Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Umpama Telur Yang Telah Pecah


__ADS_3

 “Kapan?” Lirna dengan sinisnya saat mereka bertiga berada di sofa sudut kamar perawatan yang Reza ambil untuk Rindi.


“Apa?” Sedikit melirik lalu kembali menunduk. Sadar jika dirinya memang bersalah, tapi ini bukan kesalahannya 100% kan?


“Pura-pura be go lagi?” Masih dengan raut sinis dan ketus.


“Kemarin,” Ucap Linggar singkat. Tak berdaya walaupun hanya menatap mata kakaknya.


“Bunda sudah tau?”


“Belum, tapi bunda kenal kok.”


“Kamu sudah pernah kenalin sama bunda?” Lirna.


“Iya. Di rumah, sebelum berangkat KKN. Bunda sempat nawarin buat nikah karena kita udah pacaran lama.”


“Terus kenapa gak nikah ajaaaa?” Mencoba menahan geramnya.


“Gak keburu, karena besoknya udah harus berangkat.”


“Dari pada kayak gini? Lagian kamu kenapa mesti gitu sih?”


“Sabar sayang!” Reza sambil mengusap pelan punggung istrianya. Kata sayang-nya harus lebih ditekankan biar


orangnya sedikit luluh.


“Abisnya punya adik gemesin banget. Pengel tak uyel-uyel terus ditendang masukin ke dalam sedotan.”Menggerakkan tangannya sendiri seperti orang yang sedang mengucek pakaian.


“Kamu udah tendang dia berapa kali. Heran kok kamu jadi bar-bar kayak gini?” Reza yang sempat menatap heran


istrinya yang dulu berkesan elegan dan anggun berubah menjadi sosok yang menakutkan.


Lihatlah kondisi Linggar saat ini yang juga sempat mendapatkan perawatan dari dokter dengan plaster di  kepalanya! Itu adalah hasil kerja keras Lirna.


“Abisnya punya adik kelakuaan kayak gini. Aku jadi ragu kamu adik kandung apa bukan sih?”


“Dia selingkuh kak.”


“Kamu yakin dia selingkuh?” Reza.


Diam.


Meskipun sering melihat Rindi dan Iqram bersama tapi ia tak terlalu yakin jika keduanya menjalin hubungan seperti hubungannya dengan Rindi.


Tapi yang membuatnya marah adalah sikap acuh dan menghindar-nya Rindi. Hingga membuat dirinya benar-benar takut kehilangan Rindi.


“Kalau bunda memang pernah saranin buat kalian menikah berarti gak masalah buat bunda kalau kalian nikah


secara dadakan sekarang. Toh bunda juga mau.” Reza, menatap kedua bersaudara secara bergantian.


“Tapi bagaimana dengan keluarganya?” Linggar dengan kening yang berkerut.


“Tuh kan pusing sendiri.” Ucapnya sedikit dengan nada kemenangan melihat adiknya bingung. “Sudah kabarin


keluarganya?”


“Belum.” Linggar yang kembali tertunduk lemas, seolah kehilangan semangat.


“Ya, udah. Tapi kamu bisakan jagain dia dulu. Kasihan Cacha nanti nyariin kita, kalau liat rumah berantakan


kayak tadi bisa shock dia.” Reza yang baru saja mengingat anak kecilnya.


Benar, pastinya anak kecil itu shock saat mendengar pertengkaran mereka tadi, ditambah dengan keadaan rumah


yang mungkin saja belum di bereskan.


“Ya udah kita pulang dulu! Awas kamu ngapa-ngapain dia lagi.” Lirna yang masih memandang sinis ke arah adiknya.

__ADS_1


Tinggallah Linggar menemani Rindi yang tertidur sangat pulas pengaruh obat. Wajah tenang itu masih terlihat


pucat.


Ia tahu jika perbuatannya itu akan membuat Rindi sakit, marah dan bahkan kecewa padanya. Namun sungguh ia tak pernah menyangka jika gadisnya ini akan terjatuh dan terpuruk seperti sekarang ini.


Lebih dari yang Rindi rasakan, gadis itu justru merasa terbelenggu, jatuh dan terinjak.


Linggar memilih membaringkan tubuhnya di dekat Rindi. Tak bisa dipungkuri tubuhnyapun terasa lelah. Ia butuh


istirahat sekarang. Meskipun bajunya masih terlihat noda merah yang telah mengering, namun itu tak jadi masalah baginya. Yang penting ia bersama Rindi.


Ia masih sempat merasakan elusan tangan Rindi di lengannya sebelum ia pun jatuh ke dunia mimpinya.


Senyum kecil dan samar di wajahnya. Rindi juga turut menghawatirkannya.


\======


Reno berlari menelusuri lorong rumah sakit setelah tadi bertanya di bagian resepsionist mengenai keberadaan


adiknya. Di susul seorang pria yang juga berlari di belakangnnya sambil terus memanggi-manggil namanya.


“Ren, Reno!”


Pria itu sempat berbalik melihat pemilik suara yang sejak tadi mengganggu pendengarannya.


“Ada apa?" Tanyanya lalu kembali menanyunkan langkahnya.


“Ada apa? Siapa yang sakit?”


“Dira.” Sedikit teriak karena ia harus terus berlari dan masih di susul seorang pria di belakangnya.


Pelan-pelan ia mulai membuka pintu yang telah ia yakini sebagai kamar perawatan adiknya. Sedikit terperangah


mendapatkan kamar pelayanan Dira dengan VIP. Dengan dilengkapi sofa di dalam kamar perawatan itu.


mengetahui keadaan ini.


Ah sudahlah, mungkin sebentar lagi semua tagihan itu akan masuk ke rekeningnya.


Kembali matanya menatap sebuah tirai yang terjulur menutupi ranjang perawatan. Kaki melangkah meskipun rasa


penasaran seolah semakin mengetuk. Bagaimana dengan keadaan adik kesayangannya kini?


Dan begitu dirinya menangkap pemandangannya di hadapannya kini, seolah darah kini mulai memuncak.


Bagaimana tidak, saat ini dirinya melihat adik yang telah ia jaga sepenuh hati kini terbaring lemas dengan seorang pria yang memeluk tubuh adiknya.


Tanpa harus menunggu penjelasan atau bahkan menunggu lelaki itu terbangun, ia kini telah menarik kerah baju lelaki tak tahu diri itu.


Membuat Linggar yang belum sempat mengumpulkan serpihan nyawa kini terpaksa membuka mata dan berjalan dengan sempoyongan mengikuti arahan Reno dengan tarikan tangan.


“Kamu apakan adik hah?” Reno dengan mata membulat sempurna menggambarkan kemarahannya.


Namun ia sama sekali tak membutuhkan jawaban atau tanggapan apapun karena sebuah bogem mentah telah ia


layangkan dan mendarat mulus di rahang Linggar.


Pintu terbuka menampilkan lelaki yang sejak tadi mengejar Reno. Tak ada niat untuk melerai kemarahan Reno,


lelaki itu terus mengedarkan pandangannya dan berhenti pada sosok yang masih terbaring dan menutup mata.


Meski masih bingung dengan keadaan Dihyan seolah hanya ingin menjawab sendiri kebingungannya.


Dira yang terbaring di ranjang rumah sakit. Reno yang baru saja sampai dan langsung menghajar seorang pria


yang tak ia kenali.

__ADS_1


Kini Reno telah berhasil membuat lelaki itu terpojok dengan tangan yang kembali meraih kerah baju yang telah


kusut.


“Maaf kak, bang. Maaf.” Linggar yang berusaha mengendurkan tangan yang masih betah berada di bajunya.


Ia tahu pria ini. Bahkan ia sempat memuji dalam hati tentang sosok yang seolah masih semangat untuk memukulnya. Pria tampan yang dulu sering mengantar Rindi ke kampus.


Wajarlah jika adiknya memiliki paras cantik seperti ini, kakaknya saja tak kalah tampan.


Kakak Rindi yang berarti calon kakak iparnya. Namun ia masih bingung dengan panggilan untuk calon kakak


iparnya itu, ia kembali dihujam sebuah bogem mentah.


Suara gaduh itu membuat sang pasien tak lagi mampu menahan matanya untuk tidak terbuka. Dengan pandangan


pertama pada sosok yang berada di belakang pintu sambil menatap ke arahnya.


Dan di sisi kanan ruang, dua orang yang sangat ia kenali tengah bergulat. Bukan lebih tepatnya kakaknya yang


menyudutkan Linggar.


Pintu terbuka menampilkan sosok wanita cantik dengan perut membuncit, berjas putih kebanggaan setiap dokter.


“Sayang, kamu lari?” Ucap sang pria di dekat pintu yang langsung menghampiri sang wanita hamil dan mengelus


perut buncit itu. “Pelan-pelan!”


“Aku liat kamu sama Reno lari, jadi aku ikutin kamu.” Ucapnya sambil meraih tangan suaminya.


“Ada apa?” Rima yang juga turut mengedarkan pandangan dan berhenti di sosok yang terbaring.


“Sayang.” Wanita buncit itu mulai melangkahkan kaki ke arah Rindi sambil merentangkan tangan seolah siap


merengkuhnya, mengabaikan sang suami yang masih mengelus perut itu.


“Kamu gak papa?” Rima yang kini telah memeluk tubuh lemah Rindi. Mendapatkan perlakuan seperti ternyata justru


membuatnya kembali merasakan keterpurukan yang teramat. Meluluh lantahkan pertahannnya.


Titik-titik bening itu kini telah kembali terjun dari pelupuk matanya. Menghiasi wajah yang masih sembab.


Harus bilang apa pada orang-orang yang telah berkumpul di ruangan itu. Mereka adalah orang-orang yang


menyayanginya dan senatiasa akan melindungi dirinya.


Lihatlah, saat ini Linggar telah dihajar habis-habisan oleh kakaknya, pasti dengan alasan ingin melindunginya.


Lalu bagaimana ia harus menjelaskan jika dirinya kini umpama telur yang telah pecah?


“Aku tanggung jawab! Aku tanggung jawab!” Ucapan Linggar mampu meredam suara-suara gaduh yang sejak tadi terdengar meski hanya seper sekian detik lamanya.


Duarrrrr!


Duarrrrr!


Berbagai jenis pemikiran yang beterbangan bagai serpihan kini telah tersusun rapi hanya dengan kata-kata itu.


Apalagi kalau bukan?


Kemudian,...


To Be Continued


\=======


Hai teman-teman ! Terima kasih sudah mampir di novelku. Mohon dukungannya dengan cara like, komen dan vote.

__ADS_1


Author menerima segala kritik dan saran namun di mohon agar tetap menjaga bahasa agar tetap sopan dan santun. Karena Author juga punya Hati, hati yang lembut!


__ADS_2