Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Hempasan Tanpa Kata


__ADS_3

“Sekarang kakak ingin, agar kamu menjaga jarak dari pria itu. Bagaimanapun caranya, jangan biarkan dia menyentuhmu lagi!”


“Jangan biarkan kamu hamil anaknya! Itu akan menghancurkan rencana kakak ke depannya.”


“Dan kakak tidak akan bisa menolongmu lagi nantinya.”


Rindi hanya mampu terdiam menatap mata Reno yang juga menatapnya serius. Begitu dalam dan begitu bermakna. Namun ia tak tahu makna dari setiap tatapan dan perkataan kakaknya itu.


Kata demi kata yang di ucapkan Reno nyatanya tertampung dalam benak Rindi, menciptakan ribuan pertanyaan baru.


Bagaimana caranya menghindar dari sentuhan Linggar sementara mereka kini adalah sepasang pasangan suami istri? Berada dalam satu atap, bahkan satu kamar, dan satu ranjang juga.


Lalu rencana apa yang disusun oleh kakaknya itu untuknya?


Apakah Reno belum merestui hubungannya dengan Linggar bahkan setelah ijab kabul telah terucap.


“Kamu bisa janjikan untuk tetap menjaga diri dari rayuan Linggar?”


Bagaimana caranya?


Hubungan ini ada agar mereka bisa saling merayu secara bebas dan halal.


Bagaimana caranya?


Belum terikat pernikahan saja Linggar sering merayunya, dan ia akan berdebar dengan pipi merona saat mendengar rayuan maut Linggar.


Pe-er yang diberikan Reno terlalu berat untuk ia kabulkan.


“Dira.” Menyebut nama adiknya berharap keinginannya segera terjawab.


“Kamu maukan untuk tetap menjaga jarak dengan dia?” Reno menatap dengan begitu dalam penuh pengharapan.


Inginnya Rindi berucap bahwa itu sulit, bahkan nyaris tak mungkin.


Tapi ia tetap mengangguk demi menghargai sang kakak yang ingin berusaha memberikannya yang terbaik. Meskipun dirinya telah menyumbangkan kekecewaan secara tak kasat mata.


“Jangan sampai hamil!” Reno untuk yang kesekian kali, seolah itu menjadi sebuah ketegasan untuk adiknya.


“Kakak akan mencarikan jodoh yang lebih baik dari pada pria itu.”


Tak ada lagi kata antara mereka berdua hingga Reno berlalu meninggalkan kamarnya.


Kalimat terakhir terasa sangat menikam jantung, hatinya terasa ngilu.


Bagai petir menyambar disiang bolong.


Seketika itu pula sesak melanda.


Apa maksud kakaknya itu akan mencarikan jodoh yang lebih baik, sedang dirinya kini telah menemukan jodohnya,


yaitu Linggar.


Tak lagi mampu berpikir, Rindi hanya terdiam memaku duduk di pinggir ranjangnya. Pandang lurus ke depan,


kosong.


Dia yang tadinya mencoba menerima keadaan ini. Keadaan bahwa ia telah menikah dengan Linggar. Ia telah mempersiapkan hati sebelum hari ini tiba.


Toh mereka telah menjalin kisah hampir tiga tahun lamanya, bahkan telah merasakan indah tubuh dan sentuhan masing-masing.


Dan dirinya yang begitu yakin dengan Linggar, akan perasaan, kasih sayang, cinta, dan ketulusan yang selalu Linggar suguhkan padanya.


Bahkan yakin jika perasaan Linggar terlalu dalam padanya hingga mampu menembus benteng pertahanan diri sendiri.


Ini lebih dari cukup untuk meyakinkan diri untuk tetap melangkah hingga ke garis ini.


Hatinya telah terbuka menerima Linggar. Mencoba meyakinkan diri, bahwa ia memang tercipta untuk Linggar.

__ADS_1


Rindi dan Linggar saling berjodoh. Keyakinan yang berusaha ia paksakan sebelumnya.


Padahal dia mengira kakaknya hanya datang untuk meminta maaf dan memberikan restu pada ia dan Linggar.


Apa yang harus ia lakukan sekarang?


Mengikuti arahan dan intruksi Reno?


Tidak mengijinkan suami untuk menyentuhnya berarti sebuah kesalahan besar yang dilakukan oleh seorang istri.


Atau tetap mengabdikan diri pada suaminya dengan mengabaikan permintaan kakaknya sendiri.


Apakah setelah ini mereka akan berpisah?


Ya ampun, Kenapa pernikahan sesulit ini?


Linggar kembali masuk ke dalam kamar. Menatap Rindi yang tengah terbaring di kasur telah berganti pakaian menggunakan piyama lengan panjang.


Kenapa Rindi tidak menunggunya terlebih dahulu?


Ah, harusnya tadi ia tak mengulur waktu untuk masuk. Hingga bisa menyaksikan Rindi saat sedang berganti  pakaian.


Bisa saja Rindi membutuhkan bantuannya untuk membantu membuka pakaian pengantin yang terlihat sedikit riuh itu.


Tapi ajakan keluarga Rindi untuk duduk dan bercengkrama sambil menikmati suguhan ringan tak bisa ditolaknya.


Bisa-bisa ia akan di cap sombong oleh keluarga istrinya itu.


Ia masih dalam fase mencari kelakuan baik pada keluarga istrinya.


Masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri lalu mengganti baju pengantin yang sejak tadi pagi masih


menempel di tubuh.


Gerah, lengket dan segala macam yang ia rasakan sungguh sangat membuat dirinya merasa tak nyaman.


Malam ini adalah malam pertama untuk mereka, meskipun bukan yang pertama tetap saja ini adalah malam pertama mereka sebagai pasanagn suami istri.


Harusnya ia sedang berjuang untuk membuka pakaian istrinya itu.


Lalu Rindi akan mencoba menghalangi dengan wajah malu-malunya.


Malu tapi mau.


Hihihi, terkikik dalam hati. Membayangkan adegan yang aka tercipta diantara mereka.


Lama menatap punggung istrinya.


Sepertinya Rindi tidak benar-benar tidur.


Hahahahah, Rindi pasti malu.


"Sayang." Ucapnya mulai mendekatkan diri ke arah Rindi.


"Sayang." Ucapnya lagi saat tubuh mulai merapat.


Mengulurkan tangan hendak memeluk istrinya dari belakang. Rindi tersentak saat meresakan tangan itu sudah melingkar di perutnya. Membuat Linggar yakin seyakin-yakinnya bahwa Rindi tak tidur.


Merapatkan diri hingga tak tersedia jarak antara mereka. Mencium aroma tubuh wanita yang juga baru selesai


mandi sebelum ia masuk ke kamar ini.


Wangi sabun dan shampo masih terasa sangat kentara. Meskipun rambut itu telah mengering, mungkin bantuan


dari hairdrayer juga.


Hemmm, wangi.

__ADS_1


Itu saja mampu membuat diri serasa meremang. Terlebih jika di padukan dengan kulit lembut putih bersih yang


menyisakan sedikit rambut di belakang leher Rindi. Pandangan yang tepat berada di depan mata.


Kolaborasi yang sempurna yang mampu membangkitkan gejolak dalam jiwa.


Geloranya telah menjalar ke seluruh tubuh. Darah terasa segar meluncur di dalam setiap urat nadi. Dada bergemuruh hebat.


Dag dig dug.


Begitu bunyi yang saling bersahut-sahutan.


Sangat hebat, seolah meminta untuk dilepasakan dengan segera.


Rugi.


Rugi sekali jika harus menyia-nyiakan waktu lagi.


Nafasnya terdengar berat menghembus di kulit, menghantarkan rasa yang hampir sama pada wanitanya.


Rasa yang menggelitik bagi Rindi.


Selain merasakan hembusan napas dan kecupan yang terasa di tengkuknya membuat ia harus menahan napas. Semakin geli saat iapun merasa tangan besar itu mulai merem@s perutnya perlahan.


Membuat ia harus merem@s bantalnya.


Menutup mata dan menekan sekuat-kuatnya, menahan rasa yang semakin lama semakin bangkit karena perlakuan lembut Linggar.


Pernah melakukan mampu mendapatkan predikat berpengalam pada mereka. Namun kali ini terasa lebih berberbeda.


Tak perlu ditambah rasa takut lagi.


Takut kepergok, takut dosa, takut sakit dan segala macam rasa takut yang dulu pernah membuatnya seluruh tubuh


gemetar bahkan hingga akhir.


Linggar mulai menaikkan tangannya ke atas melewati bagian perut Rindi, namun tangannya tertahan oleh tangan


istrinya sendiri. Linggar tak bisa meneruskan tangannya yang terus merayap ke atas.


Tangan itu sedikit memberikan tekanan pada tangannya, perlahan namun pasti mengangkat tangan Linggar dan


menempatkannya di tubuh pria itu sendiri.


Tanpa kata.


Apa maksudnya ini?


Apakah Rindi menolak sentuhannya?


Meraih bahu Rindi hendak membalik tubuh istrinya, namun ia tercengang ketika Rindi justru menghempaskan tangannya ke belakang. Mundur sedikit hanya untuk, menatap tubuh Rindi yang masih membelakanginya.


Kenapa?


Ada apa dengan istrinya itu?


Padahal tadi Rindi berlaku baik padanya, bahkan sangat baik dengan menyentuh dan memuja penampilannya.


“Rin.” Ucapnya dengan tangan yang bergantung di atas.


Hendak meraih tubuh istrinya itu, tapi kembali teringat dengan perlakuan Rindi baru saja padanya.


To Be Continued!


Hari ini segini dulu yah!


Besok kita sambung lagi.

__ADS_1


Eh jangan lupa likenya ya!


__ADS_2