
Kenapa tidak mau berkata jujur padanya, jika Rindi memilih untuk pulang bersama Riswan daripada dengannya.
Matanya menyorot dalam kekecewaan.
Kekecewaan karena Rindi tak berkata jujur dengan siapa akan menghabiskan sore ini.
Lagi-lagi Rindi menghianati cintanya.
Cinta?
Hah, ia lupa selama ini tak ada hubungan pasti antara dirinya dan Rindi.
Ia tak pernah mengungkapkan rasa pada Rindi. Pun dengan RIndi tak pernah mengatakan apapun tentang perasaan padanya.
Tak ada ungkapan cinta atau sayang, pun sebagainya.
Yang Rindi lakukan selama ini murni karena ia yang selalu sedikit memaksa.
Hah, Rindiiii..... Rindi......
Seandainya wanita itu tahu betapa besar rasa cinta Linggar terhadapanya, ia tak kan pernah menyia-nyiakan itu.
Atau setidaknya cobalah untuk jadi Linggar meski hanya sebentar saja.
Hingga kau tahu betapa sakitnya dikhianati.
Betapa kecewanya saat diabaikan.
Betapa kosongnya ditinggalkan.
Mungkin Rindi akan lebih setia.
Apa yang kini harus ia lakukan?
Turun dari mobil dan mendatangi mereka? Lalu melayangkan bogem pada Riswan karena telah mengganggu dan menggoda Rindi.
Hahahahaha.
Sudah jelas dalam penglihatannya tadi jika Rindi tengah tersenyum saat hendak masuk ke mobil Riswan?
"Brengsek!"
"Brengsek!"
"Brengsek!"
Memaki keras sambil memukul-mukul kendali mobil.
Haaah, Menghembuskan napas kasar yang keluar dari mulut. Berupaya melerai rasa yang ada.
Sesak, kesal dan amarah kini tengah reuni dalam hatinya.
Rasa ingin memukul kembali datang. Mungkin dengan begitu sedikit melegakan baginya.
Tidak!
Ia akan terlihat bodoh dan belum dewasa.
Hanya akan mempermalukan diri sendiri saja.
Kini ia harus beranjak.
Beranjak dari tempat ini dan mungkin juga beranjak dari hidup Rindi.
Beranjak dari hidup Rindi?
Beranjak dari kesalahan yang sama.
Ya, mungkin itu lebih baik.
__ADS_1
Memandang lurus ke arah sana, di mana mentari semakin condong ke barat.
Heeeh. Semestanya rasanya sekarat saat punggung itu menjauh sirna. Dan di ufuk barat, tak pernah terlihat senja lebih bermuram durja.
Lelah, lelah rasa hatinya.
Cinta Rindi terlalu jauh untuk ia gapai.
Sebelum hatinya kembali terluka seperti dulu.
Cinta aku menyerah!
Ia sadar dalam hal ini, ia melakoni sebuah kisah yang berjudul cinta sendiri.
Bukan hal yang mudah memang untuk seorang Linggar.
Mencintai begitu dalam, ternyata membuat kesakitan yang begitu dalam pula.
Rindi tak pernah menerima cintanya. Tak pernah membalas perasaannya. Dan tak pernah menghargai kesetiaannya.
Rindi tak pernah tulus padanya.
Sebesar apapun cintanya pada Rindi, tetap saja tak berharga.
Benar kata bunda, "Banyak cinta yang bertebaran di muka bumi. Dan ia hanya butuh satu dari ribuan cinta itu."
Kini ia berada di persimpangan jalan. Memilih antara lurus ke depan tetap bersama wanita yang dicintainya selama ini, dengan hati yang siap terluka kapan saja.
Atau mencari cinta lain dan memulai hidup baru.
Pernapasan yang teratur mungkin sedikit bisa menghilangkan ke mumet yang ada.
Ia harus tetap melangkahkan kaki meskipun tanpa Rindi.
Ia harus bahagia.
Mungkin memang ia dan Rindi tak berjodoh.
Mungkin hari-hari selanjutnya kembali akan di isi dengan kerinduan.
Kerinduan yang tak bertuan.
Hidup bersama dengan orang yang dicintai memang sangat menyenangkan. Tapi bagaiman jika orang itu tak mencintai kita?
Apakah kebahagiaan akan tetap ada?
Kartika mungkin?
Wanita yang pernah mengisi hidupnya sebelum kehadiran Rindi.
Wanita yang beberapa minggu lalu ia temui dalam sebuah acara reuni sekolah.
Wanita yang beberapa kali mengiriminya pesan singkat, namun tak pernah ia balas karena menghargai dan menjaga hati seseorang.
Seseorang yang lebih memilih pergi bersama pria lain selain dirinya, Argggggg.....!
Mobil menepi setelah setengah perjalanan.
Merogoh saku celananya, mengeluarkan alat komunikasi dari sana.
" Baik. Kamu apa kabar?" Membalas pesan Kartika yang mungkin sudah basi jika saja itu seporsi makanan.
Hembusan kasar terdengar dari hidungnya, kembali menguatkan hati yang rasanya semakin sakit saja.
Entah ini baik untuknya atau tidak. Setidaknya mungkin ia harus sedikit berusaha. Meraih cinta, mengukir asa.
"*Baik. Lagi ngapain?" * Tak membutuhkan waktu lama untuk mendapat balasan dari Kartika.
*"Di jalan baru pulang kantor." *Linggar.
__ADS_1
*"Aku juga baru pulang. Ada waktu? Mau bertemu?" *Kartika.
Wah ternyata wanita itu memiliki semangat yang tinggi. Tak apalah. Dicoba tak mengapa, gagal dicoba lagi!
"Bisa. Di mana?"
Di sebuah cafe kedua insan tersebut kini telah duduk saling berhadapan.
“Dari tadi?” Linggar yang baru saja menempati kursi tepat di hadapan Kartika. Senyum disumbangkan sebagai tambahan ucapan salam.
Andaikan wanita itu Rindi, ia pasti akan menempatkan diri di samping wanita itu. Lalu meraih tangan Rindi dan memainkannya. Sesekali mengecup, pasti lebih mengasikkan pikirnya.
“Baru aja.” Ucap sang gadis yang juga turut menyumbankan senyum indah.
“Udah pesan?” Tanyanya kembali sambil menyuguhkan senyum.
“Belum, tungguin kamu. Biar bareng.” Membalas senyuman Linggar dengan senyuman pula. Mungkin mereka bisa saling berbagi pengalaman atau membahas kenangan saat dulu.
“Pesan aja dulu,” Linggar dengan mata yang sedang menyapu tempat itu. Melambaikan tangan pada seorang karyawan resto.
“Samain aja sama kamu.” Ucapan sang gadis kembali membawa pikirannya terbang melayang.
Andaikan itu Rindi, mereka akan memesan menu yang berbeda. Lalu saling mencoba menu satu sama lain. Dengan begitu lidah mereka akan merasakan berbagai macam rasa saat makan bersama.
“Mbak, ada mushollahnya gak? Mau numpang sholat boleh?” Ucapnya setelah memesan menu makanan yang sama.
“Oh, ada di lantai atas pak. Silahkan pak!” Sang karyawan Resto ke salah satu arah.
“Aku juga mau,” Ucap sang gadis, masih menyuguhkan senyum manis.
“Kamu duluan atau aku duluan?” Tanyanya.
“Kenapa gak bareng aja?” Kartika yang justru mengajukan pertanyaan balik padanya.
Lagi-lagi membuatnya mengingat kebersamaan bersama Rindi.
Rindi akan mengajukan diri terlebih dahulu dan menyuruhnya untuk menjaga tas atau barang bawaan mereka, sambil tetap menunggu pesan mereka datang. Lalu berganti dirinya yang beranjak dan Rindi yang bertugas menjaga barang bawaan.
Heeeh, bahkan saat bersama wanita lainpun Rindi selalu saja datang meskipun tak berwujud.
“Boleh.” Jawabnya setelah menghembuskan napas kasar, mencoba menghilangkan bayangan Rindi yang sedari tadi mengganggu kebersamaannya bersama Kartika.
Berat memang.
Tapi setidaknya ia harus mulai membiasakn diri hidup tanpa bayang-bayang Rindi. Hanya untuk melanjutkan kebahagiaannya sendiri.
Melanjutkan pembicaraan mereka saat kembali duduk hampir bertepatan dengan pesanan mereka yang tengah disajikan.
Bahkan beberapa kali harus memutar otak agar pembicaraan tetap berlanjut.
Menatap sosok wanita yang berada di depannya, Linggar mencari kelebihan yang mungkin bisa membuatnya jatuh cinta dan melupakan cinta lama. Tak banyak banyak cukup satu saja.
Kartika cantik dan berkarir.
Sama seperti Rindi.
Tentunya dengan kecantikan yang berbeda.
Kartika dengan mata bulat dipadu dengan bibir minimalis.
Berbeda dengan Rindi yang menjadikan gigi ginsulnya sebagai andalan untuk menggaet lawan jenis.
Dan pipi yang imut meskipun sedikit telah menyusut dari saat sebelum mereka bercerai.
Bukan bermaksud untuk membandingkan. Hanya saja ingin mencari satu saja alasan untuk bisa mencintai dan melanjutkan hidup dengan bahagia meskipun tak bersama Rindi.
Jika memang ini yang terbaik untuknya.
To Be Continued!
__ADS_1
Likenya jangan lupa yah. Sama komen-komennya juga.
InsyaAllah DInda balas.