Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Salah Siapa


__ADS_3

“Sssstttt sakit.” Linggar sambil menekan perut bagian atas tengah tepat di ulu hati.


Semakin hari pola hidupnya semakin berantakan. Berjumpa dengan buliran-buliran nasi yang terakhir kalinya


adalah saat makan siang bersama Rindi. Untuk selebihnya hanya menggunakan mie instan yang dibuatnya di pantry kantor.


Sarapan dengan roti yang di belinya dari mini market dekat kantor. Kopi instan sachet dengan varian rasa menjadi teman di siang hari. Tepat sekali menjadi pelengkap tersiksanya lambung saat sedang kosong.


Selalu saja ada alasan ketika Mirza mengajaknya untuk makan siang.


Sibuk, menjadi kata manjur yang ia gunakan pada rekan kerjanya itu.


Tinggal menyendiri di depan jendela hingga malam, hanya karena tak ingin bertemu dengan bunda.


Belum berniat memperbaiki pola hidup saat efeknya sudah terasa. Bahkan sangat menyakitkan hingga beberapa kali meringis, merintih kesakitan saat sedang sendiri. Dan menahan segala rasa yang ada, saat bertemu dengan yang lain.


Rindi masih berusaha mencari  lahan penghasilan baru. Niatnya untuk hengkang hanya tinggal menunggu kontrak


kerja jatuh tempo saja.


Meski otaknya masih harus berpikir seratus kali, tentang di mana lagi ia bisa menggais rejeki setelah di sini.


Mungkin saja setelah berhenti dari perusahaan ini, ia akan kembali menganggur dan itu entah sampai kapan.


Mengingat mencari pekerjaan adalah salah satu hal yang tak mudah untuk sebagian orang dengan kekuatan otak yang pas-pasan seperti dirinya.


Tak ada yang bisa ia banggakan dari dalam diri. Selalu merasa insecure dengan segala yang melekat padanya,


itulah Rindi.


Manusia yang memiliki tingkat percaya diri di bawah rata-rata.


Kamil berlari dengan tergesa-gesa masuk ke dalam ruang devisi mereka, mengatur napas yang pendek-pendek.


Memerlukan bantuan mulut untuk bernapas agar segera stabil. Setidaknya untuk mengucapkan sesuatu.


"Rin, Rindi?" Suaranya masih terdengar ngos-ngosan.


"Apa sih?" Mbak Tia.


" Pak Linggar pingsan, Rin." Ucapnya sedikit cepat dengan nafas yang terengah-engah, bercampur dengan kepanikan.


"Kok bisa?" Mbak Tia.


Sementara Rindi hanya mampu terdiam berdiri ikut panik. "Di mana Mil, di mana?" Ucapnya siap-siap berlari.


"Tadi di ruangannya, sekarang udah digotong di bawah turun. Cepetan Riiiiiin!"


Dengan cepat dan gesit Rindi berlari setelah menyampirkan tasnya asal di pundak, harus segera!


Berharap bisa mendampingi Linggar sejak dalam perlajanan ke rumah sakit.


Namun langkahnya terhenti seketika sebelum tubuh keluar dari ruang kerja.


Bayangan bunda seketika tengah berdiri di hadapan dan menghalangi jalannya.


"Jauhi anak bunda."

__ADS_1


"Tak usah pedulikan keadaan Linggar, seperti saat kamu tak peduli pada keadaanya waktu kalian berpisah dulu."


Kalimat itu terngiang di otaknya. Lengkap dengan bunda yang berdiri dengan pandangan yang tak bersahabat.


Bunda tak menginginkan dirinya untuk berada di sekitar Linggar.


Terlalu tak tahu malu bagi Rindi untuk kembali menemui Linggar setelah beberapa kali mendapat serangan dari bunda.


Ia dan bunda mungkin sudah tak ada lagi kecocokan.


Berbalik kembali melangkahkan kaki menuju ke meja kerja.


"Kenapa Rin?" Kamil dan Tia yang hampir bersamaan melihat ekpresi wajahnya yang berubah secara tiba-tiba.


"Aku banyak kerjaan." Ucapnya, kembali menyimpan tas dan melanjutkan pekerjaan.


Teman-teman yang lain hanya mampu saling menatap satu sama lain.


Kamil yang mengangkat bahu sambil mencibir saat memandang Mbak Tia.


Hemmm, pasti bertengkar lagi.


Mungkin seperti itulah pikiran mereka.


Rindi tetap berusaha konsen pada apa yang di hadapannya. Layar monitor dan berkas-berkas kerja.


Meski di otaknya terus memikirkan tentang Linggar.


Bagaimana keadaan Linggar saat ini?


Dan di mana Linggar di bawa untuk di rawat.


Ia bahkan harus memaksa diri untuk tetap profesional. Wajah diam tanpa ekpresi. Pun mengacuhkan teman-temannya yang terus saja menanyakan tentang keadaannya dan keadaan Linggar saat ini.


Hingga jarum jam menunjukkan jam pulang kantor, mereka semua hampir serempak beranjak dari kubikel masing-masing.


“Rindi, kamu gak papa?” Tanya mbak Tia untuk yang kesekian kalinya.


“Iya gak pa-pa kok mbak.” Ucapnya, berusaha memberikan senyuman.


“Kamu gak niat jengukin pak Linggar?” Kamil.


Mereka semua telah berdiri dengan bawaan masing-masing. Rindi hanya menggeleng dengan senyuman dan  tertunduk.


“Tapi aku penasaran banget tau gak."


"Kasihan tau pak Linggar udah baik banget sama kita. Berapa kali kita makan duitny eh saat dianya sakit kita malah gak ada. Tega banget kita gak sih?” Ucapan Kamil yang panjang lebar, ternyata membuat yang lain menganggukkan kepala hampir bersamaan.


“Tapi belum tentu juga kita langsung bisa diijinin jenguk, biasanya observasi dulu buat liat gejala-gejala pada pasien. Mending cari tahu dulu tentang keadaan pak Linggar baru kalian bergerak maju ke RS.” Saran dari pak Farid membuat mereka semua saling menatap.


“Aku gak bisa, papanya anak-anak udah di bawah. Mungkin besok baru bisa, sekalian ijin dulu sama perawat


anakku.” Mbak Tia.


“Ayahnya Ayu juga pasti udah jemput kan?” Kamil sambil melirik ke arah sang pemilik nama. Gadis itu


mengangguk tersenyum membenarkan.

__ADS_1


“Ya udah aku sama Rindi aja dulu yang pergi ya Rin ya?” Tanya Kamil langsung saja menggandeng tangan Rindi keluar dari ruangan.


“Kita naik motorku aja yah Rin. Motormukan udah biasa ditinggal. Udah kenal lebih jauh sama pak satpam kan?”


Masih menggandeng tangan Rindi yang hanya mampu mengangguk saja.


Dalam hati terus bertanya, bagaimana jika di sana ia bertemu dengan bunda? Alasan apa lagi yang akan ia


katakan pada bunda?


Sampai di RS dadanya semakin bergemuruh. Antara ingin melanjutkan langkah atau tidak.


Jika tidak alasan apa yang harus ia katakan pada temannya ini untuk menghalau langkah mereka sebelum sampai pada tujuan.


Berpura-pura itu memang selalu saja tak baik. Yang dipikirkan hanya mencari alasan saja ke sana ke mari.


Apa susahnya jika harus berkata jujur pada Kamil bahwa hubungannya dengan Linggar kandas karena restu.


“Rin, kita tanya resepsionis ya?” Kamil masih setia menarik tanggannya yang semakin terasa berat karena Rindi


mulai menyeret langkah.


“Udah masuk ruang perawatan katanya Rin.” Kamil kembali ke arah Rindi setelah tadi meninggalkan wanita itu


di kursi tunggu.


“Ayo,” Kembali menarik tangan Rindi ke arah ruang perawatan Linggar.


“Tunggu,” Langkahnya benar-benar di tahan. Di sana sudah terlihat sosok bunda yang tengah duduk di kursi tunggu


dengan didampingi ayah.


“Kenapa?” Kamil yang langkahnya turut terhenti.


“Itu bunda sama ayahnya kak Linggar.” Rindi menunjukkan ke arah kedua mantan mertuanya itu.


“Berarti benar dong, ruangannya di sana?”


“Iya, tapi,....?”


“Kamu kenapa? Ada masalah.”


Kali ini Rindi mengangguk, mungkin sudah tak tahu lagi cara menghindari pertanyaan Kamil.


“Terus, kita Cuma sampai di sini doang?”


“Kita jengukin lain kali aja yah.” Pinta Rindi.


Rasanya Kamil tak tega menatap wajah temannya yang setengah memohon, setengahnya lagi bersedih. Tangan mereka terpaut satu sama lain saat mereka masih berdiskusi.


“Ya udah, lain kali aja. Kamu tenang aja, aku akan coba cari info dulu sama pak Mirza."


Mereka yang di utus sebagai mata-mata, nyatanya hanya mampu pulang dengan mendapat satu info saja.


Tentang di mana ruangan Linggar di rawat. Untuk selebihnya mereka harus mencari info lain lagi.


To Be Continued!

__ADS_1


__ADS_2