
Lilis tengah membantu Rindi melepaskan riasan rambutnya. Sementara Rindi sendiri membersihkan wajahnya dengan kapas yang telah diberi pembersih wajah.
Wajahnya tak lagi mampu menutupi rasa letih. Kepalanya terasa sudah pegal dan rasa lelah terasa menjalar di
seluruh tubuh. Yang ia inginkan saat ini adalah menempelkan tubuhnya di permukaan kasur.
Membayangkan empuknya kasur itu semakin tak sabar menunggu Lilis untuk menyelesaikan tugasanya.
“Lis, cepat, aku ngantuk banget kayaknya. Capek.” Kembali membasahi kapas yang baru diambil dengan micellar water.
“Iya, sabar dikit napa bu. Emang kamu gak mau mandi?”
“Maulah. Gerah banget tau.” Dengan bibir yang membujur ke depan.
Mereka masih fokus dengan pekerjaan masing-masing saat pintu terbuka dan menampilkan Linggar dengan wajah yang sama letih namun tetap terbalut dengan senyum kebahagiaan.
“Sore Lilis,” Memutuskan menyapa Lilis terlebih dahulu untuk mengusir kecanggungan yang langsung tercipta.
“Sore kak.” Lilis menatap sejenak melalui pantulan cermin, menyumbangkan senyum pada pria itu.
Seperti mereka baru saja bertemu padahal sudah seharian ini berada dalam satu ruang.
“Rin, aku pulang yah. Mau mandi, gerah.” Meletakkan sisir yang sedari tadi ia gunakan untuk merapikan rambut Rindi.
“Eh, selesain ini dulu.” Berusaha menahan tangan Lilis namun segera di tepis. Siapa juga yang mau jadi pengusir nyamuk disini?
“Udah selesai dari tadi. Coba keramas, rambutmu bisa balik lurus lagi itu.” Karena tadi MUA membuat beberapa helai rambut menjadi sedikit bergelombang dan bertautan.
Lilis Beranjak berjalan ke arah pintu. Meraih tas yang tadi ia gantung di belakang pintu.
“Bentaran Lis, aku masih butuh bantuanmu!”
“Minta bantuan kak Linggar aja Rin, sori aku pulang yah!” Masih berusaha menahan Lilis untuk tidak meninggalkannya hanya berdua dengan Linggar dalam kamar ini.
Tapi Lilis terus saja berjalan hingga hilang di balik pintu. Benar-benar meninggalkan Rindi dan Linggar dalam kamar hanya berdua dengan pintu tertutup.
Ya ampun. Pintu tertutup?
Apa yang dilakukan dua orang dalam satu kamar, dan dengan pintu tertutup? Darah berdesir perlahan, namun semakin lancar.
Ini bukan yang pertama bagi mereka, tapi entah mengapa masih membuatnya merasakan getaran yang begitu hebat dalam diri.
Lingga hanya tersenyum menanggapi perdebatan kedua sahabat itu. Melepaskan jas dan dasi lalu menaruhnya di atas kasur.
Di sisi atas penuh dengan boneka, heh dasar cewek!
Melepas beberapa kancing baju bagian atas, lalu melipat lengan baju hingga mencapai sikut. Ternyata tampil sempurna membuatnya tak nyaman.
Duduk di tepian ranjang menghadap ke arah Rindi yang duduk membelakanginya di depan meja rias. Mata mereka beradu di cermin.
Masih merasakan kecanggungan.
Rindi kembali mengambil sehelai kapas baru, lalu menuangkan micellar water lalu menyapukannya ke wajah untuk
kesekian kalinya.
Padahal wajahnya sudah bersih dari sisa-sisa make up. Hanya saja, ia tidak tahu apalagi yang akan ia lakukan
__ADS_1
sekarang?
Ingin berbalik, pasti akan langsung bertemu dengan Linggar. Kenapa juga Linggar betah menatapnya? Membuat
jatungnya sungguh tak bersahabat.
Rasa gerah semakin terasa. Ingin membuka pakaiannya, tapi masak iya harus di sini? Di depan Linggar?
Ingin ke kamar mandi, takut jika Linggar menganggapnya sedang mengajak untuk ke kamar mandi bersama? Ngapain?
Linggar masih setia dengan senyum yang tergambar di wajah, menatapnya.
Detak jantung serasa semakin keras, bertalu seperti genderang yang sedang sahut menyahut.
Masih setia mengosok kulit wajahnya dengan kapas basah, sambil berpikir apa yang akan ia lakukan sekarang.
Yang tepat, tanpa mengundang prasangka pada Linggar.
Gosok lagi, gosok lagi. Terus menggosok, hingga kulit wajahnya terasa sangat licin seperti perosotan di taman
bermain.
Otaknya masih berputar, saat Linggar berdiri dan berjalan mendekat padanya. Mau ngapain hayo?
Gugupnya tak bisa lagi di sembunyikan. Gosok lagi sambil terus melirik Linggar yang semakin mendekat padanya. Kapasnya bahkan telah mengering.
Linggar meraih kapas yang sedari tadi setia menyentuh wajahnya. Membuang ke tempat sampah di dekat meja.
Kini otaknya sedang bertanya, apa lagi yang akan Linggar lakukan saat ini?
Lagi?
Linggar meraih bahunya dan memutar tubuh agar mereka saling berhadapan. Menekuk lutut tepat di hadapan
Rindi. Melingkarkan tangan mengelilingi pinggul istrinya.
Rindi menunduk, dan Linggar mendongak. Pandangan bertemu.
Sejenak mereka terdiam, hanya saling memandang satu sama lain.
Rasa kagum kini berbuah menjadi senyuman yang terkembang di wajah.
"Kamu cantik." Memuji istrinya yang sedang menunduk menatapnya dengan rona malu yang tak mampu disembunyikan.
"Kakak juga tampan." Rindi mengulurkan tangan, menyentuh rahang yang melebar karena senyuman.
"Masa sih, apa karena pengaruh jas mahal ya?"
Membuat tawa Rindi seketika pecah. Membuat tangannya terlepas dari rahang Linggar berpindah ke pundak.
"jadi aku juga cantik karena pengaruh make up?" Tanyanya, masih dengan sisa-sisa tawa.
"Ya enggak gitu dong sayang, kamu kan memang cantik dari dulu." Melirik dengan menggoda.
"Makanya aku klepek-klepek." Lanjutnya.
Apa maksudnya klepek-klepek?
__ADS_1
Rindi hanya mencibir demi meyamarkan senyumnya. Terlebih ucapan sayang yang keluar dari mulut Linggar terasa sangat kentara masuk ke telinga, menjalar melalui saluran udara hingga menembus ke jantung dan hatinya.
“I love you.” Ucap Linggar dengan Lirih namun terdengar sangat nyaring di pendengaran Rindi.
Semakin menambah kesan romantis yang tercipta antara mereka.
Rasa indah dan bahagia telah mampu terbayangkan.
“Trimakasih.” Lanjut Linggar masih dengan suara lirih.
Terima kasih untuk tersenyum, terima kasih untuk menunjukkan bahwa kamu bahagia pada hari pernikahan kita. Terima kasih karena mau jadi istriku.
Rindi tak mampu lagi menahan senyumannya yang semakin melebar saja, Entah senyuman itu membuatnya semakin cantik atau justru terlihat aneh. Mengangguk menandakan menerima ucapan terima kasih yang Linggar tujukan padanya.
Entah kata itu untuk apa. Namun kalimat demi kalimat yang Linggar ucapkan itu mampu membawanya ke perasaan nyaman, terasa sangat nyata.
Dan yang jelas lagi, mereka telah sampai ke titik ini.
Titik di mana mereka harus hidup berdua saling mendampingi. Saling menguatkan, saling menjaga satu sama lain.
Linggar menahan diri untuk tidak menatap lurus ke depan. Lebih memilih untuk tetap menengadahkan kepala, memandang wajah cantik istrinya.
Tepat di depannya sungguh suatu pemandangan yang terasa sangat menggugah jiwa. Pemandangan itu pernah ia lihat bahkan pernah ia rasakan sebelumnya.
Ingin mengulang? Pastinya.
Tapi kondisi di sini tidak memungkinkan.
Ini rumah mertuanya, kamar Rindi tak seluas kamarnya. Bisa saja suara indah Rindi saat Linggar berada di atasnya terdengar hingga ke luar. Terlebih lagi di luar masih banyak keluarga yang masih bekerja membantu membersihkan sisa-sisa acara.
Mungkin sebagian akan tinggal dan menginap di rumah ini juga. Jika kumpul keluarga seperti ini, sebagian mereka
pasti tidak akan tidur hingga fajar.
Mereka akan bercengkrama terlebih dahulu. Menghabiskan waktu dengan bercerita tentang kehidupan masing-masing yang jika di tulis akan menjadi satu atau beberapa buah buku.
Bisa jadi juga, ia akan dipanggil oleh keluarga Rindi untuk diinterogasi sebagai anggota keluarga baru.
Dan bagaimana jika panggilan itu datang ketika ia sedang berada di puncak.
Oh, Tidak! Tidak!
Bisa malu dia nantinya.
Tahan dulua lah, Linggar.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Geser ke bawah!
Kita langsung lanjut ke episode selanjutnya.
Malam ini otor usahain beberapa episode buat penebus dosa, setelah dua minggu minggat.
Maaf, baru up lagi!
Kemarin sibuk jadi kuli percetakan.
__ADS_1