
Krekkk.
" Astaga Rin, pelan-pelan!" Kaget saat Rindi tiba-tiba melompat masuk ke dalam pangkuannya. Linggar masih duduk dalam keadaan bersila.
" Eh, sorry sorry."
"Sakit ya Kak?" Kedua tangan telah melingkar dan terpaut di tengkuk Linggar.
" Enggak sih, cuman kaget aja." Linggar turut menahan bobot Rindi yang duduk menyamping agar tak lepas.
Mengusap pelan punggung kekasih yang telah ia halalkan tadi pagi. Senyum semakin manis karena rasa bahagia yang terpancar.
"Kakak kok tahu yang kayak gini?" RIndi.
"Yang kayak gini gimana?" Linggar sedikit menjauhkan diri, menatap wajah sang istri, pembicaraan itu belum terlalu ia pahami.
"Emmm, shalat sama yang kayak gini juga." Sambil meletakkan telapak tangannya di dahi sendiri, mengikuti pelakuan Linggar tadi padanya.
"Aku sering ikut pengajian sejak kita pisah dulu. Bunda yang ajak, katanya dari pada aku sendiri, pasti mikirin kamu terus. Jadi mendingan ikut ngumpul, biar tau agama juga katanya." Di akhir ia meringis demi mengingat diri.
"Maaf," Rindi dengan lirih pula. Kembali masuk ke dalam dekapan sang suami.Masa-masa itu memang masa yang sulit, pun untuknya jua.
"Tau gak RIn," Menarik Rindi semakin mendekat pada tubuhnya.
Memulai berbicara dengan lirihnya. Dalam kedekatan seperti itu, Rindi pasti mendengarkannya.
"Karena kamu, Aku belajar untuk bisa menjadi suami. Aku ingin membangun rumah tangga yang sakinah mawaddah warahmah bersamamu."
"Aku ingin menjadi Imam yang baik untukmu, masih banyak yang harus aku pelajari untuk bisa menjadi pendamping."
"Kamu tahu?" Tanya, kembali menjauhkan tubuh Rindi, menatap wajah manis itu.
"Apa?" Rindi harus memaksa diri menatap Linggar yang turut menatapnya dalam. Jantung semakin berdetak kencang, apalagi harus menunggu ucapan Linggar berikutnya.
"Tapi jangan takabbur atau apa yah!"
Rindi menganguk saja, menanti kata selanjutnya.
"Aku tidak shalat istikharah untuk memilihmu, tapi beberapa kali bangun malam lalu shalat hajat,--" Kalimatnya terhenti, namun tatapannya begitu dalam.
"Untuk bisa mendapatkan kamu kembali." Lanjutnya, kini mata itu hampir tak berkedip menandakan keseriusan dalam ucapannya.
Tak sanggup Rindi balas dengan apapun, memilih kembai masuk ke dalam rengkuhan. Kali ini semakin mengerat, menenggelamkan wajah ke dalam ceruk Linggar.
Membiarkan pria itu bicara semaunya. Pria itu sudah mampu membuatnya melambung tinggi, namun entah mengapa malu dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Cinta Linggar ternyata begitu besar pada dirinya, sementar ia?
Masih saja terus meragu pada diri sendiri. Selayak apakah dirinya untuk seorang Linggar.
Ternyata Linggar adalah suami idamannya.
Linggar masih bersuara dan Rindi lebih memilih menutup mata di sana.
"Tak ada seorang wanita pun yang membuat hidupku kacau, selain kamu."
"Kamu telah menjadi istriku, Jadi sekarang aku bisa memohon padamu."
"Tetaplah berada disisiku Apapun Yang Terjadi. Tegur aku disaat aku salah, jangan menyimpannya sendiri dalam hati."
"Dan jangan membuat aku kecewa."
Rindi mengangguk.
Sudah begini saja!
Ini juga telah membuat matanya panas dan memerah.
Linggar meringis, semakin merapatkan tubuh sang istri saat merasa kulit lehernya seperti tertarik oleh sesuatu.
Memejamkan mata eratnya, dengan kepalanya yang perlahan ia angkat, mulai menggigit bibir bawah, berusaha menahan diri, tak ingin istrinya menghentikan tindakan itu. Ia suka hal ini.
Dengan perlahan pula Rindi mulai melepaskan diri. Menatap tak percaya pada sesuatu yang membekas di leher Linggar.
" Merah nggak? Merah nggak Rin?" Linggar sambil menunjukkan lehernya yang masih terasa perih.
"Hah ya ampun Kak, Iya beneran merah. Ya ampun, itu bekas ku?" Serasa tak percaya dengan apa yang baru saja ia lakukan. Telunjuknya ke arah leher Linggar.
" Ya iyalah bekas siapa lagi?" Linggar sedikit sewot, baru beberapa detik wanita itu sudah menjadi pelupa.
"Astaga." Rindi menutup mulutnya yang menganggap tak percaya dengan kedua tangannya sendiri.
"Sini aku balas."
Rindi berguling meninggalkan mukenanya di tangan Linggar.
"Sini!" Tangan setelah melipat asal mu kena Rindi dan menaruhnya di atas nakas. “Sok polos, udah gak ting-ting
juga. Sini!” Membuka tangannya sebagai tempat baru untuk Rindi.
"Gak, nanti berbekas kayak gitu." Menangkup lehernya dengan kedua tangan diikuti dengan gilingan kepala yang keras.
__ADS_1
Linggar melompat meraih tubuh istrinya, tanpa segan mulai membuka kancing piyama bermotif Keroppi milik Rindi.
Melafalkan doa saat tubuhnya telah berhasil menguasai Rindi.
"Kakak issshh," Rindu pada sambil menepuk tangan Linggar yang bekerja tanpa kompromi.
"Nggak akan ada yang lihat kalau Bikinnya di situ." Linggar sambil menyurut kagum pada sepasang buah yang telah lama ia merindukan.
Tok.
Tok.
Tok.
"Ck, siapa sih ganggu aja." Linggar yang dengan memberenggut dan mulai melangkahkan kaki ke arah pinut meski gelora telah bertandang.
" Bunda?" Sambil menatap satu persatuan wanita yang telah berada di depan pintu kamar pengantinnya. Ada Bunda, tante mira dan Oma.
" Rindi mana?"
"Udah tidur tante, Capek katanya." Linggar menjawab pertanyaan tante mira, dan dengan segera menutup pintu kamarnya. Membuat wanita itu melongo.
Linggar mempersembahkan senyumnya, mulai memeluk lengan sang nenek, tak terbayang jika ketiga wanita itu masuk ke dalam dan melihat kondisi Rindi yang sedikit berantakan. bahkan pakaian atasnya saja sudah tak melekat.
Ketiga wanita itu saling melirik, dan memberi kode.
Kembali menatap ke arah Linggar, terasa seperti sedang mengintimidasi.
Dengan baju koko yang telah kusut, dan sarung yang sudah tak simetris lagi pada sisi bawah, telah menjawab pertanyaan yang ada di mana mereka. Lalu sama-sama mencibir.
" Oma mau balik ke rumah tante Mira, nggak mau nginap di hotel katanya." Bunda mengacuhkan penampilan Linggar, berusaha mencairkan suasana yang sempat hening beberapa detik.
"Kok nginep di rumah tante Mira?" Kini menoleh memandang sang omah, secara tak sengaja memperlihatkan lehernya yang merah.
"Yang punya hajatan kan Bunda, bukan Om Adit, ya harusnya nginep di rumah Bunda dong." Lanjutnya.
"Bunda udah bilang, katanya kita nggak ada kolam renangnya." Bunda sambil meringis menatap ibu kandung sendiri. "Tapi kita disuruh ngumpul di sana."
" Dasar nenek-nenek matre." Ucap Linggar sambil menggandeng Omanya. Tak ingin berlama-lama di depan pintu kamarnya, bisa saja salah satu dari ketiga wanita itu menerobos masuk dan memandang kamar pengantin yang telah berantakan.
" Emang kenapa kalau Oma matre, sama anak sendiri juga. Daripada kamu ****** dipamer sama sini." ucap Oma dengan sinis.
"Hah," Menahan tangan bergerak untuk menutup di lehernya, itu akan membuat semua orang akan semakin curiga padanya
.
__ADS_1
Bunda dan tante mira, menggulung senyum takut tawa akan pecah.