Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
CLBK?


__ADS_3

“Gar, buat ke pernikahan Ganesha kamu pake baju apa?” Tanya Kartika. Ngapain nih cewek tanya-tanya masalah kostum?


“Gak tau.” Dilengkapi dengan gelengan kepala. Ia memang tak punya ide spesial hanya untuk menentukan pakaian untuk pesta pernikahan salah satu teman sekelas mereka.


Paling baju batik, atau kemeja, itu saja. Sama seperti perjamuan pernikahan yang biasa ia hadiri.


“Ke butik yuk! Cari kostum.” Ucapnya manja.


Dan lagi-lagi pikirannya melayang pada Rindi. Jika saja Rindi yang sedang bermanja padanya maka ia akan menarik hidung gadis itu hingga kembali merajuk.


“Ya sudah. Ayo!” Ucapnya.


Menggunakan mobil Linggar, berdua mengunjungi salah satu butik langganan Kartika.


“Bagus.”


“Cantik.”


“Serasi.”


Itu pujian yang ia lontarkan saat Kartika menunjukkan gaun atau apapun padanya. Tak ada ide ataupun alasan untuk menolak. Toh wanita itu yang ingin memakainya, bukan dia.


Dan pilihan Kartika jatuh pada sepasang batik dengan motif sama, couple. Tentunya untuk Linggar dan juga dirinya.


Tak pernah terpikir oleh seorang Linggar.


Bahkan saat menjalani hubungan hampir tiga tahun bersama Rindi pun, ia tak memiliki sepasang pakaian seragam.


Ah, ia hampir lupa. Jika dirinya tak pernah menghadiri pesta pernikahan bersama dengan Rindi. Mereka masih sibuk dengan kuliah.


Bahkan harusnya merekalah yang mengadakan pesta pernikahan, tapi sayang pernikahan mereka berakhir sebelum pesta terlaksana.


Tersenyum miris membayangkan kisahnya bersama Rindi yang berakhir menyakitkan.


Setelah pertemuan itu, komunikasi antara Linggar dan Kartika semakin intens dan hampir teratur.


Lalu bagaimana hubungannya dengan Rindi?


Memilih menghindari dan menjauhi Rindi dengan alasan sibuk.


Ia bukannya tak sakit ketika melihat senyum Rindi yang berangsur memudar saat mereka berpapasan di kantor dan dirinya yang memilih berlalu setelah tersenyum kaku.


Tak ingin berharap terlalu tinggi.


Buat apa, jika memang mereka Tak Jodoh?


Meski rindu sangat menyiksa jiwa dan raganya.


Dan pertemuan Linggar-Kartika selanjutnya saat menghadiri penikahan salah satu teman SMA mereka yang kebetulan sekantor dengan Kartika.


Datang bersama setelah Linggar menjemput Kartika di rumahnya. Tentu saja bertemu dengan kedua orang tua Kartika.


Kartika yang memeluk mesra lengan Linggar dimulai saat turun dari mobil. Dengan senyum


yang terukir jelas di wajah masing-masing.


Beberapa pasang mata yang mengenal mereka menyumbangkan senyuman.


Mungkin sebagai bentuk ucapan selamat. Dengan seragam dan kemesraan yang mereka tunjukkan seolah mengatakan pada semua bahwa mereka telah menjalin sebuah hubungan spesial.


"Weits, CLBK nih?" Tanya salah satu dari teman mereka.


Dijawab dengan senyum malu-malu dari Kartika yang mengharapkan lebih dari itu. Mungkin melangkah bersama ke KUA jauh lebih baik dari sekedar CLBK.


“Jadian?” Arman yang turut hadir bersama mereka. Kartika yang juga sedang bercengkrama dengan sahabat lamanya di sebelah sana.


“Gak tau.” Ucapnya singkat.


“Rindi?” Dari sekian banyak cerita yang Arman dengar dari Linggar, nama Rindi masih mendominasi sebelum beberapa minggu terakhir.


“Gak tau.” Ucapnya acuh dengan menundukkan kepala. Seolah Rindi masih mampu membawanya dalam sebuah kesakitan.


"Kenapa?"


"Gak tau."


Heh, Semangat seolah terbang menguap begitu saja. Hingga tak tahu jawaban lain.


Pertemuan mereka kembali ke cafe itu saat akhir pekan. Rencananya setelah ini mereka akan ke mall. Nonton dan jalan-jalan, menghabiskan waktu bersama.

__ADS_1


Kembali menatap dalam Kartika.


Apa yang salah dari wanita itu? Tak ada.


Pun tak ada salahnya jika ia mulai membuka hari yang belum saja terketuk setelah beberapa kali pertemuan.


Bayangan dan kerinduannya pada Rindi masih saja mendominasi otak dan hatinya.


Meskipun menahan bibir untuk tak menyebut nama itu, namun hati tak bisa untuk ditahan untuk tak merindu.


Status kedua wanita itu sama.


Sama-sama janda tanpa anak.


Ah, memikirkan itu pikiran Linggar mulai tak tentu arah.


Mungkin tak apa jika ia membawa Kartika jalan-jalan sejenak. Menghilangkan strees yang sedikit melanda.


Lalu,....


Ke,....


Hotel mungkin?


Jangan salah sangka dulu.


Hanya untuk sekedar membaringkan tubuh yang pasti lelah setelah berjalan-jalan.


Dan sedikit,...


Emm,....sentuhan mungkin tak mengapa.


Wanita itu mungkin tak akan meminta pertanggung jawabannya kan?


Ahh,....


Apa yang di pikiran Linggar saat ini hanya sebuah estimasi.


Mohon bantuannya dan doanya semoga tak terealisasi.


Jangan sampai Linggar kembali terjatuh dalam lubang dosa dan penyesalan.


Sejenak Linggar terdiam, serindu itukah dirinya?


"Kak."


Panggilan itu semakin terdengar nyata saat ia menajamkan pendengarannya.


Akhhh, ia terkejut seperti baru saja ketahuan telah berselingkuh.


Seseorang dari arah belakang kini telah berada di sampingnya. Menatapnya dengan nanar.


"Jadi karena ini kakak menghindariku?" Dengan mata yang mulai berembun.


"Rindi, kamu sama siapa?" Sontak Linggar membuat bangkit dari duduknya.


Linggar membalikkan badan ke arah belakang, melayangkan pandang ke seluruh ruang.


Terlihat di dekat pintu masuk ketiga gadis sahabat Rindi sewaktu kuliah. Rupanya mereka


sedang reuni di cafe yang sama dengannya.


Mencoba meraih tangan Rindi yang selangkah mundur hingga mampu menjauhkan jangkauan


tangannya.


"Kak Linggar kok jahat sama aku. Kak Linggar berkhianat." Rindi sebelum pergi


meninggalkan kedua pasang insan yang sedang berkencan, mungkin.


Sakit dan sesak rasanya melihat Linggar bersama wanita lain. Pantas saja Linggar menghindarinya. Rindi pikir Linggar benar-benar sibuk kala itu.


Tak ingin mendengarkan penjelasan apapun lagi, kakinya terus melangkah. Pemandangan di depannya menujukkan jika semua yang ia kira dan disebutnya tadi adalah benar.


Wanita itu cantik serta, berkarier. Dan jika saja wanita itu bukan janda seperti dirinya, itu akan menjadi satu alasan yang membuatnya semakin kalah.


Kepercayaan dirinya kini semakin terjun dan terperosok. Ia tak sebanding dengan wanita itu.


Siapalah dirinya?

__ADS_1


Berdekatan dengan Linggar saja sudah sangat istimewa baginya. Apalagi setelah menyakiti hati Linggar. Pasti pria itu akan mencari wanita lain.


Keluar dengan tergesa-gesa. Meskipun ia tahu Linggar terus memanggil dan mengejarnya. Tapi ia tak butuh lagi penjelasan apa-apa dari Linggar.


"Rin, dengar dulu!" Linggar saat telah menggapai tangan Rindi.


Dengan cepat dan kasar Rindi menghempaskan tangan Linggar. Harus sekuat tenaga, mengingat tenaga Linggar tak sebanding dengannya.


Terlepas.


Mungkin memang Linggar akan melepaskannya agar tetap bersama gadis tadi.


"Rindi."


Yang dipanggil terus saja melangkah dengan cepat melewati teman-temannya yang hanya


menjadi penonton.


Keluar dari cafe seorang diri. Berjalan terus menuju ke jalan raya.


Hari ini Rindi tak membawa motor. Ia dan teman-temannya memutuskan berada dalam satu mobil, mobil Dini.


Lebih seru kata mereka.


Mencari taksi atau ojel yang lewat. Ingin cepat berlalu dari sana.


Hati dan pikirannya terasa kacau.


Hah, ternyata ia tak terima jika Linggar bersama dengan wanita lain.


"Rindi." Kembali Linggar meraih tanggannya. Dan kembali pula ia mencoba menghempaskan


tangan yang sizenya dua kali liapt dari tanggannya.


"Jangan mendekat!" Ucapnya saat berhadapan denga Linggar. Tinggal beberapa langkah lagi kakinya akan menginjak aspal.


Dengan kedua tangan merenggang di hadapaan.


Linggar hanya mampu menatap dengan kedua kening berkerut hampir bertemu.


Mencoba menebak dari sikap Rindi yang marah saat dirinya bersama dengan wanita lain.


Cemburu, bisa saja?


Perlahan melangkah mencoba mendekat agar dapat meraih tangan Rindi.


Dibelakang Rindi, kendaraan sedikit lebih senggang. Membuat beberapa pengendara lebih bebas dalam mengemudi.


Kencang sedikit sudah biasa.


Tapi itu yang membuat seorang Linggar meringis.


"Rin, kita bisa bicarakan baik-baik di dalam. Jangan di sini, banyak kendaraan. Banyak orang yang liat juga." Ucapnya sambil mengulurkan tangan pada Rindi.


"Masuk yuk!" Ajaknya.


"Mau apa masuk ke dalam lagi? Ngenalin sama cewek cantik itu?" Ke-sinis-annya tertutupi dengan air mata yang tergenang.


Lupa akan rasa malu, menangis meskipun banyak mata memandang.


Linggar perlahan-lahan memajukan langkahnya, berharap bisa langsung meraih Rindi.Setidaknya ia bisa menjauhkan Rindi dari jalan raya.


Namun satu langkahnya terlihat oleh Rindi, membuat gadis itu turut melangkahkan kaki ke belakang beberapa langkah, dan,


Ciiiitttt.


Bukkk.


"Rindi!" Semua teriakan menyebutkan nama gadis itu.


To Be Continued!


Like! Like! Like!


Komen! Komen! Komen!


Bunga! Bunga! Bunga!


Kopi! Kopi! Kopi!

__ADS_1


Dinda lagi malak nih, hihihihihi


__ADS_2