Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Mencari Waktu Yang Tepat


__ADS_3

Linggar pulang dengan hati yang tengah berbunga-bunga.


Kata cinta dari Rindi dapat. Restu dari orang tua Rindipun dapat. Padahal ia merasa belum melakukan apapun demi kedua hal tersebut. Seperti didapatkannya dengan cuma-cuma.


Ah, jika memang jodoh tak lari ke mana.


Sinar Mentari yang menyilaukan di sebelah barat sana bagaikan sebuah kehangatan penuh cinta yang ia terima.


Senyuman tak pernah lepas dari wajahnya selama perjalan pulang ini.


Tak sabar rasanya mengakhiri masa duda yang menyiksa bathin ini.


Ada Rindi yang melayani kebutuhannya seharharinya. mulai dari pakaian, makanan, mandi dan semuanya.


Tidur ada yang temani, iiiiihhhh jadi gemes sendiri deh.


"Adduuuuh, jangan bangun dekkk!" Menoleh ke bawah ke arah celana yang terasa mulai sesak sambil menepuk-nepuk pelan dengan tangan kirinya, seperti tengah menidurkan bayi kecil.


Masuk ke rumah dengan bersenandung riang. Menghampiri keluarga yang tengah berkumpul di teras samping. Ada keluarga kecil dari kakaknya juga.


Ayah tengah bermain bola bersama cucu pertama keluarga itu.


Lapangan basket yang biasa dijelajahi oleh Linggar dan teman-teman, lumayan besar untuk menjadi arena bermain untuk gadis cilik milik Lirna.

__ADS_1


"Emmmmuuuuuaaahhhhh," Kecupan panjang langsung mendarat di pipi sang bunda yang justru meliriknya dengan kening berkerut, bingung.


Yang lain tak kalah bingung, sambil menebak Hal apa yang terjadi selama Linggar di luar rumah.


"Kamu kenapasih? Ini juga, basah tau." Bunda sambil mengusap pipinya, hampir sama seperti yang Rindi lakukan tadi. Aduhhh langsung kangen deh sama wanita cengeng itu.


"Emmmmuuuuuaaahhhhh." Kembali mempersembahkan kecupan panjang di pipi yang satunya.


"Linggar jorok ih, jorok. Kamu sengaja kan?" Kali ini bunda menatapnya dengan tajam.


Linggar terkekeh sendiri, sementara yang lain hanya mampu tersenyum sambil menggelengkan kepala.


"Lagi jatuh cinta, Bun." Ucapan dari kakaknya.


Mencondongkan tubuh dengan bibir yang ikut condong ke depan, siap mendarat. "Emmuah, emmuah, emmuah."


"Eh awas-awas. Berani kamu?" Lirna yang semakin menempel ke tubuh Reza yang duduk di sampingnya. Memilih masuk dalam dekapan sang suami saat Linggar semakin mendekatkan diri padanya.


"Gila."


"Eh gak boleh ngomong sembarangan kalo sedang hamil!" Linggar menegakkan tubuhnya.


"Lagian kamu kayak gitu? kecantol apaan sih?" Lirna sambil beringsut dari dekapan sang suami saat Linggar mulai menjauh sambil tertawa.

__ADS_1


"Kayak memang roman-romannya lagi jatuh cintrong deh." Reza sambil memperbaiki posisi duduknya. Telunjuk mengarah ke hidung turut memperbaiki posisi kacamata yang sempat bergeser.


Linggar tersenyum sumringah menanggapi. Sejenak Linggar berpikir, apakah ini waktu yang tepat untuk mengungkapkan maksudnya rujuk dengan Rindi.


Kira-kira Apa tanggapan keluarganya?


Mungkin belum saatnya. Hal pertama yang mengganjal hatinya adalah, Bunda. Untuk sementara keluarga yang lain mungkin masih bisa menerima Rindi.


Lirna, sang kakak dan suami tak terlalu ikut campur pada kehidupannya.


Ayah, selalu mempercayakan segala keputusan yang ia ambil jika itu untuk kepentingan pribadinya sendiri, meskipun belum tentu juga ayah merestui jika dirinya kembali merajut rumah tangga bersama Rindi.


Lalu, Bagaimana tanggapan Bunda nantinya?


Semua masih abu-abu.


Mungkin ia harus berbicara serius berdua dulu dengan Bunda, itu juga bisa sambil membujuk. Ia harus mencari waktu yang tepat lagi untuk menuturkan niatnya.


"Ngapain?" Lirna menjerit saat adik semata wayangnya itu berhasil duduk di dekatnya dengan spontan.


"Cuma mau megang perut buncit doang. Pelit amat, amat aja gak pelit."


"Keponakanku! Keponakanku!" Sambil mengusap pelan perut kakaknya yang sedikit membuncit. kepala bersandar di bahu sang kakak.

__ADS_1


\=========


__ADS_2