Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Gunanya Sahabat


__ADS_3

“Rindi.” Sapa Linggar saat berada di luar gedung persidangan yang menjadi saksi berakhirnya kisah mereka.


Rindi berbalik dengan tetap tertunduk. Kepala terasa berat saat harus berhadapan orang yang selama ini mendampinginya. Memberi segala yang ia inginkan.


Perhatian, kasih sayang dan cinta.


Kedua tangan Linggar terulur dan terbuka lebar. Hanya ingin meninggalkan kesan baik saat mereka berada di ujung persimpangan. Meskipun hati terlampau hancur lebih dari berkeping-keping.


Pengharapannya untuk kembali bersama kini tak berbuah manis.


Tangan Rindi turut terulur menyambut Linggar. Sedetik kemudian janda cantik itu telah berada dalam dekapan sang duda. Takkan bisa tahan untuk tak menangis. Pertahanan kini tak terbendung lagi.


Sebuah dekapan erat dari masing-masing tangan yang saling melingkari tubuh. Jika ini untuk yang terakhir kali mereka bersama, setidaknya ijinkan mereka untuk meninggalakan jejak, mengenali tubuh masing-masing. Meluapkankan segala rasa yang ada.


Berharap di hati masing-masing masih ada cinta yang tersisa, meskipun hanya untuk di kenang.


Meskipun saling merasa kehilangan, hanya mampu membawa hati ke dalam jiwa. Itu akan membuat mereka selalu bersama. Meskipun hanya perasaan semata tanpa wujud dan tubuh.


“Aku sayang kamu.” Linggar dengan lirih meski masih terdengar pada mereka yang berada di sana.


Mengabaikan setiap  pandangan mata yang sebagian terhiasi embun.


Bunda bahkan harus menutup mulut dengan jari-jarinya hanya untuk meredamkan isak tangis yang akan terdengar. Ibu siapa yang tak sakit mendapatkan keluarga sang anak berakhir dipengadilan agama.


Tapi iapun tak bisa membantu banyak, semua kembali pada Linggar dan Rindi. Yang nyatanya membiarkan semua berjalan sendiri tanpa ada yang mau menghentikan langkah untuk saling mengulurkan tangan.


Jiwa muda yang dipenuhi dengan keegoisan dan gengsi yang terlalu tinggi. Membuat mereka saling menunggu kata demi kata yang tak terucap bahkan hingga akhir.


Pernikahan dini yang terjadi membuat mereka sulit mengendalikan diri dan mengambil sikap.


Semakin nyatalah jika mereka belum siap dalam mengarungi mahligai rumah tangga. Tertutama saat ada campur tangan orang lain di dalamnya.


Hingga akhirnya dekapan yang sangat erat itu terlepas. Menyisakan mata yang masih saja menyumbangkan airnya.


Saling berpandangan seolah ingin menyimpan paras itu ke palung terdalam hati.


Linggar bahkan harus memaksakan diri untuk kembali mengulurkan tangan untuk menyapu pipi lembut berisi yang telah basah karena air mata di sana.


Pipi itu pernah ia kecup bahkan sering, menunjukkan betapa sayangnya sangat besar pada sang pemilik diri.


Tepukan di pundak Linggar membuatnya mengalihkan pandangan pada ayah yang baru saja menarik tangan dari tubuhnya.


Tangan ayah terulur ke kepala Rindi mengusap pelan dan berkata, “Biarpun kamu bukan lagi istri Linggar, tapi kamu tetap jadi anak ayah. Jadi kalau ada waktu jenguk ayah di rumah yah!”

__ADS_1


Kalimat yang sangat pelan namun sangat berarti.


Kesalahan dan perpisahan ini ada karen kesàlahan dari pihaknya, namun tetap saja ia masih mendapatkan perlakuana baik dari keluarga Linggar.


Bunda kini maju  hanya untuk merengkuh tubuhnya. Meski tanpa kata namun sangat jelas jika wanita ini juga terluka.


Kemudian beralih ke ibu dan bunda yang saling berpelukan. Begitu juga dengan ayah dan bapak yang berpelukan sambil menepuk pelan pundak setelah itu saling berjabat tangan.


Mungkin inilah cara mereka untuk saling menguatkan dan agar tetap terjalin silaturahmi.


Mereka pernah terikat dalam sebuah ikatan keluarga, kini berakhir dengan status mantan.


Mantan istri.


Mantan suami.


Mantan mertua.


Mantan besan.


\=\=\=\=\=\=\=


Menikmati kesendirian di kamar masing-masing. Tak ingin siapa saja menemani, hanya perlu sendiri. Seolah yang lain tak mengerti tentang luka yang tercipta.


Takkan mampu memberikan kekuatan pada dua hati yang tersakiti karena perpisahan. Mereka tak tahu bagaimana perih dan sakitnya, karena tak mengalami.


Terluka, sakit, sesak, tercabik-cabik semuanya kini bergabung menjadi sebuah rasa yang tak bisa lagi dibendung.


Segala kata seolah tak mampu lagi menggambarkan keadaan saat ini.


Air mata menjadikan luapan rasa sedih yang bersemayam di hati. Lama kelamaan mulai habis dan mengering.


Meskipun begitu belum mampu mengikis rasa perih yang ada.


Mengabaikan skripsi yang tertunda karena ia yang teralalu asik menikmati sakit hatinya. Hingga Arman yang datang dengan senyum di wajah, namun akhirnya pupus saat melihat kawannya yang semakin tak terurus.


“Skripsi dah selesai, lagi ajuin buat bisa sidang secepatnya.”


Apa?


Skripsi Arman dah selesai?


Secepat itu?

__ADS_1


Ah, mungkin ia yang terlalu lama berkubang dalam lautan kesedihan. Berapa lama?


“Kamu?” Sedikit senyum sinis yang ditujukan buat Linggar merasa cemburu padanya.


“Cepat selesaikan skripsi kamu. Lalu tinggalkan kampus itu. Kalau terus di sana, kamu akan sering bertemu dengan mantan kamu itu. Itu yang buat kamu susah move on.” Lanjutnya menatap mata Linggar yang masih redup seperti orang yang minta tidur, padahal gak punya kerjaan.


“Ayo, aku bantuin! Mumpung aku punya waktu banyak. Akan kupersembahkan seluruh hidupku untukmu. Tapi ambil seperlunya saja yah! Sisain buat calon istriku.” Sambil membuka laptop Linggar yang berada di meja belajarnya yang terletak di samping jendela kaca.


Rindi pernah sekali duduk di situ. Sesaat setelah menikah, iya hanya menemaniku sebentar di sini.


Di kamar ini, tak banyak kenangan kami berdua. Namun mampu membangunkan kembali rasa sakit yang sempat melintas.


“Hei, ayo! Sini! Bengong aja.” Arman membuyarkan lamunannya.


“Bukan berarti aku bantuin kamu buat skripsi lantas kamu gak kerja apa-apa. Cepat sini! Enak aja.” Si Arman kok jadi rese kayak gini yah.


Dengan malas Linggar bangkit dari


pembaringan perlahan menghampir Arman dengan laptop yang telah menyala.


Ah lagi-lagi desktop menampilkan kebersamaanya bersama Rindi.


“Yang ini aku ganti yah. Yang netral aja.” Sekarang Arman mencoba mencari gambar yang katanya netral itu.


Akhirnya gambar saat kami mengangkat piala karena mendapatkan juara satu dulu menjadi pilihannya.


“Yang ini aja yah, biar kamu kembali semangat.”


Pada waktu itu, ia masih bersama dengan Rindi. Dan membawanya ke sebuah cafe untuk merayakan kemenangan.


Arrgggg, terlalu banyak kenangan.


“Gak usah banyak mikir. Fokus untuk menyelesaikan ini dulu. Masa depanmu masih panjang. Siapa tahu di masa datang saat telah menemukan pasangan, kamu justru akan menyesali keterpurukan kamu ini.”


“Atau setidaknya kamu memiliki kehidupan bahagia yang lain, meskipun tanpa dia.”


Dasar ba cot. Ini bukan hanya hubungan pacaran biasa, kita nikah bro, nikah.


Pernah satu atap, satu ranjang, bahkan satu tubuh.


Ini cerai, bukan putus dari pacar!


Belum tau saja rasanya perceraian itu.

__ADS_1


Sakit man! Sakit.


__ADS_2