Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Semua Baik-Baik Saja


__ADS_3

Bunda mulai beranjak, hendak menjenguk Linggar di kamarnya. Ingin melihat langsung keadaan putranya dan memastikan semua baik-baik saja.


Mengetuk pintu kamar Linggar. Meskipun sedikit ragu jika Linggar akan mengijinkannya masuk dan melihat


keadaannya.


Tak ada jawaban dari dalam, meskipun telah beberapa kali bunda mengetuk pintu bercat putih itu.


Tak bosan, karena misi pendampingan putranya harus dimulai sejak saat ini.


Kembali mengetuk pintu kamar Linggar, “Gar, ini bunda sayang. Boleh bunda masuk?”


Hingga suara Linggar mempersilahkan bunda untuk masukpun terdengar dari dalam, “Masuk aja bun!”


Membuka sedikit pintu, hanya sedikit berniat terlebih dahulu untuk mengintip aktifitas Linggar.


Sebelumnya bunda mengira Linggar sedang mandi atau apalah, kegiatan yang bisa menunda putranya itu untuk


menjawab ketukan pintunya tadi.


Tapi setelah melihat lebih jelas, ternyata Linggar hanya tinggal duduk dan berdiam diri di kasurnya.


“Sayang, bunda masuk ya?” Bunda sambil melangkahkan kaki masuk ke dalam kamar.


Linggar hanya menengok sebentar, mengangguk lalu kembali menatap lantai kamarnya, menunduk.


“Sayang,” Kembali menyapa saat telah tiba di dekat Linggar sambil menyentuh pundak putranya.


“Kamu marah sama bunda?” Lanjutnya. Karena mendapatkan Linggar masih mendiaminya.


“Gak bun.” Linggar kembali menatap bunda. Hanya sebentar lalu kemudian kembali menunduk.


Dari kediaman yang ia tunjukkan sangat nampak jika pria itu seolah sedang melakukan protes pada bundanya.


“Kamu marahkan sama bunda?” Kembali mengulang pertanyaan yang sama. Meskipun dengan sikap Linggar saja


telah mampu menjawab pertanyaan itu, namun bunda ingin jawaban berupa kalimat yang terucap.


“Gak pa-pa bun.” Semakin bertolak  belakang antara jawaban dengan sikapnya. Karena setelah itu Linggar menundukkan diri sedalam-dalamnya dan mulai mengambil jarak dari bunda.


“Sayang, bunda hanya ingin melihat kamu bahagia.” Bunda mendekat dan duduk tepat di samping Linggar.


Dan kebahagiaanku bersama Rindi. Kata hati Linggar yang tak terucap.


“Bunda pernah melihatmu jatuh karena wanita itu, dan bunda gak mau kejadian itu terulang kembali, apalagi dengan wanita yang sama.” Sambil terus mengelus punggung Linggar, mencoba memberikan semangat dan keteguhan pada putranya.


"Belajar dari masa lalu! Cobalah mengenali dan memahami seseorang sebelum engkau membawanya masuk ke dalam kehidupanmu!"


“Sayang, please! Buka matamu untuk melihat isi dunia ini!”


“Kamu masih muda, tampan dan berkarir, banyak wanita yang ingin berada di sampingmu. Banyak wanita yang


bersedia untuk memberikan cintanya dengan tulus. Bukan hanya wanita itu.”


Entah mengapa bunda seolah tak ingin menyebut nama Rindi. Padahal hanya sebuah nama, tak kan membuat alergi.

__ADS_1


"Sifat dan tabiat seseorang sulit untuk diubah. Jika orang itu pernah selingkuh tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti dia akan kembali selingkuh, setia seolah sulit untuknya."


"Jangan jatuh ke lubang sama. Apalagi alasan dan orang yang sama."


Linggar hanya menunduk. Kesal, sudah pasti.


Ia ingin marah, tapi pada siapa?


Karena tak mungkin baginya untuk marah pada bunda. Orang yang telah mengandungnya selama sembilan bulan lamanya, lalu mempertaruhkan nyawa sendiri hanya untuk membuatnya bisa melihat dunia ini.


Memberikan seluruh kasih sayang hingga melupakan diri sendiri. Lalu pantaskah ia marah pada sosok yang sangat


berjasa untuk dirinya.


"Aku baik-baik aja bun." Ucapnya, sangat terlihat jika ucapan itu berbanding terbalik dengan hatinya.


Terlalu kentara jika hati kini tengah terluka.


Lebih baik ia menghukum dirinya sendiri, menyalurkan kemarahan pada dirinya sendiri. Tak apa jika ia yang harus


menanggung semua ini sendiri. Tak perlu bunda, dan jangan pula Rindi.


Toh ini juga kehidupannya. Ia yang akan jalani.


Dunianya terasa mati, hilang semangat hidup. Jika memang ini yang terbaik, biarlah dirinya saja yang hancur.


Biar dirinya saja yang pergi.


\=======


"Nanti di kantor bun," Memang turun diakhir waktu.


Rasanya ia lebih memilih tinggal di dalam kamar, entah menenangkan diri atau menghindari bunda. Bahkan rasanya tubuh serasa berat untuk beranjak dari kasur, sepertinya itu menjadi tempat ternyaman saat ini.


Berlalu begitu saja, tanpa adanya sapaan selamat pagi dan kecupan di pipi sang bunda seperti dulu.


Bunda hanya mampu tersenyum kecut, memandang punggung yang semakin jauh dan menghilang dari pandangan berbatas dinding.


Tak apa, mungkin ini hanya sebentar, Linggar akan kembali ceria dan aktif seperti dulu lagi.


"Ada masalah?" Tanya ayah yang melihat interaksi keduanya yang terkesan jauh.


"Kayak lagi perang dingin gitu?"


Bunda hanya tersenyum kaku sambil menggelengkan kepala, menunjukkan jika semua memang baik-baik saja seperti yang semalam Linggar katakan.


"Kalau ada masalah ngomong sama ayah bun. Ayahkan suami bunda, tempat berbagi cerita, tempat melepas penat, tempat bersandar jika tubuh tak lagi mampu menopang."


"Jangan suka menyembunyikan masalah, apalagi itu menyangut anak-anak. Ingat ayah juga berkah mengetahui keadaan anak-anak, sekecil apapun. Ayah memang sibuk kerja, dan memberikan semua tanggung jawab anak-anak pada bunda. Tapi bukan berarti bunda menutupi semuanya pada ayahkan?"


"Ngomong sama ayah, ada masalah apa? Sebelum masalah semakin membesar, dan kepala bunda pecah!"


Bunda menatap dalam ke mata teduh suaminya. Kata-kata ayah terasa menyejukkan.


Ingin bercerita tapi merasa sangsi, takut telunjuk kesalahan berada di hadapannya.

__ADS_1


"Sebelum semuanya menjadi runyam, dan semakin sulit dikendalikan."


Kalimat ayah, seolah membuka lebar pandangan bunda. Benar ia tak ingin semua runyam.


"Rindi." Bunda dengan lirih dan menunduk.


"Kenapa?" Pertanyaan ayah kembali mengangkat pandangan bunda.


"Sini bun," Memberikan kode pada bunda untuk duduk di sampingnya. Mungkin pembicaraan sedikit serius.


Bunda menurut, menggerakkan kursi tepat di samping ayah yang masih menikmati sarapannya.


Pembicaraan ini sepertinya salah waktu, ayah harus segera berangkat kerja.


"Mereka kembali. Kemarin Linggar bawa Rindi ke sini. Katanya mereka ingin rujuk."


"Terus masalahnya di mana?"


"Bunda gak ijinin." Bunda dengan cemberut.


"Kenapa? Bunda masih sakit hati dengan perpisahaan mereka? Kan mereka udah mau balik, harusnya bunda dukung!" Ayah berbicara sambil mengunyah makanan yang ada mulut.


"Tapi keluarga Rindi tidak menerima Linggar yah." Bunda kelapang jujur, semoga bisa mendapat dukungan.


Ayah menghentikan kunyahan, berbalik menatap mata yang sendu tengah membalas tatapannya. Ada rasa sedih bercampur kecewa di sana.


Benarkah putra yang ia banggakan tak diterima oleh keluarga mantan menantunya?


Apa yang salah? Serasa berita ini tak bisa beliau percayai.


"Kalau bunda butuh pundak,....?" Menepuk pundaknya sendiri, mempersilahkan bunda untuk bersandar padanya.


Benar, bunda langsung merebahkan kepala di pundaknya. Berarti benar pula perkataan bunda barusan.


"Mereka saling mencintai, mereka juga sudah dewasa bukan anak kecil yang harus dieja lagi." Lanjut ayah, masih setia memberikan saran meski mulut sedikit penuh.


"Bicarakan baik-baik dulu dengan mereka. Apa benar, keluarga Rindi belum menerima Linggar?"


"Kalau bunda butuh teman bicara, bisa Lirna. Biasa perempuan itu cocok untuk jika menyangkut gosip, gibah atau,...."


Plak.


Tangan bunda menupuk pundak yang baru saja dijadikan tempat bersandar. Kesal juga rasanya.


"Jangan cemberut terus, suami mau kerja cari uang harusnya disenyumin biar rejekinya lancar. Uangnya juga masuk ke dalam dompet bunda kok."


Senyuman manis langsung disuguhkan oleh bunda untuk suami yang senantiasa mendukung dan menegurnya jika khilaf.


Saran ayah patut di coba.


Berbicara dari hati ke hati dengan Linggar dan Rindi, juga meminta pendapat Lirna.


\==========


Maaf yah hari ini cuma satu up.

__ADS_1


__ADS_2