang!"
"Dan jangan coba-coba mencuri kesempatan untuk kembali menyentuh adikku dengan tangan kotormu!"
Bagaimana mau hamil, kamarnya saja dipisah?
Heh, ada-ada saja pria itu.
Dasar manusia aneh.
Berharap dan berdoa jika Rindi hamil karena kejadian dulu, hingga hubungan mereka bisa aman tanpa colekan dari pria aneh itu.
Tak ubahnya dengan Linggar.
Rindipun hanya terdiam terpaku duduk di tepian ranjang yang berada dalam kamar jatahnya.
Kakaknya benar-benar memisahkan dirinya dengan Linggar yang notebenenya suami tertulisnya.
Bahkan saat Negara Indonesiapun mengakui itu. (Jangan percaya yah! Namanya juga Ngehalu)
Menatap seluruh ruang kamar. Luas, sangat luas untuk ia tempati sendiri.
Tak bisa dipungkiri, sudut hati kecilnya menginginkan Linggar turut hadir dalam ruangan ini.
Pasti cukup untuk mereka berdua.
Menggenggam tangannya sendiri, mengumpamakan satu tangannya adalah tangan Linggar yang dulu selalu menggenggamnya dengan sangat erat.
Tapi kini, saat semuanya telah ia lalui dan terima justru mereka harus terpisah dengan syarat dan ketentuan yang bisa dibilang tak masuk akal.
Tapi ia bisa apa?
Ia tak mampu melawan keinginan kakaknya itu.
Berharap semua ini adalah yang terbaik sesuai dengan janji Reno.
\======
"Aku minta rekaman CCTV rumah kamu dong?” Ucap Reno kembali menyambangi suami RIma di kantornya. Beberapa waktu belakangan ini, ia sangat rajin bersilaturahmi dengan keluarga RIma. Tentunya dengan tujuan tersendiri.
"Buat apa?" Suami Rima dengan memicingkan matanya memandang pria yang beberapa hari ini turut mengisuk hidupnya.
"Ya buat ngecek Adikku.” Sedikit senyum memikat berharap mendapatkan persetujuan untuk permintaannya.
"Cek adikmu atau cek istriku?" Tak bisa dipungkiri lelaki di hadapannya ini mulai membuatnya merasa membuang-buang waktu.
Bukan tak senang jika Rindi tinggal di rumahnya.
Senang karena ada yang menemani istri dan anaknya di saat dia sedang sibuk dan harus lembur. Tapi pikirannya terhadap Reno yang terlalu menyibukkan diri dengan pernikahan adiknya sendiri membuatnya jengah.
"Pc, cek Adik sama adik iparku. Adikku nggak boleh sekamar sama suaminya." Permintaan konyol yang telah ia ucapkan berkali-kali.
"Lah, tahu sendiri itu suaminya, ngapain harus dipisah kamar?"
"Nggak! Nggak boleh!" Reno dengan sangat tegas.
" Mereka nggak boleh sekamar, jangan sampai adikku hamil anak dari lelaki itu!" Lanjutnya.
__ADS_1
"Rempong." Memaki. Di samping ia yang merasa kesal dengan permintaan Reno yang seperti tidak ada habisnya hanya untuk memisahkan sepasang suami istri yang telah sah secara hukum dan agama.
Ia juga merasa kasihan dengan Linggar. Sebagai seorang pria yang berkeluarga, ia tahu rasanya menahan h@sr@t.
Untuk istilah, “boleh di liat, tak boleh di pegang,” itu sangat menyiksa batin dan memusingkan kepala.
\========
Linggar turun dari mobil dan segera berjalan menuju ke Sisi sebelah, membukakan pintu untuk Rindi.
Sambil menggenggam tangan istrinya, mereka berjalan bersisian memasuki kampus.
Meskipun keadaan ini canggung, namun masih berusaha menampilkan bahwa semuanya baik-baik saja. Menunjukkan kepada seluruh umat manusia bahwa mereka telah berada dalam satu lingkaran pernikahan yang bahagia.
Terlebih dahulu mengantarkan Rindi hingga ke depan kelas.
"Pulangnya tungguin!" Tak lupa mendaratkan kecupan di kening sebelum benar-benar meninggalkan Rindi menuju ke kelasnya sendiri.
Rindi hanya mampu memandang sosok Linggar dari belakang.
Andaikan semua itu seperti yang Linggar tunjukkan?
Kemesraan ini. Kebahagiaan ini, semua ini hanyalah topeng.
Memilih untuk masuk ke kelas dengan kepala yang tertunduk. Tak terlalu ingin meratapi kisah cintanya yang belum pasti ini.
"Uuuuu,..."
"Cie-cie,...."
Terdengar sorak-sorai dari belakang sesaat Ia telah meninggalkan kelas Rindi.
Linggar hanya tersenyum. Bukan malu tapi justru bangga karena telah mendapatkan Rindi dan memperlihatkan kemesraannya kepada seluruh penghuni kampus.
Termasuk seorang pria yang menatap mereka dengan tatapan nanar.
Pria yang beberapa hari ini menunggu dan mencari keberadaan Rindi yang seolah menghilang bagai ditelan bumi.
Seminggu lebih tak bertemu dengan orang yang ia cintai membuat rindunya seluas galaksi bima sakti.
Rindi terlalu mesra bersama kekasihnya, dan itu tepat di hadapannya.
Tak apalah.
Ia memang hanya sebagai teman dekat Rindi.
Jika mendapat gelar sebagai kekasih bayangan pun akan ia terima.
Dan konsekuensi yang ia hadapi adalah melihat Rindi bermesraan dengan kekasih yang sesungguhnya.
Meskipun sebelumnya Ia telah meyakinkan diri bahwa Rindi akan lebih memilihnya dibandingkan Linggar.
Tapi sekarang?
"Kalian beneran udah nikah, bro?" Pertanyaan yang dia dengar itu mampu membuat dunianya seolah terguncang.
Berharap jawaban tidak atau setidaknya gelengan kepala dari kakak tingkatnya itu.
"Yoi bro." Jawaban dari Linggar disertai senyum sumringah itu sungguh benar-benar menusuk jantungnya.
Masih berharap Linggar merubah jawabannya. Atau sekedar tertawa terbahak-bahak dan bilang, "Prank."
" Kok nggak ngundang-ngundang?"
"Sabar, pestanya nanti abis lulus kuliah." Kebenaran itu sungguh semakin membuatnya terjatuh.
" Udah ngebet banget ya? Nggak bisa nunggu sampai lulus kuliah aja." Teman-teman Linggar yang sedang menggoda pengantin baru itu.
"Jangan-jangan udah di DP duluan?"
Sekelumit perbincangan itu sengaja ia tangkap dengan indera pendengarannya.
" Sebelum digaet orang guys," Jawaban Linggar seolah menyenggol nya dengan keras.
Linggar benar-benar menikahi RIndi?
Kebahagiaan yang sempat ia rasakan selama beberapa bulan ini kini telah berakhir.
__ADS_1
Pupus dengan sendirinya.
Tak disangka Linggar mengambil jalan tengah untuk semakin mengokohkan posisinya.
Erlangga memandang takjup pada sosok temannya itu. Cinta Linggar pada Rindi tak perlu lagi dipertanyakan atau bahkan diragukan lagi.
Tak pernah menyangka jika Linggar lebih memilih menikah dari pada fokus menyelesaikan studinya yang kini telah berada di ujung jalan.
"Gila bener, udah tahu udah punya cowok. masih di embat juga." Linggar kembali mengoceh.
"Ya aku lamarlah, sebelum benar-benar kecolongan." Ucapnya dengan bangga.
Fix.
Linggar memang sengaja menyinggung Iqram. Kali ini pria ser3p itu merasa butuh pijakan yang kuat.
Kakinya melemah tak lagi mampu menahan bobot diri.
"Kamu baik-baik saja?" Viki menepuk pundak Iqram saat sahabatnya itu terlihat lunglai.
"Hemmm."
Mundur secara langsung. Tak mungkinkan ia berharap atau berdoa adanya suatu perceraian hanya untuk kebahagiaannya sendiri.
Tak mungkin lagi baginya untuk mengharapkan Rindi yang telah berubah status menjadi istri orang.
Itu akan membuat harga diri dan kehormatannya jatuh.
Menjadi pebinor?
Oh tidak.
Bahkan dalam agamanya pun, jelas menentang keras.
Berjalan tertunduk menikmati setiap helai jejeran tegel keramik. Pundaknya kini tak lagi tegap.
Tak pernah berharap bahwa kebersamaannya dengan Rindi hanya sesingkat ini.
Kenyataan saat ini yang harus ia terima adalah, ia telah kehilangan Rindi.
Putus asa, itulah dirinya kini.
Pulang tanpa dendam dan menerima segala bentuk kekalahan yang kini ia gengam.
Bahkan mungkin memang kekalahan itu sejak dulu telah berada dipihaknya. Hanya ia saja yang tak ingin mengakui dan terlalu memaksakan diri.
Berjalan terus hingga menembus pagar gedung Fakultas Ekonomi yang beberapa bulan ini selalu ia sambangi hanya untuk cuci mata hingga cuci hati. Di sana ia mampu merasakan satu kebahagiaan yang berakhir tepat hari ini.
Mengendarai motornya yang sering ia parkir secara sengaja di dekat motor Rindi. Keluar kampus, mencari ketenangan di luar sana. Ia tak mungkin memaksakan otaknya menerima pelajaran saat hatinya sedang hancur seperti ini.
MENANG!
Suara Linggar yang bersorak dalam hati.
To Be Continued!
Peringatan!
Ini belum termasuk puncak patah hati yah!
Tissunya siapin dulu.
Hatinya juga ditegarin dulu.
Sebelum kita masuk ke patah hati yang sebenarnya.
Kalau ada sumur di ladang
boleh kita numpang mandi.
Kalau ada bunga di tangan boleh dselipin di bawah pintu.
Kalau ada air panas, boleh kita buat kopi.
Hahahahaha, gak nyambung yah?
Ya, di sambungin dong!
__ADS_1