
"Makan! Makan! Makan!" Seru Bunda sambil mendekatkan nampan berisi makanan untuk Linggar.
Linggar menurut, makan dari suapan tangan bunda.
Tentu saja dengan iming-iming akan segera menikah
"Kenapa Rindi nggak pernah datang jengukin kamu lagi?" Bunda, baru beberapa suapan masuk ke mulut Linggar, wanita itu teringat tentang mantan menantunya.
"Nggak tahu? Pesanku juga enggak pernah dibalas." Ucap Linggar pelan, seirama dengan kunyahan mulutnya.
"Masih marah Mungkin sama Bunda," Lanjutnya, menatap ponsel di tangan, menunggu chat yang tak kunjung dibalas.
"Ya udah nggak apa-apa. Nanti kalau sudah sembuh, kamu bisa langsung ngomong sama orang tuanya."
"Ibu udah lama tahu, kita udah balikan. Udah lama juga nyuruh kita nikah." Linggar.
"Jadi ceritanya di sini bunda jadi orang terakhir yang tau hubungan kalian?"
"Iya." Linggar menjawab enteng, tanpa memperdulikan mata bunda yang melotot memandangnya. "Bunda juga yang gak restuin kita."
"Ya maaf, bunda kan gak tau kalau keluarga Rindi udah terima kamu." Bunda memunculkan wajah imut memelas.
Linggar dilanda kegalauan karena telponnya tak pernah diangkat, dan chat tak direspon, memilih untuk menghubungi telpon Kamil di saat jam kerja.
"Mil, Rindi ada?" ucapnya tanpa basa-basi ketika telpon baru saja tersambung.
"Ada bos, mau bicara?"
" Iya, Tolong kasih dong!" Linggar.
" Rin, Pak Linggar." Seketika Rindi terdiam. Tangan pun enggan terulur menyambut ponsel Kamil yang terhubung dengan Linggar.
Alasan apa yang bisa iya sampaikan pada pria itu.
"Kenapa? marahan lagi?" Kamil dengan hentakan tangannya berusaha menyadarkan Rindi dari lamunan.
Rindi mulai Mengayunkan tangannya pelan.
"Halo." Sapanya kaku.
" Halo Rin, aku udah mau pulang." Lesu.
Rindi seolah tak memperdulikannya lagi.
"Oh iya kak." Masih dengan nada rendah, bahkan seperti terpaksa.
__ADS_1
"Kamu gak mau temani aku keluar dari rumah sakit?"
"Aku kerja kak, gak bisa temani, emmm gak pa-pa kan?"
"Ya udah nggak papa. tapi kok chat ku nggak dibalas?
Pasrah, ketika RIndi kembali mengajukan alasan yang tak bisa ia bantahkan lagi.
"Aku sibuk Kak, beneran." Entah sampai kapan alasan itu akan ia gunakan menjauhi Linggar.
" Ya udah kamu kerja lagi maaf ya ganggu." Pasrah lagi.
Tak tahan diabaikan terus-terusan oleh Rindi. Linggar memutuskan untuk bertandang langsung ke rumahnya, diantar pak Bur.
Sengaja memilih akhir pekan, berharap tak mengganggu aktifitas keluarga itu.
Memencet bel rumah Rindi, menahan diri untuk tak memencetnya berkali-kali.
Tak sabar rasanya untuk bertemu dengan kekasihnya yang terus mengabaikannya itu dengan alasan sibuk.
"Loh Linggar, udah baikan?" Pertanyaan ibu saat pertama kali melihat sosoknya setelah membuka pintu.
"Alhamdulillah udah bu."
"Rindi ada bu?"
"Ada di dalam, tunggu ya ibu panggilkan." Ibu mulai beranjak dan masuk ke dalam rumah. Mengetuk pintu kamar berapa kali.
Sang Putri Tidur mungkin baru saja terbangun. Terlihat dari piyama tidur yang belum terganti, rambut yang sedikit acak-acakan dan jari telunjuk yang beberapa kali mengusap matanya.
" Kenapa Bu?" Tanyanya ketika setelah berhadapan dengan ibu.
"Linggar ada di depan, cari kamu. Kamu baru bangun belum juga mandi."
Seketika itu pula matanya langsung melotot mendengar ucapan bernada omelan dari ibu.
Menoleh ke arah jam dinding yang menampilkan kan jarum jam pendek berada di angka 10 lebih.
Tak percaya rasanya Linggar bertamu sepagi ini.
"Ngapain?" Keningnya mulai berkerut, bingung alasan apa lagi yang harus ia utarakan.
" Waduh Bu, bilang aku lagi sibuk."
"Sibuk apa?"
__ADS_1
Sibuk tidurlah, bersantai mumpung hari libur.
"Beneran Bu, semalam begadang habis kerja laporan. Ini juga masih mau lanjut kerja laporan. Kalau ketemu sama Linggar pasti lama Bu." Ucapnya, di bagian terakhir ia telah memanjangkan bibir. Berbohong sedikit mungkin tak mengapa.
Ibu memilih keluar, sedikit bisa menebak jika keduanya sedikit bermasalah.
"Katanya sibuk Gar, semalam begadang kerjain tugas." Ibu saat kembali duduk berhadapan dengan Linggar di ruang tamu.
"Bu, Bunda bilang akan segera datang melamar." Lebih baik menyampaikan keinginan itu sebelum semua kembali berubah.
Ibu terlihat beberapa kali menganggukkan kepala. " Kapan keluarga kalian akan datang?"
"Ibu siapnya kapan?" Linggar mulai memajukan badan, pembicaraan ini terasa sedikit serius.
"Loh kok tanya ibu yang mau datang kan keluarga kamu."
" Iya Bunda bilang, tanyain mereka siapnya kapan."
"Ya terserah kalian saja. Kalau harinya sudah ditentukan bilang ke ibu yah! Biar bisa siap-siap!"
Linggar mengangguk setuju. "Bu boleh minta nomor telponnya gak bu. Rindi kadang susah dihubungi, apalagi kalau lagi beneran sibuk."
Akhirnya ia memiliki nomor telpon lain di rumah itu. Tak terlalu sulit nantinya jika hendak mengatur acara lamaran yang inginnya ia segerakan.
"Bu, aku ngomong sebentar sama Rindi?" Hingga detik ini, Rindi belum menampakan diri. Padahal telah hampir setengah jam Linggar duduk hanya untuk menunggunya.
"Ya udah tunggu sebentar, ibu Panggil dulu ya!"
Di dalam kamar, Rindi telah menyalakan laptop. membuka file Excel. Beberapa berkas dibuat berserakan di meja. Meski kertas lama, berisikan laporan Waktu kuliah dulu. Hanya untuk mengecoh Ibu agar mengerti jika dia sedang sibuk.
"Aduh bu, aku sibuk banget. besok laporannya sudah harus diberikan pada atasanku." Kilahnya lagi saat ibu kembali memanggilnya untuk bertemu dengan Linggar.
"Bu, boleh aku yang ke dalam gak?" Pinta Linggar saat ibu kembali datang tanpa RIndi.
"Aku gak ngapa-ngapain kok. Ini juga lemes, belum sembuh betul."
"Bu pintu kubuka lebar-lebar deh!" Pintanya kembali dengan sedikit memelas.
"Bu, Aku hanya ingin ngobrol sama RIndi, bu." Wajah dibuat hampir menangis. Entah memang ingin menangis atau tidak. Bahkan saat menyambangi rumah Rindi, ia pun masih sulit bertemu dengan kekasihnya itu.
Tersenyum penuh kelegaan saat ibu menganggukkan kepala.
Masuk ke dalam kamar Rindi dengan pintu yang terbuka lebar-lebar seperti yang ia katakan tadi.
Mendapati Rindi yang duduk di depan meja, dengan laptop yang menyala. Tak lupa beberapa lembaran kertas yang dibuat sedikit berantakan, seolah benar-benar sibuk.
__ADS_1