Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Amplop


__ADS_3

“Ya curhat aja, gak usah berbelit-belit!”


“Tapi jangan bilang siapa-siapa yah, malu! Linggar tadi cium aku!” Ucapnya lirih.


“What? Hubungan kalian sejauh itu?” Lilis memekik disertai mata yang membulat.


“Jangan kencang-kencang ih! Gak tau, tapi tadi tiba-tiba.”


“Terus?” Lilis yang mulai penasaran dengan kisah sahabatnya.


“Aku marah, pulang sendiri. Gak pulang sama dia.” Rindi dengan wajah cemberutnya.


“Jadi sekarang kamu mau apa?”


“Gak tau.”


“Apa ini karena uang tiga ratus ribu yang sudah di kasi?”


“Iya, aku juga tadi bilang gitu ke dia. Gak tau mikirnya langsung ke sana.”


“Iya kan, kakakmu pernah bilang, “cowok kasi duit itu pasti ingin timbal balik.”


“Jadi gimana?”


“Aku gak tau, makanya aku ke sini buat cari jalan keluar sama kamu.”


“Jalan keluar mah gampang. Tuh tinggal buka pintu aja, udah bisa keluar.” Jawabanya sambil menunjuk ke arah pintu kamarnya yang tertutup.


Ponsel Rindi bergetar menampakkan nama Linggar di sana. Mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain.


“Tuh kan dia nelpon? Jadi sekarang gimana?” Tanyanya pada Lilis.


“Kalau bisa hindari Linggar dulu!”


Setelah mendengar saran Lilis Rindi memutuskan untuk menolak panggilan dari Linggar itu. Tapi bukan Linggar namanya jika harus lansung mengalah. Buktinya beberapa kali panggilan terlihat di ponsel Rindi, meski telah beberapa kali pula ditolak oleh gadis itu.


“Blokir aja-blokir!” Mungkin terasa ikut tergangu dengan telpon Linggar, sehingga menyarankan pada Rindi.


Terang saja idenya diterima baik oleh Rindi, Lilis adalah sahabatnya yang selalu ingin melihatnya bahagia namun


tetap terlindungi.


Di samping itu, Lilis dan Rindi merupakan satu siswa dalam satu perguruan, dan kakak Rindi merupakan guru


mereka dalam menghadapi suatu masalah yang akan mereka hadapi seperti sekarang ini. Masalah lelaki.


Segera mungkin gadis itu memblokir nomor Linggar, membuat pria yang berada di seberang sana kini menjadi


uring-uringan.


Tak pernah berpikir jika Rindi sampai menghukumnya seperti ini. Pulang bersama tak ada, nomorpun diblokir.


Ia hanya bisa menyusun rangkaian ingatannya tentang kesalahan apa yang terjadi pada mereka. Apa benar hanya


karena ciuman di pipi itu? Rindi gadis seperti apa, hanya karena sebuah ciuman gadis itu merajuk.


\====


“Kita makan di luar aja yah!” Rindi

__ADS_1


“Di depan kampus di kafe sebelah kanan aja, sekali-kali makan keluar gitu.” Lilis yang telah mengerti kenapa


Rindi memilih tempat makan lebih jauh dari pada kantin yang berada di dalam area kampus.


Terang saja untuk menghindari Linggar.


“Tapi harganya?” Tantri


“Tenang aja, miring kok.” Lilis.


“Tapi tak semiring di kantin kan?” Tantri yang memiliki tingkat keuangan sama dengan Rindi yang masih mengharapkan belas kasih kakaknya.


“Ya sudah ayo, keburu dosennya masuk kelas. Kan jauh!” Faris, lelaki yang turut sering bergabung dengan


mereka.


Dasarnya Linggar tak mampu ia hindari, entah secara sengaja atau mengikuti langkah Rindi, kini Linggar turut


terlihat di kafe yang mereka datangi, tentu saja bersama Arman sang sohib setia.


Seperti sia-sia ia mengambil langkah jauh, jika sampai di sini saja Linggar tetap berada di lingkaran


hidupnya.


Namun Linggar terlihat segera beranjak setelah Arman menerima telpon, itupun dengan tatapan tajam ke arahnya.


Ia hanya perlu mengalihkan pandangannya tidak terusik dengan tatapan Linggar.


Tak sulit untuk menghindari Linggar. Ia hanya perlu menjauh saat melihat sosok Linggar saat berada di suatu tempat. Menghindari taman yang biasa ia dan teman-temannya tempati. Mengganti kantin langganan. Mungkin itu saja.


“Jadi maunya gimana?” Andini, yang telah mengetahui permasalahan Rindi.


sedikit searah dengan Andini.


“Gak boleh gitu.” Lilis yang seperguruan dengan Rindi.


“Kak Reno (kakak Rindi yang juga bertindak sebagai guru Rindi dan Lilis) bilang mulanya memang ini dulu, terus pindah ke sini, terus ke sini dan ke sini terus bablas deh!” Sembari menunjuk pipi, kening, bibir dan beberapa  anggota tubuhnya sendiri, dan terakhir merentangkan tangannya.


“Hemmmm,” Rindi yang membenarkan ucapan Lilis.


“Terus kamu maunya kayak gimana?” Dini.


“Putus?” Tantri.


“Emmm, bisa dibilang gitu.”


“Aku setuju!” Lilis.


“Kamu serius mau balikin uang kak Linggar?” Tanya Lilis saat mereka tinggal berdua.


“Ya, mau gimana lagi. Dari pada ujung-ujungnya di nuntut gimana?”


“Mau balikin berapa? Tiga ratus?”


“Tiga ratus?” Tanyanya balik. “Kayaknya gak cukup deh kalau segitu. Belum lagi yang belanja-belanja lain-lain.”


“Duhh, aku juga sempat makan duitnya juga. Itu tu, waktu kalian makan berdua, Kak Linggarkan kasi kita duit.”


“Ya, udah aku bantu deh! Takutnya dia juga tagih aku gimana?”

__ADS_1


“Mumpung aku masih ada tabungan.”


Entah apa yang ada dipikiran kedua gadis ini. mengembalikan uang Linggar beserta semua yang telah mereka makan.


Lima hari terasa bagai setahun untuk seorang Linggar, bahkan hal kecil seperti mendengar suara Rindi saja ia


tak mampu. Ini terlalu lama untuk dibiarkan. Ia terlalu banyak bersabar.


Apalagi saat mendapat sebuah amplop dari Arman.


“Apaan?” Sambil menyambut pemberian sahabatnya itu.


“Titipan buat kamu, katanya dari Rindi, tuh temen cowoknya yang ngasih aku. Cieee-cie yang kembali ke zaman


dulu, pake surat-suratan.”


Cie-cie yang lagi bernostalgia masa sekolah dulu pake surat-suratan berarti kita seumuran. Stttttt.Jangan sampai mereka tau.


“Isinya apaan sih? Surat cinta atau surat wasiat?” Arman yang penasaran karena Linggar hanya menimang amplop


itu, tanpa berupaya membukanya. Ini sedikit lebih berat untuk ukuran sepucuk


surat.


“Buka aja cepat! Memangnya kamu mau main tebak-tebakan?” Sedikit ketus karena sampai detik ini Linggar tak berusaha membukanya, hanya kening saja yang berkerut.


“Pake lama lagi. Sini aku bantu, siapa tau kamu tidak memiliki ilmu membuka amplop.” Dengan satu hentakan ringan amplop kini telah berpindah ke tangan Arman.


Sreetttt. Satu tarikan amplop terbuka. Mereka kini telah melihat isinya. Bukan sepucuk surat cinta atau wasiat, tapi berisikan beberapa lembar uang berwarna biru. Sontak pemandangan itu membuat geram sang pecinta sejati.


“Apa-apaan maksudnya ini? Rindi ngapain ngirim uang ke aku?”


Pemikirannya melayang saat Rindi marah tempo hari dan menyebut-nyebut tentang uang tiga ratus ribu pemberiannya. Tapi ini lebih dari tiga ratus ribu, entah berapa nominalnya ia tak terlalu tahu. Yang ia tahu Rindi seolah tengah menginjak-injak harga dirinya.


Mungkin gadis itu berpikir jika Linggar memberikannya uang untuk meraup keuntungan lain darinya. Apakah Rindi berpikir jika dirinya menganggapnya seperti gad!s bayar@n?


“Benar-benar nih cewek.” Ucapnya sambil menutup mata dengan gelengan kepala.


“Man, bantu aku!”


“Siap. Bantu apaan?”


“Nyulik Rindi.” Enteng.


Jangan lupa like n komen.


**sebab satu sentuhan mampu membuatku bagai terbang dan berjalan di atas pelangi. **


Terima kasih Juga dukungannya para kesayangan.


Terima kasih buat bunga dan secangkir kopi manis, semanis para readers.


Teng Kyu


Teng Kyu


Teng Kyu


Teng Kyu

__ADS_1


Teng Kyu


__ADS_2