
“Ayo!” Seperti biasa tangan Linggar yang telah terulur menanti sambutan dari Rindi, tapi kali ini gadis itu tak membalas.
“Kak, hari ini aku pulang dengan teman-teman yah! Bolehkan? Kita mau jalan.” Minta ijin.
“Terus, aku gimana?” Kok seperti orang yang hilang tujuan. Tinggal pulang aja kan? Susah amat, amat aja gak susah.
“Pulang sendiri. Emmm, gak papa kan?” Rindi yang sedikit berpikir untuk sebuah jawaban.
“Pc, Aku antar.” Kini Linggar telah berada tepat di samping Rindi dan kembali menggenggam tangan. Kebiasaan
yang sulit dihilangkan.
Waktunya bersama Rindi terlalu singkat, hanya sekedar mengantarnya pulang. Tak cukup memakan waktu sejam dalam sehari. Setelah itu mereka akan kembali ke dunia masing-masing. Ia ke rumah dan Rindipun ke rumah.
Dan sekarang gadis itu menolak untuk diantar, dengan begitu waktu bersama seolah mendapatkan diskon. Tidak
adakan sedikit rasa rindu sedikitpun di hati gadis ini. Sesulit inikah mengartikan sebuah perhatian khusus?
“Gak usah kak, kita naik mobilnya Dini saja!” Menolak. Meskipun saat ini wajah Linggar sedikit tidak bersahabat hanya karena RIndi akan jalan ke mall dengan teman-temannya. Tanpa dirinya?
“Aku antar atau pulang?” Linggar tanpa senyuman. Kok jadi takut ya liatinnya.
Mengapa ini justru lebih sulit jika dibandingkan dengan meminta ijin pada ibu-bapak ataupun bahkan pada kakaknya. Yang hanya dengan menyebut salah satu nama temannya, Lilis, Tantri atau Andini maka kata yes akan ia
peroleh dengan sangat mudahnya.
Tapi sekarang berhadapan dengan seorang Linggar yang sampai detik ini seolah bukan siapa-siapa justru ia harus
lebih memohon.
Rindi hanya bisa menggaruk dahinya seraya berpikir, harus menempuh jalan yang mana. Padahal sedari tadi
mereka telah memutuskan untuk menggunakan mobil Andini. Kan lebih seru juga kalau pergi bareng.
“Diantar atau pulang?” Beuh, tegas banget. Kayak bapak-bapak satpam aja.
Masa iya, dirinya harus pulang sih. Mungkin lebih baik diantar, dari pada harus kehilangan hari ini lagi bersama teman-temannya. Terakhir kali mereka jalan bersama adalah bulan lalu.
“Kakak lebih cocok jadi bapaknya Rindi dari pada pacar!” Lagi-lagi Dini yang mencuri perdebatan calon pasangan itu.
Pacar? Apaan? Ngomong suka aja gak pernah.
Iya, calon pasangan mungkin lebih tepat kali yah.
“Iya, antar!” Jawabnya lirih setengah kecewa.
“Aku sama kak Linggar, kita ketemu di sana yah!” Menoleh sedikit meskipun dengan wajah cemberutnya tapi LInggar tak peduli.
“Ok deh! Takut amat ceweknya hilang." Itu suaranya Tantri.
Mereka mulai berjalan bersama menuju ke arah parkiran. Dengan Rindi dan Linggar dibelakang barisan tentu saja saling bergandengan. Lebih tepatnya Linggar yang menggandeng tangan Rindi. Membuat mereka kembali mendapat perhatian khusus dari para warga kampus jurusan ekonomi.
Nampak di depan beberapa kali terdengar suara tawa Lilis, Dini dan Tantri. Akh, andaikan saja RIndi bisa ikut bergabung dengan mereka pasti lebih seru. Lah ini jalannya sepi amat. Linggar masih belum meneluarkan kata, dengan wajah datar tanpa ekspersi.
Sepertinya masih marah saat tadi berdebat sama Rindi. Padahal Rinid sudah mau mengalah dengan mengikuti dirinya dan menjauh dari teman-temannya.
__ADS_1
Bahkan saat berada di atas mobil. Linggar lebih memilih memutar musik untuk membuat suasana lebih hidup.
“Sampai!” Mobil mulai menepi di sebuah mall yang telah RIndi dan teman-temannya sepakati.
“Makasih kak," Ucapnya sambil melepas seatbell/
Linggar, merogoh saku celana jeansnya mengeluarkan dompet dan mengambil tiga lembar uang merah lalu
menyerahkannya pada Rindi.
“Ini buat apa kak?” Mengira jika Linggar menitipkan sesuatu untuk di beli di dalam.
“Buat jajan.” Ucapnya, “maaf hanya bisa beri segitu!” Pandangan Linggar terlihat sedikit lebih sendu. Mungkin kecewa karena tak bisa memberikan lebih dari itu.
Baru ketemu orang beri uang tapi justru meminta maaf.
“Maaf kak, gak usah. Kita Cuma mau nonton, ini juga sudah dikasi sama kakakku.” Harus memperjelas kata kakak,
karena iapun menyebut Linggar dengan ucapan kakak.
“Gak papa, buat tambahan.” Lanjutnya. “Ya sudah, turun! Yang lain mungkin sudah menunggu!”
“Tapi ini?” Rindi yang masih memegang tiga lembar uang merah.
“Ambil aja!” Kini tangannya telah berani terulur ke atas kepala Rindi, mengusap dengan pelan.
Yes, Rindi tak menolak. Lihat saja nanti tangannya ini akan bertengger di bahu indah itu!
“Terima kasih kak!” Rindi lirih.
Tak bisa dipungkiri ada rasa malu ketika harus menerima uang dari Linggar. Perlu dicatat hingga sampai detik ini,
“Eh, tunggu dulu! Nanti kalau aku ngajakin keluar, kamu maukan?” Linggar yang menahan tangan Rindi saat hendak keluar dari mobil.
Apa ini jawaban dari uang tiga lembar ini. Harus ada imbalan? Ia sama sekali tak bisa menyembunyikan raut
bingungnya.
“Cuma jalan biasa, nonton kayak teman kamu!” Seolah Linggar tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan.
“Nanti malam aku telpon yah!” Lanjutnya lagi, sebelum Rindi benar-benar keluar dari mobilnya.
“Iya.”
\===
“Kak Linggar, kasi aku uang!” Rindi yang mulai bercerita pada temannya.
Mereka telah berada di mall sasaran mereka. Berniat menghabiskan sabtu sore bersama.
“Masa sih?” Andini.
“Berapa?”
“Buat apa?” Tantri dan Lilis yang hampir bersamaan.
__ADS_1
“Tiga ratus ribu, katanya buat jajan.” Ucapannya menghentikan langkah ketiga gadis itu. Lumayan loh, dapat
uang tiga ratus ribu tanpa kerja lagi.
"Yah, tiga ratus doang?" Terdengar sangat mengecewakan.
"Eh, untung Rindi di kasi duit sama cowoknya. Lah kamu apa? Cowok aja belum dapat." Lilis, teman yang selalu saja bijak.
"Kan kalian yang bilang pacaran tu gak enak, penuh tekanan gak bisa ini lah. Harus ijin dulu lah. Nah tuh liat Rindi, mau jalan ama kita aja, harus mohon-mohon dulu sama pangerannya. terbuktikan?" Tantri merasa menang dengan opininya.
“Kamu yakin, kak Linggar kasi itu cuma-cuma?” Lilis, yang merupakan teman paling dekat dengannya.
“Kok bilang kayak gitu sih?” Iapun sebenarnya memikirkan hal yang sama dengan Lilis, namun semampunya
kembali untuk berpikir positif tentang Linggar.
“Kak Linggar baik kok orangnya.” Ia harus tetap membela Linggar, meskipun tak dipungkiri jika hatinya sedikit
takut.
“Gak papa kok. Kan Cuma tiga ratus, bukan berjuta-juta. Kalau suatu hari nanti kak Linggar minta macam-macam
dengan alasan bayar utang, setidaknya kamu masih bisa minta sama keluarga kamu.” Andini mencoba memberi masukan.
“Iya benar, cuma tiga ratus ribu kan? Kita juga masih bisa bantu kok!” Tantri.
“Iya, tapi jangan keseringan yah! Biar Cuma tiga ratus ribu kalau keseringan yang jadi banyak juga. Cukup tiga
kali kasih nah bisa dapat sejuta kan?” Lilis.
“Iya-iya, jangan sering ambil pemberian kak Linggar Rin, kamu harus tetap waspada deh!” Andini yang seolah
menerima saran Lilis.
“Ditambah, kak Linggar sering traktir kamu kan?” Lilis kembali mengingatkan.
“Iya, kamukan kadang makan juga. Jadi kalau kak Linggar cari uangnya aku langsung tunjuk kamu juga,kamu, sama kamu jugakan? Pernah makan uangnya kak Linggar.” Mencari teman aman saat dirinya sulit.
“Iya,iya nanti kita bantu!”
“Tapi terlebih dahulu, baiknya kita habisin dulu tuh duit cowok kamu. Anugrah itu indah tau.” Andini sambil memainkan alisnya naik turun.
Hari ini sungguh sangat melelahkan bagi gadis yang kini telah berada dalam peraduannya. Merentangkan tubuh di atas kasur empuk, setelah setengah hari menghabiskan waktu bersama teman-temannya.
Bisa tertawa sepuas hati, tunjuk sana-tunjuk sini yang ujung-ujungnya tak terbeli. Niat memang hanya ingin jalan-jalan sambil memanjakan mata dengan kilauan lampu-lampu dan barang-barang bermerek yang hanya bisa di beli saat bersama kakak atau kakak iparnya.
To Be Continued!
Jangan lupa likenya.
Hanya sebuah sentuhan jari mampu membuat Dinda melayang.
Dan buat kalian yang telah memberikan sentuhan jari, Dinda ucapkan banyak-banyak terima kasih.
**Emmuah! **
__ADS_1
**Emmuah! **
**Emmuah! **