Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Masih Melepas RIndu


__ADS_3

Semakin lama, Rindi semakin memperlambat laju langkahnya. Meskipun mereka telah berada di lantai yang di tuju, namun ia berharap perjalanan masih panjang.


Mengapa kali ini ia merasa gugup.


Jangan gugup!


Jangan gugup!


Ucapnya dalam hati.


Menghirup oksigen sebanyak-banyaknya, tahan, hembuskan perlahan. Mengatur napas.


Ini bukan yang pertama untuk mereka. Bahkan telah beberapa kali mengulangnya. Mereka sudah bisa dikatakan


khatam untuk urusan ranjang.


Tapi perjalanan dalam mencari kamar hotel ini mengingatkannya pada saat pertama kali Linggar mengambil mahkotanya.


Rileks!


Rileks!


Ucapnya dalam hati.


Mereka sudah menjadi sepasang suami istri bukan? Tak ada yang salah dengan semua ini.


" Nah benar ini Kan kamarnya?" Suara Linggar menyadarkan khayalannya. Linggar menempelkan kartu yang sedari tadi ia pegang pada kotak sensor. Hingga terdengar suara BIP dan lampu hijau telah menyala menandakan proses membuka pintu telah berhasi.


Semakin ramailah jantung Rindi yang bertalu-talu.


Menundukkan pandangannya, di karpet merah bercorak. Yakin takkan mampu untuk memandang mata Linggar.


Terlalu malu.


Tak menyangka jika di bibirnya terucap kata hotel dan melepaskan Rindu.


" Kenapa?" Linggar saat langkah Rindi tertahan tepat dihadapan pintu kamar.


Gadis itu hanya menggelengkan kepala pelan, dengan tatapan tetap ke bawah.


Sedikit tarikan dari Linggar demi membawa tubuh mereka masuk ke dalam kamar.


Linggar tahu jika saat ini ini istrinya itu pasti merasa malu.


Ia Takkan lagi bertanya.


Terlebih lagi saat ini ini Rindi memilih untuk memeluknya dari belakang.


Menenggelamkan wajah di pundak lebar sang suami. Dengan Linggar yang mengelus pelan Tangan Mungil nan halus itu.


Beberapa saat lamanya mereka terdiam dalam posisi itu.

__ADS_1


Terlalu lama untuk Linggar. Ia sudah tak sabar untuk melepaskan Rindu pada istrinya itu.


Membayar mahal hanya untuk berpelukan saja? Oh no.! Rugi sekali pikirnya.


Dengan sedikit tenaga, melepaskan tangan yang sedari tadi memeluknya erat. Membalikkan diri, dan langsung membayar pelukan Rindi.


Rindi masih memilih untuk menenggelamkan wajah kini di dada rata suaminya.


Masih terlalu malu untuk nya mengangkat kepala. Suaminya pasti akan melihat Rona merah di wajahnya yang


menahan malu. Apalagi yang akan mereka lakukan setelah ini?


Tapi Linggar tak peduli, diraihnya dagu sang istri demi mengangkat wajah cantik itu.


Sangat cantik, sehingga membuat dirinya kembali jatuh cinta pada wanita yang sama.


Tak Butuh waktu lama lagi bagi Linggar untuk merapatkan bibir.


Bibir yang mungkin tidak sadar mengajaknya untuk berkencan tadi.


Langkahnya terus maju, membuat Rindi justru melangkah mundur. Kini ia tak lagi menjamin jika mampu menahan


diri.


Suguhan yang ia berikan terlalu kuat, hingga membuat Rindi menengadahkan kepala. Dengan tubuh yang telah


berstandar rapat di pintu.


Nafas telah berhembus dengan pendek. Detak jantung semakin tak karuan.


Tautan diri terlepas. Linggar hanya sedikit memberi jarak, memandang wajah yang semakin merah merona dihadapannya.


Sementara Rindi memandang Linggar dengan sinis. Kesalnya Ia karena Linggar tak memberinya Kesempatan hanya untuk bernafas.


Dasar pria! Tak sabaran.


Pria itu justru tersenyum saat melihatnya sedang mengatur nafas.


Wanita itu mungkin telah melupakan rasa malu yang tadi bersemayam di hatinya. yang justru ia sadari kini, bahwa tangan mungilnya telah melingkar di leher Linggar.


Linggar kembali menautkan bibir. Dengan tubuh yang kembali saling menempel. Linggar berbalik, mulai menggiring


Rindi ke arah ranjang empuk berwarna putih.


Tempat yang akan menjadi saksi melepaskan Rindunya dengan Rindi, istri tercintanya.


Ketidak kesabarannya membuahkan hasil beberapa lembar pakaian yang tercecer di lantai. Berikut dengan suhu kamar yang kini telah terasa panas. Meskipun AC masih bekerja dengan baik.


Bahkan saat ini tubuh telah saling menumpuk berhadapan di ranjang.


Kembali melepaskan tautan bibir saat nafas terengah-engah untuk kesekian kalinya.

__ADS_1


Sepertinya Linggar benar-benar hilang kesabaran.


Tangan yang tadinya telah bekerja keras melepaskan pembungkus tubuh, kini kembali memberikan sentuhan langsung pada Rindi.


Mempersiapkan terlebih dahulu istrinya itu agar siap menerima dirinya kembali.


Bibir kembali terpaut saat tubuh kini juga terpaut satu sama lain.


Merasakan kembali indah dunia dengan orang yang dicintai.


Kasur empuk dengan alas putih dan lembut tadinya rapi, kini sudah tak berbentuk. Seprei telah acak-acakan sebab gelombang cinta yang semakin tak terbendung menghasilnya gemuruh dasyat.


Dengan dua orang yang saling menggeliat di atasnya. Saling membalas sentuhan dan elusan satu sama lain.


Linggar berusaha semaksimal mungkin untuk tidak mendahului Rindi. Ia harus membiarkan Rindi terlebih dahulu


hanyut dan merasakan getaran tubuh.


Linggar meringis, saat merasakan seluruh tubuhnya nya dicengkram kuat.


Setelah itu tersenyum memandang Rindi yang masih mengatur nafas.


Sorry Baby, permainan belum berakhir.


Ia belum merasakan Getaran yang sama seperti Rindi rasakan. Sengaja memang, sedikit menahan diri.


Kembali menjalankan aksinya bergerak berirama.


Hingga Ia pun dapat merasakan tenggelam di palung surga terindah dunia.


Berbaring disebelah Rindi, mengatur nafas meregenerasi tenaga.


Hanya sebentar, tak berniat berlama-lama. Ia ingin kembali segera merasakan nikmatnya getaran tubuh.


Rindi terlonjak kaget, saat merasakan pergerakan Linggar yang kembali naik ke atas tubuhnya.


Sepertinya Linggar siap untuk melanjutkan aksi babak kedua. Namanya juga melepas rindu.


Sekali takkan mampu untuk melepas rindu.


Kali ini tak perlu pemanasan atau apalah namanya. Ia langsung masuk ke bagian inti.


"Kak,...." Rindi yang ingin melayangkan protes.


Namun belum sempat karena Linggar telah menempatkan bibirnya pada bibir yang akan protes tersebut.


Bibir terpaut sama dengan anggota tubuh yang juga terpaut satu sama lain. Mereka kembali.


To Be Continued!


Minta dukungannya dong!

__ADS_1


Masih manis-manis dahulu yah!


Sebelum kejutan datang.


__ADS_2