Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Salahnya Di mana?


__ADS_3

Saat dirinya menghindari kesendirian karena akan teringat dengan kisah yang baru saja berakhir. Kejadian yang mampu mengguncang hati dan dirinya. Menjalani ini, ia tak yakin dirinya mampu melaluinya dengan baik-baik saja.


Bahkan jika dirinya diberikan waktu, inginnya ia berteriak membuang semua kesakitan yang justru terendap dalam hati.


Sementara disana.


Tempat mantan istrinya sedang tertawa riang. Bahkan sangat riang untuk orang yang baru saja bercerai.


Sebahagia itu Rindi saat berpisah dengan dirinya?


Sejak ia pulang, dengan mendapatkan Rindi dekat dengan orang lain, dan menghindari dirinya.


Dan kini mereka telah bercerai. Tak ada kesedihan yang terlihat di mata wanitanya itu.


Dirinya kini mulai bertanya tentang apa dan dimana kedudukannya dalam hati Rindi.


Mungkin Rindi merasa lebih bebas saat berpisah dengannya.


Ataukah namanya memang tak pernah terlukis di hati Rindi, miris sekali rasanya.


Benar-benar cinta sepihak itu sangat menyakitkan.


------------


Dulu saat berpacaran, ia harus menyempatkan waktu hanya untuk mencari Rindi.


Sekarang saat tak mencari keberadaan Rindi, justru sangat mudah ia dapatkan tanpa harus usaha yang lebih.


Kecantikan justru sangat terlihat di wajah wanita itu.


Bahkan saat berjalan di lorong kampuspun mereka sempat bertemu, bahkan berpapasan. membuat kedua mata saling beradu. Tak ada tempat untuk menghindar.


Dengan senyuman dilengkapi dengan tatapan nanar dari keduanya. Kecanggungan seketika langsung tercipta pada kedua orang yang baru beberapa hari bercerai itu.


“Hai.” Hanya itu yang ada diotak Linggar saat harus menyapa Rindi.


“Hai.” Mungkin hanya mengembalikan salam pertemuan mereka.


Sorot mata bertemu.


Sangat nampak jika ada rindu di sana.


Kecanggungan yang terlihat membuat para sahabat yang berada di dekat mereka saling pandang.


Lucu terlihat sepasang suami istri saling menegur hanya dengan satu kata.


Padahal biasanya tak perlu pakai sepatah kata Linggar langsung menarik Rindi, atau merangkul bahkan mencium pipi Rindi.


Sesuatu yang pasti ada diotak mereka adalah, “Ada apa dengan Linggar dan Rindi?”


“Apa kabar?” Linggar yang mengajukan sebuah pertanyaan yang mampu membuka lebar para penonton di dekat mereka.

__ADS_1


“Baik. Kakak?” Jawaban Rindi yang terdengar kaku semakin menguatkan kebingungan mereka.


Hah, yang benar saja. Sepasang suami-istri bertanya tentang keadaan masing-masing.


Seperti mereka tak pernah bertemu.


Membuat pertanyaan-demi pertanyaan semakin bertambah.


“Bukankah mereka suami-istri yang tinggal dalam satu rumah. Mengapa harus bertanya keadaan."


“Permisi. Kita mau ke sana kak.” Tunjuk Rindi ke arah depan.


Sangat sopan dan sungkan.


Fix. Ada sesuatu yang mereka sembunyikan.


“Hemm,” Singkat namun mampu membuat hatinya mencolos. Meskipun disertai dengan senyuman di wajah bukan tersentuh, tapi serasa sesak.


Pandangan Linggar yang menatap Rindi berlalu tepat disampingnya. Mencuri dalam-dalam segala bentuk yang Rindi perlihatkan saat itu.


Wajah dengan tatapan sayu, senyum yang terlihat sangat memaksakan, dan bahkan lekuk tubuh yang sering dipeluknya. Menyimpan di dalam hati sebagai persiapan penahan rindu. Seolah esok atau nanti mereka tak bertemu.


Kecantikan sempurna yang terlukiskan kini berada di hadapannya.


Saat ini ia tersadar, bahkan sangat sadar tak mungkin memeluk Rindi seperti hari-hari kemarin. Rindi bukan lagi miliknya.


Rindi berjalan tertunduk dengan senyuman yang tak kalah sakit di bandingkan dengan Linggar.


Jika bisa memilih Rindi tak ingin bertemu dengan Linggar kali ini, karena itu hanya akan membangkitkan kenangan yang diam-diam ingin ia kubur. Tak ingin membangun mimpi indah untuk hidup bersama dengan pria itu.


Meskipun dalam hati sangat ingin, namun tahu jika itu tak mungkin terjadi.


Memilih mengikuti segala saran dan perintah dari sang kakak, meskipun akan menyakitinya dengan sangat tersiksa.


Terbiasa hidup dengan Linggar bersama semua teka-teki tentang malam ini apakah Linggar ke kamarnya atau tidak.


Dan sekarang ia bisa menebak jika Linggar tak kan datang ke kamarnya. Yang mana ini akan sangat menyakitkan, jika harus mengingat bahwa semua telah berakhir.


“Kalian kenapa?” Arman yang masih menatap keheranan Linggar dan Rindi. Linggar yang sama sekali belum mengalihkan pandangannya pada sang wanita meskipun sosok itu semakin mengecil hingga hilang di balik pintu sebelah sana.


“Biasalah pertengkaran kecil.” Ucapnya masih menatap tempat Rindi berlalu. Padahal sudah jelas-jelas sosok itu sudah tak terlihat, terhalang diding pemisah. Dan ia justru betah memandang dinding pemisah itu.


Yakinkah jawabannya sesimple itu? Rasanya sulit bagi Arman untuk percaya.


Pertemuan yang terlalu berat untuk sebuah masalah yang dianggap kecil.


Dulu ia dengan sangat bangga memberitahu kepada seluruh penghuni kampus bahwa mereka telah menikah.


Namun berbeda dengan sekarang, perceraiannya dengan Rindi bukanlah sesuatu hal yang bisa dibanggakan. Dan ia tak mungkin mengatakan hal itu.


“Kalian kenapa?” Pertanyaan yang sama yang Rindi dengar dari mulut Dini sesaat setelah mereka berlalu.

__ADS_1


“Ngambek.” Ucapnya singkat. Dengan bibir berkecurut berusaha menunjukkan bahwa ucapannya memang benar. Meskipun dalam hatinya ingin menangis.


“Gak percaya.” Diikuti kibasan tangan Dini ke udara seolah tak terima dengan jawaban Rindi.


Semakin diperkuat dengan anggukan teman-temannya yang lain.


Linggar hanya mampu menatap bayangan diri di cermin besar lemari pakaian kamarnya. Mengamati diri dari ujung rambut hingga ujung kaki, demi mencari kekurangan fisiknya.


Saat semua kisah bercerita tentang sekali tancap langsung jadi, tapi tidak dengan kisahnya.


Beberapa bulan bersama Rindi, membuatnya beberapa kali mendapatkan kesempatan menancapkan diri dan menebar benih pada Rindi. Dengan beberapa gaya dan varian rasa yang berbeda.


Tapi hingga saat yang telah ditentukan oleh kakak iparnya, benih yang ia tabur ternyata tak tumbuh jua.


Salahnya di mana?


Apakah dirinya kurang perkas@?


Ataukah Rindi yang memiliki masalah lain?


Mungkinkah Rindi memang bukan tulang rusuknya?


Apakah Tuhan memang tak menakdirkan untuk mereka bersama?


Sore hari, saat jadwal teman-teman Linggar satu persatu biasanya telah datang. Namun hari ini terlihat berbeda. Mereka tak datang. Hanya ada Arman yang justru telah mengirimkan pesan pada teman-temannya jika ia dan Linggar memiliki satu keperluan lain.


Berbohong demi kebaikan tak apa bukan? Dalil yang menjadi alasannya.


Ah, Ia tak bohong. Karena menguras sedikit informasi dari Linggar adalah satu keperluan. Keperluan yang dirasa penting karena telah membuatnya penasaran.


“Kamu kenapa?” Ucapnya saat berada di kamar Linggar.


“Kenapa?” Yang ditanya balik bertanya, ia akan mengalihkan pembicaraan karena tahu arah pembicaraan Arman kemana.


“Sama Rindi.” Dengan tatapan penuh ke arah Linggar, terlebih lagi Arman tak ingin terlalu bertele-tele.


“Lagi marahan.” Lalu membuang tubuhnya di atas kasur nan empuk.


Pandangannya menerobos ke arah langit-langit kamar. Napas keras terdengar dari arahnya, menandakan pria itu sedang menenangkan diri.


Yang justru semakin menambah keyakinan pada diri Arman jika temannya itu sedang merasa berat terhadap sesuatu.


“Gak mungkin cuma marahan. Sikap kalian terlalu nampak. Apalagi udah berapa hari ini aku perhatikan kamu lain dari pada yang lain.” Memainkan ponsel sambil sesekali melirik ke arah Linggar untuk melihat mimik wajahnya.


“Lain bagaimana?” Linggar.


“Senyuman dan tawamu terlalu terpaksa. Aku bukan orang baru yang melihat kehidupanmu. Terlalu lama untuk bisa mengerti keadaan kamu saat ini.” Arman sambil sesekali menunjuk Linggar dengan ponselnya.


Terlihat pria itu memejamkan mata kini dengan napas berat. Pasti memikirikan masalahnya yang ternyata tak seringan kapas.


“Cerita aja, sapa tau aku bisa ngasih solusi.” Menundukkan diri, menanti sahabatnya itu bercerita.

__ADS_1


“Udah gak ada solusi lain.” Mungkin rasa putus asanya terlalu besar.


__ADS_2