
"Seharian ini kamu mengacuhkanku." Dengan bibir mengerucut ke depan, Linggar mulai mengutarakan isi hatinya.
"Kamu sibuk dengan temanmu, padahal hari ini hari pernikahan kita."
"Aku sama kamu hanya di kasi waktu di pelaminan, selebihnya kamu milik temanmu."
Rindi hanya berdiam diri, bersandar di balik pintu, terhimpit tubuh sang suami. Mendengarkan seluruh pernyataan Linggar yang mungkin mengganjal hati sedari tadi.
"Iya bentar," Rindi sambil menepis pelan tangan Linggar yang masih setia mengelus pipinya.
Bukan tanpa sebab, jantungnya kini mulai berpacu mengalahkan denting jarum jam.
Namun sedikit tak percaya diri, saat mengingat kulit rasanya lengket dengan ketidak nyamanan yang ia rasakan di seluruh tubuh.
Mungkin ia butuh mandi, sedikit bisa menghilangkan kepenatan tubuh dan keringat yang menempel.
"Jangan tahan aku Rin!" Linggar membalas tepisan tangan RIndi.
Membawa tangan itu tetap di bawah, agar tak menghalangi pergerakannya.
Rindi kembali terdiam menatap Linggar yang turut menatapnya dengan begitu dalam. Mata yang telah sayu itu terasa menggetarkan jiwa.
Rindi bisa apa?
"Aku kesal RIn, dari tadi aku udah mau peluk kamu, cium kamu, tapi gak bisa." Ucap Linggar kembali mengelus pelan pipi Rindi. Tangannya mulai menjalar ke belangan telinga, menciptakan getaran yang mengusik kalbu.
"Ini malam pertama kita RIn," Linggar dengan penuh penekanan.
Sungguh Rindi ingin sekali kembali memprotes jika ini bukan lagi malam pertama untuk mereka, tapi takut jika suaranya akan mengubah suasana panas ini menjadi lempem.
Takut jika Linggar kembali tersinggung dengan protesnya.
Terlebih lagi, saat Linggar mulai mempertemukan kening dengan napas yang sedikit terasa hangat dan memburu.
"Aku sayang kamu," Ucap Linggar lirih sebelum merapatkan bibir pada Rindi
Meraup segala kemanisan dari sana.
Rindi memejamkan mata, mengerti dengan semua keluh kesah yang Linggar utarakan.
Mulai membalas pergerakan bibir itu.
Malam ini ia akan mempersembahkan diri.
Mengikuti alur pergerakan Linggar, Rindipun mulai mengenggam sedikit meremas lengan suaminya saat merasakan pergerakan yang sama pada tengkuknya.
Mulai menjinjitkan kaki saat Linggar menekan dan menarik punggungnya ke atas, semakin merapatkan tubuh.
Sesekali terdengar napas keras guna menyelamatkan diri dari sesak.
Ciuman Linggar terlalu kuat,
terlalu dalam,
terlalu lama.
__ADS_1
Seolah ingin melahap menghabiskan seluruh sari pati yang ada di sana.
Mungkin itu efek rindu yang teramat sangat.
Rindi tak mampu lagi mengimbangi.
Hampir seluruh napasnya telah direnggut oleh Linggar, namun pria itu belum berhenti juga.
Tangan yang tadi menggenggam lengan Linggar, kini telah terkulai lemas di samping tubuh.
Seluruh engsel persendian serasa terlepas.
Lututnya mungkin kini telah bergetar, tak mampu lagi menahan bobot tubuh.
Beruntung Linggar menahan tubuhnya, jika tidak mungkin ia telah rebah di lantai.
Meski begitu, Linggar masih menghimpitnya di dinding.
Linggar mulai menarik wajah menjauh, dan mengamati wajah cantik Rindi.
Kepala yang menengadah, mata tertutup rapat, bibir yang sedikit terbuka dengan lipstik yang telah sedikit melumer keluar dari garis, dan itu karena ulahnya.
So Seksi.
Rindi baru saja membuka mata, padahal ciuman telah terhenti beberapa detik yang lalu.
Menatap Linggar yang turut memandanginya dengan mata sayu.
Linggar tersenyum kembali mengelus pipinya seperti tadi, dan kembali merapatkan bibir.
Memberikan sentuhan yang hampir sama.
Mengulang adengan yang membuat panas tubuh melonjak.
Kali ini membalikkan badan, mulai menggiring ke arah tempat tidur pengantin mereka.
Ah,....
Linggar menghempaskan tubuh di kasur berpelukan menyamping, dengan melepaskan ciumannya.
Tersenyum masih mengusap pelan pipi lembut dan empuk milik sang istri. " Kenapa?" Tanyanya, " Nunggu lanjutannya?" Mengerlingkan mata pada Rindi.
"Udah gak sabaran yah?" Dengan kekehan ringan mulai bangkit meninggalkan Rindi yang masih terbaring memandanginya.
Wanita itu mencibir.
Siapa yang gak sabaran? Dianya yang nyosor duluan.
"Aku mau mandi, " Lanjutnya meninggalkan Rindi yang melongo menatapnya.
Udah? Gitu aja?
" Kamu gak mandi? Gak gerah emang?" Saat Linggar keluar dari kamar mandi mendapatkan RIndi yang masih berbalut gaun pengantin biru duduk di sisi tempat tidur.
"Gak bisa lepas ini." Tangan Rindi di belakang menunjukkan resleting di belakang punggungnya.
__ADS_1
"SIni!"
Linggar mulai membantu menurunkan resleting Rindi dengan pandangan menunduk. Takut tergoda, merasa belum waktunya, sebab masih ada yang harus dikerjakan terlebih dahulu.
Segera beranjak dari belakang Rindi masih dengan pandangan yang setia dengan lantai kamar dan dengan bibir yang mengatup rapat.
Rindi keluar dari kamar mandi, mendapati Linggar yang terlihat semakin tampan dengan baju koko dan sarung yang dikenakannya.
Peci hitam masih berada di tangan, diputar-putar. Lengkap dengan senyuman manis yang membuat Rindi terpaku di tempat.
"Ayo, kita salat dulu!" Sepenggal kalimat itu mampu membuat Rindi tersadar dari rasa terpukau bagai menatap malaikat penunggu hati.
" Pakai mahar yang dari aku ya!" Linggar, " Bawakan?" Tanyanya lagi.
Rindi mengangguk, mengikuti perintah sang suami, menggunakan mukena pemberian dari orang yang spesial di hari yang spesial pula.
Melaksanakan shalat isya berjamaah, di sambung dengan shalat sunnah dua rakaat.
Masih duduk sila di atas sajadah panjang, Linggar membalikkan badan ke arah RIndi.
Mengulurkan tangan ke arah ubun-ubun Rindi, menempel lalu memejamkan mata dengan satu tangan menengadah ke atas.
ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺇِﻧِّﻲ ﺃَﺳْﺄَﻟُﻚَ ﺧَﻴْﺮَﻫَﺎ ، ﻭَﺧَﻴْﺮَ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎﻋَﻠَﻴْﻪِ ، ﻭَﺃَﻋُﻮﺫُ ﺑِﻚَ ﻣِﻦْ ﺷَﺮِّﻫَﺎ ﻭَﺷَﺮِّ ﻣَﺎ ﺟَﺒَﻠْﺘَﻬَﺎ ﻋَﻠَﻴْﻪ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kebaikannya (istri) dan kebaikan apa yang Engkau ciptakan padanya. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatannya dan kejahatan apa yang Engkau ciptakan padanya.”
Dengan senyuman manisnya mulai mengulurkan tangan ke arah sang istri.
Rindi menyambut, pun dengan senyuman malu-malunya. Turut memajukan wajah dengan mata yang terpejam, menanti kecupan yang akan suaminya beri di kening.
Tak pernah terlintas dalam benak Rindi, jika suaminya itu tahu tentang adab-adab pengantin baru seperti ini.
Hatinya mencolos, saat mengingat dirinya hanya menginginkan Linggar yang telah terbiasa menemani hari-harinya. Tak bisa dipungkiri, ia menginginkan Linggar mungkin hanya karena nafsu semata.
Tahu begini Rindi takkan menghianati Linggar waktu dulu.
Tak kan pernah ada cerita tentang Linggar yang melampiaskan kemarahan dengan membawanya ke hotel.
Tak akan pernah ada kisah tentang meraka yang bercerai setelah tiga bulan menikah hanya karena syarat dari kakaknya tak terpenuhi.
Hatinya tak kan tergoda oleh sosok Ikram, yang menurutnya Alim dan bisa membimbingnya pada kebaikan lebih dari Linggar.
Ah sudahlah mungkin memang ini takdir mereka.
Jalan hidup mereka memang seperti ini.
Ia Ingin hidup dengan sosok pendamping yang setia, sabar menemani dalam segala kekurangannya.
Dan semuanya ada pada Linggar, Pria yang selalu saja mengejar cintanya tanpa batas waktu.
\==========
Hari ini gak ada Double UP yah.
Cerita ini mungkin sudah boleh di tutup kali yah?
__ADS_1
Eh, tapi kan belum MP, hehehehe.