Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Pelan-Pelan Saja!


__ADS_3

Dengan laptop di hadapannya, laporan skripsi terpampang di layar. jari-jari ditekuk di atas keyboard.


Tapi hingga beberapa saat, Tak ada satupun kata yang mampu Iya ketikkan.


Linggar justru fokus pada keadaan rumah tangganya.


Memilih mematikan lalu menyimpan laptopnya.


Dua minggu lebih mereka berada dalam satu ikatan suci.


Tapi selama dua minggu ini pula ia tak pernah lagi merasakan hangat sentuhan Rindi. Tak ada pelayanan dari seorang istri untuk dirinya selaku suami.


Menunggu tiga bulan lamanya bukanlah masa yang singkat.


Panjang.


Sangat panjang untuk ukuran pria yang pernah merasakan indah surga dunia.


Beruntung kalau Rindi hamil, rumah tangganya bisa selamat setidaknya hingga anak mereka lahir.


Jika tidak? Ia akan dipisahkan dengan wanita yang ia cintai itu.


Rasa gelisah kian mendera, saat pekat semakin membuat resah.


Hujan gerimis semakin menambah keinginan untuk merasakan sebuah sentuhan hangat.


Dingin menyambar tubuh hingga mampu membangunkan sang kaptennya dari tidur lelapnya.


“Kenapa?” Duduk bersandar di head ranjang sambil memandang kapten yang sedang berdiri tegak. Mengajak berbicara pada kapten yang entah mengerti atau tidak dengan setiap perkataan yang ia ucapkan. Selimut telah disingkirkan, memberi ruang tersendiri pada sang kapten agar tak terlalu tertindas.


“Kamu rindu sangkarmukan?”  Ucapnya lagi.


“Enak banget yah di sana?” Kini diiringi sengan senyuman yang melambangkan suatu perasaan aneh.


“Pengen lagi kan?” Masih terus berbicara dengan sang kapten, seolah kaptennya itu mendengar seluruh ocehannya.


“Sama aku juga pengen. Pengen banget malah.” Kini ia telah berguling-guling ke kanan dan ke kiri sambil memeluk erat gulingnya.


Memilih tidur berbalik ke satu sisi dengan guling yang erat berada dalam pelukan. Menganggap guling itu sebagai istrinya.


“Rin, kangen." Ucapnya, semakin mengeratkan pelukan. Menatap lalu mengecup gulingnya. Menganggap guling dalam dekapannya itu sebagai Rindi.


Hempasan napas kasar menandakan ia sedang putus asa.


Ah, tidak! Tidak!


Masa iya dirinya harus kalah pada keadaan.


Bukankah setiap masalah harus dihadapi bukan justru dihindari.


Saat semuanya mungkin telah terlelap dalam gelap malam, ia lebih memilih beranjak dari tempat tidurnya.


Berdiri di depan pintu kamar yang didiami oleh sang istri.


Berdiam diri di sana cukup lama.

__ADS_1


Menimbang apakah ia akan mengetuk atau hanya tinggal menatap pintu itu entah sampai kapan.


Nyatanya ia tak cukup memiliki nyali hanya untuk mengetuk pintu itu.


“Heh, kamu ngapain di sana?” Saat Dihyan mendapati Linggar yang terdiam di depan kamar Rindi.


Lelaki itu terhentak namun masih terpaku dalam diamnya.


“Sini-sini, ikut aku!” Dihyan menggiring Linggar meninggalkan kamar Rindi dan membawanya masuk ke dalam ruang kerja.


Sang pemilik rumah membuka laci meja kerjanya.


“Nih!” Memberikan sesuatu pada Linggar.


“Apa ini om?” Dengan botol kecil di tangannya, memandang pria  yang kini bertolak pinggang dengan kedua tangannya.


“Aish, kamu panggil istriku kakak, lalu kamu panggil aku om? Apa aku setua bapakmu?” Dihyan melayangkan protes.


“Emm, maaf kak! Tapi ini apa?” Menunduk, memilih menatap barang mini di tangan. Mencari tahu tentang judul dan kegunaannya.


“Sini-sini!” Dengan satu tangan memanggil Linggar untuk lebih mendekat.


“Obat tidur.” Bisiknya tepat ditelinga Linggar.


“Buat apa om?” Linggar dengan kening berkerut.


“Aissh, kamu memang harus diberi pelajaran. Sudah aku tak mau membantumu lagi baikan sama Dira.” Dihyan yang berjalan dan duduk di kursinya. Masih kesal hanya karena sebuah panggilan yang tidak konsisten.


Mendengar nama Dira, seketika otak Linggar bekerja dan mulai mencerna apa yang akan pria ini lakukan.


“Ma-maaf kak, tapi obat ini buat apa?” Tanyanya, memperbaiki panggilan yang mungkin menyinggung pria itu.


“Buat Dira, kamu kasi dia obat tidur. Jadi kamu bisa membuahinya hingga hamil. Jadi kalian gak jadi cerai.”


Ya ampun, pelajaran dari mana itu? Memberi obat tidur pada istri sendiri. Heh!


“Tapi Rindi, eh maksud saya Dira mengunci pintu kamarnya.” Ucapnya lesu. Pria muda itu sepertinya berada dalam fase keputus asaan.


“Kamu lupa yang punya rumah ini siapa?” Dihyan dengan pedenya.


Oh, astaga pria ini benar-benar malaikat penolongnya. Setidaknya ia memiliki pendukung saat ini. Meskipun otaknya masih mumet memikirkan tentang hubungan keluarga mereka.


Lelaki yang berada dihadapannya saat ini merupakan kakak dari kakak ipar Rindi. Tapi mengapa Rindi lebih terlihat dekat istri beliau dibandingkan dengan kakak iparnya sendiri.


Dan ide apa tadi, sepertinya seperti? Tau ah, kita coba saja dulu!


“Kamu siap?”


“Siap!” Jawabnya tegas. Seperti seorang prajurit yang siap untuk berperang melawan musuh.


“Ayo!”


Mereka mulai berjalan kembali ke arah kamar yang ditempati Rindi, setelah sebelumnya mengambil beberapa kunci yang sudah dipastikan itu adalah kunci duplikat.


“Kamu jagain, aku yang mencoba buka pintunya!” Perintah dari sang bos.

__ADS_1


“Jagain istriku, jangan sampai dia liat kita. Mati aku!” Ucapnya lagi.


Ah, ternyata pria tampan nan tegas itu sama seperti suami-suami lainnya yang takut dengan istri.


Dirinya kini seperti anggota komplotan pencuri yang akan mencuri di rumah salah satu anggota komplotan mereka. Seperti sesuatu yang penting karena ini menyangkut anggota komplotan sendiri.


Dan ia harus banyak-banyak berterima kasih pada bosnya, yang telah banyak membantunya. Yang rela menerima semua ancaman dari sang istri. Terlebih lagi sang bos juga termasuk dalam gang suami takut istri.


Sang bos memulai aksinya, mencoba memutar kunci, membuka pintu dengan sangat hati-hati.


“Terbuka. Masuk!” Sang bos telah mendorong anak buahnya untuk melanjutkan aksi seorang diri, setelah itu tugas sang bos selesai.


Pintu kembali di kunci.


Tinggallah Linggar yang berdiri di balik pintu, memikirkan apa yang harus ia lakukan sekarang?


Gelap.


Rindi terbiasa tidur dengan lampu yang padam. Hanya cahaya lampu dari luar yang mengintip dan membantu penglihatan.


Selangkah demi selangkah membawa dirinya semakin mendekat ke ranjang tempat Rindi tengah berbaring di bawah selimut.


Perlahan Linggar menempatkan dirinya diatas ranjang tepat di samping Rindi. Merogoh kocek saku celana pendeknya, tempat botol kecil tadi bersemayam untuk sementara waktu.


Ia kembali memandangi sebuah botol pemberian dari sang bos, lalu berpindah menatap punggung sang istri.


Sepertinya ini hal yang janggal menurut hati dan pikirannya.


Haruskah ia menjalankan perintah sang bos? Memberi obat tidur pada istrinya sendiri lalu menanam bibitnya di --sana?


Mengapa harus pakai obat tidur segala?


Bukankah mereka suami istri yang kini telah sah dimata hukum dan agama? Di mana letak kesalahannya?


Ia kembali menatap wujud Rindi.


Apakah istrinya itu tak akan marah ketika tahu apa yang ia lakukan?


Ia hanya mampu mengehela napas panjang secara perlahan, sangat pelan jangan sampai membuat Rindi terbangun. Tiadakah ruang dihati gadis itu yang mungkin bisa ia singgahi?


Istrinya itu lebih memilih mengikuti arahan kakaknya dari pada ia yang berposisi sebagai suami.


Dan dengan perlahan pula menempatkan diri berbaring di samping istrinya, kembali menatap punggung wanita yang dulu sangat ia rindukan. Bisa tidur berdampingan seperti ini sungguh suatu hal yang luar biasa baginya. Tapi seolah belum cukup.


Inginnya ia menarik tubuh itu masuk ke pelukannya. Tapi apa RIndi tak akan marah jika tahu aksinya ini?


Biarlah, seperti ini saja dulu.


Cepat tidur, ia akan bangun subuh hari sebelum penghuni kamar ini bangun terlebih dahulu.


Kata yang di sana, "Pelan-pelan saja!"


\=\=\=\=\=\=\=\=


Scroll aja ke bawah.

__ADS_1


Kita lanjut dua episode hari ini.


__ADS_2