
Jika hati diselimuti cinta, maka hidup akan lebih berwarna.
Linggar lebih leluasa memandang senyum indah Rindi. Bahkan saat Gadis itu tertawa saat mereka sedang bersama.
Rindi mulai berani mengangkat tangan dan melingkarkan di perut Linggar.
Membuat pria itu merasa perasaan bahwa Rindi sama seperti dirinya, mencinta.
Tentu saja pria itu sangat bahagia.
Kadang pria itu menunjukkan sifat jahilnya hingga membuat Rindi mencebikkan bibirnya kesal.
Semakin membuat Linggar bersemangat menggoda istrinya. Sampai Rindi mendaratkan cubitan maut di perut atau menggigit gemas lengannya. Hingga membuat pria itu mengeluh dalam tawanya.
Indahnya kini saat mendapatkan cinta terbalaskan.
Membuat waktu seolah begitu cepat bergulir.
Hari berganti bagaikan dentingan detik jarum jam. Sangat singkat, bahkan terlalu singkat untuk mereka hingga tiba di persimpangan.
Linggar turut bergabung ke ruang tamu.
“Mas,” Ucapnya mencoba santun sambil mengulurkan tangan ke arah Reno, namun sayang niat baiknya tak mendapat tanggapan dari pria itu.
Dingin, hanya melirik dan memilih bersedekap tangan di depan dada.
Punggung bersandar di sofa, kepala terangkat dan pandangan lurus ke depan.
Hah, sombong sekali pria itu.
Bahkan sedikit saja ia tak memandang Linggar sebagai adik iparnyapun tidak.
Ya sudah, ia memilih duduk bergabung duduk dengan yang lainnya.
Tak lama kemudian Rindi turut muncul dan memilih duduk di sampingnya meskipun berjarak, dan cukup jauh untuk pasangan suami istri seperti mereka. Linggar hanya mampu mencuri pandang pada istrinya itu.
Tumben Reno datang secara langsung ke kediaman itu. Biasanya pria itu hanya memantau lewat CCTV yang tertempel di beberapa sudut ruang pada rumah itu.
Pandangannya beredar mengunci pada beberapa kamera yang tersedia di ruangan itu.
Apakah CCTV sedang rusak hingga pria itu tak mendapatkan yang ia mau?
“Kakak datang malam-malam begini ada apa?” Rindi yang memulai pembicaraan karena forum itu telah hening beberapa waktu lamanya. RIndi mewakili semua pertanyaan yang sebenarnya bertamu pada benak para penghuni ruang.
"Pc, kamu ini keliatan banget kalau gak suka kakak datang ke sini?" Sambil menyinggung senyum kaku. Hingga membuat wajah itu terlihat sedang menahan hajatnya ke kamar mandi.
“Kakak cuma bawa ini." Menyerahkan kantong kresek, entah berisikan apa.
__ADS_1
"Kamu coba, kita tungguin di sini!" Kembali menyandarkan punggungnya di sandaran sofa setelah meletakkan pemberiaanya.
"Kalau bisa cepat, kasihan kakak iparmu kelelahan.” Menunjukkan istrinya dengan dagu yang juga tampil dengan perut membulat.
Segera Rindi meraihnya, “ini apa?”Mulai mengulurkan tangan demi meraih pemberian sang kaka.
“Tespek?” Ucapnya sendiri saat mengetahui isinya.
Ia sempat tercengang memandang pada tiga batang berlekuk dengan merk yang berbeda berada dalam genggamannya. Sesuatu yang akan menjadi penentu nasib rumah tangganya.
“Hem, kamu coba sekarang! Kita tunggu di sini!”
Suara itu seolah menghipnotisnya, terdiam dan terpaku di tempat duduknya.
Bahkan untuk mengangkat kepalapun, Rindi seolah tak mampu lagi.
Tangannya mulai gemetaran.
Kakaknya itu benar-benar serius pada ucapannya. Memisahkan Rindi yang telah mulai memberikan cinta tulus pada suaminya itu.
Pernikahannya mungkin kini berada di ujung tanduk. Ingin menyela namun tak mampu lagi. Kebencian di mata kakaknya pada suaminya sangat terlihat jelas meski hanya dari sorotan mata.
Sementara Linggar hanya mampu tertunduk pasrah.
“Kakak temanin!” Ucap kakak iparnya.
Padahal ia telah berusaha melupakan dan mencoba menerima perempuan itu sebagai kakak iparnya.
Ingin sekali ia mengumpat menyalurkan kekesalannya pada wanita hamil itu. Dasar!
“Ya udah ayo, kakak juga temani!” Kak Rima turut berdiri dan mengulurkan tangan padanya.
Kak RImapun ikut berpartisipasi dalam memisahkan dirinya dengan Linggar. Lalu siapa yang akan mendukungnya kali ini?
Iapun bangkit membawa oleh-oleh pemberian dari kakaknya. Diapit dua wanita hamil berjalan menuju ke kamarnya. Meninggalkan tiga pria yang masih setia dalam diam.
“Beri mereka satu kesempatan untuk saling mencintai, dan memperbaiki hubungan mereka!” Suami kak Rima.
Satu-satunya orang yang rela berdiri di sampingnya saat semua orang menjauh.
“Aku gak mau keponakanku memiliki ayah seorang bajingan!” Reno, Kakak iparnya.
“Bodoh," Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya pelan. Seolah pria itu tak menerima pemikiran Reno.
"Kamu rela membiarkan adikmu menjadi janda diusia yang sangat muda hanya karena prinsip bodohmu itu?"
“Bukankan mereka pernah bersama selama dua tahun lebih?” Lanjutnya.
__ADS_1
“Kamu membelanya karena dia seperti kamu?” Ucapan Reno sinis mengandung makna penuh sindiran.
“Kami tidak sama. Sepertinya kamu masih sakit hati!" Suami Rima, kali ini kepalanya mengangguk-angguk kecil, membenarkan ucapannya sendiri. "Move on dong!”
“Aku bukan orang yang mengorbankan kebahagia adikku demi kebahagiaan sendiri. Aku ingin melihat adikku bahagia bersama orang yang ia cintai.” Reno yang masih membela diri.
"Kita sama. Aku juga ingin melihat adikku bahagia bersama orang yang ia cintai!” Suami Rimapun membalas membela diri.
Linggar hanya mendengarkan perdebatan kedua lelaki ini. Meskipun ia tahu ada konflik dalam keluarga itu yang membawa masalah hati ia tak ingin memikirkannya.
Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana nasib pernikahannya.
Dalam hati ia tak hentinya berdoa semoga usahanya melangkahi batasan membuahkan hasil. Asalkan masih diberi kesempatan bersama Rindi, ia yakin mampu mengambil kembali hati sang permaisuri.
Tak lama kedua wanita hamil itu muncul tanpa Rindi, membuat jantng dan otaknya seolah sedang bekerja keras ingin mengetahui hasilnya. Berhasilkah ia atau tidak?
Kantong kresek berisikan tespek telah kembali di letakkan di atas meja, membuat kakak iparnya itu segera meraih dan membukanya.
Sebuah senyum terukir di sana. Mungkin Linggar bisa menebak arti dari sebuah senyuman yang akan berbeda jika dirinya yang melihat hasilnya.
Ia hanya mampu tertunduk menerima kekalahannya. Beberapa tespek baru saja mendarat cantik di pangkuannya, membuat ia terpaksa melihat hal yang tak ingin ia lihat.
Mengetahui hasil akhir pernikahan mereka.
“Kamu tau apa yang harus kamu lakukan sekarang kan?” Reno dengan raut tersenyum penuh kebanggaan. Kemenangan berpihak padanya.
Sementara Linggar masih tertunduk, bahkan semakin tertunduk memikirkan mengapa Rindi tak membantunya di saat ia harus berjuang mempertahankan pernikahan mereka untuk yang terakhir kalinya.
Apakah di hati istrinya memang tak pernah ada namanya? Mungkin kisah ini bagai angin lalu untuk Rindi.
Atau Rindi hanya menganggapnya sebagai hiburan semata?
Aaah, Ia telah salah menilai senyuman dan segala tingkah manja Rindi padanya.
Sementara Rindi bergulat dengan pikirannya sendiri. Bagaimana nasib pernikahan mereka selanjutnya. Apakah Linggar mampu membujuk sang kakak untuk memberi kesempatan sekali lagi.
Tak harus menggunakan tespekpun, jawabannya telah ia ketahui. Karena beberapa hari yang lalu ia baru saja kedatangan tamu bulanan.
Tanpa ia tahu ada hati yang lelah di luar sana.
Malam ini, angin malam seolah berhembus kencang.
Kini ia mulai bertanya, kemana arah dan tujuannya.
\=========
KIta Sambungan beberapa menit ke depan.
__ADS_1
Jangan lupa kasi jempolnya buat semangat.