Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Kembali Mundur


__ADS_3

Citra.


Jika hanya sakit hati yang ia rasakan karena cinta tak terbalas, mungkin ia masih betah berada dan bekerja di sini.


Tapi, di balik sakit hatinya ada rasa yang lebih besar lagi. Rasa yang tak bisa ia tangguhkan dan sembunyikan.


Rasa malu yang begitu besar.


Apalagi jika harus bertemu, berpapasan di jalan atau melihat Kemesraan Rindi dan Linggar. Sungguh ia tak sanggup jika harus terus menyembunyikan malu di balik senyum yang terpasang di wajah.


Ruang kerja Rindi yang berdampingan dengan ruang kerjanya membuat Linggar akan berlalu di depannya.


Dan itu hampir tiap hari.


Lalu di mana ia akan menempatkan diri?


Bersembunyi?


Tiap hari pula? Tak mungkin.


Terus melangkah dengan wajah tertunduk, tas bertengger di bahu.


Sebuah kotak segi empat yang berada di pelukannya berisikan barang-barang pribadi mengiringi langkahnya beranjak dari sana.


Langkah terasa berat hatinya meninggalkan kantor sejuta Kenangan.


"Citra."


Suara itu berhasil menghentikan langkahnya. Diam di tempat tanpa membalikkan tubuh.


Tanpa melihat pun dia tahu suara itu milik siapa.


Seseorang yang mungkin sampai saat ini masih terlukis di hatinya, Linggar.


Pria yang tak akan pernah dapat ia raih.


Mulai berbalik badan menghadap ke arah Linggar. Keduanya berdiri saling berhadapan hanya dengan jarak tiga meter.


Hingga beberapa detik ke depan, tak ada kata yang terlontar diantara mereka. Hanya diam dan tertunduk.


" Kamu benar resign dari kantor?"


Pertanyaan itu mampu membuat senyum di bibir, meski tak tulus.


Citra mengangguk, masih dengan sedikit senyuman.


" Kamu nggak apa-apa?"


Pertanyaan kedua itu serasa lelucon baginya.


Mana ada orang yang sakit hati dan dia baik-baik saja?


"Maaf."


Ungkapan maaf dari Linggar Ia terima dengan kembali me-anggukan kepala dan masih dengan senyuman yang terpasang di wajah.


" Mungkin aku yang salah." Suara Linggar masih mendominasi. Sementara Citra Hanya terus menunduk menanti kata demi kata.


"Jangan membenci Rindi, aku yang terus mengejarnya."


"Aku ngak bisa hidup tanpa Rindi."

__ADS_1


"Emmm, mungkin bisa, tapi tak bahagia." Ralat pria itu dengan segera.


Ia masih diam membisu.


Apakah ia harus senang karena Linggar rela menemuinya sebelum benar-benar pergi?


Atau kesal, karena selalu saja dimulut pria itu hanya ada Rindi dan Rindi saja.


"Maaf juga dulu sempat membuatmu berharap!" Linggar mengakuinya.


Satu trik yang salah. Ketika mendekati seseorang hanya untuk mendapatkan orang lain.


Memang membuat orang itu jadi berharap, hingga akhirnya kecewa. Menjadikannya umpan demi mendapatkan Rindi.


Linggar berhasil!


Pun berhasil membuatnya patah hati.


"Bukan kok Kak." Ia pun mulai mengangkat suara.


"Aku dapat kerjaan lain di luar. Ya udah harus resign dulu dari sini." Kepala terangkat, setidaknya ia harus tetap menjaga harga dirinya.


Hengkang dari suatu tempat karena patah hati, alasan yang sangat lucu. Tapi ia bisa apa?


Kembali menghentakkan tubuh saat kotaknya sedikit meluncur.


"Benar udah dapat kerjaan?"


"Iya benar kok." Ia tak bohong. Meski pekerjaan itu tak jauh lebih baik dari perusahaan ini, tapi setidaknya mukanya tak terlalu ditebalkan.


"Good luck!"


Sepatah kata yang ia maksudkan dengan pengusiran secara halus.


Membalikkan badan, mulai menjauhkan diri dari pria penghuni hati.


Kembali menghentakkan tubuh demi menjaga agar kubus tak melorot.


Barang bawaannya itu lumayan  berat, dan ia harus berdiri beberapa lama hanya mendengarkan ocehan Linggar.


Ck, Linggar tak dapat, pegal iya. Keluhnya dalam hati.


\============


Pertemuan antara Linggar dan Citra yang entah sengaja atau tidak ternyata diketahui oleh Rindi.


Memilih menyembunyikan diri di balik tembok, memasang indera pendengaran sebaik-baiknya berniat menguping pembicaraan.


Ada rasa kesal, pun ada rasa bahagia.


"Aku ngak bisa hidup tanpa Rindi."


"Emmm, mungkin bisa, tapi tak bahagia."


Kalimat yang mampu membuat senyumnya mengembang dalam persembunyian.


Keluar dari balik tembok saat suara sepatu heels semakin menjauh.


Bahkan sempat mengintip saat Citra masuk ke dalam lift sambil memberi senyum pada Linggar. Disitu ada sedikit rasa cemburu yang menyenggol.


Segera berlari menghampiri Linggar yang masih berdiri menatap lift yang sudah tertutup.

__ADS_1


Linggar berbalik saat mendengar suara hentakan sedikit lebih kencang, sedikit terkejut saat Rindi melesat dan langsung menyambar tubuhnya. Melingkarkan tangan di pinggangnya.


"Eh, kamu,.. " Ucapnya terkejut.


Kening berkerut bingung. Beruntung kuda-kuda langsung terpasang secara kuat demi menahan bobot yang datapng secara tiba-tiba.


"Pelan-pelan!"


"Untung masih kuat nahan, kalau gak? Bisa jatuh bareng kita."


"Kamu gak malu kalau kita nyungsep trus diliat orang?" Omelan pria itu nyatanya diiringi dengan senyum mengembang.


Rindi berjinjit, memajukan wajah, mendaratkan bibir pada bibir merekah Linggar.


Membuat pria itu membuka mata lebar-lebar, terperangah.


Rindi menggeleng sambil menutup mata, bibir masih menyinggung senyum. Rambutnya yang terikat ekor kuda turut melambai di belakang.


"Kenapa?" Linggar disertai dengan kekehan ringan. Mungkin baru kali ini mendapati RIndi yang sedikit berani dan agresif. Turut melingkarkan tangan di tubuh sang kekasih hati. Ingin berlama-lama dengan keadaan ini.


Lagi-lagi Rindi tak menjawab, hanya menggeleng membuat rambutnya kembali mengibas di belakang.


Berjinjit, memajukan wajah kembali mendaratkan bibir ke bibir Linggar.


Linggar berdesisi pelan.


Wanita ini entah mengapa justru memancingnya. Bibir yang digigit perlahan dilepaskan dengan mata terpejam.


Linggar harus bisa menekan diri, ini kantor dan mereka belum menikah, tapi hasrat serasa mulai menggunung.


Kini gilirannya yang mulai memajukan wajah, menyamping di telinga RIndi.


Mulai berbisik, "Kamu mau kita melepaskan rindu di hotel?"


Kini berganti Rindi yang terperangah saat mendengar kata hotel dari bibir Linggar.


Wanita itu mulai melepaskan tangan yang terbelit dari tubuh Linggar. Beralih ke belakang punggung tempat Linggar menautkan kedua tangan yang menahan tubuhnya.


"Ck," Rindi berdecak kesal saat Linggar justru mengeratkan pelukannya.


Memilih menyampingkan wajah, menempel ke lengan atas Linggar dan menggigit.


Linggar melepaskan pelukan dengan meringis, sebentar menatap wajah Rindi dengan kesalnya.


Rindi yang baru saja berhasil lepas dari pelukannya, mulai membelakanginya dan berjalan menjauh.


Rindi masih sempat membalikkan diri, memajukan bibir gerakan mencium dari jauh. Kembali berbalik dengan indah membuat ekor kudanya kembali melambai menggoda.


"Dasar kanibal penggoda!"


\================


Dukungannya mohon di tiap babnya kak.


Biar upnya tetap semangat double.


Tuk buat yang ngasih bingkisan di sudut kamar, terima kasih banyak.


Buat semua dukungan teman-teman, 


Tengkyu!

__ADS_1


Tengkyu!


Tengkyu!


__ADS_2