Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Dunia Ini Milik Berdua, Yang Lain Numpang


__ADS_3

Ruang tamu dan ruang keluarga lebih lapang tanpa sofa dan perabot lainnya. Berlatar bunga-bunga yang dibentuk menjadi sebuah gate.


Terlihat lebih lapang saat tirai putih dan dihias seperti pita-pita mengelilingi sisi ruang.


Hanya satu meja pendek yang telah ditutup dengan kain putih berhias rangkaian bunga dalam vas mini.


Di sisi meja, telah dikelilingi bantalan sebagai tempat duduk penghulu dan kedua mempelai.


Karpet bulu yang terbentang menutup semua lantai, menjadi pijakan sekaligus tempat duduk para undangan dalam acara ijab kabul sederhana tersebut.


Seorang pria menggunakan kemeja putih yang dibalut dengan jas putih gading.


Di sakunya terselip sapu tangan yang telah di bentuk sedemikian rupa menambah kesan manis sang mempelai.


Dengan dasi sewarna dengan jas yang digunakan.


Sang mempelai pria yang telah duduk melantai berhadapan dengan sang penghulu.


Menundukkan kepala sambil mengatur hati dan pernapasan. Jantung berdegup kencang, mengalahkan denting jarum jam.


Bibirnya komat-kamit meskipun samar namun terlihat ketika memperhatikan mulutnya yang tidak diam tertutup.


Entah doa apa yang sedang ia praktekkan.


Tangan begitu dingin namun basah karena keringat, bermain di bawah meja. Ruangan ini terasa sempit baginya.


Sadar sepenuhnya jika orang-orang sedang memperhatikan dirinya, dan itu membuat diri semakin merasa gugup.


Seolah wajib untuk menampilkan sesuatu yang sempurna, tanpa kekurangan dan kesalahan apapun.


Masih betah menunduk mendengarkan “Khutbah Nikah” dari seseorang yang diminta khusus dalam acara tersebut.


Mendengarkan sambil terus menata jantung yang masih berdegup.


Ya ampun, sepertinya jantungnya harus diberi penenang terlebih dahulu.


“Bisa kita mulai?” Ucapan yang terdengar dari hadapannya membuat jantung seperti berhenti dalam sepersekian detik.


Gelagapan, mengedarkan pandangan ke setiap arah ruangan.


“Waah, pengantinnya gugup.” Sambung pak penghulu.


Membuat ruangan menjadi ruih seketika, karena orang-orang sedang tertawa. Tentunya sedang menertawakannya.


Ya ampun! Berpikir, lagi-lagi ia menjadi bahan guyonan.


Namun semua itu mampu membawa dirinya ke dalam perasaan yang lebih santai. Menunduk sambil ikut  tersenyum.


“Sudah rileks?”


Dibalasnya dengan anggukan kepala masih dengan bibir yang tertarik naik.


“Bisa kita mulai?”


“Siap pak.” Kali ini dengan suara lantang seolah sedang memberikan kekuatan pada dirinya sendiri.


“Pengantinnya sekarang sudah semangat sepertinya.”


Pak penghulu mengulurkan tangan ke depan, di sambut baik oleh mempelai pria meskipun masih dengan tangan basah nan dingin.


Ijab yang penghulu ucapkan telah di sambut oleh sang mempelai pria berupa kabul.


Kata “Sah” menggema di ruang tamu.


Menandakan sepasang insan manusia telah terikat dalam satu ikatan janji suci.

__ADS_1


Sang mempelai wanita telah dituntun untuk keluar dari peraduannya. Pipi merona menahan malu.


Dengan berjalan menunduk, meyakinkan diri bahwa dirinya kini juga menjadi titik fokus pandangan semua orang yang berada di sana.


Termasuk sang mempelai pria yang menatapnya hampir tak berkedip.


Linggar yang mengatup bibir menahan senyumnya agar tak terlalu terlihat. Wanita itu adalah istrinya sekarang, miliknya.


Cantik.


Cantik sekali istrinya itu.


Mengalahkan semua bidadari yang sedang bertugas memberikan selamat padanya secara tak kasat mata.


Rasa bahagia dan bangga pada dirinya sendiri karena telah berhasil memiliki sang pujaan hati dengan seutuhnya secara agama dan negara.


Baginya tak ada lagi penghalang antara mereka. Selalu bersama sepanjang waktu. Tak ada lagi kata perpisahan yang mengkibatkan rindu merajalela.


Rindi duduk di samping pria yang kini telah menjabat sebagai suaminya. Masih menundukkan kepala, perasaannya


kini tak menentu.


Antara bahagia namun terselip rasa ragu dalam hati.


Mengingat perselisihan yang baru saja terjadi di dalam kamar sebelum acara ijab kabul, yang hampir saja mengancam keselamatan pernikahannya.


Tapi semua sudah berlalu, harusnya sekarang ia lega karena ancaman kakaknya tak berlaku.


Namun tetap saja rasanya belum puas jika Reno belum memberikan restunya secara ikhlas pada Linggar, suaminya sekarang.


Saling melirik, masih dengan senyuman yang tersembunyi. Menahan diri untuk tidak mengulurkan tangan untuk saling merengkuh.


Sedikit saja senyuman mereka tampilkan, tidak menutup kemungkinan itu akan menjadi bahan candaan mereka yang berada di sana.


Linggar sedang membacakan “Hukum Taklik Talak Dalam Perkawinan.”


Pernikahan ini, ia yang ingikan bahkan saat harus menempuh jalan pintas.


Yakinlah, hatinya benar-benar tulus mencintai Rindi. Bahkan seluruh denyut nadinya dan deru napasnya terukir nama Rindi, hanya Rindi.


Setelah menandatangi beberapa surat-surat penting dan saling bertukar cincin. Menyematkan cincin di jari manis pasangan, siap memberi tahukan seluruh dunia bahwa mereka telah termiliki satu sama lain.


Bersalaman.


Rindi di tuntun untuk mencium punggung tangan Linggar sebagai bentuk ketaatan pada sang suaminya.


Kini berbalik Linggar di tuntun untuk mengecup kening Rindi sebagai bentuk kasih sayang pada sang istrinya.


Kesempatan!


Ia memang sedari tadi ingin mencium Rindi. Apalagi saat melihat Rindi yang tersenyum simpul ke arahnya, semakin menampilkan aura keindahan seorang wanita.


Jika perlu seluruh permukaan kulit wajah Rindi akan ia sentuh dengan bibirnya.


Hihihi, terkikik dalam hati.


Namun lagi-lagi harus menahan diri.


“Tahan!”


Klik.


Klik.


Klik.

__ADS_1


Menciptakan beberapa foto yang indah.


“Sedikit saja, masih banyak tamu di sini. Lama-lamanya bentar malam aja!” Suara itu memancing tawa semua orang yang berada di sana.


Lagi-lagi mereka yang dijadikan sebagai objek guyonan. Membuat mereka kembali merasakan pipi merah merona.


Senyum kikuk Linggar tunjukkan seraya melepaskan kecupan. Memilih untuk kembali menundukkan kepala, menyembunyikan raut wajah merona malu namun bahagia.


Tak apalah, masih banyak waktu untuk berdua dengan Rindi dan melakukan apapun.


Ingat! Apapun.


Dilanjutkan dengan doa yang masih dipimpin oleh pak penghulu.


Beberapa foto kembali diambil dalam beberapa gaya dan ekspresi. Juga bersama kerabat yang hadir dalam pernikahan itu.


Linggar menjemput tangan istrinya untuk dilingkarkan ke belakang tubuhnya, karena sedari tadi tubuh istrinya itu seperti kaku untuk menyentuhnya.


Sementara tangannya sendiri bertugas untuk merengkuh bahu Rindi, dekat.


“Nah begini baru benar”, ucapnya lirih di dekat Rindi.


Kembali di tuntun dengan gaya yang saling berhadapan dan berpandangan.


Menyumbangkan senyumannya untuk wanita yang berada tepat di depannya. Dengan memainkan alisnya naik turun lengkap dengan wajah jahilnya.


Membuat sang wanita tak tahan untuk melepaskan tawanya. Menunduk, hingga dahinya menyentuh bahu Linggar.


Dengan bahunya yang terguncang karena masih berusaha semaksimal mungkin untuk tetap menahan tawa.


Jaimnya masih di jaga.


Linggarpun ikut tertawa. Andaikan saja tak ada orang lain di sana, mungkin ia akan mengangkat kepala hanya untuk mengeluarkan semua suaranya untuk tertawa hingga puas.


Padahal hal yang ditertawakan adalah hal yang sepele, hanya karena saling memandang saja.


Ini adalah tawa pertama Rindi untuknya setelah insiden lalu. Berharap, Rindi melupakan semua luka yang pernah mereka lalui.


Ia ingin cepat-cepat meminta foto yang baru saja diambil untuk dijadikan wallpaper dimana saja. Ponsel, laptop atau bahkan mencetaknya dan menempelkan di dinding kamarnya.


Orang-orang sepertinya betah menikmati acara ini meskipun hanya berbincang sambil sesekali tertawa.


Ah, lama sekali waktu bergulir.


Apakah mereka tidak lelah?


Ingin sekali Linggar mengusir mereka hingga meninggalkan tempat ini satu persatu. Ia sudah tak sabar untuk masuk ke acara inti.


Apalagi kalau bukan malam pertama yang sudah bukan pertama bagi mereka berdua.


Merasakan keindahan malam pertama.


Merealisasikan konsep, "Dunia ini milik berdua, yang lain numpang."


Tak apa. Setidaknya mereka melakukan hal itu dalam keadaan yang telah sah. Bukan lagi sebuah dosa dan noktah kehidupan.


\=\=\=\=\=\=


TBC


Jangan lupa bagi jempolnya yang banyak.


Episode ini adalah termasuk yang tersulit buat Othor.


Membutuhkan dua hari hanya satu bab saja.

__ADS_1


Jadi jangan kecewakan Othor yah, setidaknya beri semangat sedikit saja.


__ADS_2