
Pukul 17.00 karyawan mulai beranjak dari kubikel masing-masing, meski tak semua.
Hari hampir beranjak malam, mentari dan rembulan telah menantikan pergantian shift.
Meskipun Layung senja belum mencuatkan sinar indahnya, sore akan tetap indah.
“Kenapa?” Kamil.
Mereka semua telah berada dalam basement, berkerumun di sekitar motor Rindi, ban motornya kempes. Bukan kempes tapi memang tak ada udara sedikitpun yang mengisi lingkaran yang terbuat dari karet itu.
“Tadi baik-baik aja.” Ucapnya sambil memukul-mukul bannya, tatapan pilu dan bingung.
“Kenapa?” Linggar yang baru saja datang turut bergabung di sana. Menunduk melihat keadaan ban motor Rindi.
Setelahnya mereka bangkit satu persatu.
Pandangan mereka bertemu. Linggar tersenyum, namun entah mengapa senyuman itu terlihat sedikit aneh.
Linggar melirik ke arah Rindi lalu menunduk, menyembunyikan bibirnya tersenyum sedikit miring. Kembali
melirik Rindi lalu menunduk lagi*\, “Rasaain kamu!”* dalam benaknya. Penolakan Rindi menimbulkan sedikit rasa jengkel pada wanita itu.
Sementara Rindipun turut melirik ke arah Linggar.
Menarik ulur semua peristiwa hari ini. Linggar yang mengajaknya pulang bareng namun ditolaknya, dan pria itu menerima tanpa banyak protes atau paksaan seperti biasanya. Apakah ini wajar?
Terlebih lagi Linggar seolah menghindar dan tak mau membantunya.
“Kak?” Tanya Rindi mulai menyelidik. “Bukan kakakkan yang,----?” Semakin memicingkan mata.
Senyuman Linggar justru semakin merekah lebar. Tak tahan rasanya berlama-lama acting seperti ini, apa lagi sama
Rindi. Kakinya melangkah menjauh dari sana, menyisakan Kamil yang mengelengkan kepalanya tak habis pikir.
Masa iya harus kempesin ban motor dulu demi pulang bareng?
“KAAAAK,” Teriakan Rindi tertahan. Ingin marah tapi takut akan menjadi perhatian orang-orang lagi.
Sedikit berlari mengejar Linggar yang masih melangkah menjauh padahal ia butuh bantuannya.
__ADS_1
BUGH.
BUGH.
Demi melampiaskan kekesalannya pada Linggar, tas kesayanganpun jadi korban. Mendarat beberapa kali di tubuh pria itu dengan sedikit keras.
“Hahahaha, awww, sakit Rin” Tawanya menggelegar ke seluruh sudut basement, setelah itu merintih sambil mengusap pelan lengannya. Mengabaikan orang-orang yang menatap mereka dengan heran.
Sakit juga ternyata. Menahan tali tas yang sempat ia raih saat melindungi diri dari amukan Rindi.
“Awas tasku rusak.” Sisi sebelahnya masih bisa ia gengam.
“Ya sudah ayo!” Sekali hentakan, pintu mobil dibukanya. Mendorong tubuh Rindi sedikit bertenaga karena wanita itu masih menyerangnya dengan tas.
“Ayo ke mana?” Tubuhnya telah berada dalam mobil Linggar. Memasang wajah kesal dengan bibir berkerucut.
“Beli tas.”
"Udah malam, aku mau pulang!" Rindi masih ketus saja. Rasa kesal memang belum hilang sepenuhnya. Memikirkan nasib motor kesayangannya namun enggan berbicara dengan Linggar.
Mobil yang dikendarai Linggar berhenti tepat di depan bengkel yang tak jauh dari kantor. Keluar sebentar menemui seorang montir.
“Bang tolongin motor saya, bisa?” Ucapnya pada seorang pria yang mengenakan pakaain terusan berwarna biru.
“Bannya kempes, tapi Cuma ban belakang?” Linggar tahu hanya ban belakang yang kempes padahal tadi tak membahas itu.
“Bukan kempes bang, tapi dikempesin.” Rindi dari dalam mobil.
Hahahaha, Linggar kembali tertawa. Sepertinya hari ini adalah salah satu hari kebahagiaanya.
Linggar berhasil membuat kesal Rindi.
--------
“Kak hari ini aku gak ikut yah?” Pintanya pada Linggar.
Semalam motornya telah diantarkan ke rumah, dan tadi pagi Linggar menjemputnya saat hendak ke kantor.
“Kenapa? Kan gak bawa motor?” Mereka telah berjalan dari kantin untuk kembali ke ruang masing-masing.
__ADS_1
“Ada perlu sama teman. Aku ikut teman yah, yah!” Ucapnya sedikit memelas.
“Siapa? Ayu?”
Rindi menggeleng, bibir sedikit di tampilkan ke depan.
“Siapa? Lilis?”
Rindi kembali menggelen, namun kali ini diikuti dengan senyuman manis semanis gula. “Ada deh! Boleh yah? Yah?” Kali ini menggoyang-goyangkan lengan Linggar penuh pengharapan.
“Janji deh, besok pagi berangkat bareng lagi, yah!”
“Iya deh,” Tersenyum memandang imut Rindi yang memohon seperti seorang putri kecil. Melihat Rindi memohon
seperti itu rasanya tak tega. Mungkin sekali-kali Rindi butuh waktu bersama dengan teman-temannya yang lain.
Linggar menunggu dalam mobil sambil terus memantau Rindi sambil berdendang riang. Bukan ingin mengintai, atau membuntuti. Hanya ingin tahu dengan siapa Rindi akan pergi. Dan memastikan jika wanitanya dalam keadaan baik-baik saja.
Tapi keadaan justru berbalik padanya. Sekarang ia yang tak baik-baik saja.
Setelah melihat Rindi yang sedang tersenyum bahagia masuk ke dalam sebuah mobil berwarna hitam mengkilap.
Jadi ini yang Rindi katakan "ada deh?" Semakin merasa memastikan jika penglihatannya tak salah.
Dari dalam mobilnya, Ia hanya mampu melihat secara langsung saat Rindi di masuk ke dalam mobil Riswan.
Benar, memastikan diri bahwa mobil itu adalah mobil Riswan. Pria yang ia yakini tengah menyimpan rasa pad Rindi, dan mereka sedang duduk berdua dalam mobil yang sama.
Kenapa tidak mau berkata jujur padanya, jika Rindi memilih untuk pulang bersama Riswan daripada dengannya.
To Be Continued!
Maaf yah, Dinda gak bisa tiap hari bisa up.
Karena sebagai insan yang hidup di dunia nyata Dinda juga memiliki kegiatan yang nyata juga, hihihi.
Hanya bisa setor sedikit demi sedikit.
Mohon doa dan dukungannya juga buat teman-teman, biar Dinda makin semangat nulisnya.
__ADS_1
Eh sekalian sama itu dong, itu tuh bunga sama kopinya, boleh yah.
Buat teman saat nulis yah, yah! Dengan memasang wajah imut Dinda buat para kesayangan yang baik-baik dan gak sombong.