
“Sini Rin!” Saat Linggar telah mendaratkan tubuhnya ke sebuah sofa panjang. Di depannya tergelar sebuah karpet bulu dengan beberapa bantal sedang tergelak di atasnya.
Nyatanya Rindi mengambil tempat sedikit lebih jauh dari Linggar. Mungkin karena ia masih memegang asas jaga
jarak yang bunda lontarkan tadi.
Otomatis itu membuat Linggar tak terima. Seketika itu pula menempatkan diri berada di samping Rindi, menghimpitkan tubuh gadisnya ke sudut sofa.
“Ishhh.” Protes gadis itu. Sementara Linggar hanya tersenyum menanggapi protes Rindi.
“Kadang ayah juga ikutan saat teman-teman ngumpul di sini.” Lanjutnya bercerita.
“Mau nonton atau mau nyanyi? Atau mau main ps?” tanyanya namun tak mendapat tanggapan dari Rindi. Ia telah
menekan tombol merah pada remote tv.
“Mau nonton apa?”
“Kuis? Film apa?” Tanyanya lagi sambil menatap Rindi seolah meminta ide.
Rindi tak menjawab lebih memilih meraih remote dari tangan Linggar, memilih tontonan aman saat bersama Linggar.
Sebenarnya ia ingin menonton drama kesukaaannya saat sedang bersama dengan teman-temannya. Apalagi kalau
bukan drak0r?
Namun untuk menontonnya saat bersama Linggar mungkin sedikit tidak aman. Pasalnya sering terjadi adegan saat
sepasang kekasih sedang bercumbu, merapatkan bibir memadu cinta.
Bisa saja Linggar menganggap Rindi memberikan kode agar mereka mempraktekkannya. Oh No! Big No!
Ia memilih tontonan yang diperuntukkan untuk semua orang. Tapi ah mungkin sedikit membosankan. Kembali menekan-nekan tombol remote mencari siaran yang bisa mengusir bosan.
Sementara Linggar memilih menikmati hidangan ringan di depan mereka.
Akhirnya pilihan jatuh pada film hero-heroan yang berasal dari negeri barat.
Linggar melirik Rindi yang baru saja meletakkan remote di atas meja dan tersenyum.
Tangannya mulai bergerak naik dan baru saja mendarat ke pundak Rindi namun segera di tepis berikut ocehan
dari mulut yang tak terdengar, “awas bunda,” katanya.
Linggar hanya tersenyum lalu mencibir dan tersenyum lagi.
Mungkin rugi baginya jika tangannya nganggur saat di dekat Rindi. Diraihnya tangan imut nan chubby lalu menyelipkan jari-jarinya di antara jari-jari tangan Rindi dan dibawa ke atas pangkuannya.
Beberapa kali mengusap lembut tangan itu dengan satu tangannya yang lain. Dan kembali menggenggam erat tangan Rindi dengan ke dua tangannya. Beberapa kali pula membawa tangan itu ke arah bibirnya. Mengecup lembut seolah menumpahkan segala perasaannya pada sang pemilik tangan.
Sementara Rindi?
Tindakan sepele yang justru mampu membuatnya melambung ke awang-awang.
Meskipun hanya diam membisu dan membiar Linggar berbuat semaunya pada tangan dan jari-jarinya bukan berarti ia baik-baik saja.
Pandangannya fokus ke depan, meskipun sesekali mencuri pandang pada mahluk yang berada di sampingnya yang tengah sibuk dengan tangannya.
Rindi hanya mampu menahan debaran jantung yang seolah sulit di kendalikan karena ulah Linggar. Beberapa kali ia harus menelan salivanya yang entah mengapa terasa sulit.
Ingin mengelak tapi ternyata ia suka dengan kelakuan Linggar ini. Hati serasa menghangat. Dirinya merasa sangat
istimewa.
__ADS_1
\======
“Rindi!” Sapa Iqram saat melihat Rindi baru saja memarkirkan motornya.
Ini adalah pertemuan pertama mereka saat sebelum Rindi diculik oleh Linggar di depan matanya.
Dan hari-hari selanjutnya Rindi terlihat tak menggunakan motornya saat tiba di kampus dan terlihat pulang bersama dengan Linggar. Mungkin Iqram telah menghafal kegiatan Rindi hanya dengan beberapa hari saja mengamati aktifitas itu meski dari jauh.
Tak menyisakan waktu untuknya hanya untuk sekedar menyapa Rindi.
Dan entah mengapa hari ini sepertinya aktifitas itu sedikit melenceng. Dan ini tak boleh disia-siakan oleh Iqram.
“Oh, hai.” Rindi yang membalas sapaan Iqram.
“Hai, apa kabar?” Tanya pria itu.
Entah mengapa situasi ini terasa lebih canggung dari pada hari-hari sebelum Linggar pulang.
Mereka seperti dua orang yang baru saja berkenalan.
Saling menatap lalu saling menunduk tersenyum seperti sepasang kekasih jaman anak SMP.
“Baru datang?” Pertanyaan bodoh yang dilontarkan pria itu. Jelas-jelas melihat Rindi yang baru saja meninggalkan area parkir motornya. Ya jelaslah baru datang.
Gadis itu hanya tersenyum mengangguk.
“Kamu?”
“Iya, sama aku juga baru datang.”
Sambil berjalan beriiringan saling melemparkan pertanyaan bodoh yang tak penting.
Langkah mereka terhenti saat melihat di depan sana seorang pria jakung sedang berdiri sambil berbincang dengan seorang gadis lain. Linggar melihat kedatangan mereka, meskipun sedikit lebih jauh.
Mengangkat tangannya ke arah Rindi dan Iqram seolah memperlihatkan posisinya agar gadisnya itu menghampiri.
Dan saat ia kembali mengangkat wajah untuk mengetahui posisi terbaru kekasihnya itu, entah mengapa Rindi dan
pria itu kini telah hilang dari tempat terakhir ia melihat.
Kemana gadisnya itu?
Tidak mungkinkan, Rindi hilang ditelan bumi?
Nyatanya Rindi segera menarik tangan Iqram dan berlari menuju ke belakang gedung kampus saat merasa pandangan Linggar tak terarah pada mereka. Setelah di rasa cukup aman, Rindi melepas pergelangan tangan Iqram yang sedari tadi ia cengkram.
Sambil mengatur napas yang sedikit berlomba mereka saling melemparkan pandangan satu sama lain, lalu tertawa bagai sesuatu yang lucu telah mereka hadapi.
“Kenapa harus lari?”Iqram yang sedikit bingung dengan tingkah Rindi namun tetap mengikuti pergerakan gadis
itu.
“Hah?” Rindipun yang bingung harus menjawab pertanyaan Iqram dengan apa. Hanya mampu melongo ke arah Iqram.
Sebenarnya iapun bingung dengan keadaan ini. entah mengapa ia lebih memilih berlari dan menghindar dari Linggar dari pada harus mendatangi kekasihnya tadi.
Apakah ia cemburu?
Ah tidak, hatinya kini baik-baik saja. Tak ada yang sakit sedikitpun.
“Ya udah, duduk situ yuk!” Iqram sambil menunjuk ke arah tepian bangunan.
Sambil berbincang apa saja, yang mampu menyita waktu mereka sebelum telpon Rindi terdengar berbunyi menandakan sebuah panggilan masuk.
__ADS_1
“Kamu gak masuk?” Suara dari seberang.
“Masuk kok, aku udah di kampus tapi di belakang gedung.” Rindi.
“Ngapain di sana? Dosennya udah ada. Lagi mojok sama Linggar?”
“Gak-gak ngapa-ngapain. Aku sama Iqram. Iya, tunggu, aku ke kelas deh!” Ucapan terakhir sebelum menutup
sambungan telponnya.
Lalu berdiri dan tak lupa membersihkan celana panjangnya yang sedikit berdebu karena tempat yang mereka duduki.
“Dosenku udah ada. Kamu?” Tanyanya pada Iqram yang memang beberapa bulan ini tak terlalu memperhatikan
jam kuliahnya karena gadis yang kini telah bersamanya telah banyak menyita waktu dan fikirannya.
“Iya, aku juga udah ada.” Meskipun ia tak tahu pasti apakah dosennya memang telah ada atau belum.
“Ya udah, ayo!”
“Aku antar.”
“Gak usah, kelas kamukan lebih jauh. Pulang sana!” Usirnya pada Iqram yang justru tak mendapat tanggapan. Dan
malah lebih memilih berjalan di dekat Rindi.
Sampai di depan kelas, terlihat Linggar yang kini duduk di sebuah bangku panjang sambil mengarahkan pandangannya lekat pada Rindi.
Sementara Rindi lebih memilih menundukkan pandangannya ke arah langkahnya yang menuntunnya masuk ke kelasnya. Tanpa ada niat memandang ke arah Linggar, lebih mengidahkan pandangan pria itu yang terlihat kesal padanya.
Buang-buang waktu saja, pikirnya.
Harusnyakan mereka bisa mencuri sedikit waktu untuk bersama sebelum dosen masuk ke kelas masing-masing.
Meskipun hanya say god morning.
Ternyata kelakuan Rindi adalah yang pertama dan terus berlanjut membuat Linggar geram. Bahkan saat istirahat
dan menunggu dosen mata kuliah berganti Rindi memilih tak ikut bergabung dengan teman-temannya di taman biasa.
Di kantin biasapun Rindi tak terlihat.
Dan saat di telponpun Rindi memilih tak menerima telpon darinya atau terdengar pemberitahuan telpon sibuk
dari operator.
Ada apa? Salahnya apa? Rindi kenapa?
Hingga membuat Rindi seolah menghindar padanya.
Begitu banyak pertanyaan yang kini berterbangan di atas kepalanya.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
__ADS_1
Yah!Yah!Yah!Yah!
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.