Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Merajut Asa 1


__ADS_3

Linggar perlahan mendekat. Merogoh kocek, mengambil ponselnya. Sengaja berdiam diri, tak memberi tahu kehadirannya. Menyibukkan diri hanya ingin tahu sejauh mana RIndi berlaku.


Berhenti di samping Rindi meski berjarak, mendengar curi pembicaraan kedua insan yang mungkin tak menyadari keberadaannya.


Tak ada yang spesial, bahkan terkesan basi. Sesekali hanya terdengar keriuhan dari dalam, yang membuat seperti kosong di sampingnya. Sepi tanpa ada kata terucap dari dua orang itu.


"Udah?" Suara wanitanya.


Linggar menoleh ke samping menatap Rindi yang justru menampilkan raut kesal, cemberut dengan bibir monyong ke depan?


"Kamu udah?" Tanyanya balik.


"Udah." Singkat sekali.


"Udah basi maksudnya." Ketus Rindi.


"Kamu kenapasih?" Layar ponsel telah berganti hitam. Menyimpan ponsel ke dalam saku celana.


"Kakak lamaaaaa." Mengucapkan sambil memejamkan mata erat, menunjukkan kekesalannya.


"Kan udah dibilangin aku gak usah ikut, tuh kan dicuekin sendiri. Kakak sibuk sama teman-temannya." Melirik ke arah Linggar.


Loh kok?


Linggar bingung.


Dikiranya Rindi menikmati pesta seorang diri, ternyata justru merasa terabaikan.


"Kirain kamu lagi makan, jadi aku gak mau gangu lah."


"Ya makanlah, dari pada tambah basi." Intonasinya masih ketus saja. Pandangan kini tak mengarah pada Linggar, lurus ke depan.


"Ya maaaap." Tangan terulur melingkar ke pundak Rindi.


"Udah jangan ngambek lagi." Mencubit pucuk hidung Rindi dengan jarinya.  Goyang-goyangkan sedikit, biar otak wanita itu sedikit pening karena goncangan. Mungkin bisa lupa dengan kekesalannya.


Rindi yang masih saja cemberut, memilih meraih tangan Linggar dan mendekatkannya ke bibir yang tengah terbuka lebar.


"Awwwww, Rin." Mengaduh kesakitan saat punggung tangannya digigit Rindi.


"Sakit." Sambil mengibaskan tanganya setelah di tarik dari pundak Rindi, jangan sampai Rindi kembali menggigitnya.


Kadal betina sedang beraksi. Melampiaskan kekesalannya.


"Basah tau Rin," Menunjukkan bekas gigitan Rindi, diiringi dengan kekehan.


"Heleeeeh, biasanya juga ambil langsung dari sumbernya." Terdengar sangat ringan saat Rindi mengucapkan.


Apakah wanita itu sadar, jika di sana bukan hanya ada mereka berdua?


Membuat Linggar spontan membulatkan mata, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar dari wanita pendiam itu. Melirik sekali ke arah pria di sana.


Tak ada reaksi berlebih. Mungkin cinta pria itu turut pupus terkikis waktu dan status.


"Eh, ngomong apasih nih cewek?" Kembali meraih pundak Rindi, merangkul, mulai melangkahkan kaki pergi dari sana.

__ADS_1


Mengabaikan pria yang sedari tadi menatap perdebatan kecil mereka dengan senyum tipis, "Langgeng yah?"


Tanpa pria itu tahu apa saja yang pernah dilalui oleh sepasang kekasih yang saling merangkul sambil berjalan menuju ke arah mobil mereka.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


" Rin kita ke rumah ya ketemu Bunda." Pinta Linggar saat mereka telah berada dalam mobil.


" Nggak ah malu."


Pc, selalu saja begitu.


Rindi selalu menolak ajakan Linggar dengan alasan malu.


" Kenapa malu lagi? Kamu kan udah cantik."


"Aku malu harus ketemu Bunda. Kalau Bunda nanya, aku harus bilang apa?" Rindi.


"Ya dijawab noh! Susah amat, amat aja gak susah. "Linggar.


"Aku udah bilang sama Bunda Tentang Kita." Mata menatap dalam ke arah retina Rindi, memberi tahu jika ia tengah serius tentang ucapannya.


"Terus Bunda bilang apa?" Rindi penasaran juga ternyata.


"Bilang iya. Bunda udah restuin kita."


Bermodalkan kata bunda yang akan menerima wanita yagn ia cintai.


"Jadi ya kita ke rumah?" Pinta Linggar lagi.


"Kita udah sama-sama dewasa, nggak mungkin begini terus."


"Jujur, aku takut. Takut tergoda, takut khilaf, takut tak bisa mengendalikan diri lebih lama lagi. Aku gak yakin aku bisa tahan kalau terus dekat kamu." Linggar diiringi dengan kepala yang menggeleng pelan, lengkap dengan mata yang terpejam.


"Aku ingin rujuk secepat mungkin."


"Langkah pertama, minta restu pada orang tua. Dan itu wajib, karena aku harus membawa orang tua aku saat melamar kamu nanti."


"Rin, kita ketemu bunda sama ayah yah? Mau yah?" Pintanya lagi sedikit memelas.


Rindi justru menunduk, menatap ke arah high heels hitamnya.


Tak ragu untuk melanjutkan asa bersama Linggar.


Kembali menempuh hidup, mendayung perahu demi menyatukan asa bersama. Ia tak kan segan turut mendayung kini, menemani Linggar dalam suka dan duka.


Tapi untuk bertemu dengan orang-orang terdekat Linggar, entah mengapa ia masih meragu.


Mungkin kesalahan yang diperbuatnya dulu menjadi satu alasan.


Cinta saja tak cukup untuk sebuah hubungan.


Butuh banyak hal, salah satunya restu.


Takut ditolak, takut dihempaskan itulah ia saat ini.

__ADS_1


Mungkin bukan Linggar, tapi ia bisa mendapatkan penolakan dari orang tua Linggar.


Pun dengan mantan kakak iparnya, Lirna dan suami.


Terlintas kembali kenangan lama, saat ia mengiris pergelangan tangannya sendiri.


Dan itu terjadi di rumah Lirna. Apakah wanita itu masih menerima kehadirannya kembali?


Mungkin saja tidak.


"Rindi." Lirih Linggar menyebut namanya penuh dengan pengharapan.


Terdengar bagai simponi lagu mengalun lembut di telinga hingga menyentuh jiwa.


Rindi menoleh ke samping, tempat Linggar duduk di balik kemudi.


Bagaimana jika penolakan benar terjadi?


Apakah ia sanggup untuk kembali berpisah dengan kekasihnya itu.


Jujur hatinya telah penuh dengan cinta pria itu.


"Rin, kita coba dulu!"


"Tentang keputusan mereka itu belakangan. Kita berjuang bersama, asal kamu mau ikut berjuang denganku." Linggar yang masih menggenggam tangannya, kini membawa genggaman itu ke dada.


Detakan terasa sangat kentara.


Antara gugup dan penuh harap.


Rindi mengangguk pasti.


Tak ingin terus membiarkan Linggar yang berjuang seorang diri. Mempertahankan cinta yang sejak dulu rapuh.


Senyuman Linggar perlahan mengembang, setidaknya aggukan kepala Rindi mampu menjadi semangatnya.


"I love you."


Rindi hanya tersenyum, berusaha menarik tangan yang masih berada dalam kuasa Linggar.


"Balas Rin!" Sedikit hentakan pada genggaman itu. Linggar belum mau melepasnya.


" Mau bilang apa?" Rindi membiarkan saja.


"Bilang I love you too!" Mendekatkan wajah di hadapan Rindi, tersenyum dengan kepala sedikit miring.


Rindi cekikikan, "Malu." ucapnya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


To Be Continued!


Jangan lupa Likenya sama komennya disetiap bab.


Aku gak janji, tapi sebisa mungkin tetap membalas komen kalian.

__ADS_1


__ADS_2