
Cerita ini hanya fiksi belaka.
Cerita ini berdasarkan hasil pemikiran dan ide-ide author.
Ambil baiknya dan buang buruknya.
Konflik yang diciptakan hanya untuk menambah daya tarik pembaca. Dan tidak untuk di tiru.
Dosa dan hukuman pembaca tanggung sendiri.
Halusinasi, imajinasi dan segala bentuk yang bersifat hayalan dan mimpi di perkenankan.
Dan mohon maaf, jika konflik yang tercipta hampir mirip dengan beberapa kisah nyata di luar.
Selamat membaca!
Dan jangan lupa oleh-olehnya.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Namun ia tak boleh lengah, ia harus benar-benar memastikan keadaan aman. Dengan posisi seperti ini, Linggar masih bisa menyantapnya.
Ia masih harus memutar otak hanya untuk memilih kata-kata yang tepat agar Linggar melepaskannya secara utuh. Dan tak lagi melanjutkan aksi.
Berjanji dalam hati mencoba menerima Linggar kembali. Meskipun hatinya masih ragu, dan masih ada Iqram yang ia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya.
“Kita akan menikah, tapi setelah kakak lulus dulu terus aku juga lulus.”
“Kakak cari kerja buat hidup aku dan anak-anak kita. Kalau kakak dapat kerja baik dan gajinya banyak, aku gak
papa jika gak dibolehin kerja. Gak papa kok.”
“Aku akan jadi ibu rumah tangga yang nungguin kakak pulang kerja sambil menyiapkan makan malam buat kita.
Gini-gini aku sedikit pintar masak kok.” Sambil mengelus lengan Linggar yang melingkar di perutnya.
“Ya, tapi kalau gaji kakak banyak yah. Tapi kalau dikit, aku mau kerja aja.” Usaha harus terus berjalan. Meskipun
detak jantung sampai detik ini belum stabil.
Pandangannya lurus ke depan, mengarah ke awang-awang. Seolah ia tengah memandang lukisan yang sedang ia
ceritakan. Lukisan tentang mimpi dan cita-cita hidup ke depan bersama Linggar.
“Makanya kakak harus lulus dulu, biar bisa dapat kerja yang bagus dan gajinya banyak. Aku janji nungguin kakak,
asalkan kakak juga mau janji nungguin aku!”
Sementar Linggar memangdang Rindi yang tengah bercerita tentang masa depan khayalannya. Memandang mata yang tadinya sempat menitikan air mata.
Janji. Ia adalah pria yang selalu menepati janji. Tapi bagaimana dengan Rindi?
Ia pernah mendengar kata itu dari bibir yang sama, tapi buktinya apa?
Rindi semakin menghindarinya, dan kembali memutus segala bentuk komunikasi. Apa gadis ini masih bisa di percaya? Sekalipun Linggar telah memberinya peringatan dan sedikit hukuman untuk gadis ini.
Jika sekarang ia melepas Rindi, mungkin besok gadis ini bisa menghilang dari jangkaunnya.
Linggar kembali bangkit dan menempatkan diri kembali di atas Rindi. Tak ada kompromi, Rindi harus jadi miliknya saat ini.
Benar atau salah, harus!
Akal sehatnya seolah berhenti, apalagi saat menatap mata indah seolah mampu melumpuhkan jiwanya.
__ADS_1
Saat pikiran Rindi sedang memikirkan sesuatu yang tadi ia ucapkan, salahnya di mana? Linggar telah menanam dirinya di sana. Sedikit memaksakan diri untuk menembus pertahanan yang kokoh.
Tanpa pemanasan atau apalah namanya, yang jelas ia harus menyemai bibit di dalam tubuh Rindi dengan segera. Menyalurkan h@sr@t yang terlarang.
Dengan begini Rindi akan tetap berada di sisinya, dan memilikinya seutuhnya.
Rindi yang telah meringis di bawahnya seraya mengeluh tentang kesakitannya yang kini dirasakan meskipun dengan suara terbata-bata. Menahan segala perih yang tercipta.
Perih di seluruh tubuh, dan hatinya.
Entah mengapa Linggar seolah tak mendengar keinginannya untuk menikah secara baik-baik.
“Aku akan tanggung jawab.” Linggar di sela-sela kegiatannya, tak lupa mengusap air yang telah meluncur membasahi pelipis sang gadis.
Linggar bukannya tak iba melihat Rindi yang kini mengangis karena ulahnya, namun ia harus tetap melanjutkan proses ini hingga selesai. Tak mungkinkan ia berhenti di tengah jalan?
Namun lain bagi Rindi. Jika dibolehkan ia akan menekan erat leher itu dengan kedua tangannya, hingga pria ini death.
Menggelengkan kepala berharap Linggar mengerti dengan dirinya yang tak menerima semua ini.
Berharap Linggar menghentikan aksi meski terlambat.
Tapi Linggar masih setia dengan pergerakannya.
Terus memacu dan menuntun untuk segera meletakkan bibitnya pada Rindi. Perdana membuat mereka tak butuh waktu lama dalam proses penyemaian.
“Maaf, jika ini menyakitimu. Tapi aku sayang kamu Rin.” Kini ia telah membaringkan diri tepat di samping Rindi setelah menuntaskan misi pertama.
Mengelus pelan rambut yang telah berantakan itu.
Entah mengapa kini ia memandang Rindi bagai tak punya hati. Bermain saat dirinya sedang kesulitan. Kesulitan
hidup diperantauan. Kesulitan memendam rindu. Bahkan hanya untuk mengobati rindu sekalipun sulit baginya.
justru jauh berbeda dengan kepribadiaannya.
“Kenapa kamu lakukan ini ke aku? Tiga bulan, aku tinggalin kamu. kamu udah selingkuh sama yang lain.” Linggar
yang kini menenggelamkan wajahnya di ceruk Rindi. Sesekali mendaratkan bibir ke pundak Rindi.
Inginnya Rindi teriak tepat di telinga Linggar. “Aku tidak selingkuh.”
“Setelah ini kita akan menikah. Takutnya kamu isi.” Linggar beralih mengelus tepat di daerah rahim Rindi.
Kini ia telah memiliki Rindi, jika diberuntung mereka akan segera mendapatkan seorang bayi hasil dari buah
cinta mereka. Yang akan semakin mengeratkan hubungan mereka.
Ia sadar tak bisa menjanjikan apa-apa pada Rindi. Bahkan sampai detik inipun ia masih menengadahkan tangan pada kedua orang tuanya, atau sekali-kali pada kakak dan kakak iparnya. Lalu sekarang ingin menikahi Rindi, apa yang akan ia berikan nanti pada istri dan anaknya.
Rindi yang seolah lelah dengan segala yang telah ia lalui lebih memilih memejamkan mata dari pada harus
mendengar ocehannya.
Dengan sedikit tenaga Linggar menarik Rindi, mendekap erat. Terlelap dengan tangan yang melilit di tubuh Rindi.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Rasa sakit disekujur tubuh belum sepenuhnya hilang saat Rindi membuka matanya. Mencoba memalingkan wajah ke samping, ternyata Linggar telah lebih dulu membuka mata dan kini masih betah memandangi wajahnya.
Linggar mengulurkan tangan, membelai lembut pipi Rindi dengan tangannya. Namun bagi Rindi, sentuhan itu
seolah tamparan di pipinya.
__ADS_1
Rindi kembali memalingkan wajah, menatap ke awang-awang kamar hotel. Menggigit bibirnya sekeras mungkin, hanya untuk mengalihkan seluruh rasa yang ada.
Keras, sekeras yang ia mampu. Hingga bibirnya bergetar.
Butiran kristal itu telah beberapakali meluncur turun membasahi.
Rasa bersalah, sakit, menyesal, dan benci.
Ia benci dirinya, ia benci Linggar.
Ia benci Iqram yang sempat mendekati dan menggodanya.
Dan iapun benci keadaan ini.
“Rin, jangan seperti Rin. Ini sakit.” Setengah bangkit dari tidurnya, melihat aksi Rindi yang seolah ingin mencelakai diri sendiri.
“Rin, ini lepas, Rindi!” Sambil menepuk pelan pipi lalu berpindah ke bibir, kembali ke pipi lalu ke bibir lagi. Hingga Rindi melepaskan gigitannya sendiri, telah nampak bekas gigitan sendiri pada bibir bawahnya.
“Sakit yah?” Tanyanya pada Rindi sambil terus mengamati dan mencari tahu jika ada yang terluka di sana.
Linggar memilih merapatkan bibir mereka, mencoba menghilangkan sakit Rindi menurut caranya.
Namun bagai sebuah boomerang yang menyerangnya balik, kini rasa ingin mengobati itu berubah jadi hal lain.
Terlebih lagi saat menatap mata Rindi yang seolah menghopnotisnya. Seolah di hadapannya adalah semua keindahan yang membuatnya terjatuh.
Terjatuh bergitu dalam ke lubang dosa yang begitu besar mengurung dalam sebuah keindahan.
Tanpa komando dan ijin sebelumnya Linggar kembali menempatkan diri di atas Rindi.
Jika yang pertama ia lakukan karena ingin memiliki Rindi, maka kali ini ia lakukan karena desakan dari dalam dan bawah sana.
Maaf, kali ini ia tak bisa menahan diri untuk tidak menanamkan diri kembali.
Perlahan namun pasti ia mulai menyibak tirai pembungkus Rindi bagian atas. Berikut sentuhan pelan nan lembut yang entah mengapa membuat seluruh tubuh meremang.Menggigil dan
Bahkan jantungpun mulai berpacu dengan dentingan jam yang tertempel di dinding.
Hati memberontak, namun tubuh menginginkan lebih.
Tanpa adanya perlawanan atau bahkan larangan semata dari sang pemilik diri.
Hingga akhirnya Rindi benar-benar telah menjadi miliknya seutuhnya, sepenuhnya dan keseluruhan tanpa batas.
Dari ujung rambut hingga ke ujung kaki, Rindi adalah milik Linggar.
Nampak dari wajah Rindi jika iapun turut menikmati rasa aneh nan menggelikan yang menyerang seluruh titik
organ, membuat Linggar semakin semangat dalam aksinya. Dan tanpa butuh waktu lama penyemaian keduapun diselesaikan dengan baik.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Minta sumbangan likenya dong!
Duh ngantuk.
Ada kopi gak?
Sekalian sama bunganya, buat mandi. Biar lebih segar dan cepat ngetiknya.
Yah!Yah!Yah!Yah!
__ADS_1
Sama itu tuh, yang simbol love, jangan lupa pencetnya cukup sekali aja. Kalau dua kali, aku bisa nangis.