Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Mencari Alasan


__ADS_3

“Kamu juga harus makan, jangan sampai sakit. Kalau kamu sakit terus siapa yang jagain Rindi. Kamu juga siapa yang jagain? Aku gak mau loh, kasian dedenya kalau mamanya harus begadang jagain sepasang kekasih yang lagi sakit.”


Kakinya melangkah mendekati nakas karena Linggar tak kunjung meraih pemberiannya, capek juga rasanya.


Melihat interaksi yang terhitung dekat membuat kening bunda berkerut namun tetap tersenyum saat pandanganya dengan Rima saling bertabrakan.


“Anda siapanya Rindi?”


“Oh, suami saja kerabat dekat Rindi bu.” Membalas senyuman bunda.


“Ooooh, perkenalkan saya bundanya Linggar.”


Rima saling melempar pandangan dengan suaminya, kemudian sama-sama memandangi Linggar yang hanya tertunduk.


Apa kakak Linggar telah memberi tahu orang tua mereka? Tapi wajah itu tak sedikitpun menampakkan raut kemarahan ataupun kekecewaan.


Tunggu! Tunggu!


Apakah bundanya Linggar tidak melihat stempel kebiruan di sekitar wajah anaknya? Atau memang sudah tahu dan


membiarkan saja?


Jawabannya, Bunda Linggar terlalu sibuk memperhatikan Rindi yang sedang terbaring lemah hingga melupakan kondisi putranya sendiri.


Ditambah lagi Linggar yang selalu menunduk memang menghindari tatapan bunda.


"Saya Rima bu, senang sekali bisa bertemu dengan orang tua Linggar." Rima yang mencoba menepis keter-kejutannya.


Merenggangkan kedua tangan untuk memeluk Bunda. Kedua wanita itu kini saling berpelukan.


"Pantas saja Linggar tampan, bundanya cantik kayak gini." Rima saat pelukan mereka terlepas.


Sementara suaminya memilih berbalik dan duduk di sofa, membiarkan istrinya dengan segala celoteh yang terucap.


Mendengar pujian itu, membuat bunda tersipu malu.


"Kamu juga cantik. Rindi juga cantik. Keluarga kalian cantik-cantik, baik-baik pula." Bunda yang membalas pujian Rima.


“Linggar sini dulu, aku mau kasi vitamin buat kamu. Kamu pasti capek karena begadang jagain Rindi.” Mencoba


mengalihkan Linggar sebelum memang kelihatan jelas di mata bunda.


"Bunda saya pamit pinjam Linggar dulu yah, gak pa-pakan? Cuma mau ngasih Vitamin buat penjaganya Rindi bun." Ucapnya pada Bunda.


"Iya gak pa-pa. Memang perlu juga buat jaga staminanya. Kalau disuruh pulang istirahat belum tentu mau dia ninggalin Rindi kayak gini."


Pikiran bunda tentang keluarga Rindi yang risih dengan keberadaan Linggar ternyata berbanding terbalik dengan apa yang bunda lihat. Keluarga Rindi ternyata baik-baik pikirnya. Bahkan anaknya mendapat jatah sarapan pagi juga.


Rima berbalik diikuti Linggar di belakangnya. Mereka turut bergabung dengan suami Rima yang terlebih dahulu


duduk di sofa.


“Bunda kamu sudah tahu?” Ucapnya berbisik di telinga Linggar. Seketika itu pula mendapatkan pelototan dari sang


suami karena terlihat terlalu dekat.

__ADS_1


Hehehe..... Rima tersenyum ke arah suaminya, bergeser sedikit agar tak terlalu dekat dengan Linggar.


“Gak tau kak, tapi kayaknya belum deh. Bunda memang sudah nyuruh kita menikah waktu aku bawa Rindi ke rumah. Katanya takut kecolongan.” Ikut berbisik.


“Memang kecolongankan?” Rima tersenyum, tapi sungguh senyumnya itu tak enak dilihat.


Mereka berbicara dengan masih berbisik-bisik.


“Oh iya, sampai lupa.” Rima merogoh tasnya dan mengeluarkan sesuatu yang berbentuk stick dari sana.


“Bundamu sudah liat muka bonyok kamu ya?” Menyerahkan stick itu pada Linggar.


“Pakai ini, untuk menutupi lebam di mukamu. Cepat!”


“Ini apa kak?” Linggar masih memegang stick itu dengan menatap Rima.


“Udah pakai aja cepat, sebelum bundamu liat muka kamu!”


“I-iya kak, terima kasih.” Lalu segera keluar dari ruangan itu.


“Eh, mau kemana?” Bunda yang melihat anak bungsunya membuka pintu.


“Cuma bentar bun, bentar balik lagi.”


Bunda berjalan menghampiri Rima dan suaminya.


“Silahkan duduk bu, kita tunggu Linggar di sini saja.” Rima memang wanita yang baik. Terlebih pada orang yang lebih pada orang yang lebih tua.


“Boleh bunda bicara?” Bunda.


Suaminya itu terlihat sibuk dengan ponselnya.


“Bunda ingin melamar Rindi untuk jadi istri Linggar, anak bunda. Boleh?”


Membuat suami Rima mampu mengangkat kepalanya memandang bunda lalu berganti menatap sang istri yang juga melakukan hal yang sama.


Secepat inikah mereka bertindak?


Tapi mungkin itu lebih baik sebelum, perut Rindi yang menurut mereka sedang hamil itu membesar.


“I-iya bu, kami akan menyambut niat baik kelurga Linggar.”


“Jadi kapan keluarga anda akan datang? Kami akan mencoba membicarakan dengan keluarga Dira. Semoga saja Dira juga bisa membujuk orang tuanya.”


Mungkin ia sedikit lebih lancang, pasalnya ia bukanlah keluarga inti Rindi. Mottonya kali ini adalah, “Lebih cepat lebih baik.”


Toh, baru ingin di bicarakan.


Segala keputusan tetap pada keluarga calon mempelai.


Indera pendengaran bunda justru menangkap hal yang aneh. Bukannya anaknya telah menjalin hubungan dengan Rindi, tapi kenapa wanita hamil itu justru beberapa kali menyebut nama Dira yang sebenarnya ia tak tahu siapa.


“Bukan, maksud tante itu Rindi bukan Dira.”


Rima hanya tersenyum menanggapi ucapan bunda Linggar. Sepertinya ada sedikit yang harus diperjelas.

__ADS_1


“Dira itu Rindi bu. Namanyakan Rindiandira. kalau di rumah lebih akrab dipanggil Dira tapi kalau teman-teman kuliahnya manggil RIndi.”


“Oooooh gitu yah. Kirain lain orang, hehehe.”


“Tapi orang tua Rindi emmmm Dira mau gak ya?”


“Biar saya yang bicara sama orang tua Rindi. Saya hanya minta doa saja, semoga semua di mudahkan.”


“Ya pasti dong. Kan untuk anak tante juga.”


Entah apa dan bagaimana Rima membujuk orang tua Rindi hingga kata ya berhasil ia dapatkan.


“Nikah aja dulu, pestanya menunggu Linggar lulus kuliah. Kalau bisa masalah kehamilan ditunda dulu.”


Itulah point penting yang menjadi kesepakatan keluarga.


Tapi jika memang kehamilan Rindi tak bisa lagi di tutupi, mau tak mau orang tua pasti akan menerimanya. Yang jelas sekarang mereka telah mengantongi restu untuk segera menikah, itu saja dulu.


“Kak, ibu tahu gak?” Rindi saat Rima kembali menyambanginya.


Ia tahu semua kesepakatan itu terjadi karena bujuk rayu Rima pada ibunya.


“Kamu tenang saja, ibu ngerti kok. Ibu juga takut kalau anak gadisnya kecolongan." Sambil mengupas buah apel buat Rindi.


“Ibu nyari aku?” Karena sejak bersama Linggar di hotel hingga di rawat di RS selama dua hari ia belum pernah


pulang atau bahkan memberi kabar pada ibunya.


“ Aku bilang sama ibu, pengen pinjam kamu dulu buat temani aska sama dede.” Wanita ini masih tersenyum meskipun hatinya juga sakit ketika melihat Rindi terluka seperti ini.


Ia tahu jika wanita ini berada dalam fase keterpurukan. Hanya karena satu kejadian, membuat mereka semua harus


memutar otak secara bersamaan.


Tentang bagaimana menikahkan mereka tanpa membuat para orang tua tahu tentang kejadian yang sesungguhnya.


Tentang bagaimana nasib kuliah para tersangka setelah ini? Dan banyak hal lain.


Dan sekarang mereka banyak berbohong hanya karena mencari alasan yang tepat.


To Be Continued!


Jangan lupa jarinya di goyang yah!


Minta sumbangan likenya dong!


Duh ngantuk.


Ada kopi gak?


Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.


Yah!Yah!Yah!Yah!


Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.

__ADS_1


__ADS_2