
Malam ini, adalah malam terakhir mereka berada jauh dari rumah. Yang mereka katakan sebagai malam puncak di rumah kepala dusun. Dengan beberapa sajian spesial dari sang pemilik rumah juga beberapa warga sekitar.
Tak lupa memperdengarkan suara nyanyian yang di iringi musik. Berganti-ganti membawakan lagu yang dianggap bisa di bawakan.
Meskipun tak jarang justru membuat orang yang mendengar harus meringis menahan ketidak-seimbangan antara lirik dan musik yang berterbangan ke mana-mana.
Antara para masiswa dan warga sekitar yang saling bercengkrama sebelum mereka berpisah, hanya ada senyuman dan tawa.
Tinggalkan mereka yang sedang bersuka cita, di sudut sana seorang pria duduk seorang diri dengan mememperhatikan ponsel di tangan.
“Napa sih bete banget?” Vita sedikit tersenyum ketika mendudukkan diri di samping Linggar.
Linggar dengan raut wajah yang ditekuk seribu menampakkan banyak kerutan di wajahnya. Tak ada senyum, hanya cemberut yang terlihat.
“Kangen.” Ucapnya sambil menatap vidio Rindi dan teman-temannya yang justru membuatnya semakin gemes. Rindi menampakkan diri hanya beberapa kali, itupun dengan gambar yang terguncang jauh dari kesan fokus.
“Sabar aja kali, besok juga pulang.” Vita masih tersenyum melihat tingkah Linggar.
Menunggu kata esok yang masih tersisa beberapa jam lagi, justru semakin memupuk rasa rindu.
Sungguh rasa rindunya kini telah berada di ubun-ubun.
Linggar yang sering menjadi bahan ejekan dari teman-temannya, karena sering cemberut justru sesaat setelah
menerima kabar dari kekasihnya.
“Lamaaaaaa.” Ucapnya dengan nada kesal.
Malam ini malam minggu, dan hatinya justru meresa sepi di antara keramaian yang tercipta.
Otaknya kini telah berada di sana. Di tempat harusnya mereka berada.
Jika saja, ia telah pulang ke rumah, mungkin kini sedang berada di dalam kamarnya. Dengan seribu alasan agar
bisa meninggalkan teman-temannya yang berada di lantai satu rumahnya. Bertelpon ria berdua dengan kekasihnya hingga lelap menghampiri.
“Kamu bisa langsung cari dia kalau udah pulang.” Vita mengarahkan pandangannya ke depan, ke arah teman-temannya yang sedang tertawa dengan seorang yang bernyanyi di tengah-tengah.
“Ya, iyalah. Pasti itu.” Ucapnya masih ketus. Membuat Vita hanya mampu tersenyum melihat Linggar yang telah
terserang penyakit rindu akut.
Tak ada teman yang tak tahu dengan hubungan Linggar-Rindi. Bahkan Linggar sangat bangga saat menceritakan
tentang kisah ataupun kerinduannya.
“Kalau pulang kamu mau ngapain?” Kini ucapan Linggar terdengar lebih tenang dengan pandangan yang juga mengarah pada kumpulan orang-orang yang sedang bernyanyi sambil tertawa.
“Aku mau...... mandi, luluran, trus tidur.” Vita membentangkan tangan ke samping dengan wajah menengadah ke atas. “Ahhhh, kasurku tunggu aku pulang.”
__ADS_1
Selama ini, mereka mandi di sumur atau di sungai. Harus menggunakan penutup tubuh saat mandi di alam terbuka.
Menggenakan pakaian atau sarung yang di lilit di atas dada, membuat mereka tak merasakan mandi yang sesungguhnya.
Dan tidur hanya dengan selapis karpet bersama-sama. Menikmati dinginnya malam yang menusuk meski tak
menggunakan ac.
“Kalau kamu?” Pandangan Vita kini beralih ke arah Linggar.
“Tunangan.” Jawabnya singkat namun tanpa ekspresi yang justru di anggap lucu oleh gadis di sampingnya.
Vita tertawa, sambil menggeleng-gelengkan kepala mendengarkan ucapan Linggar.
Sesaat tawanya terhenti, gadis itu terdiam mengamati Linggar yang juga masih terdiam dengan pandangan lurus. Sedikit menebak seberapa besar rasa cinta Linggar terhadap Rindi.
“Kamu serius?"
“Dua rius. Seribu rius malah.”
“Ngebet banget. Setidaknya selesaikan dulu kuliahnya, terus cari kerja yang baik, nah itu udah modal banget buat kamu dapatin Rindi seutuhnya.”
“Kamu juga bisa memberikan Rindi kehidupan yang baik dan bisa membahagiankan Rindi dan anak-anak kalian. Kamu bangun rumah yang besar jadi anak-anak kamu bisa bebas dan bermain di halaman rumah.”
“Bisa memenuhi segala keingin istri dan anak-anak kamu. Bisa menyekolahkan anak-anak kamu di sekolah terbaik tanpa terbebani dengan yang namanya biaya.”
suara kikikannya.
Vita bahkan menutup mulut dengan tangan sambil mengeleng-gelengkan kepalanya. Membuyarkan pemikirannya yang baru saja numpang lewat.
Sejenak pandangan gadis itu tenang memandangi sosok Linggar. Pria tampan dengan postur tubuh tinggi, setia dengan size cinta yang teramat penuh bahkan hampir berlimpah ruah.
Hampir sempurna.
But Nobody's perfect!
Ia tak perlu memikirkan kekurangan apa yang dimiliki Linggar sebagai seorang manusia. Baginya Linggar saja sudah cukup menyilaukan mata.
Gadisnya terbilang bo doh jika menyia-nyiakan Linggar begitu saja. Jika boleh ia juga ingin menikamati cinta yang dipersembahkan dari seorang Linggar.
Ada rasa iri pada Rindi yang berhasil menggaet Linggar dengan pesonanya meskipun gadis itu sebenarnya tak
pernah berbuat apa-apa pada Linggar.
Linggar yang justru selalu mengejar-ngejar Rindi.
Adakah waktu ia bisa mendapatkan Linggar?
Tapi tak mungkin, cinta Linggar pada kekasihnya begitu nyata tanpa terhalangi apapun jua.
__ADS_1
Baiklah, setidaknya pria seperti Linggar. Adakah satu orang saja untuknya. Jika boleh ia ingin bermimpi untuk
menggapainya.
“Kamu tuh cowok Gar. Kamu bisa mendapatkan cewek manapun. Apalagi saat kamu sukses nanti.” Vita hanya mampu memberikan semangat dan dorongan pada Linggar.
Jangan sampai cinta membuat pria itu buta hingga menyampingkan masa depan dan cita-citanya.
“Aku cuma mau Rindi.” Kini rindu telah berada di puncak kepala.
Lihatlah! Betapa besar cinta dan kerinduan yang Linggar sumbangkan untuk seorang gadis bernama Rindi.
Sesaat kemudian kepalanya menunduk diantara kedua lututnya. Sungguh ia tak bisa lagi menepikan rasa rindunya.
Ke esokan harinya, semua telah siap.
Linggar meninggalkan beberapa ikan kering yang tak mereka habiskan, serta beberapa lembar uang sebagai ucapan terima kasih kepada kepala dusun yang juga merangkap sebagai tuan rumah.
Ia hanya menyimpan secukupnya saja untuk berjaga-jaga saat diperjalanan. Toh ia juga akan pulang ke rumah.
Lumayan banyak. Di sana mereka tak terlalu membuang-buang uang hanya untuk kelangsungan hidup.
Beras melimpah ruah. Dan mereka hanya perlu memetik di kebun-kebun warga untuk masalah sayuran. Sedikit masalah dengan pemenuhan protein. Beruntung Linggar berbekal ikan asin.
Sangat berbeda dengan perkotaan, di mana semua harus ditukar dengan uang.
Kembali mengarungi perjalan yang cukup melelahkan sebelum menyebrangi sebuah sungai di lembah gunung. Di
seberang sungai telah menunggu bus yang dulu mengantarkan mereka ke sini.
Pulang.
Akhirnya kata itu datang juga, setelah perjalan rindu yang sangat menyiksa jiwa.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.
__ADS_1