
“Baiklah, jika memang bisa minggu depan ijab kabulnya. Sekarang kita bisa membicarakan hal-hal yang akan kita butuhkan untuk acara minggu depan.”
“Sayang. Bukankah ini terlalu terburu-buru?” Pria yang protes pada istrinya karena sedari tadi mengambil keputusan sendiri.
“Karyawan suamiku akan mengurus semuanya.” Ucap lagi tanpa menghiraukan protes dari suaminya.
Hembusan keras terdengar dari Dihyan dan Reno. Mereka seolah tak bisa berbuat apa-apa lagi saat melihat wanita itu mengambil keputusan sendiri.
Lihatlah betapa pesona wanita buncit nan cantik itu sangat berpengaruh hingga mampu membungkam ke dua pria itu.
Linggar menatap wanita buncit itu sambil tersenyum seolah ia mendapatkan sekutu dalam hal ini.
Dengan sentuhannya pula Rindi berangsur membaik. Meskipun membaik itu lebih ke arah kesehatan. Dan untuk masalah hati, Rima belum sampai menyentuh ke arah sana.
\==========
"Rindi kenapa?" Pekik bunda saat mendengar cerita dari Lirna tentang keadaan Rindi yang sedang dirawat di RS.
"Gak papa bun." Ucapnya tenang.
Bukan mencoba untuk tetap tenang meskipun amarah masih berada di atas.
Otaknya masih berputar-putar memilah kata-kata yang akan ia ucapkan pada bunda tentang keadaan Linggar dan Rindi.
"Cuma kecapean. Mungkin terlalu porsir tenaga." Lanjutnya sambil melirik ke arah samping tempat keberadaan suaminya.
Tentunya tidak menyebutkan alasan yang sebenarnya, harus diplesetkan sedikit. Meminimalisir kebohongan di depan orang tua, namun tetap waspada agar kebenaran harus tetap tertutupi.
Mas Reza tersenyum tetap memberi semangat pada istri tercinta.
" Masalahnya sekarang bukan Rindi tapi Linggar bun." Mencoba membantu Lirna.
Iba rasanya melihat sang istri seperti berjuang sendiri.
"Linggar kenapa?" Bunda penasaran. Sediki memajukan badan pertanda bunda yang sedang serius.
"Linggar gak mau jauh dari Rindi. Nempel terus. Hahahaha." Harus disertai sedikit tawa untuk lebih meyakinkan.
"Iya, bunda tau. Linggar tuh gak ada hari tanpa Rindi." Tuh kan mulai percaya.
" Nah itu yang jadi masalah. Sampe ribut sama keluarga Rindi hanya untuk bagi waktu buat jagain Rindi.
Lucukan bu. Hahahaha." Masih memaksa diri untuk tetap tertawa di bawah belenggu hati yang kalut.
Bunda tersenyum melihat Reza yang sedang menceritakan sikap Linggar yang pesesive pada Rindi.
Iya bunda akui, keposesifan Linggar pada Rindi. bahkan beliaupun pernah menyaksikan sendiri.
"Kalau itu bunda juga gak bisa bantu banyak."
"Bisa bun."
"Gimana caranya?"
Yes, usaha yang sedang berjalan memperlihatkan hasil yang mungkin berakhir dengan kata berhasil.
"Emmm, kita nikahin mereka segera mungkin. Dengan begitu keluarga Rindi bisa melepas Rindi bersama dengan
suaminya. Untuk menghindari omongan ornang juga kan?" Reza semakin meyakinkan.
"Iya, bunda juga maunya kayak gitu. Kalau lihat Linggar sama Rindi tuh, takut kalau mereka melampaui batas."
Padahal sesuatu yang melampaui batas itu memang sudah terjadi.
"Iya bun. Makanya kita harus segera menikahkan mereka." Reza yang semakin terlihat semangat setelah memutar otak ternyata tak sia-sia.
"Kapan?"
"Lebih cepat lebih baik. Masalahnya Linggar kayaknya sulit dipisahkan deh sama Rindi." Reza mengaggukkan kepala, masih berusaha tampil senatural mungkin.
Rasa bersalah pasti ada. Karena telah mencoba membohongi orang tua.
"Tapi Rindi mau gak yah? Merekakan masih kuliah."
__ADS_1
"Nanti Lirna yang coba bujuk Rindi. Ya sedikit ancaman kalau Rindi gak mau Linggar, bilang akan kita nikahkan sama cewek lain. Nah pasti Rindi mikir seribu kali kalau sampai Linggar dinikahkan sama cewek lain." Reza sepertinya berackting dengan sangat baik kali ini.
"iya--iya gitu aja boleh. Gak papa deh."
BERHASIL!
"Sayang kamu gak papa?" Pekik bunda saat memasuki ruang perawatan Rindi.
Di sana telah berada Linggar yang memang tak pernah lepas dari Rindi.
Bahkan saat melihat bundapun tangan belum lepas. hingga bunda melayangkan pukulan mesra di pundaknya.
"Bun?" Dengan tatapan seolah mengatakan ada apa, namun segera tertunduk menyembunyikan wajah yang masih ada sisa-sisa lebam.
Mengapa bundanya terlihat lebih heboh?
Hari ini hari kerja. Semuanya kembali ke tempat masing-masing. Hanya Linggar yang waktunya demi menjaga
Rindi. Bukankah ini memang jadi tugasnya seletah semua yang telah ia lakukan pada Rindi.
“Sayang kamu gak papakan?” Ucapnya lagi mencoba meraih tangan lemas Rindi.
Hanya senyum yang Rindi sumbangkan. Sebesar apa marahnya pada Linggar, ia tak bisa marah pada bunda.
Bunda terlalu baik padanya.
“Linggar gak ngapa-ngapain kamu kan?”
Baru saja ia mencoba untuk memperbaiki hati, namun pertanyaan itu kembali mengusik.
Apa?
Gak ngapa-ngapain?
Sudah bundaaaaaaaaaaaa.
Anakmu itu telah merusak masa depan Rindi.
Andaikan itu bisa terucap, mungkin akan ia ucapkan dengan lantang.
kecuali mereka yang telah mengetahuinya. Termasuk pada bunda pula.
Rindi hanya mampu tertunduk menyembunyikan wajahnya yang mungkin memancarkan raut wajah kecewa dan marah.
Ia marah! sangat marah pada pria yang masih tetap menggenggam tangannya ini.
Tapi apa daya, ia tak bisa marah pada bunda Linggar.
“Sayang. Maaf yah kalau ini terlalu terburu-buru. Tapi bunda ingin lamar kamu buat Linggar, boleh?”
Membuat kedua remaja beranjak dewasa itu saling memandang dengan mata yang terbuka penuh.
Apa melamar?
Secepat ini?
Apa bunda sudah tau kejadian sesungguhnya?
“Bunda liat hubungan kalian sudah semakin jauh. Bunda gak mau kalian sama buta karena cinta hingga membuat kalian melangkah lebih jauh lagi tanpa ada ikatan resmi.”
“Maaf yah, bunda ngomong kayak gini saat kamu sedang sakit!”
“Justru ini juga karena kamu sakit kayak gini.”
Kedua pasang bola mata itu kembali bertemu dengan keadaan yang sama. Terbuka secara sempurna.
Apakah benar bunda tahu tentang keadaan Rindi saat ini?
“Tuh lihat, kamu sakit begini Linggar gak mau lepas sama kamu. Takut dia khilaf.” Sambil tersenyum sesekali
menatap Linggar yang masih tenang memandang Rindi.
Pria itu kembali tertunduk.
__ADS_1
Memang sudah khilaf bunda, makanya sakit begini.
“Kalau memang Linggar gak khilaf, bisa saja terjadi fitnah kan?”
“Tapi bunda percaya sama kamu.” Kini tubuh bunda telah berdiri tegap dengan senyuman yang semakin melebar.
“Kamu gadis baik-baik begitupun putra bunda ini. Meskipun sedikit bandel, tapi bunda percaya dia gak akan
melampaui batas.”
“Iyakan Linggar?” Sikut bunda menyenggol keras tubuh Linggar yang sedari tadi hanya terdiam mendengar ocehan
bundanya.
Tumben-tumbenan anak itu mau diam saja mendengar celoteh bunda. Bisanya juga balas, atau setidaknya cengar-cengir gak jelas.
“Kamu maukan jadi menantu bunda?”
Lalu apa yang harus Rindi lakukan. Tertunduk lalu mengangguk malu-malu?
Nyatanya kata demi kata yang bunda ucapkan bagaikan anak panah yang meluncur dan menembus dadanya. Bukan hanya Rindi tapi juga Linggar.
Betapa besar kepercayaan yang telah bunda sisipkan pada mereka. Andaikan bunda tau jika semua kepercayaan yang telah bunda berikan telah si salah gunakan oleh mereka, mungkin senyum bunda sudah tak ada lagi.
Berganti derai air mata. Atau mungkin saja bunda pingsan di tempat ini.
Sementara Linggar hanya mampu menundukkan kepala.
Rasanya ia sudah tak punya hak lagi hanya untuk menengakkan kepala.
Diantara Delapan Ribu Milyar penduduk bumi, dirinyalah manusia paling berdosa saat ini.
Khianati kepercayaan bunda hanya untuk keinginan semu.
Secuil kepercayaan, nyatanya tak mampu ia emban.
Mereka masih terdiam saat pintu terbuka. Menampilkan wanita buncit yang kemarin membela Linggar beserta
suaminya.
“Selamat pagi semua.” Senyumannya sangat cantik. Berjalan mendekati brankar pembaringan Rindi. Sang suamipun turut setia berjalan di belakannya meskipun tanpa senyuman.
“Udah baikan?” Masih tersenyum sambil mengulurkan tangan demi mengelus rambut Rindi.
Sang pasien hanya tersenyum sebagai jawaban.
Kini Rima beralih menatap Linggar, “Kamu sudah makan? Aku bawain sarapan pagi buat kamu.” Mengangkat
kotak makan di tangannya memperlihatkan pada Linggar.
“Kamu juga harus makan, jangan sampai sakit. Kalau kamu sakit terus siapa yang jagain Rindi. Kamu juga siapa
yang jagain? Aku gak mau loh, kasian dedenya kalau mamanya harus begadang jagain sepasang kekasih yang lagi sakit.”
Kakinya melangkah mendekati nakas karena Linggar tak kunjung meraih pemberiannya, capek juga rasanya.
Melihat interaksi yang terhitung dekat membuat kening bunda berkerut namun tetap tersenyum saat pandanganya
dengan Rima saling bertabrakan.
“Anda siapanya Rindi?”
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
__ADS_1
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.