Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Kemesraan Setelah Gulat


__ADS_3

“Ada apa?” Tanyanya saat telah berada tepat di samping Rindi.


“Udah dibilangin Rindi abis gulat.” Jawaban yang terdengar sedikit judes entah dari siapa.


“Kok bisa?” Kembali bertanya, kali ini ia telah meraih tangan Rindi dan menggenggamnya.


“Katanya gara-gara kakak.”


“Aku? Aku dari tadi nungguin kamu di basecamp, gak ngapa-ngapain.” Ucapnya bingung.


“Kayaknya tuh cewek naksir kakak deh, jadi Rindi yang kena batunya.”


“Duuuuh, ini gimana sih? Tolong jelasin lebih rinci, aku pusing dengar info setengah-setengah!” Kini ia telah membalikkan badan mencari orang yang sedari tadi mengajaknya berbicara dengan nada yang jauh dari kata damai.


“Lis, tolong kamu ceritain gimana kejadiannya.” Ia lebih memelih mendengar dari orang kepercayaannya.


“Kita juga gak tau kak, tadi masih di kelas terus Rindi ijin ke toilet. Dia telpon cuma buat minta tolong doang. Jadi selebihnya bisa tanyakan langsung ke dia deh!” Pernyataan dari Lilis hanya mampu membuat keninggnya berkerut.


“Kenapa?” Tanyanya kembali berbalik ke arah Rindi.


“Rindi di bully karena pacaran sama kakak. Katanya gak serasi, katanya Rindi gak cocok buat kakak. Kalo jalan berdua kayak angka sepuluh, kakak angka satu, Rindi angka nol.” Kini ia telah melihat siapa yang sedari tadi bicara secara ketus padanya. Andini.


“Siapa?” Tanyanya lebih ke arah Rindi sambil mengelus pipi chubby itu. Mungkin ia lupa jika mereka kini menjadi titik fokus pandangan orang-orang yang ada di sana.


“Katanya teman cewek kakak itu, tiga orang lawan satu.” Jawaban yang masih terdengar dari belakang.


“Siapa sih?” Tanyanya lagi.


“Gak tau, lupa orangnya.” Sepertinya Rindi mencoba menyembunyikan inisial pelaku.


“Bilang aja, besok aku samperin. Maunya apa coba, yang jalani kita yang pusing dia?”


Tapi kini lebih tenang, bahkan suara dari belakang yang sedari tadi ikut nyambar aja pun tak ada.


“Ini kenapa?” Kini tangannya berpindah pada lengan Rindi yang terlihat diperban?


“Gak papa.”


“Gak papa gimana diperban ini. Kalau jawab yang bener, gak usah disembunyikan terus. Kitanya jadi khawatir tau.” Emosi yang mulai beranjak naik karena Rindi yang seolah tertutup padanya. Dan sungguh ia tak suka dengan ini.


“Kok, jadi marah? Kalau mau pulang, ya pulang aja. Aku bisa pulang sama Dini.” Rindi yang ikut emosi.


“Sory Rin, aku gak bisa. Mama telpon minta dijemput.” Andini yang baru saja muncul dari luar rupanya baru saja menerima telpon pantas ruangan sedikit lebih tenang.


“Trus besok kayaknya aku gak bisa jemput kalian soalnya mobil mau dipakai mama, kayaknya besok naik ojek deh. Lis mau ikut?”


“Lilis ikut sama kita, mau antar Rindi ke rumahnya.” Linggar.


“Terus buat besok, aku bisa jemput kalian asalkan Rindi juga ikut, soalnya aku takut nanti kepincut sama salah satu dari kalian.” Linggar.


“Kalau kepincut sama kita, kayaknya gak mungkin deh. Soalnya dari ujung barat juga kelihatan bucinnya kakak sama Rindi.”

__ADS_1


Linggar hanya terkekeh mendengar ocehan gadis itu.


Kata bucin lagi terucap untuk dirinya. Apakah terlalu terlihat jika dirinya begitu mengagumi Rindi. Padahal telah berusaha untuk mengatasi perasaanya saat berhadapan dengan Rindi.


“Ya, udah aku pulang dulu. Kamu?” Ke arah Tantri yang terlihat lebih tenang, entah mengapa.


“Ya udah kita pulang dulu, biar Lilis yang bertugas usir nyamuk. Hahahahha.” Manusia yang baru saja dipuji pendiam itu akhirnya bertingkah.


Suasana lebih tenang saat ruangan tinggal mereka bertiga.


“Mau pulang sekarang?” Linggar.


“Di luar masih banyak orang?”


“Ya iyalah, masih ada kelas jadi masih ada orang. Memang kenapa?”


“Malu, gak bisa jalan.”


“Loh, kakinya juga?” Linggar yang baru saja sadar dengan keadaan Rindi. “Kenapa?”


“Cuma keseleo tadi.” Rindi ingin meraih tangan Linggar saat mulai membuka selimut yang sedari tadi menutupi kakinya.


Malu rasanya, Linggar telah menempatkan tangannya di pergelangan kakinya yang masih membengkak. Tapi tangan Linggar tak bisa lagi ia cegah.


Pria itu mengamati dengan kening berkerut. “Sakit gak?” Tanyanya saat menyentuk kaki Rindi.


“Sedikit.” Sebisa mungkin menahan sakit yang telah bercampur malu.


“Bisa jalan gak? Atau mau gendong aja?” Linggar.


Oh tidak-tidak, ia tak bisa membayangkan dirinya berada di atas pelukan pria itu. Dan bagaimana jika pria itu mengambil keuntungan saat menggendongnya.


“Bisa kok, bisa jalan sendiri.” Ia harus memastikan kakinya benar baik-baik saja.


“Mau pulang sekarang?”


“Bentaran boleh? Malu diliat yang lain.” Ucapnya dengan semakin menurunkan nada seiring kepala yan semakin menunduk.


“Ya udah, aku tidur dikit boleh kan?”


“Ngantuk?”


“Hemmm.” Tanpa permisi, Linggar naik ke atas ranjang berdekatan dengan Rindi. Merebahkan diri membelakangi Rindi.


Meskipun gadis itu tak terbaring tapi risih rasanya berada dalam satu ranjang seperti ini.


“Tiap ketemu sama kak Linggar, bawaannya ngantuk terus.” Lilis.


“Sekali-kali kalian main ke rumahku deh!” Linggar yang mencoba memejamkan mata.


“Kalau malam tuh, rame banget pada main basket. Di rumah ada lapangan basket, jadi mereka sering main ke sana. Biar diusir, mereka gak mau pulang.” Dengan mata terpejam.

__ADS_1


“Apalagi kalau sudah disediakan camilan sama bunda. Biar aku marah-marah suruh mereka pulang juga percuma Lis.”


“Kadang aku masuk ke kamar buat nelpon kamu, mereka masih asik main di bawah tuh. Pernahkan liat mereka rame banget pas malam?” Ucapnya lagi, berbalik sambil menatap Rindi.


“Rin, elus sini dulu!” Sekali lagi memerintah dan tanpa permisi meraih tangan Rindi menempatkan di atas kepalanya.


Meskipun risih, kesal dan marah Rindi mencoba mengikuti titah sang raja. Dan saat pandangan Rindi bertubrukan


dengan Lilis, matanya bergerak memutar seolah jengah dengan apa yang ia lakukan.


Lilis lebih memilih duduk di kursi sudut, dari pada berada di dekat sahabatnya. Toh dirinya saat ini hanya menjadi penonton kemesraan mereka.


Menyesal mengapa tadi tak memilih ikut pulang dengan Dini dari pada harus menonton orang pacaran.


“Kak, bangun! Pulang.” Rindi sambil mengguncang tubuh Linggar yang sepertinya telah masuk ke alam mimpi entah sejak kapan.


“Udah mau pulang?” Tanyanya sambil menarik sisa-sisa jiwa yang masih bertebaran di atasnya.


“Udah sore banget, kakak molor aja.”


Setelah, membasuh muka Linggar kembali menghampiri Rindi sambil mengulurkan tangannya seperti biasa. “Ayo!”


“Aku bisa sendiri!” Rindi tanpa berniat meraih tangannya, mencoba tegar meskipun memaksakan diri.


Lah kok, kenapa ? Biasanya juga seperti ini? Jalan sambip bergandengan.


“Ya sudah, jalan sendiri aja!” Ucap Linggar. Tak lupa memberi kode kepada Lilis untuk tidak membantu Rindi.


Dengan sangat dan harus memaksakan diri Rindi mulai turun tanpa bantuan dari Linggar dan Lilis yang memilih hanya untuk menjadi penontonnya.


Dan sepertinya Linggar sangat menikmati kepayahan Rindi hingga membuat bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman indah.


Tangan Linggar terulur secara refleks saat Rindi hampir saja terjatuh saat hendak turun dari ranjang. Namun kembali di tarik karena ingin membiarkan gadis itu berusaha sendiri.


To Be Continued!


Tungguin yah!


Kita langsung lanjut episode gak sampai sejam ke depan.


Episode masih adem ayem yah.


Kita kasi yang ringan-ringan dulu. Beberapa episode ke depan kita kita udah masuk dalam konfliknya. Tapi episode ini jangan di skip yah! Soalnya semua berhubungan.


And than, jangan lupa goyang jarinya.


Like, komen, hadiah n votenya dong!


Duh otor banyak maunya yah!


Iya, buat semangat hidup. Eh salah buat semangat nulis.

__ADS_1


Kalau mau berbaik hati, ulurkan secangkir kopi dan setangkai bunga.


Cayang-Cayang!


__ADS_2