Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Mencoba Saling Mengerti


__ADS_3

" Bun Bun, nikahannya bisa dipercepat nggak. Kenapa mesti Tunggu sampai 6 bulan segala sih? Lama banget tuh Bun." Linggar.


Kini mereka telah berkumpul di ruang keluarga saat WO baru saja undur diri setelah menyerahkan katalog undangan pernikahan.


" Kita mau pesta Linggar. Bukan sekedar nikahan kayak kamu dulu. mendadak."


"Banyak yang harus diurus. Gedung, undangan, baju pengantin. Belum jahit seragamnya. Kita kan mau tampil cantik juga, bukan cuma kamu." Bunda, tangannya yang tadi sibuk membolak-balikkan lembaran kini berhenti hanya untuk fokus mengomel.


"Di korting dikit kan boleh Bun. Dua bulan deh dua bulan!" Masih berusaha membujuk Bunda.


"Dua bulan ke depan nggak bisa Dek, itu jadwal lahiran aku."Lirna.


" Ya gampang, se bulan deh."Linggar.


" Nah satu dua bulan ini, Bunda nggak ngisinin aku kecapean, takut brojol duluan. Jadi kita ngurusnya selow aja ya." Lirna sambil menatap adiknya, menganggukan kepala berharap adiknya itu mau mengerti.


Linggar justru memicingkan mata, kesal melihat kakaknya itu yang justru tak membantu membujuk bunda untuknya.


"Hahahaha kebelet kawin dia bun," Melirik adiknya dengan wajah menggoda.


"Udah gak tahan ya dek, hahahaha." Tawanya seketika pecah saat melihat Linggar memberenggut, senang rasa hatinya.


"Adudududuh, adudududuh!" Keluhnya saat pertu tiba-tiba terasa mengeras dan kencang. Mulai mengelus-elus perutnya sendiri, berharap bisa mengurangi keram yang terasa.


Linggar panik, turut mengelus-elus perut buncit kakaknya. Tak lupa tiupan-tiupan kecil ia persembahkan.


"Aduuuuh dek, kenceng, kayak tertarik gitu!" Lirna.


Linggar semakin mengeraskan tiupan di perut kakaknya itu.


"Udah! Udah reda kayaknya." Lirna masih menarik napas pendek-pendek.


Keram semakin mereda, Lirnapun kembali tersenyum ke arah Linggar.


"Kamu itu bikin panik aja!" Omelan bunda berlanjut.


"Ngurus pernikahan tiga bulan tuh Kitanya yang ngos-ngosan. Lagian nggak kalian juga kayaknya nggak gerak-gerak." Kini kembali ke topik utama.


"Ditanya Kapan cari cincinnya? Kapan fitting bajunya, bilangnya sibuk mulu."Masih melanjutkan omelannya , ternyata bunda memiliki stok saliva yang banyak. Gak haus apa?

__ADS_1


"Udah kamu sana makan, biar baju pengantinnya bisa muat. Masa iya kamu jadi pengantin kerempeng kayak gitu!"


Perintah bunda terasa menyinggung. Kenapa mesti menggunakan bahasa seperti itu sih.


Dengan wajah yang semakin memberenggut kesal, Linggar masih melaksanakan perintah itu. Berdiri dan berjalan ke arah dapur.


" Itu apa Dek?" Lirna saat melihat Linggar yang baru saja mendaratkan tubuh di sofa tepat di sampingnya.


"Bubur ketan." Mulai memasukkan sesendok bubur ketan ke dalam mulutnya.


Setelah Linggar sembuh, bunda kini rajin membuat aneka makanan lunak, tentunya untuk putra bungsunya itu.


" Cobain dong," Lirna telah membuka mulut berharap Linggar menyuapinya. "Emmm enak. Aku juga mau dong Dek."


"Ambil aja sendiri!" Linggar dengan sinis. Permintaan untuk memajukan pernikahannya tak terkabul, dan salah satu alasannya adalah kehamilan kakaknya ini.


" Tapi kan aku sedang bunting, nih lihat." Lirna sambil membusungkan perut yang memang telah membesar.


"Masa kamu tega lihat aku jalan gini gini gini kayak pinguin."


"Iya tunggu bentaran," Linggar masih sempat menyuapkan satu sendok bubur ke dalam mulutnya sebelum ia berdiri, luluh juga saat melihat ibu hamil yang susah bergerak.


"Ckck, enggak ada Reza, Linggar pun kamu suruh-suruh." Bunda.


"Kamu kenapa?" Bunda sontak menyebrang meja saat melihat putrinya merintih kesakitan. Perkiraan kelahiran semakin dekat, tapi melahirkan secara prematur sebisa mungkin dihindari.


"Aduuuuh, keram ini." Sambil mengusap-ngusap perutnya sendiri.


Mengambil napas pendek-pendek demi meredakan perut yang seperti ditarik secara tiba-tiba.


Bunda turut mengelus-ngelus perut- Lirna yang sudah menggembul keluar.


"Aduuuu bun, bun udah reda Bun." Masih bernapas pendek-pendek, kemudian kembali tersenyum sepertinya keramnya memang sudah reda.


"Kualat kamu sama adek kamu." Ketus bunda kembali duduk demi melanjutkan kegiatannya. Kini menulis apa saja yang dibutuhkan untuk pernikahan putra bungsunya.


"Jangan banyak ketawa, kontraksi kamu nantinya." Omelan bunda.


"Nih," Linggar telah tiba saat semua kembali seperti sedia kala. Memberikan semangkuk bubur ketan untuk manusia yang baru saja menertawakannya tanpa ampun.

__ADS_1


\=========


"Kamu udah dapat rekomendasi untuk pesta kita?" "Linggar.


"Loh bukan aku kok, kan kakak yang sering lembur. Aku juga jadi ikut lembur kan?" Linggar tersadar kesibukan ini karena dirinya dan meminta Rindi untuk minta ditemani.


" Iya maaf. kerjaan numpuk banget masalahnya. Kalau kamu nggak ikut, aku bisa lupa makan lagi." Alasan hanya untuk bisa bersama lebih lama dengan Rindi.


" Kak bisa enggak ngomong sama Bunda, pasti nanti enggak usah mewah, sederhana aja. bisa kan?" Untuk kesekian kalinya Rindi meminta pada Linggar.


"Nggak bisa Rin. Bunda ingin mengundang keluarga sama teman- teman ayah juga. tapi nggak mewah mewah amat kok," Linggar harus menjelaskan dengan lembut dan penuh perhatian, bosan rasanya terus menerus salah paham dengan RIndi.


" Nggak mewah bagaimana? Pestanya aja di hotel. "Rindi dengan emosi yang mulai tersulut.


" Kamu nggak usah mikirin masalah biaya, semuanya udah ada di handle."Linggar.


" Ini bukan masalah biaya. Ini bukanlah pernikahan pertama kita, nggak usah terlalu mewah. Malu sama status," Nadanya mulai menanjak, sedikit tersinggung saat Linggar membahas tentang biaya.


Linggar menatap mata Rinti dengan dalam. Permintaan itu terkesan janggal untuknya.


Apakah Rindi malu jika seluruh umat manusia mengetahui hubungan mereka?


" Kamu malu orang-orang tahu kita menikah?" Linggar berbicara dengan nada pelan.


Rindi terlihat menahan sesuatu dalam hati, dan ia sebagai pasangan harus mengerti tentang kondisi dan suasana hati pasangannya itu.


" Bukan, Bukan gitu. Menikah sekarang hanya sekedar rujuk jadi pestanya nggak usah terlalu rame."Rindi.


"Semua orang kantor tahu kita pacaran. anak-anak kampus juga tahu kita pernah menikah, Terus pernikahan ini di pamer sama siapa?" Rindi masih berbicara dengan menggebu-gebu, namun dari sudut lain terlihat jika wanita itu ingin menangis.


Apakah ini yang dikatakan sindrom pranikah?


" Kita mau Nikah Rin, bukan sekedar pacaran seperti yang orang-orang kantor tahu."


" Terus masalah anak-anak di kampus, mereka tahunya kita udah pisah." Linggar masih mennjelaskan dengan nada pelan.


Jika ia turut memaksakan ego, yang ada mereka akan kembali berperang.


Dan salah satu alasan Rindi yang stress adalah dirinya.

__ADS_1


Ia yang sering meminta Rindi menemani dan melayaninya, lengkap dengan ancaman tak mau makan ala-ala Linggar, maka wajar jika Rindi stress.


To Be Continued!


__ADS_2