
“Bukan ma. Beneran itu cowoknya Rindi. Mamakan liat sendiri, kalau ke sini cuma buat ngantar Rindi ambil motor.” Lilis kembali menampilkan wajah kesalnya berbicara dengan bibir maju ke depan.
“Ya bisa-bisanyakan cuma alasan kalian aja buat ngelabuin mama.” Betah banget matanya bulat-bulat, gak capek
apa?
“Ya udah tanyakan langsung aja sama orangnya kalau gak percaya.” Lilis mulai mengambil air dingin untuk dicampurkan ke dalam gelas yang telah terisi larutan sirup.
Mungkin tamunya sudah kehausan ditinggal sendiri di luar. Sementara yang punya rumah ternyata memperdebatkan cowok itu milik siapa.
“Kalian pasti sekongkol buat nyembunyiin kan. Mau ngelabuin mama.”
Ya ampun, ternyata perdebatan belum selesai.
“Astaga ma! Mamakan sering liat sendiri kak Linggar sering banget sama Rindi. Kok jadinya nuduh aku.” Dengan melirik kesal ke arah mama yang masih setia dengan tangan yang bersedekap.
“Tapi cakep sih. Kok Rindi bisa dapat cowok kayak gitu yah. Tinggi juga.” Matanya sudah tidak melotot lagi, tapi kini melirik ke atas kanan seolah sedang berpikir.
“Ya jelas tinggi, kan pemain basket.”
“Jadi kamu kalah cantik dong sama Rindi. Cowoknya cakep begitu.”
“Jadi mama ijinin kalau aku juga punya cowok asal cakep mah?” Wajahnya kini berbinar.
Pasalnya selama ini ia belum diijinkan untuk menjalin kasih dengan pria manapun. Harus konsen kuliah kata mama. Apalagi papa, yang akan menceramahinya hingga terlelap karena kecapean.
“Gak, awas jangan macam-macam. Uang jajannya distop mau?”
“Pc, tadi bilang aku kalah cantik gara-gara cowok Rindi cakep. Udah ah, kak Linggar nungguin.” Kini sebuah nampan dengan dua gelas minuman berwarna dan sepiring biskuit telah berada di tangannya.
“Diminum kak.” Lilis yang meletakkan satu gelas di hadapan Linggar.
“Terima kasih.” Linggar dengan senyuman yang teramat sangat kaku. Ia memang haus, tapi tak ingin membuang
waktu terlalu lama untuk bertemu dengan Rindi.
“Lis, boleh antarin ke rumah Rindi gak?” Linggar sudah tak mampu lagi berbasa-basi terlalu lama. Toh di sini hanya ada mereka berdua, sudah tak ada lagi mama Lilis diantara mereka.
Lilis hanya mampu terdiam. Dan diamnya itu telah mampu memberikan pertanyaan-pertanyaan yang seolah semakin bertambah bagi Linggar.
Lilis mengerti kegundahan yang Linggar alami.
Jelas saja!
Saat pria itu masih menjabat sebagai kekasih Rindi, wanitanya justru sedang dekat dengan pria lain.
“Kenapa?”
“Lis, Lilis.” Dengan sedikit menambah nada satu oktaf agar Lilis terbangun dari hayalannya.
“Ya, kak.” Sedikit gelagapan saat mendengar suara tinggi Linggar.
“Mereka pacaran?” Kini tatapan Linggar bagai setajam anak panah yang siap meluncur, tajam dan menusuk.
Yakinlah, ada rasa perih ketika harus mengucapkan kata demi kata yang menyangkut tentang pacarnya dan pria itu. Sekuat apapun ia menahan perih itu masih tetap terasa.
__ADS_1
Lilis hanya mampu terdiam, tak mampu menjawab pertanyaan Linggar. Siapa lagi yang mereka bicarakan kalau bukan Rindi dan Iqram.
Iapun tak ingin berada di posisi ini. Saat dirinya menjadi pengantara antara Linggar, Rindi dan juga ada Iqram yang seolah menikmati permainan ini.
Beberapa kali ia telah memperingatkan Rindi untuk tidak bermain dengan dua hati. Dan Rindi akan berkata, “Kami hanya sahabat.”
Sahabat?
Sahabat yang justru menjadikan hubungan yang terlebih dahulu di jalin menjadi retak. Lilispun tak terima dengan sikap Rindi yang terlihat cenderung egois.
Kalau memang sudah tak ingin bersama dengan Linggar, yah putuskan saja. Lalu terima Iqram sebagai kekasih, kan beres.
Tak perlu membuat Linggar seperti orang yang tak memiliki tujuan dan haluan hanya untuk mencari dan mengejar Rindi ke sana kemari.
“Diam berarti iya.” Linggar yang masih menatap Lilis dengan tajam. Yang ditatap masih tetap setia tertunduk dalam diam. Hati semakin terasa perih. Ingin menyangkal tapi keadaan ini terlalu membuktikan jika kekasihnya telah berbuat curang.
Perlahan Lilis mengangkat wajah hanya untuk menatap pria yang duduk di sisi sebelah kanannya.
“Katanya cuma sahabat kak.” Ucapnya liris, sedikit ragu dengan ucapannya sendiri.
“Sahabat baru? Sahabat saat aku pergi? Atau penggantiku?” Kini hatinya bukan hanya sekedar terasa perih. Namun seolah tercabik-cabik.
Kebohongan. Penghianatan. Terlalu nampak dipertontonkan oleh kekasih itu.
“Maaf kak.” Lilis yang merasa gagal memperingatkan Rindi. Hanya mampu mengucapkan maaf untuk Linggar.
Namun berbeda dengan Linggar, pernyataan maaf yang baru saja ia dengar seolah pembenaran dari segala argument yang telah ia ucapkan.
\=======
rok berbahan jeans.
Terlihat anggun dan feminim.
Membuat rasa cinta, kagum dan sayang Linggar seolah kembali ke level tingkat atas. Terlepas dari semua penghianatan yang Rindi lakukan padanya.
Dengan ponsel ditangannya.
Ponsel di tangan?
Lalu bagaimana dengan telepon dan pesan yang dikirim oleh Linggar? Apakah gadis ini sengaja menyibukkan diri jika harus beriteraksi dengan Linggar.
“Rindi,” Lilis mencoba memberikan kode mata ke arah Linggar karena sepertinya gadis ini tidak menyadari jika mereka tidak hanya berdua dalam ruang tamu itu.
“Kak,” Rindi lirih sambil menatap ke arah Linggar, dan mencoba memperbaiki duduknya yang tadinya amburadul jauh dari kesan elegan.
“Nomorku kamu blokir?” Linggar dengan nada pelan namun sangat nampak raut kekecewaan di wajahnya.
“Maaf.”
“Untuk?”
Penghianatan? Pengacuhan? Pemblokiran nomor?
Entah mengapa semakin sesak mendapatkan keadaan Rindi yang berkesan baik-baik saja setelah berjauhan dengan Linggar dalam kurun waktu yang lumayan.
__ADS_1
Apa lagi yang harus ia lakukan untuk kembali mendapatkan perhatian Rindi. Bagaimana dirinya yang bergitu
tersiksa dengan rindu dan dengan keadaan yang begitu sulit baginya meski hanya bertukar pesan.
Dan kini ia mendapatkan kekasihnya sedang baik-baik saja. Bahkan bisa dibilang sedang berbunga-bunga
karena pria lain.
Benar-benar gadis ini seolah menampar tanpa menyentuh pipinya. Mendorong tubuhnya ke belakang dan mengganti posisinya yang harusnya berada tepat disamping dengan pria lain.
Dengan semua kesakitan yang ditorehkan oleh Rindi, gadis ini harus diberi pelajaran.
Tunggu saja! Entah apa yang ada di otak dan hati Linggar yang sedang terluka.
Ibu datang dengan membawa nampan berisikan teh hangat manis dan beberapa camilan buatan rumah.
Mendapati ruang tamu yang berisikan dengan tiga wujud manusia namun jauh dari kesan ramah, bahkan seolah
dingin mencekam.
Dengan tatapan tajam sang pria ke arah anak gadisnya. Sementara sang gadis hanya tertunduk menatap lantai tempat kaki berpijak.
“Makasih tante.” Ucap Lilis yang mungkin satu-satunya orang yang menyadari keberadaannya saat ini.
“Makasih tante!” Ucap pria itu sambil mengangukkan kepala namun lebih memilih tunduk dari pada menatapnya.
Membuat perasaannya mengatakan jika anak gadisnya telah berbuat sesuatu yang salah terhadap pria ini.
Rindi yang tak pernah terbuka pada keluarganya. Membuat ibunya harus memiliki perhatian dan usaha ekstra
hanya untuk mengetahui keadaan putrinya.
Jika dulu ada sang kakak yang dulu menjadi tempat berbagi dan meminta segala macam bantuan. Namun tidak untuk saat ini. setelah insiden dengan kakak ipanya Rindi lebih memilih menarik diri dari pada harus menghadapi kesalah pahaman lagi.
Ibu bukannya tak tahu siapa pria itu.
Linggar, pria yang mengaku sebagai teman anaknya ini beberapa kali menyambangi rumah mereka. Bahkan terlalu dekat untuk dikatakan sebagai teman biasa. Pernah sekali pria ini datang mengantar Rindi yang sedang terluka dengan alasan terjatuh, terlihat sangat perhatian bin prihatin.
Haruskah ia percaya jika pria ini hanya sekedar teman Rindi?
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.
__ADS_1