Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Pertemuan Kembali


__ADS_3

"Kenapa gugup ya,"Dilengkapi dengan kekehan. Linggar kembali meraih tangan RIndi.


Dingin, sedikit lembab, dan pasti itu karena rasa gugup.


Mobil telah berada di depan rumah Linggar, sebentar lagi mereka berdua akan berhadapan dengan kedua orang tua Linggar.


Dan mungkin saja keputusan akan segera terlaksana.


Rindi masih diam.


Mengatur napas, dan menyeimbangkan denyut nadi.


Otak hampir saja tak bekerja maksimal. Terlalu banyak yang menumpuk dalam otaknya saat ini.


Tentang bagaimana tanggapan orang tua Linggar tentang dirinya. Lalu apa yang harus ia ucapkan di hadapan mantan mertuanya itu.


Kata maaf kah?


Hah, itu hanya akan kembali mengorek masa lalu.


"Ayo ah!"


Uluran tangan Linggar yang disertai sedikit tarikan membuatnya tak mampu lagi mengulur waktu.


"Bundaaaaa,...." Teriakan Linggar terdengar sangat nyaring tepat di dekat telinganya.


Dan riang.


"Kamu tunggu di sini!" Menekan pundak Rindi untuk duduk di sofa ruang tamu.


Linggar masuk ke dalam, sedikit berlari kecil dengan terus mengaungkan panggilan bunda. Mungkin pria itu sudah tak sabar ingin mempertemukan bunda dengan Rindi.


"Bunda, aku bawa cewek."  Ucapan Linggar dari dalam rumah masih terdengar oleh Rindi.


Wajah tertunduk, senyum tipis di sembunyikannya.


Malu bercampur grogi benar-benar menyerang.


Bunda muncul dengan senyuman, ternyata Linggar tak bohong jika telah memiliki calon istri, pantas saja gadis sebaik bu guru di tolaknya.


"Rin, pssst, pssst," Kode yang Linggar berikan agar Rindi mengangkat kepalanya.


Senyuman bunda langsung surut begitu saja, tak bersisa.


Berubah masam dan kecut.


Tenang!


Itu masih bisa diatasi dengan ilmu penakluk hati wanita.


Meski Linggar tak lihai dalam menaklukkan hati wanita, namun untuk  bunda rasanya ia tak perlu ragu.


Rindi mulai meringis pelan, sambutan pertamanya saat ini ternyata tak sebaik dan sehangat dulu.


Dengan tenangnya Linggar membawa tubuh bunda duduk tepat di hadapan Rindi.


"Bun, ini Rindi." Ucap Linggar seolah baru saja memperkenalkan orang baru pada bunda.


"Iya, bunda juga udah tau." Ketus bunda, namun Linggar hanya terkekeh menunduk. Bunda lucu jika sedang mengambek, seperti anak kecil pikir Linggar.


Menarik napas, kembali menghembuskan secara pelan pula.


Bercandanya sudah dulu. Ingin berbicara serius saat ini.


"Bunda, kami ingin rujuk." Ucapnya pelan.


Kali ini pria itu terlihat sedikit berwibawa. Sikap santai cenderung cueknya seperti di singkirkan dulu.


“Apakah kamu pantas untuk Linggar?” Tatapan tajam mengarah pada Rindi.


Rindi hanya mampu tercengang mendengar pertanyaan itu.


“Bunda.” Linggar yang langsung mengerti jika bundanya mungkin tak menerima Rindi seperti dulu.


“Ah maaf, bunda salah. Apakah Linggar pantas untuk kamu?”

__ADS_1


“Bukankah Linggar hanya seorang bajing@n yang dulu merebut mahkotamu?”


“Bunda?” Ini tak baik untuk diteruskan. Perkataan bunda sudah terlalu  berani.


“Kamu terlalu suci untuk Linggar yang banyak dosa. Mungkin kamu bisa mencari pria yang lebih suci untuk menyeimbangi dirimu!”


Merendahkan anak sendiri dan terlalu meninggikan lawan, justru semakin membuat lawan seolah terhempas ke


pojok.


“Bunda, keadaan sekarang sudah jauh berbeda bun. Kami sudah sama-sama dewasa.”


“Sekarang kami sudah saling mencintai, dan siap saling menerima kekurangan satu sama lain.” Linggar yang


hanya ingin membela Rindi.


Meskipun yang di katakan bunda memang benar adanya. Tapi itu adalah sepenggal cerita lama. Kisah saat mereka


masih terbilang muda untuk mengarungi bahtera hidup rumah tanga.


Terlebih lagi rumah tangga mereka disertai dengan campur tangan kakak ipar yang memang berniat untuk memisahkan.


“Gak ada bedanya Linggarrrrrr." Geram bunda.


"Dia berasal dari keluarga baik-baik, sementara kamu hanya pria brengkek yang rela melakukan hal kotor demi mendapatkan seorang gadis. Kamu gak pantas berada di keluarga mereka yang terhormat.”


Ya ampun kini Rindi seolah benar-benar terperosok ke dalam lumpur hidup. Antara ingin bertahan dan ingin tenggelam saja.


Selama ini, hanya Linggar yang selalu bertahan dan berkorban demi hubungan mereka. Ia tak pernah melakukan


apapun sama sekali. Bahkan terkesan cuek terhadap semua perhatian Linggar.


Menjalani kehidupan sendiri, dengan Linggar yang selalu memberinya segala yang ia inginkan.


Apakah sampai sekarang juga, dirinya hanya mampu berdiam.


“Bunda, maafin Rindi.” Rindi berucap dengan pelan. Sedikit memaksakan diri, karena sejujurnya air mata telah bersarang dipinggiran matanya.


“Maafin keluarga Rindi juga, terutama kak Reno.” Kini sarang itu telah bocor, menciptakan banjir bandang di


pipinya.


Linggar dengan baik.” Mulai memaksa diri hanya untuk mengucap kata demi kata.


Karena sejujurnya, dadanya sudah sangat sesak.


Air matanya, tak berhenti jua meskipun beberapa di sapu dengan tangannya sendiri.


Bahkan hidung sudah terasa penuh dengan cairan yang selalu mengikut saat air mata keluar.


Linggar hanya mampu menatapnya kagum.


Ternyata Rindi masih ingin membelanya, dan membantunya membujuk bunda. Jika boleh ia berbangga karena Rindi seolah telah membuktikan cinta padanya.


Meskipun ancaman justru ada di depan mata.


“Gak, bunda gak terima. Kamu kira KUA itu tempat bermain-main?” Gelengan kepala seolah menegaskan ucapan beliau.


“Sedikit-sedikit mengajukan pernikahan. Apa bagimu pernikahan memang sebuah permainan?”


“Sekarang silahkan pulang dulu, carilah pria yang lebih terhormat dari pada Linggar!”


“Bunda.”Linggar ingin protes, namun tak tahu harus berkata apa.


Ini tak seperti yang ia bayangkan.


Di otaknya, bunda akan sedikit berlari saat kembali bertemu dengan RIndi. Dengan alasan rindu pada mantan anak menantunya.


Bahkan Linggar belum bercerita tentang keadaan mereka yang sesungguhnya, bundapun telah menolak.


“Apakah kamu lebih memilih bersama wanita yang telah merendahkan kamu ini?”


“Kamu rela merendahkan diri sendiri dan keluarga kamu? Termasuk bunda?”


Heh, helaan panjang terdengar dari arah Linggar, diiringi kepala yang tertunduk lesu.

__ADS_1


Sementara Rindi sudah tak mampu lagi menahan dan menyembunyikan air mata yang semakin berlomba membasahi pipi.


Menutup wajah dengan kedua tangan yang bertumpu di kedua pahanya. Bahkan saat ini bahunyapun telah berguncang.


Menahan diri agar tangisnya tak sampai meledak saat ini juga.


Tapi percuma! Ini terlalu sakit dan juga malu.


Bukan hinaan yang ia dapatkan, melaikan pujian. Namun pujian itu justru yang membuatnya terjatuh, tepat di hadapan Linggar.


Wanita yang dulu begitu terlihat menyayanginya kini sangat membencinya. Meskipun ia sadar jika semua kesalahan


berasal dari diri dan juga keluarganya.


Ia bisa membayangkan betapa sakitnya hati bunda saat melihat putranya mendapat rasa sakit yang diiringi


dengan rasa malu.


Linggar kembali mengangkat kepala menatap bunda yang terus berbicara menyudutkan dirinya.


Genangan telah terlihat di pelupuk mata, hanya menunggu satu kedipan saja, sepertinya air itu akan tumpah.


Benar saja, saat Linggar berkedip, seketika itu pula pipinya basah.


Mungkin itu cukup menggambarkan hatinya yang terluka, tertahan.


“Rindi, maaf mungkin kita gak bisa melanjutkan hubungan ini. Kamu pulang di antar pak Bur gak papa kan?”


Meskipun dalam hati ingin menghampiri dan membawa Rindi ke dalam pelukannya.


Namun ia harus tegas, jika tidak itu akan membuat mereka semakin terluka.


Keputusan harus ia ambil segera, sebelum hati Rindi semakin sakit demi mendapatkan serangan dadakan bunda.


“Dan buat bunda, aku memilih untuk tidak menikah dengan wanita lain. Jadi bunda gak usah repot-repot mencarikan jodoh buat aku.” Ia tak mampu lagi memaksa atau membujuk sang bunda.


Mengalah dan menyerah, itulah dirinya kini.


Meskipun hati ingin sekali memberontak.


Tapi pada siapa?


Bunda?


Tidak, tidak mungkin. Setelah semua yang dilakukan bunda, bahkan saat ia terpuruk bundalah selalu


mendampingi, menghibur, dan memberi semangat.


Ia tak ingin dicap sebagai anak tak berbakti atau durhaka. Tapi iapun tak bisa menggantikan Rindi dengan


wanita lain. Tak bisa meskipun telah beberapakali mencoba.


Berdiri, melangkah meninggalkan ruang tamu yang masih berisikan bunda yang hanya diam dengan tatapan lurus ke depan. Bunda tak membenci Rindi, tapi saat tahu jika Reno-- kakak Rindi—tak menyukai putranya untuk mendampingi hidup Linggar. Bundapun mengambil jalan yang sama.


Tak akan menerima Rindi sebagai menantunya. Mungkin itulah yang terbaik.


Percuma rasanya, menyatukan dua hati yang sama, jika akan dipisahkan lagi.


\========


To Be Continued!


Hari ini satu bab cukup yah!


Jangan lupa like n komennya.


Sekalian dong bunga sama kopinya, biar dinda semangat buat up double-double lagi.


Tebak-tebak buah manggis.


Apakah endingnya Happy atau sad?


Saran dan kritik kami terima.


Jika ada typo yang beterbangan, boleh diluruskan.

__ADS_1


Atau boleh komentar pada alinea yang terdapat kesalahannya.


Helleeeeh, alasan buat dikomenin aja nih! Hihihihihi,......


__ADS_2