
“Trus kak Linggar, mana?” Selama menikah inilah pertama kalinya Rindi memanggil Lilis untuk menemaninya.
Hanya untuk berjaga-jaga agar ia tak kembali mengingat Linggar saat sedang sendiri. Tapi ternyata strateginya itu mungkin salah. Pertanyaan-pertanyaan semakin bertambah di otak Lilis.
Tentang di mana Linggar saat ini? Mengapa tak menemani Rindi.
“Lagi ada urusan.” Ucapnya singkat.
“Mau nonton apa?” Sambil menyalakan laptopnya berupaya mengalihkan pembicaraan.
Ingin melupakan Linggar dulu untuk sementara waktu. Dan tak ingin keadaan rumah tangganya di ketahui oleh orang lain meskipun itu Lilis, sahabatnya sendiri.
Menikah di usia dini dengan pernikahan mereka yang sangat singkat bukan sesuatu hal yang patut di banggakan dan dipamer.
Sayangnya Lilis justru semakin penasaran.
“Kalian bertengkar?” Tanya pelan, sedikit takut jika pertanyaannya menyinggung sahabatnya.
“Sedikit.” Ucapnya berharap Lilis mau percaya dengannya dan menghentikan interogasinya.
“Bukan sedikit, sikap kalian itu terlalu nampak.” Rasa penasarannya justru semakin menjadi.
“Kalau cuma bertengkar, paling saling diam-diaman aja kalian tetap akan pulang bersama.”
Iya, benar kata Lilis, kalau sekedar pertengkaran ringan mereka akan tetap berada dalam satu mobil dan bahkan satu atap.
Tapi semua ternyata tak seperti itu. Mereka berada di tempat yang terpisah.
Dan juga kenapa Linggar tak menariknya masuk ke dalam mobil seperti dulu. Sedikit paksaan dari Linggar akan ia terima. Tak apa asalkan Linggar kembali padanya.
Ia ingin Linggar menarik tubuhnya menjauh dari semuanya, hingga tiba di mana mereka hanya tinggal berdua, dan melakukan segalanya bersama.
Ia ingin! Bahkan sangat ingin.
Tapi ternyata, Linggar tak mendatanginya, menariknya, dan tak mencumbunya. Semua itu tak terjadi.
Apakah ini yang dinamakan rindu? Menginginkan sesuatu tapi tak tercapai.
Ternyata rasanya sangat menyiksa. Seluruh dunianya terasa kosong.
Ia telah gagal untuk tetap bertahan dalam kebahagian yang hadir bersamaan dengan rasa sakitnya.
“Aku gak tau. Mungkin kak Linggar udah bosan.” Ucapnya sambil membaringkan kepala di atas bantal.
Mungkin pikiran di kepala melebihi kapasitasnya, hingga sangat berat terasa. Butuh tempat untuk bersandar, tapi ia hanya ingin bahu Linggar.
Atau masuk ke dalam pelukan pria jakung itu. Dengan Linggar yang melilitkan tangan pada tubuhnya. Membungkus tubuh kecilnya dengan tubuh Linggar yang besar dan tinggi.
Ia ingin Linggar. Butuh!
__ADS_1
Sangat butuh!
Sekarang! Saat ini juga!
Kepala yang terasa pening dengan seluruh isi dada yang seolah ingin keluar karena terasa sesak di dalam, menimbulkan setitik demi setitik air bening di sudut matanya.
Tangisnya tak bisa tertahan lagi.
Ia salah, memang salah.
Tapi semua tak seperti yang ia inginkan.
Ia ingin semua kembali seperti dulu. Ingin Linggar tetap berada di sisinya. Selalu memaksakan diri untuk tetap bersama. Itu saja.
Hari-hari semakin terasa kacau saat keduanya mendapatkan sebuah amplop dengan kop Pengadilan Agama Negeri.
Luka semakin dalam mengiris hati yang semakin perih. Jika mereka bilang ini sakit tapi tak berdarah. Lalu mengapa sakitnya seperti ini. Seperti sebuah sembilu yang mengiris setiap sisi.
Kini tak ada dari mereka yang mampu menyembunyikan rasa perih nan sakit ini. Meskipun dengan usaha untuk menutupi luka, nyatanya tetap nampak pada keduanya.
Melamun, berpikir dan gundah. Itulah yang terlihat di wajah pucat masing-masing. Dengan segala pemikiran yang ada.
Mengapa begini?
Mengapa begitu tega?
Siapakah yang mengajukan gugatan terlebih dahulu? Karena masing-masing masih sangat mengharap kedatangan masing-masing untuk mengucapkan kata maaf.
“Tenang saja, sebelum sidang berlangsung ada mediasi dulu. Kalian bisa membicarakannya lagi.” Kalimat menenangkan bunda untuk Linggar yang telah beberapa hari terlihat murung.
“Mediasi itu apa bun?” Tanyanya seoleh mendapatkan sedikit semangat.
Mungkin masih ada jalan untuknya kembali bersama Rindi.
Ingin! Sangat Ingin!
“Mediasi itu seperti perundingan atau negosiasilah. Yang hanya di hadiri oleh kalian berdua. Cuma ada yang menengahi sih, dari pihak pengadilah. Orangnya netral tidak memihak antar kamu atau Rindi.”
“Mungkin saja setelah mediasi kalian bisa gagal ke persidangan. Mudah-mudahan saja sih!” Sang bunda masih menginginkan keutuhan rumah tangga anaknya. Karena bagi bunda itu adalah kebahagiaan Linggar.
“Cuma aku sama Rindi bun?” Bertanya dengan pengharapan penuh.
Bunda mengangguk.
“Gak ada orang lain?” Tanyanya lagi.
Bunda tersenyum melihat anaknya yang sedikit semangat.
“Ada. Seperti kata bunda tadi, orang ini akan jadi penengah antara kalian. Tapi dia netral. Hanya ingin menginginkan kalian menyelesaikan permasalahan kalian.”
__ADS_1
“Kamu tenang saja, do’a yang banyak!” Sambil tersenyum memandang anaknya yang terlihat sangat memperhatikan ucapannya.
“Iya bun, bunda juga do’ain Linggar biar bisa balik lagi sama Rindi.” Meskipun talak telah ia ucapkan, namun untuk maju ke meja hijau terasa memberatkan langkahnya.
Rujuk masih menjadi sebuah harapan terbesarnya.
"Pasti itu." Tersenyum melihat anaknya seperti baru saja mendapat angin sejuk.
Mediasi terlaksana dengan mereka yang hanya di dampingi kuasa hukum masing-masing. Memberikan kesempatan bagi mereka untuk kembali pada pelukan yang yang sangat dirindukan.
Kata demi kata yang telah dirangkai terlebih dahulu untuk diucapkan saat saling berhadapan, entah mengapa sangat sulit terucap kini.
Bibir rasanya telah dilem dengan sangat erat hingga terbukapun terasa sulit. Lidah terasa lebih beku bagai di tempatkan dalam suhu terdingin.
Berharap dari mereka saling mendahului untuk menyapa. Namun hanya pergharapan. Sulit berperan sebagai yang pertama dalam menyapa.
Walaupun dalam hati, tangan seolah ingin saling menggapai.
Nyatanya, bahkan untuk saling berpandanganpun, dia,... terlebih dahulu masih menjadi pengharapan masing-masing.
Entah ini wujud dari sebuah ego atau gengsi. Lebih memilih diam dan mendengarkan dari pada harus berucap maaf.
Beberpakali gelengan kepala yang tertunduk saat mendengarkan pembelaan dari kuasa hukum masing-masing. Paru-paru terasa sangat sempit, hingga harus membuka mulut sedikit hanya untuk mencuri oksigen agar bisa tetap bernapas.
Hingga akhirnya ketuk palu dari sang hakim mengakhiri segalanya. Membuka lembaran baru. Serta mengukuhkan status mereka sebagai manta istri dan mantan suami.
Manis yang berujung perih.
Saling menyalahkan satu sama lain, mungkin.
Saat semua kata-kata manis kini tak berarti lagi. Akankah cinta berubah jadi benci. Ataukah kekasih berubah jadi musuh.
“Rindi.” Sapa Linggar saat berada di luar gedung persidangan yang menjadi saksi berakhirnya kisah mereka.
Rindi berbalik dengan tetap tertunduk. Kepala terasa berat saat harus berhadapan orang yang selama ini mendampinginya. Memberi segala yang ia inginkan. Perhatian, kasih sayang dan cinta.
Kedua tangan Linggar terulur dan terbuka lebar. Hanya ingin meninggalkan kesan baik saat mereka berada di ujung persimpangan. Meskipun hati terlampau hancur lebih dari berkeping-keping. Pengharapannya untuk kembali bersama kini tak berbuah manis.
To Be Continued!
Boleh minta dukungannya.
**Like n komen. **
Kalau bisa bunga sama kopinya juga yah!
Emmmuaaa!
Emmmuaaa!
__ADS_1
Emmmuaaa!