Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Gunanya Sahabat 2


__ADS_3

“Skripsinya sudah sampai mana?” Mulai mengutak-atik laptop. Membuka beberapa file yang dicurigainya sebagai skripsi atau laporan apapun yang bisa ia gunakan nanti.


“Bab berapa?” Lanjutnya.


“Mikir apa lagi sih? Dari tadi ditanya malah


diam saja.” Arman menatap tajam pada Linggar. Dari matanya seperti bara api sedang menyala.


Siapa yang tidak marah coba, saat Arman beberapa kali bertanya tentang skripsi sang mulia raja justru kembali larut dalam lamunan.


“Kenapa?” Linggar yang tanpa dosa. Fokus matanya kini telah kembali nyata menatap ke arah Arman.


Rupanya pria yang baru saja menyandang status duda itu baru saja terbangun dari lamunannya.


“Duuuh, ngomong sama kamu sama


kayak ngomong sama tembok tau. Ngeselin.” Arman beranjak dari duduknya dengan memamerkan wajah yang benar-benar kesal tanpa tipu-tipu.


“Eh, mau kemana?” Linggar yang sempat terhibur dengan kehadiran Arman, akan merasa kesepian lagi saat pria itu pergi. Meskipun beberapa kali ada-ada saja sesuatu yang kembali mengingatkannya tentang Rindi.


“Mau minum, haus.” Ucapnya ketus bin marah.


“Yang punya kamar gak peka banget, udah dibantuin dari segala penjuru masih aja tinggal bengong.”


“Kamu sampai kapan mau tinggal kayak gitu?” Suaranya mulai meninggi.


“Harusnya kamu bangkit. Kamu harus berhasil lalu tunjukin sama Rindi. Buat dia nyesel udah tinggalin kamu.” Masih mengoceh. Pria itu kembali berjalan kembali ke arah Linggar.


“Jangan kayak kambing co nge, yang mau-maunya aja di dikte sama kakak ipar kamu.” Sambil menendang kaki Linggar, membuat pria yang tadinya menunduk menghayati setiap kata menyakitkan namun masuk akal itu.


“Ambilin minum kek.” Lah Cuma mau minta minum doang, marahnya minta ampun.


“Iya-iya bawel.” Dan untuk pertama kalinya Linggar berjalan meninggalkan kamarnya setelah keterpurukan.


“Nih!” Menyodorkan nampan berupa minuman dingin beserta camilan yang telah disediakan untuk mereka berdua.


“Wah, thak’s bro. Nah kita mulai nih?”


“Iya,” Mengangguk dan kembali duduk di sebelah Arman.

__ADS_1


“Tapi ingat harus kon-sen-tra-si!” Membalikkan badan dengan telunjuk yang mengarah ke Linggar.


“Iya-iya, ya ampun!”


"Kita mulai dari mana?"


Dalam ribuan kata yang Arman ucapkan, ada beberapa kata yang nyangkut di otaknya.


Tentang masa depan yang masih panjang. Tentang kebahagiaan.


Ya, ia harus bangkit. Setidaknya untuk cepat-cepat menyelesaikan kuliah dan meninggalkan kampus itu.


Dengan begitu ia tak harus terus menerus bertemu dengan Rindi.


Meskipun sulit, setidaknya bisa di coba bukan?


Menyuguhkan senyum sakit setiap kali bertemu dengan sang mantan.


Dalam hati ia harus berhasil terlebih dahulu. Setidaknya untuk memamerkan keberhasilannya pada Rindi.


Jika ia beruntung, mendapatkan kembali sosok lengkap dengan cinta yang pernah ia miliki, tentunya bersama Rindi.


Pengharapan yang masih terlalu banyak dan panjang.


Setiap revisi sahabatnya itu selalu ikut campur saja. Dengan ocehan tingkat tinggi yang mampu membangunkan Linggar dari setiap lamunannya.


Apa jadinya Linggar tanpa Arman saat itu?


Mungkin pria itu masih saja tenggelam menikmati masa-masa jabatan barunya sebagai duda.


Lalu dengan gagah melangkah maju menuju meja sidang. Berhadapan dengan para dosen tentu saja membutuhkan kesiapan.


Menguasai materi dan mempersiapkan mental.


Kini tiba masanya ia memakai jubah dan toga. Mengakhiri segala urusan di kampus itu.


Di dampingi ayah dan bunda, mereka berpose dengan senyum sumringah.


Di sebelah sana nampak Kania.

__ADS_1


Wanita cantik dengan perut sedikit membuncit. Berpakaian hampir sama dengannya.


Make up tipis dan sanggul simpel semakin mempercantik tampilan Kania.


Di sampingnya seorang pria dengan


setelan jas memeluk erat pinggang sambil ikut tersenyum ke arah kamera.


Bukan Kanianya yang menjadi pembahasan, tapi mimpi dan angan-angan Linggar.


Andaikan saja!


Tak ada perceraian.


Rindi harusnya ikut berdiri di sampingnya dengan penampilan yang tak kalah cantiknya dengan Kania. Dengan perut besar, yang berisi janin hasil kerja kerasnya.


Ia akan memeluk pinggang Rindi seperti yang dilakukan oleh suami Kania. Sambil tersenyum di depan kamera, mengambil beberapa gaya seru ataupun romantis.


Tapi itu semua hanya sekedar angan-angan yang memang sekedar angan belaka. semua itu tak terjadi.


Dirinya hanya berdiri didampingi ayah dan bunda, tanpa Rindi.


Andaikan saja!


Wajah yang tadinya ceria, kembali berubah menjadi sendu.


Bunda mengikuti arah pandangan Linggar yang menatap sepasang suami istri dengan sang istri yang sedang mengandung.


Bunda yakin sepenuhnya jika putranya itu kembali mengingat mantan istrinya. Berharap pemandangan di sebelah sana, juga bisa di alami sang putra. Tapi bagaimana?


Menelpon Rindi, dan memintanya untuk datang?


Memohon?


Tidak Mungkin!


Biarlah seperti ini. lambat laun Linggar akan melupakan Rindi, seiring dengan berkurangnya intensitas pertemuan mereka.


Linggar akan menemukan wanita lain dan akhirnya bahagia.

__ADS_1


Hidup itu simple!


Jika memang cinta tak ada, tak usah dipaksakan.


__ADS_2