
Tidak mungkin Rindi selingkuh darinya. Itulah kepercayaan yang ia pegang hingga saat ini.
Iapun mulai melangkahkan kaki lebih panjang. Tanpa permisi tubuhnya menyerobot barisan diantara Rindi dan Iqram. Langsung menyambar tangan dan menggenggamnya erat segera berlalu tanpa kata membawa Rindi ke arah mobilnya.
Yang di tarik hanya terdiam dalam bingunggnya, mengapa bertemu Linggar di sini?
Sedikit dorongan memasukkan Rindi ke dalam mobil. Bahkan saat mobil Linggar telah meninggalkan area parkir mereka hanya terdiam tanpa sepatah katapun. Masing-masing terhanyut dalam pikiran sendiri.
Mobil terhenti di sebuah cafe. Dan lagi Linggar kembali meraih Rindi dan menggenggamnya masuk ke dalam cafe masih dengan tanpa kata.
“Aku haus nungguin kamu.” kalimat pertama saat mereka duduk di kursi berdampingan.
Sampai detik ini Linggar belum melepas genggaman tangannya pada Rindi. Seminggu bukanlah waktu yang singkat menahan diri dari kata rindu.
Jus buah naga menjadi pilihan kali ini.
“Mau makan?” Tanyanya lagi mengarah ke Rindi. Setelah kotak makan yang di dapat Rindi dari pengajian tadi, di letakkan di mobil. Biarlah! Bisa di makan di rumah, atau siapapun.
Yang jelas saat ini ia ingin makan bersama orang yang ia rindukan.
Emm, masalah rindu. Apakah benar gadis ini tak mempunyai sedikitpun rasa yang justru mampu menyiksa batinnya. Ia harus tanyakan langsung pada Rindi.
“Emang kamu gak rindu ya sama aku?” Dengan tatapan tajam dengan kepala yang sedikit miring sambil menunggu jawaban. Tapi entah mengapa seperti bagaikan interogasi bagi Rindi.
“Rindu kok, rindu.” Ucap gadis yang hanya mampu menundukkan kepala menghindari tatapan dar Linggar.
Entah kata itu berasal dari lubuk hati atau hanya sekedar di bibir saja.
“Terus?” Linggar.
“Terus kenapa?” Gadis itu sempat melirik sepintas ke arah mata Linggar, yang masih menatapnya secara dalam membuat gadis itu lebih nyaman dengan menundukkan pandangannya kembali.
“Terus kenapa kayak gini?” masih mencari jawaban atas perubahan Rindi yang signifikan.
“Kayak gini gimana?” Rindi yang semakin gusar. Ia sadar jika yang dilakukan beberapa hari ini memang sebuah kesalahan. Tapi ia pun tak tahu mengapa lebih memilih menghindar hanya untuk bersama Iqram.
“Ok! Besok-besok kalau aku panggil noleh lalu datangi aku Rindi. Terus, itu telpon kenapa selalu sibuk? Kamu sibuk apa sih?” Ucapnya yang masih memiliki kepercayaan pada kekasihnya ini bahwa semua masih baik-baik saja.
“Iya kan memang sibuk.” Rindi mulai menunjukkan wajah merajukknya dengan memajukan bibir beberapa centi ke depan. Membuat Linggar mengalah dan menghentikan interogasinya.
“Ya udah. Gak papa. Mau makan apa?” Masih menahan diri, padahal dalam hatinya masih terbakar.
__ADS_1
Rasa sayang yang ia miliki masih terlalu besar pada Rindi, hingga masih mampu memberikan maaf atas semua kelakuan Rindi padanya.
Hanya masalah kecil, tak usah di besar-besarkan. Asalkan RIndi masih bersamanya.
“Mie goreng seafood.” Jawabnya cepat membuat Linggar tersenyum sambil mengusap kepalanya.
“Ngapain makan mie di sini, di rumah juga kan bisa. Buatnya gampang.”
“Ya udah gak usah.” Masih dengan bibir maju ke depan.
“Eh ko cemberut,” Kali ini tanganya mencubit pipi chubby Rindi. Dagingnya terasa tebal dan empuk dibungkus oleh kulitnya yang terasa lembut seperti kulit bayi.
“Iya gak papa. Mau pesan berapa? Sepuluh?” Ia telah sepenuhnya melupakan segala pertanyaan yang tadinya telah ia persiapkan sebelum bersama dengan Rindi. Hatinya kini telah di penuhi dengan bunga nan harum mewangi sepanjang hari.
Kebersamaannya hari ini bersama Rindi membuat hatinya kembali hidup.
Namun tidak bagi Rindi. Sikapnya yang menghindari masih saja terus berlanjut. Rasa nyaman yang dirasakan saat bersama dengan Iqram berbanding terbalik saat dirinya merasa berdekatan dengan Linggar.
Linggar memberikan rasa yang lebih membuat detak jantungnya seolah berpacu dengan waktu.
Berdetak lebih kencang karena sikap Linggar yang sering menyentuhnya tiba-tiba tanpa ada aba-aba terlebih dahulu. Membuatnya seperti berada dalam sebuah wahana yang memacu adrenalin.
Berbeda saat berada didekat Iqram. Sikap tenang Iqram seolah membuatnya betah dan merasa aman saat berada berdekatan dengan pria itu.
“Rin, sampai kapan kamu mau seperti ini?” Lilis yang kini tak terima dengan sikap Rindi yang selalu menghindari Linggar dan membuat namanya ikut terbawa-bawa.
Sekarang mereka sedang berada di rumah Lilis menghabiskan malam minggu berdua sambil menonton drama kesukaan mereka.
“Aku juga gak tau. Aku kayak takut kalau bertemu dengan kak Linggar.” Rindi sambil memperbaiki letak bantal di pangkuannya.
“Iya, itu karena kamu merasa bersalahkan?” Lilis yang memiringkan kepala untuk melihat raut wajah Rindi. Maksudnya, agar Rindi sedikit tersudut dengan tatapannya. Tapi sepertinya tidak, karena sahabatnya itu lebih memilih menambah volume tvnya.
“Gak tau, pokoknya aku takut. Takut kalau kak Linggar marah.”
“Kak Linggar baik kok. Buktinya dia gak marah waktu kalian sama-sama. Itu waktu sepulang dari pengajian, liat kamu jalan sama Iqram aja, kak Linggar masih maafkan.”
“Sempat marah kok.”
Lilis menengerutkan keningnya saat melihat RIndi yang terlihat tenang cenderung cuek saat menjalin hubungan cinta segitiga.
Lilis sadar antara RIndi dan Iqram bukan lagi sekedar sahabat seperti yang sering ia gadang-gadangkan. Melainkan telah membawa kisah lain yang hanya mereka yang tahu.
__ADS_1
“Iya, tapi gak sampai lama kan.” Lilis menatap Rindi dengan memiringkan kepalanya kembali. Kali ini ia ingin memastikan jika tak ada kebohongan di wajah Rindi.
Jika Lilis boleh memilih, ia akan memilih untuk menjewer telinga Rindi. Karena ia merasa telah bosan memperingati Rindi namun gadis ini terlihat tak peduli sedikitpun.
Atau mencari aman dengan menjauh dari Rindi?
Tapi Rindi adalah sahabatnya, meskipun ia yakin jika perbuatan Rindi itu telah membuat beberarapa hati terluka. Mereka telah bersama sejak SMA, lucu sekali jika meninggalkan sahabatnya itu hanya karena masalah pria.
Biarlah, Sepertinya ia sudah tak bisa lagi berbuat apa-apa.
Biarlah Rindi yang mengatur kehidupannya sendiri. Toh, itu Rindi juga yang akan menanggung akibatnya sendiri.
\======
Tubuh Rindi tertarik masuk ke sebuah ruangan tanpa penghuni lainnya. Ia tahu ruangan ini, ruangan yang dijadikan tempat berkumpul oleh Linggar dan teman-teman pencinta alamnya. Dan yang menarik tubuhnya, siapa lagi jika Linggar.
“Kak,” Seolah ingin protes tapi entah memulai dari mana.
Astaga ia lupa jika ini adalah daerah kekuasaan Linggar.
“Kenapa menghindar?” Meskipun amarah seolah mulai menanjak ke atas, namun ia harus tetap menjaga agar ucapan dan perilakunya tetap berada dalam batas kewajaran agar tidak membuat Rindi takut dengannya.
Gadis itu menggeleng, meskipun sedikit kaku karena rasa takut.
“Apa karena pria itu?” Ucapnya semakin menurunkan nadanya, mengajak hati untuk tetap dingin.
Rindi masih menggelengkan kepalanya sebagai jawaban dari pertanyaan Linggar. Matanya hamir saja tak berkedip.
“Kami gak ada hubungan apa-apa.” Rindi yang tiba-tiba menaikkan nada bicaranya. Sangat jelas jika gadis ini sedang membela pria itu.
“Kami?” Linggar sinis. “Kami siapa?”
“Kami memang gak ada hubungan apa-apakan. Cuma sahabatan aja.”
Sepertinya Rindi mulai menghilangkan rasa takutnya pada Linggar.
Kedua tangan Linggar telah diletakkan di antara kepala Rindi, seolah ia sedang menahan pergerakan gadis itu. Sementara kedua tangan Rindi menahan tubuh Linggar agar tak semakin mendekat.
Harus tetap menjaga napas agar emosipun tetap stabil. Jangan sampai ada yang meledak. Tapi sepertinya sulit untuk tetap mempertahankan emosinya. Rindi sepertinya mempermainkan dirinya.
Dan kini ia mendapatkan apa yang selama ini ia cari, tidak mungkin untuk melepaskan Rindi begitu saja.
__ADS_1
Ia harus bisa mempertahankan cintanya.
To Be Continued!