
"Kamu Rindikan?" Pria yang baru saja diketahui sebagai atasan baru mereka. "Mantannya Pak Linggar?"
Pertanyaan itu, menjadi pertanyaan kedua setelah menanyakan meja kerjanya.
"I-iya pak."Rindi terbata dalam menjawab pertanyaan itu.
"Heboh banget tau, sampai sekantor tau." Lanjut pria itu. "Jadi gimana sekarang? Udah baikan semuakan?"
Rindi tersenyum kaku, rasanya tak enak dalam hati. Ingin mengubur semua peristiwa kemarin tapi pria yang baru saja memperkenalkan diri sebagai atasan barunya itu kembali mengorek.
"Pak ini pekerjaan pak Linggar yang kemarin saya ambil alih." Mbak Tia datang dengan berkas di tangan, bermaksud melerai. Tahu jika situasi sedikit tak kondusif, tak ingin area kerja itu menjadi dingin dan kaku. Karena masalah itu juga menyangkut mereka semua.
"Boleh minta emailnya pak! Biar mudah transfer kerjaan pak." Lanjutnya setelah meletakkan berkas.
"Heemmmm." Kepala sang atasan mengangguk-angguk, sadar diri jika anggota barunya mungkin saling melindungi.
Farid Arfandi, salah satu karyawan yabg dianggap berpretasi dari kantor cabang.
Pandangannya mengitari seluruh sudut ruang, mengamati para penghuni di sana.
Semua telah fokus menatap komputer sesekali menunduk menatap berkas yang berada dihadapan masing-masing.
Penduduk di sana sepertinya memiliki tingkat keseriusan yang tinggi, tak ada obralan tak bermanfaat yang kadang mengocok perut.
Heh, menghela napas pelan. Sepertinya, ini akan membosankan baginya.
"Permisi bu," Seorang OB masuk ke dalam ruangan setelah mengetuk pintu dan dipersilahkan masuk.
" Ini bu," Menyodorkan dua buah kantong kresek ke arah Rindi, " Titipan dari Pak Linggar, bu."
"Ini apa?" Rindi bingung, padahal dari jauhpun sudah bisa ditebak isinya apa.
__ADS_1
Beberapa minuman botol dan macam-macam snack dari minimarket.
" Titipan dari Pak Linggar, bu." Ulang sang OB. Kali ini tangan kanan turut terulur memberikan sebuah buket bunga nan indah dari sang pangeran hati.
"Ini bu," Kembali menyodorkan sebuah kotak segiempat yang baru saja ia rogoh dari koceknya.
Terlalu nampak jika barang itu adalah kotak tempat perhiasan.
"Terima kasih." Ucap Rindi sambil tersenyum menahan. Rasa bahagia sebenarnya, namun masih berusaha sebisa mungkin mengatup bibir.
"Kamu dapat bagian jugakan?" Pertanyaan yang ditujukan pada sang OB.
"Ada bu, terima kasih. Saya pamit pak-bu." Sambil berjalan meninggalkan ruangan.
Kamil segera merapat, niat membantu membereskan dan memisahkan jatah khusus untuknya.
Masing-masing mendapatkan sebotol minuman dan makanan ringan jajanan ala minimarket, itu pembagian dari Kamil.
"Ini apa?" Meraih kotak bludru dan membukanya tepat di hadapan Rindi, "Cincin Rin,"
"Waaaaah, Rindi ada yang ikat." Matanya menatap seluruh benda yang tergeletak di meja kerja Rindi, dengan wajah tersenyum.
"Sini coba aku pasangin?" Ucapnya lagi.
"Kamil, fotoin dong!" Menyerahkan ponselnya pada Kamil.
Sontak Rindipun menatap dengan mata melotot. "Eh,eh,.... yang bener aja dong Pak?" Beranjak menjauh dari jangkauan Bos barunya.
" Kalau dilihat orang bisa jadi fitnah pakkkk."
" Atau sekalian aja aku laporin sama istrinya?"
__ADS_1
" Emang kamu tahu nomor istriku? Email aja baru minta." Fandi dengan mencibir.
Fandi menelisik satu persatu barang yang berada di kedua tanggannya. Kotak cincin di tangan kanan, dan buket bunga di tangan kiri.
" Linggar ngajak nikah?" Tanyanya pada Rindi, sedikit duduk di meja kerja wanita itu.
Sesaat otak Rindi melayang, mengingat penuturan Linggar kemarin saat di rumahnya.
" Kemarin sih ngajak rujuk." Rindi dilengkapi dengan anggukan kepala.
Fandipun ikut manganggukkan kepalanya, mengerti. Yang lain menatap silih berganti antara Fandi dan Rindi.
" Linggar lamar kamu,...."Tangan kembali terulur. "Pake ginian?" Tangan terangkat dengan kantong kresek yang dikibas-kibaskan, menimbulkan bunyi khas kantong kresek.
"Ahahahahahah,...." Tawanya pecah seketika.
Yang lain hanya menahan senyum, takut jika Rindi tersinggung.
"Nggak romantis banget." Fandi kembali meletakan kantong kresek itu di meja rindi dengan sedikit tenaga. Masih dengan bunyi khas kantong kresek.
"Ngelamar cewek tuh harus romantis. Yang namanya perempuan itu biar bagaimanapun suka sama yang manis-manis. Naaaah, termasuk juga perlakuan manis dari pria yang memintanya untuk bersanding dalam hidup. iya kan?" Pandangan mata berkeling memandang semua anggota barunya, seolah mencari dukungan dari pandangan mata itu.
"Makan malam romantis, lilin-lilin kecil, taburan kelopak bunga yang dibentuk seperti hati, lampu warna-warni." Senyum disumbangkan, tapi entah mengapa senyum itu terlihat sedikit aneh, nyinyir kayaknya.
"Bilang sama cowok kamu, belajar sama saya." Sambil menepuk dadanya sendiri. Mulai beranjak dari meja Rindi yang sedari tadi ia sandari.
Rindi mencebikkan bibir, kesal dengan kesombongan yang ditunjukkan oleh atasan barunya itu. Tapi tak urung iapun membenarkan setiap kata yang mengesalkan itu.
Seperti yang bos barunya itu bilang, jika perempuan ingin yang manis-manis dan ingin yang romantis. Pun dengannya.
Mengingat kembali kebersamaannya dengan Linggar selama ini. Tak pernah pria itu bersikap romantis terhadapnya. Meskipun ia sadari jika Linggar begitu menyayangi dan mencintainya, tapi tak ada perlakuan yang manis-manis seperti dalam novel cinta lainnya.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=⚘⚘⚘⚘\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Lanjut beberapa menit ke depan yah!