
Waktu terus berputar.
Meskipun terasa lambat.
Pada kenyataannya jarum jam tetap berputar selama dua puluh empat jam dalam sehari.
Sepekan yang terdiri dari tujuh hari, menggiring bulan yang berusiakan tiga puluh hari.
Waktu tetaplah berjalan secara periodik, tak ada yang berubah.
Hanya saja, sakit dan bosan mampu membuat waktu terasa lebih lama.
Merasa seolah tahun sedang merangkak.
Dua tahun berlalu. Entah perhitungan itu dari usia pernikahan atau perceraian mereka.
Rasanya hampir seusia, hanya beda bulan saja.
“Om, bisa request?” Seorang pria yang kini telah berdiri tepat di depan meja sang pemilik perusahaan.
“Apa?” Tanya pria paruh baya itu.
“Man power.” Sang pria muda.
“Devisimu tidak mengajukan permintaan karyawan. So?” Sambil mengerutkan keningnya, menunggu penjelasan.
“Permintaan khusus, boleh?” Menampilkan senyum nyengir berharap pria di depannya itu akan luluh.
“Ada yang spesial?”
“Ada. Rindiandira Ningsih. Boleh ya?” Senyum semakin merekah. Pengharapan semakin besar saja.
“Jangan macam-macam dengan bawahan. Kamu lupa peraturan di sini? Tak ada hubungan dalam satu ruang.”
“Iyaaa, tau om. Aku juga gak macam-macam.” Yang penting saat ini, tujuannya tercapai dulu.
“Kamu tak mengalami kekurangan tenaga. Tak ada alasan untuk mengajukan permintaan tenaga tambahan, kecuali ada mutasi.”
Mutasi? Apakah itu perlu untuk mendapatkan seorang Rindiandira?
“Baiklah." Setidaknya permintaannya ini terkabulkan.
Meskipun Ia harus memutar otak, keputusan apa yang harus ia ambil setelah ini. Apakah mengorbankan salah satu anak buahnya? Lalu siapa? Semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.
Berjalan ringan keluar dari ruangan om Adit dan kembali ke ruangan devisi keuangan B namun otaknya tetap berada di lantai dasar. Tepatnya di depan ruangan tempat di langsungkannya tes penerimaan karyawan.
Jika gadis itu masuk ke devisinya otomatis akan menjadi begitu banyak kesempatan baginya.
__ADS_1
Membuka pintu ruangan di mana beberapa meja dan kursi tersusun di setiap sisi ruang. Dan meja di sudut kanan sana menjadi tempatnya bersarang sepanjang jam kerja.
Ceklek.
Ia baru saja masuk dan mendapat sebuah kejutan dari salah satu personilnya. Dipertemukan dengan seorang gadis yang sedang membawa sebuah cangkir kopi di pintu masuk. Sama-sama tidak siap membuat mereka berdua sama-sama kaget, hingga sang gadis menumpahkan ampas kopi ke kemejanya.
“Aduuuuhh,” Sambil menatap pilu kemeja dan dasi yang kini berlumuran ampas kopi. Warna mocca telah berubah menjadi hitam pekat.
“Ma-maaf pak. Aku gak tau kalau bapak ada diluar. Beneran pak sumpah. Gak tau!” Ucap gadis itu, dengan gerakan cepat berbalik ke meja terdekat untuk mengambil tissu dan mengusap pelan pada dada atasannya.
“Gak usah-gak usah. Biar aku sendiri!” Dan merebut tissu yang berada di tangan Citra.
“Pak beneran aku gak sengaja. Maaf ya pak!” Citra yang terus berjalan di belakangnya.
“Iya, sudah! Kembali bekerja!”
“Baik pak, terima kasih!”
“Ada apa?” Mbak Tia saat melihatnya tersenyum.
“Gak papa.”
“Kok, horor yah? Harusnya Citranya kena semprot abis numpahin kopi ke baju bos?”
“Aku bukan orang pemarah yang ngurusin hal kecil kayak gitu. Cuma mikir ini, kalau di lepas aku jadi gak pake baju. Mau pulang nanggung, bisa-bisa gak balik ke sini lagi sampai besok.” Menyampaikan alibinya, yang ternyata bukan menjadi sebab senyumnya berkembang.
“Basuh sedikit trus bisa dikeringkan pake hand dryer!”
Saran mbak Tia tak boleh disia-siakan.
Kembali berjalan ke luar menuju ke toilet kantor melakukan ritual sesuai saran mbak Tia, selanjutnya melanjutkan langkahnya kembali ke ruang Presdir.
\=\=\=\=\=
“Pak, apa ada kesalahan?” Citra sambil memegang amplop putih di tangannya.
“Kenapa?” Tanyanya dengan raut bingung. Entah benar-benar bingung atau hanya bingung buatan.
“Aku kena mutasi.” Citra sambil tertunduk lesu.
“Loh kok bisa?” Tanyanya masih dengan raut bingung sambil mengulurkan tangan seolah meminta amplop putih yang berada di tangan Citra.
Setelah membaca surat mutasi Citra, “Tapi masih devisi keuangankan? Berarti Cuma pindah ke sebelah. Mereka memang kurang tenaga. Ya ga papa kalau kamu rindu sama Kamil bisa ke sini jalan-jalan!” Ucapnya menyerahkan kembali surat mutasi Citra.
“Jadi pindah mulai kapan tuh?” Tanyanya lagi. Mungkin memang tak memperhatikan surat mutasi itu. Padahal di sana jelas-jelas tertulis bagian yang di tuju dan tanggal peralihan.
“Hari senin depan.” Citra yang masih terlihat lesu seolah tak terima dirinya dimutasi.
__ADS_1
“Ya, udah coba bagi kerjaan sama mereka dulu! Gak usah sedih sedih gitu dong, kita juga ikut sedih nih! Padahal cuma dipisahin tembok doang.”
“Bapak marah gara-gara kemarin?” Wajah gadis itu terlihat sendu.
Bertanya apakah hanya karena ketidak sengajaannya sampai ia harus di mutasi. Merasa tak ada alasan lain untuknya mengingat kinerja dan loyalitasnya lumayan bagus.
“Loh, kok jadi aku? Gak ada yang marah Citra. Namanya juga gak sengaja.” Pria itu hanya melirik sekali lalu kembali menatap layar dihadapannya. Ia pria yang tak mampu berbohong berlarut-larut. Bisa-bisa tawanya meledak jika melihat ekspresi kesal seseorang karena tingkahnya.
“Coba tanya sama Personalia, atau sekalian tanya sama pak Adit tuh!”
Pak Adit sebagai pihak tertinggi di perusahaan mana mau urus urusan kecil seperti ini, malah disuruh tanya ke sana.
Ia berdiri menghampiri Citra, menepuk pundak gadis itu secara pelan berharap mampu menenangkannya.
Mutasi, satu kata yang sangat dihindari oleh banyak karyawan. Di mana mereka harus kembali memulai dari awal.
Beradaptasi, atau belajar tentang tugas baru.
“Kalau Citra pindah, kita kekurangan tenaga dong?” Kamil.
“Ya kita ikut dulu maunya perusahaan seperti apa!” Ia harus berlalu secepat mungkin, meninggalkan yang lain yang sedang bersedih karena kehilangan salah satu teman seperjuangan.
Di balik punggung, ia justru mulai tersenyum selebar mungkin.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Dengan diantar Riswan, seorang pria dari bagian personalia, Rindi berjalan menuju ke devisi dimana ia ditempatkan.
Sedikit risih mungkin karena sejak tadi ia merasa diperhatikan oleh pria yang berjalan bersamanya saat ini.
Tapi ia tak bisa berbuat banyak. Bahkan untuk mengeluarkan sepenggal katapun harus dipikir hingga benar-benar matang.
Mengingat dirinya adalah karyawan baru di sini, dan hari ini adalah hari pertamanya bekerja. Tak terlalu banyak yang ia tahu di sini, termasuk pria di sampingnya ini.
Hanya mampu meluruskan pandangan dengan seyum tipis tak pernah lepas dari wajah. Bukan bermaksud menggoda atau cari perhatian, hanya ingin sedikit terlihat lebih sopan dan ramah meskipun sedikit kikuk.
Tok.
Tok.
Tok.
Riswan mulai mengetuk sebuah pintu, mungkin ini akan menjadi markas baru Rindi.
“Silahkan masuk!” Jawaban dari dalam.
“Selamat pagi menjelang siang!” Riswan sambil tersenyum dengan seluruh penghuni ruangan. Ada lima meja di sana, namun saat ini hanya menampilkan tiga orang.
__ADS_1
“Atasan kalian mana?” Riswan.
To Be Continued!