
Tangan Linggar terulur secara refleks saat Rindi hampir saja terjatuh saat hendak turun dari ranjang. Namun kembali di tarik karena ingin membiarkan gadis itu berusaha sendiri.
Dengan sangat pelan dan terseok-seok Rindi mulai meninggalkan klinik kampus diikuti Linggar dan Lilis yang justru memilih berjalan di belakangnya.
Ia masih mampu mendengar lirih suara di belakangnya sambil sesekali kekehan itu seolah mengejeknya. Inginnya Rindi berteriak meminta tolong pada siapa saja, untuk membantunya berjalan.
Mungkin dirinya tak sanggup lagi melanggkah lebih jauh, lebih memilih menangis seorang diri dengan tangannya bersandar di dinding hanya demi menguatkan tubuhnya.
“Kakak tega banget sama aku!” Teriaknya tanpa membalikkan tubuh.
Beberapa detik kemudian tubuhnya terangkat, namun ia tak berniat membuka matanya dan sudah bisa menebak jika Linggar sedang menggendongnya.
“Tadi juga mau digendong, katanya bisa sendiri!” Linggar yang seolah tertawa diatas kepayahannya membuat air matanya semakin deras.
Dirinya seperti ini karena pria ini, tetapi sekarang justru ditertawakan. Meskipun kesal ia tetap mengalungkan tangan ke leher dan menenggelamkan wajah ke ceruk Linggar.
“Eh, kok nangis sih?” Linggar yang baru saja menyadari jika Rindi menangis.
“Kakak tega banget sama aku.” Teriaknya, kemudian kembali menenggelamkan wajah karena rasa kesal kini bertambah rasa malu.
Malu karena ketahuan menangis. Dan ia harus jawab apa jika ditanya alasannya menangis.
“Kenapa?”
Tuh kan, harus bilang apa?
Linggar memilih duduk di kursi taman. Dengan demikian kini Rindi tengah berada diatas pangkuan pria itu.
“Kok nangis?” Tanyanya ulang.
Ia semakin malu, ditambah Lilis yang melihatnya dalam posisi seperti ini. bagaimana jika Lilis mengadu pada keluarganya tentang keadaannya saat ini?
“Aku mau pulang!” Ucapnya cepat, berharap Linggar lekas berdiri, karena sesungguhnya wajahnya kini telah memerah.
Lain dengan Linggar yang merasa menyukai posisi seperti ini. Dengan begini, ia dengan mudah mendekap tubuh
Rindi. Mencium wangi pengharum pakaian spray yang mudah didapatkan di minimarket.
Hemm, akan ia ingat wangi ini.
“Nangis udahan, baru kita jalan lagi!” Linggar masih tetap membujuk Rindi, meskipun ia lebih ingin berlama-lama di sini.
Setelah isakan itu berhenti kembali Linggar berdiri dengan Rindi yang tetap berada dalam gendongannya, sementara Lilis bertugas membawa tas Rindi.
Lebih leluasa bagi Rindi mengamati wajah Linggar dalam posisi ini.
Hem, tampan. Hidungnya mancung. Pantas saja banyak cewek yang mengincarnya. Dan apakah ia harus bahagia atau berbangga karena telah mendapatkan pria ini?
“Rin, gendong belakang aja yah. Aku takut khilaf saat liatin kamu!” Pinta Linggar tanpa menatap wajah Rindi yang memang seolah semakin menantang bibirnya untuk maju ke depan menyentuh di sana.
__ADS_1
Apa sedari tadi Linggar juga memperhatikan dirinya?
Rindi hanya mengangguk, mengikuti kemauan Linggar. Mereka berhenti pada taman berikutnya, mencari tempat duduk lalu menempatkan Rindi di sana. Linggar memutar tubuhnya membelakangi Rindi dan siap menggendong dari belakang.
Rindi mulai naik ke punggung dan mengalungkan tangan di leher di Linggar. Dengan begini, punggung Linggar pasti merasakan desakan tubuhnya. Apalagi dibagian empuk itu. Bahkan kulit wajah mereka kadang bergesekan.
Kini perasaan yang ada kembali bertambah, rasa grogi.
“Kenapa?” Linggar.
Seolah ingin bersorak dalam hati, empuk oiiii!
Gak usah bertanya, jalan aja cepat! Batin Rindi.
Mode diam menjadi teman mereka, meskipun di dalam sana ke dua hati bersorak menurut keinginan mereka.
“Kak, mulai besok aku bawa motor sendiri aja yah!” Pinta Rindi membuka percakapan di dalam mobil.
“Kenapa?”
“Kakak gak usah antar aku pulang, aku bisa sendiri kok.”
“Kita cuma bersama saat itu, Rindi. Selebihnya gak ada.”
Tidak tahukan Rindi dengan sebuah kata Rindu yang selalu menyiksa Linggar saat tak bertemu?
“Maksud kamu apa?”
Kok langsung esmosi aja.
“Kamu mau jauhin aku? Jangan minta macam-macam, atau aku cium nih!”
“Beneran aku cium ini, gak peduli kamu mau marah atau tidak, kan terlanjur marah juga” Linggar mulai mendekatkan dirinya pada Rindi.
“Aku gak akan macam-macam sama kamu, asalkan kamu juga gak macam-macam.”
“Besok dan seterusnya aku akan tetap antar kamu pulang, jika perlu sekalian jemput kamu juga!”
“Gak usah, gak usah, aku bareng Dini sama Lilis aja ke kampusnya.” Rindi yang menyela cepat ocehan berbau ancaman dari Linggar.
“Anak pintar,” tak lupa mengusap lembut pucuk kepala Rindi.
\=\=\=\=\=\=\=\=
Lilis
Di sini ia tak memiliki peran penting, hanya sebagai pendamping dan penonton saja.
Mungkin saat ini ia memiliki kesempatan menjadi penilai hubungan yang katanya belum jelas itu, namun nampak sangat dekat bahkan dilihat dengan mata langsung.
__ADS_1
Di mana tanpa segan dan tanpa ijin terlebih dahulu Linggar membaringkan tubuh di samping Rindi, lalu mereka
yang saling berpelukan saat Linggar menggendong Rindi, dan beberapa kali usapan ringan yang mendarat di kepala Rindi.
Dan ia akan menjadi manusia paling bodoh jika masih harus mempercayai ucapan Rindi yang bilang jika mereka tak memiliki hubungan spesial.
Ia dapat melihat seberapa besar perhatian dan sayang yang Linggar tunjukan pada Rindi.
Betapa pria itu terdengar panik saat mengetahui Rindi kini sedang berada di klinik. Dan wajahnya yang menyirat
kemarahan namun tetap di tahan saat mendengar kisah Rindi yang dibully karena berpacaran dengannya.
Rela menunggu Rindi sampai kampus terlihat sedikit lebih sepi hanya karena Rindi yang malu dengan keadaannya saat ini.
Lalu di mana letak kurangnya pria ini bagi Rindi. Cinta memang tak bisa dipaksakan, namun dengan perhatian penuh seperti itu apakah tak mampu mendobrak pertahanan Rindi untuk tidak membuka hati untuk Linggar?
Dan bahkan saat mendengar perdebatan mereka berdua di mobil, seolah mereka sedang membahas hubungan.
Linggar yang mulai mengancam akan mencium Rindi jika masih terus mengatakan ingin pulang sendiri, seolah ingin
menyimpulkan jika kak Linggar bersedia untuk tidak lagi mencium Rindi kecuali...... emmmm, apa yah? Untuk lebih jelasnya bisa tanyakan pada Linggar dan Rindi.
Mungkin syarat dan ketentuan berlaku.
“Aku gak akan macam-macam sama kamu, asalkan kamu juga gak macam-macam.”
Kok jadi takutnya dengernya. Jika di sederhanakan kalimatnya akan berubah menjadi :
“Aku akan macam-macam kalau kamu juga macam-macam.”
Mungkin seperti itu.
Tapi macam-macam seperti apa yang di maksud oleh kak Linggar. Apakah macam-macam seperti emmmm, menyentuh Rindi misalnya? Atau mungkin ia yang terlalu over dalam menilai Linggar.
Tapi sampai detik ini Rindi masih merahasiakan sekelompok gadis yang menyerangnya bahkan pada Lilis sekalipun.
Lilis berada di kursi belakang sendiri, benar-benar tragis hidupnya hari ini. hanya menatap perdebatan berbau kemesraan yang ada di depan mata.
To Be Continued!
Jangan lupa jarinya di goyang yah!
Mumpung masih hari senin, sumbangin votenya dong!
Sekalian sama bunga dan kopinya yah.
buat teman nulis.
Biar cepat-cepat masuk konfliknya.
__ADS_1