Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Citra, maaf!


__ADS_3

Masih di bawah tatapan mengitimidasi dari semua pihak. Rindi berjalan lurus ke depan dengan wajah tertunduk.


Hingga sampai ke dalam ruang kerjanyapun tatapan yang ia dapatkan tak berganti.


Sinis dan menyudutkan.


Tak ada sapaan, atau bahkan canda tawa seperti yang sering ia dengar dulu.


Dirinya kini seperti berada di depan meja hijau. Terduduk di kursi terdakwa di antara penuntut umum dan Hakim.


Bagaimana menjelaskan semuanya.


Dirinya hanya pura-pura kuat.


Kuat berada di bawah tatapan seluruh penghuni ruang.


Kuat untuk tak menangis.


Layar komputer yang menampilkan angka-angka yang berurutan kini terlihat seperti menumpuk satu sama lain.


Kolom-kolom yang tertata rapih justru terlihat seperti berhamburan tak menentu.


Pekerjaan yang biasanya dikerjakan one by one seperti sedang mengejarnya secara bersamaan. Tak tahu harus mengerjakan yang mana dulu.


Membuatnya semakin pusing saja.


Faktur dan berkas-berkas yang tergelat di atas meja seperti sampah yang harus ia buang ke dalam tempat sampah.


Atau memberikan pada penjual kacang keliling untuk di jadikan pembungkus saat ada pelanggan, setidaknya itu lebih bermanfaat.


Dalam keadaan seperti ini, sangat jelas jika ia tak akan mungkin berada dalam garis konsetrasi.


Ingin pulang saja.


Baru setengah jam yang lalu ia duduk kembali di kursinya ini, tapi terasa bagai setahun lamanya.


Dan ia masih harus bertahan untuk beberapa jam ke depan lagi. Kembali melirik angka disudut kiri layar komputer, masih menunjukkan angka 13.30.


Uggghhh, lamaaaa,....


Dan bagaimana dengan besok, besok dan besoknya lagi.


Ya ampun.


Ingin rasanya mengundurkan diri dari kantor itu.


Tapi kontrak kerja yang ia tanda tangani 6 bulan lalu, masih mengikatnya untuk enam bulan berikutnya lagi.


Adakah jalan untuknya mundur dari pekerjaan ini tanpa mendapat penalti.


Pikirannya semakin kacau, apalagi saat pintu di ketuk dari luar.


Rindi bahkan sempat terhentak saat ketukan pertama.


Pertanda bahwa ia sedang berada dalam dunia khayalan.


Semakin terlihat keruh saja saat mendengarkan Riswan berkata, "Rindi dipanggil bu Kaila di ruang rapat."


Tak sadar tangannya bergerak menutupi wajah.


Bisa dipastikan panggilan itu bukanlah panggilan biasa.


Panggilan itu pasti membicarakan tentang kejadian dengan Citra di kantin tadi.


Ingin sembunyi, tapi di mana?

__ADS_1


Tak ada alasan tepat yang bisa ia persembahkan untuk menghindar dari pertemuan itu.


Dirinya harus siap menerima Surat peringatan.


Tapi jika boleh memilih, ia ingin diberi surat pemecatan saja.


Hengkang dari kantor ini mungkin jauh lebih baik dari pada harus bertahan dalam keadaan seperti ini.


Dan yang paling penting, ia takkan bertemu lagi dengan Linggar maupun Citra.


Setelah itu, terserah!


Linggar mau bersama dengan siapa, terserah.


Tak ingin pusing dengan Linggar lagi.


Ia memang tak pantas untuk Linggar.


Itu bukanlah hal baru yang ia dengar.


Sebelumnya, bahkan sering sekali.


Tetap memaksakan kaki untuk melangkah ke tempat yang telah


Anehnya, Riswan tetap menemani dirinya.


"Kamu gak pa-pa?" Riswan yang berjalan tepat di samping Rindi.


Rindi justru merasa risih dengan perhatian yang diberikan oleh pria itu.


Tak perlu bertanya, karena semua orang setidaknya bisa menebak perasaannya saat ini.


Intinya adalah MALU.


Ingin pergi menghindar.


Tak usah bertanya lagi.


Dan jika boleh, suruh saja pria ini menjauh darinya.


Tak ingin dikasihani, Rindi hanya ingin meminta waktu untuk sendiri saja.


Bahkan Riswa yang mengetuk pintu ruang rapat itu untuk Rindi.


Cari perhatian saja.


Pergilah!


Ingin sekali Rindi mengucapkan satu kata itu, namun bibirnya hingga kini enggan untuk terbuka.


Masuk ke ruang rapat.


Kaki terhenti melangkah, tubuh diam mematung, matanya langsung terpaku pada satu sosok lain di sana.


Satu sosok itu adalah gadis yang tadi menjadi rivalnya.


Ah, tidak-tidak ia tak ingin memiliki rival hanya untuk seorang Linggar.


Tak ingin kehilangan teman. Biarlah ia yang mengalah, tak mengapa.


"Duduk!" Perintah Bu Kaila saat menatap RIndi yang tak bergerak dari tempatnya.


Rindi mulai melangkan kembali, dengan menundukkan pandangan.


Duduk tepat di hadapan Citra yang diam membisu.

__ADS_1


Penampilan mereka hampir sama, kusut, muram, sedih.


Namun tak sebanging dengan Rindi yang diikuti dengan kata lembab untuk tubuhnya karena tadi tersiram beberapa kali.


Dari pandangan Citra menyiratkan amarah dan rasa benci.


Sukar diluahkan.


Mereka hanya berbatas meja panjang. Sementara Bu Kaila duduk di tengah, tepatnya di kursi yang biasa pemimpin-pemimpin tempati saat sedang rapat.


Riswan tak ketinggalan ikut masuk.


Mau apalagi pria itu.


Entah kenapa pria itu seperti sedang mengikuti dan mencoba memberikan semangat pada Rindi.


Padahal pria itu hanya menjalankan tugas saja. Karena ia ditunjuk sebagai notulen atau saksi di sana.


Rindi terlalu percaya diri. Atau masalah yang ia hadapi membuat semua bagai masalah saja di depannya.


Suasana hening seketika.


Semakin terasa tegang, saat Bu Kaila memainkan ballpoint di tangannya. memutar-mutar sesekali mengetuk-ngetuk meja dengan ballpoint itu. Pandangan tajam ke arah kedua wanita yang justru tertunduk dalam diam.


"Ada yang ingin menjelaskan?" Kalimat singkat dari Bu Kaila sebagai pembuka. Pun mampu mengangkat kepala kedua wanita itu.


Tegas bukan berarti harus keras. Dan itulah yang coba ditunjukan oleh wanita satu itu.


Memang beliau pantas untuk menjadi seorang pemimpin.


Tak ada jawaban.


Pun dengan Citra yang memilih kembali menundukkan wajah, memandang ke arah meja.


"Baiklah! Ada yang ingin meminta maaf duluan?"


"Tidak ada?" Bu Kayla masih memandang secara bergantian pada dua wanita itu.


"Dia yang salah bu!" Citra sambil menunjuk ke arah RIndi hanya dengan tatapan.


Sementara Rindi hanya mampu menunduk ketika kesalahan dijatuhkan padanya.


"Dia gak jujur. Dia penghianat. Dia teman yang menikam dari belakang." Kata-kata itu keluar dari mulut Citra dengan mata yang semakin menatap tajam pada Rindi.


Yang ditatap hanya mampu menggeleng kepala dengan tatapan nanar, pilu.


Sebanyak apapun ia menjelaskan, akan tetap menimbulkan rasa sakit di hati Citra. Inginnya Rindi membiarkan masalah ini begitu saja.


"Karena ulah kalian, perusahaan mungkin akan mengeluarkan peraturan baru lagi. Dan mungkin itu akan merugikan karyawan lainnya. Bisa dipastikan mereka yang merasa dirugikan akan menuduh kalianlah sebagai asal usul peraturan itu. Dan memang seperti itulah. Tidak menutup kemungkinan mereka akan membenci...."


Terdengar salam di arah pintu yang baru saja bergeser terbuka.


Menampilkan Linggar yang baru saja masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.


\=========


Jangan lupa tinggalkan jejak kesayanganku.


Bisa like, komen, hadiah atau vote juga.


Karena jejakmu adalah semangatku.


Emmuah!


Emmuah!

__ADS_1


Emmuah!


Salam dari dinda.


__ADS_2