Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Menunggu Halal


__ADS_3

Sepekan lebih mengurus pernikahan membuat Linggar jarang ke kampus, mungkin hanya sekali dalam seminggu ini.


Begitupun dengan Rindi yang justru betah berada dalam kamarnya hanya dengan alasan beristirahat.


Sejujurnya ia takut mengahadapi dunia.


Takut jika keadaannya diketahui orang banyak.


Takut menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang akan ditujukan padanya.


Tentang apa, mengapa, dan bagaimana bisa terjadi.


Hingga hari pernikahan tiba ia hanya menghubungi Lilis sebagai sahabat terdekatnya.


“Cantiknya.” Seru Lilis dengan senyum yang terkembang di wajahnya.


Rindi dengan balutan kebaya putih gading dengan riasan makeup soft dan natural.


Dengan lipstik berwarna merah muda yang tidak terlalu terang, juga pilihan blush on berwarna pink muda.


Sedangkan untuk riasan mata pun dibuat sangat soft dan natural.


Dan Tangisnya benar-benar pecah saat melihat Lilis berada di dalam kamarnya yang telah di hias dengan bunga dan hiasan ala kamar pengantin.


Senyum yang tadinya menghiasi wajah Lilis perlahan luntur saat mendapatkan sahabatnya ternyata tak sebahagia


yang ada di benaknya sebelum memasuki kamar pengantin.


“Rin.” Ucapnya lirih sambil mulai berjalan pelan ke arah Rindi.


Aneh memang, seminggu lebih Rindi tak masuk pun tanpa kabar. Sekali mendapat kabar justru kabar Rindi yang akan menikah.


“Rin,” Ucapnya lagi, saat Rindi merantangkan tangan dan meraihnya.


Lalu masuk ke dalam pelukan Lilis. Ia butuh masih butuh sandaran untuk menopang tubuhnya dalam menghadapi kehidupan yang tak seringan bulu angsa.


“Suuuttttt!” Rima yang sedari tadi berada di samping Rindi berupaya menenangkan dengan mengelus punggung


dengan pelan dan lembut.


“Jangan nangis, make Upnya nanti berantakan.”


Meraih pundak Rindi, menjauhkannya dari pelukan Lilis. Tak bermaksud apa-apa, hanya ingin melindungi wajah Rindi yang tadi telah di rias selama lebih dari sejam.


“Kakak tinggalin kalian berdua, tapi janji jangan terlalu banyak nangis. Kasihan MUAnya harus bekerja ulang lagi.”


“Pc, Tapi kayaknya gak deh, belum apa-apa juga nangisnya udah pontang-panting kayak gini!” Rima sambil mengusap sedikit air mata Rindi dengan tissu yang sedari tadi siap di tangannya.


“Apaan nangis pontang-panting?” Rindi sambil tersenyum, mempersembahkan wajahnya pada Rima. Membiarkan wanita buncit itu kembali merapikan riasannya.


“Jadi gimana? Mau ditinggal tapi janji gak nangis lagi atau kakak tetap di sini jagain biar gak nangis lagi.”


Kini Rima telah berdiri, sementara tangannya masih sibuk membersihkan sisa-sisa air mata Rindi.


“Iya, ditinggal janji gak nangis.” Rindi dengan senyuman di wajah meskipun kulitnya masih lembab.


“Nah, gitu dong sayang.” Satu kecupan Rima mendarat ke kepala Rindi.

__ADS_1


“Awas, kalau Make Upnya berantakan!” Telunjuk tepat berada di wajah Rindi dengan menunjukkan wajah marah namun setelah itu kembali tersenyum.


“Iya—iya.”


“Cantik banget, siapa sih?” Lilis memandang pintu kamar yang baru saja ditutup oleh Rima.


“Iya cantik baik juga. Itu tuh mantan pacarnya kak Reno tapi sayang gak berjodoh, keduluan.” Sejenak ia lupa


dengan nasibnya yang sebentar lagi akan menjabat sebagai seorang istri.


“Cantikan mana sama kakak iparmu?” Duduk di samping Rindi.


“Ck, jauh bedaaaaa." Penuh penekanan.


Gak bisa dibandingin pokoknya. Sayang banget yah, kok kakak iparku tertukar?”


Kini pandangan mereka sama-sama mengarah ke pintu, seolah ada Rima yang saat ini mereka bahas sedang berdiri di sana.


“Ya, mo diapain lagi. Namanya juga jodoh. Mana adasih jodoh yang tertukar?"


"Sama kakak ipar kamu, udah baikan?” Sesekali menatap Rindi lalu kembali menatap pintu.


“Gak tau apa namanya, tapi kamu gak bakalan liat istri kak Reno nyentuh-nyentuh mukaku kayak kak Rima tadi.”


Dengan tangan menari-nari di depan wajahnya.


“Boro-boro! Dekat sama suaminya aja udah di lirik-lirik kayak gimanaaaaa gitu.” Kali ini bibir telah di majukan ke depan.


“Cemburuan banget!” Tambahnya ketus.


Salah satu alasan antara Rindi dan Reno yang sedikit menjauh adalah kakak ipar Rindi, istri Reno.


“Eh, tapi tadi...., siapa namanya?” Telunjuk ke arah pintu.


“Kak Rima.”


“Iya, kak Rima. Serasi banget keliatannya sama Kak Reno. Satunya cantik, satunya cakep. Sempurna banget tau


gak.”


“Nah, itulah kenapa mereka gak di jodohin. Terlalu sempurna jika nanti mereka punya anak mah.”


“Ih, tapi kok kamu masih akrab aja sama kak Rima sih. Gak pa-pa emang?”


“Gak peduli aku. Selagi nyaman. Dia baik banget tahu,perhatian dari dulu tuh mah.”


“Trus kak Reno gimana?” Menatap Rindi dengan bertopang dagu.


“Kayaknya kak Reno masih sayang banget sama Kak Rima. Liat aja, semarah apapun kak Reno kalau kak Rima yang nenangin langsung berhenti tanpa neko-neko.”


Ternyata gibah mampu menelengkan fokus otaknya dari sedih beralih ke semangat.


"Gimana yah perasaan mereka saat bersama trus sama pasangan masing-masing juga?" Lilis mencoba menerawang dengan kepala yang mengangguk-angguk.


"Suaminya Kak Rima tuh posesif banget, apalagi kalau menyangkut kak Reno. Beeh,.... gak boleh dekat-dekat. Untungnya gak mikir macam-macam kalau kak Rima dekat aku."


“Eh, btw kamu kok langsung nikahan aja sama Kak Linggar sih? Gimana ceritanya?”

__ADS_1


Nah loh? Lilis yang merubah haluan topik pembicaraan juga mampu merubah raut wajah Rindi yang tadinya semangat menjadi kembali sendu. Seketika itu pula Rindi mentap Lilis dan siap kembali menangis.


“Eh, gak usah cerita kalau nanti kamu nangis lagi. Nanti kak Rima marah.” Lilis memilih tak menatap mata Rindi


karena di sana air matanya mulai menggenang di pelupuk mata.


Memilih mengelus lembut tangan Rindi berusaha mengusir sakit yang mulai kembali tergambar.


“Kamu gak ngundang Tantri sama Dini? Aku sengaja gak ngasi tau mereka, takut kamu memang ingin nyembuin


pernikahan kamu.”


“Nanti aja kata ibu, kalian akan pesta setelah kak Linggar lulus.” Ia masih belum mengangkat kepalanya. Tahu


jika Rindi sedang menangis, karena setitik kristal bening itu sempat mendarat ke tangannya.


“Tapi janji jangan cerita sama orang?” Rindi yang terbata-bata.


“Gak usah cerita.” Lilis belum mengangkat kepalanya.


“Kak Linggar bawa aku ke hotel.” Ucapannya hampir tak terdengar dengan kepala yang semakin tertunduk seperti sedang menerima beban berat.


“Hah, kalian,....?” Mengangkat kepala menatap Rindi. Ucapannya tertahan, tak mampu melanjutkan kalimat.


Berharap apa yang ingin ia sampaikan di sanggah langsung oleh Rindi.


Namun apa yang Rindi lakukan nyatanya membuat matanya membola sempurna, padahal Rindi hanya mengangguk saja, tanpa kata.


“Kak Linggar marah banget.”


“Hah, kamu,... hamil?” Ucapnya lirih dan terbata, berharap tak ada seorangpun yang mendengar selain mereka


berdua.


“Gak belum, tapi gak tau nanti.” Meremas dan mempermainkan jari-jari Lilis. “Kak Linggar udah memiliki aku


sepenuhnya, aku gak bisa memilih lagi.”


Mereka tak lagi saling memandang.


Saling menundukkan kepala, memandang tangan yang bergengaman.


Sepatu hitam berkilau kini mengusik pandangan mereka, ternyata mereka tak hanya berdua di ruangan itu.


Serempak mengangkat kepala, ingin melihat sang pemilik sepatu hitam berkilau itu. Kedua pasang mata kini membola sempurna menatap pria yang telah berdiri dengan raut marah di depan mereka.


“Kamu gak hamil?” Kak Reno dengan kedua tangan terletak kokoh di pinggang, pandangan begitu tajam menusuk ke arah Rindi.


TBC


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Mumpung masih awal pekan, sumbangin votenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?

__ADS_1


Sekalian sama bunganya buat camilan saat nulis.


__ADS_2