Nilai Sebuah Kesetiaan

Nilai Sebuah Kesetiaan
Kepergok


__ADS_3

"Udah." Ucap Rindi sambil berusaha melepas dekapan erat sang kekasih.


Sekalinya terlepas, iapun langsung berbalik badan membelakangi Linggar.


Tak bisa dipungkiri nalurinya turut beranjak ingin mendapatkan yang lebih.


"Hadap sini Rin," Linggar dengan nada memelas.


"Gak takut khilaf." Dengan ketus, padahal jantung tengah berlomba.


"Aku lagi sakit loh Rin! Aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu." Sambil terus berusaha menarik tangan Rindi yang selalu saja menepis tangannya.


"Gak ngapa-ngapain gimana? Udah tegang juga." Masih dengan nada ketusnya.


"Eh, kamu rasa?" Sedikit bangkit dari baringnya demi memandang raut wajah sang kekasih. " Beneran kamu rasa? Kangen kan?"


"Pc, aku pulang nih! Aku pulang." Rindi berlagak bergerak hendak turun dari ranjang. Membicarakan hal sensitif seperti itu, pasti malu lah. Tapi kenapa Linggar seolah santai dan enteng-enteng saja?


"Eh jangan! Aku gak yang temanin."  Pinta Linggar. Dua hari ini seperti doa sedang dikabulkan.


Bunda tak mucul menjenguknya. Membuat rasa khawatir sedikit menghilang. Mereka bisa melepas rindu dua hari ini.


"GIni aja." Tangannya membentang di atas pinggang Rindi.


Linggar memeluk dari belakang.


"Tidur!" Memaksa diri memejamkan mata hingga akhirnya mereka benar-benar larut dalam mimpi.


\========


"Astaga!" Pekikan Lirna tertahan. Kedua tangan membekap mulut sendiri saat mendapati adiknya yang konon sedang sakit tengah tidur sambil memeluk sesosok tubuh wanita.


Melirik sang suami yang juga sama terkejutnya dengan dirinya.


"Sssttt," Reza dengan telunjuk di depan bibir.


Saling bergandengan tangan, melangkah dengan pelan berusaha tak menimbulkan bunyi yang bisa mengganggu kedua insan itu.


"Rindi." Bisik Lirna pada suaminya.


Saat ini mereka telah berada tepat di hadapan ke dua orang yang terbaring itu.


Menatap wajah RIndi yang tenang, tidur meringkuk dengan tubuh yang berada dalam dekapan adiknya.


Reza menarik pelan istrinya, sedikit menjauh dari sana, "Mereka dekat banget." Ucapnya turut berbisik.


"Sssttt," Suara dari sana membuat mereka kembali menoleh ke ranjang.


Sejak kapan Linggar tersadar?

__ADS_1


Lirna mengarahkan kepalan tangan ke arah Linggar, seolah ingin mengahajar adiknya itu.


Kesal dengan tingkah Linggar yang tidur berdua dengan Rindi atau karena ia harus menahan suara dan langkah karena takut mengganggu padahal yang di sana telah terbangun.


"Kamu ngapain peluk-peluk anak orang?" Suara berusaha tetap di pelankan. Sebenarnya ingin sekalian menjewer tapi tak tega.


"Pacar aku juga." Linggarpun tak kalah pelan, "Ngapain?"


Tangan satu masih berada di bawah leher Rindi. Pegal sebenarnya, tapi kapan lagi mereka berada dalam posisi ini, biarlah!


Lirna justu semakin kesal saja.


Ia yang telah berbaik hati ingin menjenguk keadaan adiknya yang sedang dirawat seolah mendapat pengusiran lembut melalui pertanyaan itu.


Belumpun ia sempat mengulurkan tangan yang terkepal ke arah Linggar, pintu kamar kembali di buka.


Menampilkan beberapa orang berpakaian kantor.


Teman-teman kantor Linggar dan Rindi datang menjenguk.


"Sore kak." Sapa Kamil pada kedua pasang suami-istri itu.


"Sore juga." Wajah yang tadi nampak seperti ingin menyerang musuh berubah menjadi lembut dan manis.


"Teman-temannya Linggar yah? Mau jengukin?" Tanyanya dengan senyum manis.


"Iya kak. Boleh?"


"Mumpung teman-temannya Linggar ada di sini, kami pamit duluan yah. Maklum ibu hamil, takut kecapean, gak boleh lama-lama juga di rumah sakit takut terkontaminasi." Reza meraih tangan istrinya yang sempat menjauh karena hampir saja kembali mendatangi Linggar.


"Kami pamit duluan yah." Berlalu meninggalkan kamar yang hampir saja penuh karena kedatangan teman-teman kantor Linggar.


"Sssttt," Kembali Linggar memberikan kode untuk memelankan suara, RIndi masih berada dalam dekapannya asik tenggelam dalam mimpi indahnya.


"Wiiiih, roman-romannya aku kenal nih!" Mengindahkan nasehat Linggar untuk tetap selow. Dengan derap langkah dan suara standar miliknya mulai mendekat pada dua insan yang berbaring itu.


Merogoh kocek demi mengambil ponsel. Wajahnya sumringah seolah arisan yang selama setahun ia nantikan baru saja naik.


"Aku penasaran liat cewek kalem tidur, apa tetap ada ilernya gak yah?" Mengarahkan kamera pada Rindi.


"Eh lucu, tidur pistol!" Tangan dikibaskan ke arah teman-temannya yang lain, memberikan kode mendekat.


Sikap tidur Rindi yang meringkuk dianggapnya seperti sebuah senapan.


"Jangan ganggu, capek banget dia." Linggar yang sok-sok'an melindungi kekasihnya dari paparasi dadakan, turut mengibas-ibaskan tangan di depan Rindi. Berharap kamera tak menangkap gambar mereka.


Cekrekkkk.


Bunyi kamera plus lampu kamera yang menyala menandakan gambar baru saja diambil membuat Rindi terbangun dengan heran.

__ADS_1


"Eh, eh," Tergagap terbangun dari mimpi, meski mungkin belum sepenuhnya tersadar, pandangannya dipenuhi oleh wajah sosok Kamil yang tengah memegang ponsel.


Menarik selimut menutupi wajah dan kepalanya. Setidaknya jika ini bukan mimpi, gambarnya tak jadi di abadikan.


Entah apa yang terjadi tadi saat ia tidur.


Linggar yang ia harap bisa melindungi dirinya kelakuan jahil temannya, nayatanya tak berpengaruh. Pria itu justru ter mencium pucuk kepalanya sambil terkekeh.


"Deket banget yah?"


"Ya iyalah, merekakan mantan suami-istri. Pasti pernah nganu juga."


Suara desas-desus yang terdengar di belakang. Lirih namun tetap terdengar.


"Kak gimana sih? Kok gak dibangunin?" Rindi mulai menegakkan tubuh setelah berlindung dalam selimut nyatanya tak membuahkan hasil. Tak lupa tepukan ringan ia berikan pada Linggar yang justru hanya terkekeh tak berdosa.


"Kamu tidur nyenyak banget, aku jadi kasihan."


Semua dari accounting officer, termasuk Citra.


Dan hati gadis itu belum sembuh seutuhnya.


Linggar ternyata masih meninggalkan bayang-bayang dalam hatinya.


Tapi apa mau dikata, pucuk di cita, ulam tak kunjung tiba.


Tersenyum samar meski kecut saat turut mendengar suara-suara itu. Pandangan di depan sana kembali mempertegas posisinya. Ia tak ada apa-apanya dibanding Rindi.


Setelah berbincang basa-basi dengan semuanya, Rindi memutuskan untuk ikut pulang dengan menumpang motor pada Kamil.


"Tunggu dulu Mil," Sebelum benar-benar keluar dari ruang itu yang hanya tinggal mereka bertiga.


"Kak, besok aku masuk kantor lagi yah, udah dua hari absen melulu." Ucapnya setelah kembali berada di dekat Linggar.


"Jangan dulu dong, aku gak ada yang mandiin." Bujuk Linggar, masih risih saat membayangkan tubuhnya harus di sentuh wanita lain selain bunda dan RIndi, "Siangan dikit deh, abis aku selesai yah!" Bujuknya lagi.


"Iya deh." RIndi pasrahpun tak tega.


"Infusnya kalo dah habis bakalan di lepas, panggil suster aja yah kak!"


Linggar mengangguk, menoleh ke arah Kamil yang turut menyaksikan obrolan mereka. Sepertinya pria di sana sudah tidak sabar untuk pulang.


"Cium dulu!" Pinta Linggar kembali.


"Ck," Rindi mulai berbalik tak mewujudkan pintanya. Bisa-bisanya priar itu minta hal itu di saat seperti ini.


To Be Continued!


Kita lanjut beberapa menit yah!

__ADS_1


Tapi jangan lupa oleh-olehnya.


__ADS_2